My Authors
Read all threads
Mau ngonten IGTV pas kereta kosong. Tapi orang pada dateng. Lanjut di twitter aja kali ya.

Entah kenapa tiap di kereta selalu bikin saya refleksi bahwa kehidupan yang saya jalani berbeda dari yang dulu saya bayangkan waktu jadi kandidat doktor.

Revisi Kehidupan ~ a thread
1) Waktu itu saya masih berusia 19 tahun, mahasiswa tahun kelima di kampus gajah duduk. Mau ngapain setelah lulus adalah sebuah kegalauan yang dihadapi setiap calon sarjana segar.

Yang saya kepikiran waktu itu kalo ga bikin startup, ya kerja di perusahaan bonafide gitu. Tapi,
2) Secretly, saya masih memendam impian masa kecil. Yaitu ingin jadi profesor di usia muda. Karena dulu masuk SD kecepetan dan ikut kelas aksel SMP SMA, jasi maba umur 15.

Bahkan saya pernah bilang ke sepupu saya: nanti gimana ya kalo aku terlalu muda dan ga bisa jadi profesor?
3) Cuman emang masa kuliah saya bisa dibilang penuh petualangan. Jadinya saya sudah hampir lupa dengan impian tersebut.

Hingga pada suatu ketika saya iseng dateng presentasi dari kampus negeri jiran. Rupanya ada program beasiswa penuh bagi yang mau langsung S3 tanpa S2.
4) Kenapa gitu? Karena pada hakikatnya, dari sudut pandang universitas, mahasiswa S2 itu sebatas di-training oleh universitas. Sementara mahasiswa S3 adalah infanteri dari riset universitas.

Di banyak negara maju, S3 tanpa S2 sangat lazim, tidak seperti di Indonesia.
5) Nah, biasanya untuk bisa daftar S3, kita perlu ambil GRE dan TOEFL. Tapi, di kunjungan kampus negeri jiran tersebut, mereka mengadakan tes di tempat untuk menggantikan keduanya.

Saya pun iseng ikutan aja. Gak ada ruginya ini kan. Gitu pikir saya...
6) Saya pun mengisi tes yang seperti kuliah matematika teknik dengan asal-asalan dan main peluang (karena kalau salah, ada pengurangan nilai). Agak keringat dingin tiba-tiba, mengingat matematika teknik saya pernah ngulang (padahal itu kuliah relatif paket A di jurusan saya).
7) Waktu itu dr jurusan saya yg ikt tes ada adek angkatan yang IPnya tertinggi sefakultas, D. D kenalan jg sm dosen universitas tsb yg merupakan alumni fakultas sebelah, sebut saja Mas T.

Krn saya cuman lempar manggis, saya g ikut nimbrung.

~break dl ada bau tak sedap di kereta
8) Habis ikut tes, saya udah agak lupa soal tes-nya itu sendiri. Tapi malah jadi semangat buat nyari-nyari info tentang kuliah di luar negeri (waktu itu belum ada yang namanya LPDP). Saya juga cari tau tentang program doktoral atau S3. Apa bedanya dengan S2 dan S1.
9) Saya akhirnya nemu ilustrasi menarik tentang PhD di sini matt.might.net/articles/phd-s….

Rupanya ngerjain riset di level S3 itu harus bikin sesuatu yang baru yang memperluas semesta pengetahuan umat manusia.

Jadi ahli yang tau segalanya dalam suatu topik yang orang lain nggak tau.
10) Tapi, di sisi lain, perjalanan sebagai kandidat doktor itu keras. 25% PhD Candidate gak pernah beres PhD. Kalau di US malah 50%.

Tertarik dengan hal ini, saya akhirnya nemu bacaan menarik: memoar perjalanan jadi doktor.

lmgtfy.com/?q=phd+grind
11) Menurut penulisnya, S3 itu mirip seperti ngegym tapi untuk intelektual, bukan fisik. Gak semua orang ngegym atau rajin olahraga buat jadi olahragawan. Dan, meskipun untuk jadi profesor normalnya harus doktor dulu, ga semua orang lulus doktor harus jadi dosen.
12) Sebagai orang yang suka tantangan dan hobi mikir, saya mulai consider bahwa bisa aja ambil PhD ini adalah jalan hidup saya. Kesempatan untuk mewujudkan cita-cita masa kecil dan lompat studi sekali lagi.

Tadinya, saya udah kubur impian itu karena waktu kuliah saya nggak rajin
13) Selama kuliah di ITB, saya pake sistem SKS, tukang bolos, dan di semester 3, IP saya pernah di bawah 2. Total kuliah yang saya ulang ada sampe 1 semester.

Tapi emang berkat perjuangan panjang saya masih berpeluang lulus tepat waktu dengan IP di atas 3. (Sering ambil >20 sks)
14) Cuman, karena semangat berorganisasi dan agak ceroboh, saya harus mengulang mata kuliah tugas akhir dan nambah 1 semester. Di semester 9, saya jadi Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa ITB. Majelis itu isinya menteri, gubernur, rektor, profesor, dan perwakilan masyarakat.
15) Saya mulai berpikir. Apa ini emang takdir ya? Semua rentetan kejadian ini mengantarkan saya untuk ngambil tes buat jadi mahasiswa S3 di negeri Singa?

Dan memang di tahun terakhir itu saya banyak ikut lomba-lomba keprofesian untuk mengisi waktu karena udah ga ada kuliah.
16) Saya sempat jadi nominator kompetisi TIK bernama INAICTA yang diselenggarakan kominfo. Jurinya Andrew Darwis yang bikin kaskus. Saya kerjasama dengan teman anak DKV buat bikin media interaktif.

17) Tapi, lomba yang paling membantu saya untuk bisa keterima S3 kemungkinan adalah ketika menang best creativity award di kompetisi muatan roket Indonesia. Ini videonya pas evaluasi sebelum babak final

18) Sebenernya agak sedih sih, karena roket kami akhirnya meledak. Saya bagian bikin software monitoringnya. Begadang seminggu sebelum lomb ampe mata minus. Tapi, akhirnya pulang bawa gelar juara, jadi disyukuri aja :)

itb.ac.id/news/read/3275…
19) Nah, dari lomba itu, saya jadi terlibat lebih dalam di grup riset satelit ITB. Dan akhirnya ikutan nulis paper alias makalah ilmiah untuk konferensi level nasional. Tulisan dan presentasi saya jelek jadi ga menang sih. Padahal tim ITB menang banyak

itb.ac.id/news/read/3445…
20) Kalo baca makalah ilmiah saya, waktu itu superjelek. Grammar dan struktur penulisannya acak adut. Tapi udah cukup melengkapi dokumen pendukung untuk aplikasi S3. Itu nunjukin kalo saya punya minat riset, aktif dalam konferensi ilmiah, dan mampu menulis.
21) Nah, udah kan. Dikarang-karang tuh proposal riset. Lalu saya cari rekomendasi dosen. Saya minta ke dosen pembimbing skripsi dan juga dosen pembimbing lomba. Untung mereka asik-asik aja ngasih suratnya.

Ada cerira menarik sih soal surat rekomendasi ini.
22) Suatu siang saya harus udah kirim formulir aplikasi s3 pake DH*L biar ga telat (udah riset soal waktu pengiriman).

Paginya nagih ke dosbing, gataunya formulir surat rekomendasinya jadi alas di kursi bekas pantat bapaknya. Beliau kelupaan :(

Untung saya sedia kopiannya.
23) Oiya, ini adalah kedua kalinya saya minta surat rekomendasi, karena saya juga sempet apply program beasiswa yang level atasnya tapi ga masuk. Beasiswa yang itu uang sakunya lebih banyak, tapi bahkan D aja ga masuk. Jd ini adalah second trial saya untuk beasiswa reguler..
24) Nah, selagi nunggu beasiswa, saya akhirnya ikut daftar apprenticeship alias management trainee di sebuah perusahaan IT multinasional terkemuka yang punya sejarah panjang.

Apprenticeship ini biasanya diproyeksikan untuk jadi pimpinan, makanya saringannya super ketat.
25) Btw, setelah proses panjang, saya akhirnya keterima. Kantornya asyik banget sih. Banyak anak mudanya, dan kita masih dijejelin tentang inovasi gitu.

Tapi, menurut saya yang paling berharga adalah ketemu mentor yang bener2 mau ngebantu kita untuk ngembangin potensi diri.
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Latian Posting

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!