My Authors
Read all threads
Up nanti abis buka puasa yaa 😊
Heyo moots.. Ketemu acil lagi di thread horor. Asupan baca untuk para gabuters kek biasa.
Gapapa kan up cerita horor pas bulan puasa ? Mumpun setannya di kurung, ghibahin aja mereka. Hihihi

Silakan membaca 😊
Mobil melenggang di jalanan dengan suara deru yang begitu menggebu. Melewati jalanan kota kearah jalan pedesaan. Karena memang perjalanan memakan waktu yang lama, maka sudah dipastikan keberangkatan harus lebih pagi.
Selepas waktu shubuh, mobil avanza berwarna abu sudah berada di base camp tempat kami berkumpul. Ohiya, kami adalah salah satu band lokal yang memang sedang banyak digandrungi didaerah kami maupun daerah sekitarnya.
Hari ini kami berencana untuk pergi ke acara pernikahan salah satu penggemar kami menjadi penghibur para tamu undangan dengan lantunan lagu dari kami. Yaah walaupun kami band lokal, tapi setidaknya kami bisa menyalurkan hobi musik dan membuat oranglain merasa senang bahkan ~
terhibur saat kami pentas dari panggung ke panggung.
Band kami beranggotakan 6 orang yang diantaranya 2 cewek dan 4 cowok. Salah satu cewek menjadi vocal, namanya Dhea. Dan yang lain memegang alat musik diantaranya penabuh drum Hilman, Sandi dibagian gitar, Rini bagian piano,
Raka bagian bass, dan tak lupa aku Haikal yang menjadi vocal 2 termasuk manager band kami.

"sadayana tos dileubeutkeun ka bahasi, den. Mangga atuh urang mangkat" (semuanya udah dimasukin ke bagasi, mari kita berangkat).
Begitulah ajakan pak Didi selaku supir yang selalu menemani kami kemanapun kami pergi untuk pentas.

Ohiya, sebutan Den atau Aden adalah bahasa sunda yang biasanya ditujukan kepada orang berada. Dulu aku sempat menolak atas panggilan tersebut dari beliau, namun katanya lebih enak
nama panggilan begitu daripada manggil nama langsung.

Sudah setengah perjalanan ternyata telah kami lalui. Kulihat jalanan sudah sedikit banyak bebatuan dan melewati banyak perkebunan. Menurut pak Didi, beliau belum pernah pergi kedaerah pedesaan yang kami tuju.
Namun kami hanya mengandalkan GPS dari hape dan jika keliru, kami berhenti sebentar menanyakan alamat ke orang-orang sekitar.

Mungkin sebentar lagi kami akam sampai, pikirku.

Disepanjang jalan tak ada kegaduhan dalam mobil karena semuanya terlelap di posisinya masing-masing.
Mungkin karena berangkat terlalu pagi, mereka jadi kurang istirahat. Kubiarkan saja mereka menikmati perjalanan dengan tertidur, dan aku menikmati perjalanan dengan menemani pa Didi yang sedari tadi mengemudi.
Kami di sepanjang jalan mengobrol kesana kemari membahas apa saja yang menjadi topik pembicaraan, entah itu perkembangan band kami atau membicarakan masa mudanya beliau.

"hudang..hudang..hudang.. Sarare wae siah. Buru ieu geus nepi, beresan alat kabeh kaluarkeun tina bahasi"
(bangun.bangun.bangun.. Tidur mulu, buruan nih udah nyampe. Beresin alatnya semua keluar dari bagasi). Begitu kataku sesampainya kami ditempat acara.
Walaupun berada di pedesaan, bagiku sambutan mereka sangat meriah bagi kami. Dan melihat tata letak tempat panggung beserta pelaminan begitu megah. Tentu saja membuat kami semangat agar tidak mengecewakan juga pihak acara.
Setelah merapihkan alat di panggung, kami dipersilahkan untuk beristirahat dirumah salah satu keluarga yang punya acara. Rumah itu kami jadikan tempat briefing dan mempersiapkan hal apa saja yang akan kami sajikan nanti diatas panggung.
"pak Didi, kadieu atuh ngopi yeuh" (pak Didi, kesini dong ngopi nih). Raka menyuruh pak Didi agar ikut serta bersama kami

"mangga tipayun, abi bade markirkeun mobil heula ameh jongjon ngke mulang kantun ngabiur..hehe"
(silakan duluan, saya mau markirin dulu mobil biar nyantai ntar tinggal gaspol). Pak Didi pun berlalu.

Kami pun menyantap hidangan yang diberikan oleh pihak acara dan sedikit mengobrol ringan serta bercanda.
"jug atuh awewe geura ka wc tiheula, apal sorangan lah mun awewe ka cai sok lila, dangdan ge lila" (sana cewek-cewek ke wc duluan, tau sendiri lah kalo cewek ke wc suka lama, dandan juga sama lama). Ledek Hilman kepada Dhea dan Rini.
"yeuh jadi awewe mah ribet nyaho, nya kan Rin?" (yehh jadi cewek tuh ribet tau, yakan Rin?)

"heueuh tah da lalaki mah nanaon ge gampang, hayu ah Dhe ka wc na gantian. Bisi ditoong ku si Sandi" (iya lah kalo cowok mah gampang mau apa-apa juga, hayu Dhe ke wc nua gantian,
di intip sama si Sandi)

"gobl** ih teu sudi aing mah ningalina ge, euweuh alus-alusna acan awak maraneh mah.haha" (gbl** ih gak sudi gue liatnya juga, gaada bagus-bagusnya tuh badan kalian.haha). Sandi berusaha mengejek balik kepada kedua cewek itu.
Setelah selesai briefing , kami pun dipersilakan untuk menaiki panggung dan menghibur para tamu undangan. Beberapa lagu yang bernuansa pernikahan kami sajikan, tak lupa juga kami lantunkan lagu yang memang diminta dari pihak keluarga ataupun para tamu undangan.
Mereka sangat antusias dan menikmati dari pembawaan lagu yang kami berikan. Entah berapa lagu, yang jelas adzan dzuhur pun sebentar lagi akan berkumandang dan kami harus break dulu untuk istirahat sholat dan makan.
Setelah semuanya sudah beres, kami pun menaiki panggung dan kembali menghibur tamu undangan yang masih berdatangan.

Sebetulnya acara kami sudah harus beres jam 2 siang, tapi kami diminta agar tetap berada dipanggung sebelum adzan ashar.
Mereka juga berkata akan menambah biaya jika kami menuruti keinginan pihaknya.
Aku menanyakan dan meminta persetujuan dari teman-temanku, nampaknya memang mereka agak kecewa tapi mau tak mau kami harus profesional menghadapinya.
Setelah adzan berkumandang, acara pun selesai.
Kami kembali merapihkan alat musik dan membawanya ke bagasi mobil yang saat itu pak Didi sudah menunggu. Aku berbicara kepada beliau mengenai penambahan waktu yang diminta pihak acara.
"kedap nya, pak. Abi bade nyandak heula acis bayaran. Antosan heula sareng nu sanesna dimobil" (bentar ya, pak. Saya mah ngambil uang bayaran dulu. Tungguin sama yang lainnya dimobil). Beliau hanya mengangguk mengiyakan apa yang aku bicarakan.
Setelah menghadap ke pihak acara, ternyata aku harus menunggu lumayan lama dikarenakan orang yang mengurusnya sedang ada urusan lain juga. Sampai-sampai chat dari teman-temanku banyak masuk dan pak Didi pun menyusulku.
"kumaha, Den ? Bilih kabujeung wengi. Heg jauh apan perjalanan teh, bilih poek oge dijalana kan teu terang jalan kadieu oge tadi teh" (gimana, Den ? takut keburu malem, mana jauh perjalanan. takut gelap juga kan gak tau jalan ke sini tadi juga).
Aku berbicara ke pengantin untuk menanyakan orang yang mengurus acara, dan tak lama kemudian dia muncul dihadapan kami. Ia meminta maaf atas segala kendala dan juga hal yang membuat kami mungkin kesal.
Aku hanya tersenyum saja. Pak Didi dan aku pun langsung memasuki mobil. Kulihat wajah teman-teman yang lain sangat kesal dan merasa bosan. Aku berusaha menenangkan mereka dan meminta maklum atas segalanya.
"duh euy sareupna mulang teh. La haola weh nya,Den. Sugan teu aya nanaon dijalan. Lamun ka maghriban, urang sholat di mesjid nu caket nya" (duh mau malem pulang nih. Laa haulaa aja ya,Den. Semoga gak ada apa-apa dijalan. Kalo pas maghrib, kita sholat di mesjid terdekat yah).
Mobil pun melaju menyusuri jalan bebatuan di pedesaan itu. Meninggalkan tempat acara yang memang sedikit membuat kami harus ekstra sabar menghadapinya. Kuambil hape dan menyalakan GPS agar mempermudah pak Didi memilih jalur. Baru beberapa menit perjalanan,
nada dering adzan berkumandang di hape ku menandakan waktu sudah maghrib. Tapi melihat kondisi jalanan, masih gelap dan tak terdengar olehku suara adzan diluar mobil.
"kumaha dak euy ? Rek neangan heula mesjid nu deket atawa labaskeun wae ngke rada dikota ?" (gimana nih geng? Mau nyari mesjid yang deket apa lanjutin aja nanti agak dikota nyarinya?). Tanyaku kepada yang lainnya.
Mereka menjawab serentak agar lanjut aja. Toh dilihat dari kondisi sekitar memang tak ada pemukiman atau hal lain. Yang ada hanya perkebunan yang luas.

Jalanan yang kami lalui semakin terjal, batu-batu yang ada dijalan semakin besar dan memang jalanan rusak.
Kami melewati turunan yang tajam sekali.

"kela..kela.. Rarasaan tadi asa teu jalan kadieu da.." (bentar..bentar.. Perasaan tadi gak jalan sini deh). Batinku dengan semakin khawatir melihat medan jalan semakin memburuk.
Tiba-tiba ban mobil kami terjebak diantara dua batu saat jalanan kembali lurus dan akan menghadapi tanjakan yang sama terjalnya dengan turunan yang tadi. Kekhawatiranku memang terjadi saat ini. Terpaksa kami para cowok turun untuk mendorongnya agar bannya tidak selip.
"hih sarieun kieu anjir ieu di leuweung aing mah.. Kal, ieu bener jalan nu tadi ?" (hih serem gini anjir ini di hutan. Kal, bener nih jalan yang tadi?)

"kela urang tanyakeun heula ka pak Didi, da rarasaan urang mah teu jalan kadieu euy". (bentar gua tanyain dulu sama pak Didi,
perasaan gua mah gak kalan sini tadi tuh).

Aku bergegas menghampiri pak Didi yang tengah berusaha bermain pedal gas agar bisa mengeluarkan ban mobil yang terjebak.
"ninggal dina gps ge jalan dieu, den. Meren ieu jalan alternatif da tadi pas di pertigaan gening aya bapa-bapa bari ngagorowok jalan kadieu ge bisa ka kota mah" (liat dari gps juga jalan sini,den. Mungkin ini jalan alternatif soalnya tadi pas di pertigaan juga ada bapak-bapak
yang berbaju khas pedesaan sambil teriak jalan sini juga bisa kalo mau ke kota).

Rasa takut mulai menghampiri benakku. Soalnya apa yang diucapkan pak Didi tidak kulihat ada bapak-bapak yang berada di pertigaan jalan.
Tapi aku harus tetap tenang dalam kondisi ini, dan tidak membuat anak yang lain cemas apalagi ada dua orang cewek.
Aku kembali ke belakang untuk mendorong mobil yang masih terjebak diantara dua batu licin. Entah berapa lama kami berkutit dalam kondisi itu,
sampai akhirnya perlahan dari kami mulai kehabisan tenaga.

Pak Didi juga menyarankan agar kami beristirahat sejenak dan memasuki mobil. Serta meminta bantuan kepada pihak acara agar bisa menyelamatkan kami yang terjebak disini.
Saat kucoba telfon pihak acara, tapi nomornya diluar jangkauan. Kembali kucoba telfon menggunakan hape yang lain, tetap saja tidak bisa dihubungi nomornya.

"anjirlah.."

Gumamku dalam hati
Masih dalam keadaan bingung, tiba-tiba ada sesuatu yang kulihat samar dari kejauhan. Semakin mendekat, ternyata itu adalah kumpulan para petani. Harapan kami mulai muncul saat melihat mereka.
Aku pun beranjak turun dan meminta bantuan kepada mereka ...
sambil berlari diatas bebatuan yang licin. Tiba-tiba sekumpulan para petani itu seperti hilang dari pandangan. Mereka yang tadi kulihat mendekat, tapi tidak kutemui.
Sontak saja bulu kudukku meremang dan mencoba kembali ke mobil sambil berlari.
Melihat ekspresi wajahku, mereka sudah menduga jika yang tadi dilihat memang bukan manusia. Para cewek hanya bisa merengek menyaksikan apa yang mereka alami. Dan dengan keadaan nekat, aku menyuruh para cowok turun dan mendorong mobil dari depan.
Walaupun sebelumnya mereka enggan dan ketakutan juga, tapi mencoba cara lain lagi.
Akhirnya dengan cara mengangkat ban dan mendorongnya dari depan, ban sudah tak terjebak lagi. Masih dengan perasaan takut, kami pun bergegas masuk dan meminta pak Didi agar kembali melewati
jalan tadi saja.
Beliau mengangguk tanda setuju.
Tanjakan dan belokan terjal kami lewati dengan harapan bisa kembali ke jalan utama yang menghubungkan tempat acara tadi.

"bau kembang melati".
Seketika Raka mengatakan hal itu dengan dibarengi menutup hidungnya. Sontak saja kami juga yang mencium aroma itu langsung menutup hidung.
"gobl** lah ngke deui mah ulah nyokot job di pelosok kieu euy. Lain kunanaon kan teu apal jalan kamanana. Komo ieu asa lewat leuweung,
sieun manggihan nu jiga tadi" (gobl** lah nanti lagi gausah ngambil job di pelosok gini. Bukan apa-apa kan gatau jalan kemana-mananya. Apalagi ini kek lewat hutan, takut ketemu sama yang kek tadi). Hilman merasa kesal dibarengi oleh Sandi yang mengiyakan karena sama kesal.
"ai sia ulah sompral, angguran mah ngado'a cing salamet nepi ka imah" (lu gausah ngomong macem-macem, harusnya berdo'a biar selamat sampe ke rumah). Timpal Rini yang malah kesal kepada Hilman dan Sandi.
Tapi kulihat Dhea daritadi diam tak bersuara. Wajahnya pucat dan menundukkan kepalanya. Kupikir dia tak enak badan atau trauma apa yang dia lihat tadi. Tiba-tiba mobil berhenti dan pak Didi berusaha untuk menyampingkan mobil agar tidak berada ditengah jalan.
"tenang ulah hariwang, urang tinggal heula mesinna bilih aya nanaon" (tenang jangan khawatir, kita liat dulu mesinnya takut ada apa-apa). Pak Didi keluar mobil dibarengi Raka yang memang dia ahli di bidang mesin juga sih.
(Dhe, gapapa ? Kek pucet gitu. Coba kasih air minum Rin atau makanan yang ada di kardus pemberian tadi dari yang punya hajat). Rini mencoba memberikan makanan atau minuman kepada Dhea, namun malah gelengan kepala yang diterimanya. Dhea merasa tidak enak mungkin pikirku.
Setelah menundukkan kepalanya lagi, tiba-tiba Dhea menangis tersedu. Ia meminta agar cepat pulang dan kembali lagi ke rumahnya. Rini memeluknya dan sesekali menenangkan keadaanya. Namun tangisan Dhea berubah menjadi tawa yang membuat kami kaget.
Ia tertawa seperti halnya tertawaan yang ada di film hantu. Melihat situasi itu, Hilman langsung marah.
"hihihihi....hihihihi..."

"Anj** teh. Geus lah teu lucu gob**. Keur panik kieu th kalahkah nyiar gara-gara sia mah"
(anj**. Dahlah gak lucu gob**. Lagi panik gini malah nyari gara-gara lu). Kepala Dhea yang tadi menunduk kebawah, kini menengadah dan menatap tajam kearah Hilman. Tatapannya penuh amarah melotot seakan bola matanya ingin keluar dari tempatnya.
Mulutnya menyeringai dan dengan satu kesempatan ia langsung menerkam leher Hilman dengan kedua tangannya. Ya, Dhea kesurupan.

Dengan dibantu oleh Sandi untuk melepaskan cengktaman tangan Dhea, Rini pun ikut menarik badan Dhea. Aku yang berada di jok depan langsung turun dan
memanggil pak Didi beserta Raka untuk ikut membantu mengendalikan Dhea.
Mulutnya terus bergumam dengan geraman yang menakutkan.

"keur naon maraneh didieu?" (ngapain kalian disini?)

Akhirnya dengan susah payah, Hilman berhasil lolos dari cengkraman tangan Dhea.
Namun masih saja tubuh Dhea memberontak tak karuan. Pak Didi mencoba membacakan surat dan do'a-do'a yang menurutnya bisa mengusir jurig (hantu). Tapi usahanya sia-sia karena Dhea kini sudah melompat keluar pintu mobil.
Aku yang berada tak jauh dari Dhea mencoba untuk menangkap dan merangkulnya agar tidak hilang dan pergi. Akibatnya tubuh kami tersungkur ke tanah yang banyak bebatuan itu.
"hampura, dhe. Lain maksud nanaon tapi da kumaha deui mun teu kieu mah"
(maaf dhe, bukan maksud apa-apa tapi mau gimana lagi kalo gak gini). Ucapku dalam hati

Entah keajaiban darimana, beberapa saat kemudian tubuh Dhea melemas dan tidak meronta-ronta serta menggumam lagi. Teman-teman yang lain pun langsung bergegas menghampiri dan membopong
Tubuh Dhea masuk kedalam mobil. Dan lagi-lagi keajaiban mulai menghampiri kami, yaa mobil berhasil nyala lalu melaju kembali.
Dalam situasi panik itu tak ada yang berbicara sedikitpun, terutama Hilman yang mungkin mengalami syok hebat.
Kupikir keadaan buruk sudah hilang, nyatanya tidak saat kulihat kini kami melewati sebuah desa yang beberapa rumahnya memiliki nuansa angker. Bukan hanya aku yang menerka bahwa ini memang tidak beres dan masih menjadi hal buruk, semua yang berada dalam mobil merasakan sama apa ..
yang kurasa.
Raut wajah mereka menyernyit dengan rasa takut dan cemas. Akhirnya pak Didi mencairkan suasana dengan melafalkan do'a agar kami semua tenang. Mobil kembali terhenti saat lampu sorot menyinari sesosok pria tinggi.
Entah sampai mana tingginya pria itu saat tersinari lampu sorot hanya bagian betisnya saja.
Kami berteriak sekencangnya dan kembali lagi merasakan ketegangan. Pak Didi berupaya menenangkan kami yang sudah mulai tak terkendali.
"cing eling ka gusti, ngadoa ameh teu aya nanaon". (eling sama gusti, berdoa biar gak ada apa-apa). Begitu kata pak Didi seraya memandu kami berdoa mengikutinya.

Tiba-tiba Rini menjerit dengan kencang. Ia melihat sosok hantu tanpa kepala berada jelas didekat kaca jendela mobil
tepat disampingnya ia duduk.
Tak hanya sosok hantu tanpa kepala, beberapa saat kemudian mulai bermunculan sosok hantu menyeramkan lainnya. Entah berapa banyak sosok itu, yang jelas mereka mulai menghampiri mobil kami. Suara geraman dan juga suara seperti berbisik pun ....
terdengar sampai kedalam mobil. Pak Didi berusaha menghidupkan kontak mobil, namun akhirnya tubuhnya sempat menegang dan langsung terkulai tak sadarkan diri.
Kami histeris ketakutan dan panik, mobil seperti sedang digoyangkan oleh makhluk-makhluk itu.
Satu persatu dari kami mulai tergeletak tak sadarkan diri. Hingga akhirnya, pandanganku meremang dan buram. Namun sebelum kesadaranku hilang, samar kudengar suara cekikikan dari wanita. "hihihi.. bongan saha iinditan sareupna, ku kami jadi disasarkeun ka negri kami" ....
(hihihi.. Suruh siapa bepergian mau malem, jadi disasarin sama kami ke negri kami)
Keesokan harinya, kami ditemukan oleh warga yang akan berkebun. Kondisi kami memang saat itu tak sadarkan diri, jadi warga berbondong-bondong untuk menyelamatkan kami.
Menurut penuturan warga, mobil kami hampir saja akan terjatuh kebawah saat berada persis dipinggir jalan tanjakan.
Pak Didi pun bercerita atas apa yang kami alami, namun warga setempat seperti tak mempercayai. Karena tak pernah ada hal aneh ...
menimpa mereka ataupun orang jauh yang melewati jalan itu. Memang jalan itu bukan jalan utama menuju kota, melainkan jalan alternatif para warga setempat agar bisa cepat pergi ke pasar untuk menjual hasil kebun. Mengingat medan jalan yang terjal, kebanyakan mereka memikul
hasil kebunnya dan berjalan kaki, sedangankan yang lainnya memakai motor yang mungkin sudah dimodifikasi agar bisa melewati jalanan berbatu. Mobil kembali melaju untuk pulang. Ada perasaan senang di raut wajah kami semua. Tak ada hal yang lebih mengerikan lagi menimpa kami.
Namun, Dhea masih terkulai lemas tak sadarkan diri daritadi. Wajahnya masih pucat dan badannya masih dingin. Menurut pak Didi, dia sudah tidak apa-apa hanya butuh istirahat saja.
Sesampainya di base camp, rupanya pak Didi menawarkan untuk mengantarkan kami pulang ke rumah
satu per satu. Alasannya agar kami tidak terlalu capek, soalnya malam tadi kami sudah mengalami kejadian yang memang mengerikan.
Sesampainya dirumah, aku menjelaskan kepada orangtua tentang apa yang aku dan teman-teman alami.
Ya, kami disasarkan oleh makhluk halus penunggu perkebunan yang ada di desa itu. Mendengar penuturanku, keduanya langsung memeluk dengan erat.
"untung weh disalametkeun ku gusti. Mamah teh geus hariwang sieun kuma onam, da rarasaan mamah teu enak.
Jaba aya kila-kila samemehna, gelas jol murag sorangan jeung peupeus deuih. Mamah buru-buru weh ngadoa meh saralamet Ikal jeung bisa balik deui ka imah" (untung aja diselamatin sama Gusti Allah. Mamah tuh udah khawatir takut ada apa-apa, soalnya perasaan mamah gak enak.
Terus ada pertanda sebelumny, gelas tiba-tiba jatoh sendiri dan pecah. Mamah buru-buru berdoa biar pada selamat Ikal terus bisa pulang lagi ke rumah)

Aku pun merebahkan diri di kamar dan mencoba untuk bertanya kepada teman-temanku tentang keadaan mereka.
Semuanya baik-baik saja termasuk pak Didi yang memang saat itu sudah kembali menyetir mobil mengantarkan saudaranya. Tapi kekhawatiranku mulai muncul saat mendapat kabar bahwa Dhea masih terkulai lemas tak sadarkan diri.
"si Dhea can hudang keneh euy, tapi ceuk indungna mah tadi sempet ngomong menta tulung. Cik cobaan ka imahna, kal". (si Dhea belum bangun juga, tapi kata mamahnya tadi sempet ngomong minta tolong. Coba ntar ke rumahnya, kal)

--------------- BERSAMBUNG -------------------
Oke moots, maaf sebelumnya lama banget up nya kemaren. Gimana kelanjutan cerita Dhea ? Nantikan di thread selanjutnya yaa 😬

Selamat berpuasa bagi yang menjalankan 😊❤
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with hanya Acil

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!