My Authors
Read all threads
Horror Thread Based on True Story

Rumahku Istana"mu"
Part 3
"Suara itu tak bisa di redam"

@bacahorror @bagihorror @IDN_Horor @ceritaht
#bacahorror #bagihorror #horrorthread #ceritahorror #malamjumat #rumahkuistanamu
Kejadian 1.
Hari itu hari kamis dan waktu sudah menjelang maghrib, aku sedang tak enak badan, dan tiduran di kamarku, dari kamarku aku bisa melihat kedua adikku sedang bermain kejar – kejaran dari lantai 1 ke lantai 2 rumahku.
Karena mereka masih kecil, jadi mereka tidak menghiraukan waktu yang dalam bahasa jawa disebut surup. Karena anggota keluarga yang lain sedang sibuk dengan bersih – bersih rumah, jadi tidak ada yang menegur atau mengingatkan mereka waktu itu.
Mereka sedang sangat asyik dan sepertinya permainan mereka sangat seru bagi mereka, sehingga tidak menghiraukan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Nadin berlari dari ruang tamu ke area belakang rumahku, dan Dira mengejar dari belakang. Nadin berlari mengelilingi pohon mangga dan masih saja Dira mengejar sambil tertawa, walaupun dengan terengah – engah.
Lalu Nadin sengaja berhenti sebentar agar jaraknya dengan Dira tidak terlalu jauh. Setelah Dira mendekat, Nadin kembali berlari. Kali ini dia menuju lantai 2 rumahku, ia berlari tanpa melihat lagi adiknya yang sedang kecapekan di belakangnya.
Suara langkah mereka berdua terdengar “Dug..dug..dug..dug”. Sesampainya di lantai atas mereka berdua lalu tertawa, dan tidak lama kemudian terdengar lagi suara “Dug..dug..dug..dug” pertanda bahwa mereka berdua sedang menuruni tangga.
Berpuluh puluh kali mereka melakukan naik turun tangga itu, sesaat sebelum adzan maghrib bapakku akhirnya menasehati mereka berdua, mereka disuruh untuk berhenti kejar – kejaran karena sedang surup.
Namun, yang namanya anak kecil, semakin dilarang maka yang terjadi adalah mereka akan semakin menjadi – jadi. Benar saja, tawa mereka dan suara naik turun tangga masih terdengar setelah Bapakku menasehati mereka.
Aku masih memperhatikan mereka dari kamarku dengan tidur miring kearah kiri, penat dengan posisi tidur miring ke kiri, aku pun berganti posisi dengan miring ke kanan, yang otomatis tidak bisa lagi melihat mereka,
namun masih bisa mendengar tawa mereka dari lantai atas. Akhirnya tidak lama kemudian mereka turun, Bapakku menangkap dan menggendong keduanya, lalu mereka berdua tertawa dalam gendongan Bapakku.
Suara tawa mereka terdengar makin pelan, yang artinya mereka dibawa Bapak menjauh dari area tangga, entah ke ruang tamu atau kemana. Namun tidak lama kemudian terdengar lagi suara “Dug..dug..dug..dug”,
aku berpikir, bahwa kedua adikku berhasil melepaskan diri dari gendongan Bapakku dan lari ke lantai atas lagi, aku pun kembali menghadapkan badanku miring ke kiri untuk ikut menasehati mereka, karena waktu sudah menjelang adzan maghrib.
Aku menunggu mereka untuk turun dan akan langsung menasehati mereka, beberapa menit aku menunggu namun mereka berdua tidak segera turun, aku pun merubah posisiku kini duduk dan menghadap ke luar ke arah tangga, namun tidak ada tanda – tanda mereka turun.
Aku pun berencana untuk berdiri dan berjalan memanggil mereka turun, namun ketika tubuhku dalam posisi sudah setengah berdiri, terdengarlah suara “Dug..dug..dug..dug”. Namun tidak di iringi suara tawa seperti sebelum - sebelumnya.
Aku pun kembali duduk dan memperhatikan anak tangga itu. Dalam hati berkata “Akhirnya meraka turun”. Namun betapa terkejutnya aku, ketika suara langkah kaki itu terdengar sampai di bagian paling bawah anak tangga, tak nampak adik – adikku
Tidak ada apapun dan tidak ada siapa pun yang terlihat menuruni anak tangga itu, hanya suara langkah kakinya yang terdengar. Aku masih belum percaya dengan apa yang aku rasakan dan aku alami,
aku pun memberitahu Bapakku, “Pak, Nadin masih di atas gak mau turun, sudah hampir maghrib”. Lalu Bapakku menjawab “Kamu mengigau ya? adikmu lagi di suapin Ibumu di ruang tamu, tadi sudah Bapak gendong”.
Seketika itu bulu kudukku berdiri. Aku pun keluar kamar dan melihat ke ruang tamu untuk memastikan, benar saja, mereka berdua disana. Lalu siapa yang menuruni tangga tadi? Pikirku.
Kejadian 2.
Sejak kejadian pertama itu, sering sekali anggota keluargaku yang lain mendengar juga suara langkah kaki yang sedang menuruni tangga, bahkan saudara yang sedang berkunjung pun mendengarnya.
Waktu itu sedang hujan gerimis, waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Aku sedang menjemput saudaraku yang datang dari kota pahlawan untuk singgah karena sedang ada tugas disini,
dia memutuskan untuk mampir dan menginap satu malam disini. Aku menjemput di jalan raya depan komplek perumahanku.
Lalu setelah saudaraku turun dari bus, kami pun berjalan kaki menuju rumah, karena memang tidak terlalu jauh dengan jalan raya. Sambil jalan sambil ngobrol basa basi, saudaraku yang namanya Badri ini bertanya
“apakah ada kamar kosong untuk beristirahat? Kalau tidak ada gakpapa, aku tidur di depan tv”
“ada, tapi di atas mas” jawabku.
“kamar mandi di atas ada juga?” Tanya badri.
“kalau kamar mandi cuma satu, dibawah” jawabku.
“wah, yaudah aku di bawah aja nanti tidurnya, males naik turun tangga kalau kebelet pipis malam – malam” katanya.
lalu kami pun sampai di rumah, Badri masuk dan di sambut hangat oleh seluruh keluargaku, lengkap. Mulai dari Bapak, Ibu, Mas Gembul, Aku dan kedua adikku.
Semua bercengkrama di ruang tamu menyambut kedatangan Badri ini, namun ketika asyik ngobrol, tiba – tiba Badri nyeletuk bilang “ada siapa lagi dirumah ini? Kok ada suara orang naik turun tangga”
sambil matanya melihat ke seluruh anggota keluargaku seakan – akan mengabsen apakah ada anggota keluarga yang belum di ruang tamu. Lalu Ibuku menjawab “oalah, mungkin kucing tetangga” sambil jarinya menyolek paha Bapakku yang duduk di sampingnya.
“apa mungkin suara kaki kucing mirip suara langkah kaki manusia dewasa?” Tanya Badri lagi, lalu Bapakku mencairkan suasana dengan menyalakan tv. Dan kami pun kembali bercengkrama, ngobrol lagi. Keesokan paginya badri berpamitan untuk pulang kembali ke kota pahlawan.
Lalu ketika makan malam bersama, ibuku berkata “Pak, beberapa hari yang lalu ketika aku nyuci malam – malam, aku mendengar juga suara langkah kaki itu di tangga. Apa Bapak tidak punya rencana apa gitu untuk menghentikan gangguan suara itu?”.
“Ah..mungkin Cuma perasaan Ibu aja, Bapak gak pernah denger”.
Lalu mas Gembul menyahuti “Beneran pak, ketika aku lihat tv sendirian, aku sering mendengar langkah kaki juga di tangga, naik turun terus, aku kira Bapak, tapi pas di lihat gak ada apa –apa”.
“tu..kan.. masih aja gak percaya?” Tanya Ibuku ke Bapak.
“yaudah, malam ini akan Bapak tunggu di depan tangga, biar Bapak percaya dan tidak penasaran lagi”.
Setelah makan malam selesai, Bapak menyalakan rokoknya dan duduk di anak tangga paling bawah, kami pun beraktifitas seperti biasa, sebelum aku beranjak tidur jam 23.45 pun , Bapakku masih tetap duduk di anak tangga paling bawah itu untuk membuktikan suara itu.
Keesokan harinya ketika shubuh aku bangun tidur, aku segera beranjak dari tempat tidurku dan keluar kamar mencari Bapakku,
aku melihat Bapakku masih tetap di tangga paling bawah dan ternyata beliau tidak tidur semalam karena penasaran dan melaksanakan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, dengan memberikan tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi anggota keluarga.
“gimana pak? Muncul suara langkah kakinya?” tanyaku.
“enggak, sampai detik ini belum terdengar suara langkah kaki yang naik turun tangga, mungkin sepatunya sedang dicuci jadi dia gak muncul” kata Bapakku sambil tertawa.
Kejadian 3.
Beberapa bulan yang lalu aku di diagnosa mengidap penyakit asma, dan disarankan oleh dokter untuk mengganti semua kasur, bantal, dan juga guling yang berbahan dasar dari kapuk dengan yang berbahan dakron.
Tidak lama kemudian Ibuku membelikanku guling dan bantal untukku yang berbahan dakron. Putih dan bersih sekali ketika kondisinya masih baru.
Kejadian ini terjadi pada sore hari. Setelah aku pulang dari ekstrakurikuler waktu sudah menunjukkan jam 16.45. Aku sampai di rumah dalam keadaan capek luar biasa.
aku pun berganti baju dan menuju kamarku di lantai atas, aku masuk kamar dan merebahkan diri di kasur yang masih kapuk, namun guling dan bantalnya sudah berganti baru dengan yang berbahan dakron.
Baru saja merebahkan diri, tiba – tiba aku kebelet pipis, aku pun turun. Di depan kamar mandi aku melihat Ibuku sedang menggendong adikku yang sedang menangis waktu itu,
aku pun bergegas ke kamar mandi dan pipis, setelah pipis aku berlari menuju kamarku lagi di lantai atas. Namun masih dua langkah menaiki tangga, ibuku berkata “mau kemana lagi, kok sepertinya tergesa – gesa?”.
“mau tidur bu, capek sekali” jawabku.
“hus..jangan tidur, ini sudah sore.. gak baik” jawab ibuku lagi.
“iya deh..Cuma rebahan doang” jawabku sambil terus lari ke kamar.
Sesampainya di kamar, aku menyalakan kipas angin, lalu aku langsung merebahkan diri di kasur dan masih ingat pesan ibuku, tidak boleh tidur.
Aku berebah dikasur, aku memeluk guling dakron baru ku yang masih belum di bungkus apapun, masih putih bersih, karena capek dan kena hembusan angin dari kipas angin, aku pun tertidur.
Diantara sadar dan tidak, tidak lama kemudian aku di kejutkan oleh suara “waaaaaakkk” yang sangat amat nyaring dan suara itu sepertinya sangat amat dekat dengan telingaku, suaranya berat seperti suara lelaki.
Aku terkejut dan bangun, lalu membuka mataku. Hatiku serasa berhenti berdetak ketika aku membuka mataku yang terlihat dihadapanku adalah sesosok pocong dengan tali yang masih terikat sedang menatapku dan aku memeluknya.
Tubuhku bergetar hebat, ingin rasanya berteriak minta tolong, namun suaraku entah hilang kemana, hampir 5 menit aku dan pocong itu saling menatap. Lalu tiba –tiba pocong itu menghilang dengan sendirinya.
Aku pun sudah sepenuhnya sadar, lalu duduk, aku pun kembali melihat dimana posisi pocong itu muncul, dan tempat dimana pocong itu muncul adalah di guling dakron baruku. Sejak saat itu aku tak pernah lagi tidur di sore hari menjelang maghrib.
Kejadian 4.
Kejadian kali ini ketika aku pulang kuliah, Karena kuliahku sore, jadi pulangnya pun malam. seperti cowok –cowok pada umumnya, setelah pulang kuliah aku tidak langsung pulang, tapi nongkrong bersama teman – teman di UKM musik di kampusku.
Karena keasyikan berkumpul dengan teman –teman, tak terasa waktu menunjukkan pukul 22.00. Aku pun pulang, namun sebelum sampai di rumah, aku bertemu dg teman – teman komplekku yang berangkat mau ngopi di warung dekat kuburan cina, yang letaknya tidak jauh dari komplek perumahanku
akhirnya karena sungkan, aku pun mengikuti mereka dan bergabung untuk ngopi bersama – sama, kalau tidak salah ada 6 orang malam itu, Yudi berboncengan dengan Heru, Yanto berboncengan dengan Bima dan Albert berboncengan dengan Wendi.
Namun ada yang aneh malam itu, Wendi terlihat tidak seperti biasanya. Ia menggunakan hoodie dengan warna abu – abu dengan tulisan nama band punk lokal favoritnya di bagian depan, ia sedikit menunduk sehingga wajahnya tak begitu jelas dan diam.
Padahal Wendi ini biasanya ceria dan banyak omong. Kami pun meluncur menuju warung kopi itu, sesampainya di warung, kami semua turun dan masuk warung, namun aku melihat Wendi masih berdiri di samping motor Albert dan masih sedikit menunduk
aku yang terakhir masuk warung dan tak lupa aku mengajak Wendi masuk, “Wen, ayo masuk” kataku..
#ceritahorror #ceritahoror #threadhorror #horrorthread #rumahkuistanamu #malamsabtu #bagihorror #bacahorror #bacotsantuy
Dia tak menjawab dan masih dalam posisi yang sama, berdiri dan sedikit menunduk, “ah mungkin sedang membalas wa pacarnya” pikirku.
Lalu aku masuk dan kami duduk melingkar dan diantara kami ada meja kecil tempat minuman –minuman pesanan kami. Kami pun ngobrol, sekitar 15 menit aku pun teringat pada Wendi yang masih di luar.
Aku menyuruh Albert untuk mengajak Wendi masuk warung.
“bert, Kasian Wendi di luar sendirian,suruh masuk sini”.
“mana? Naik apa dia kesini?”jawab Albert.
“loh,bukannya tadi kamu yang bonceng Wendi?”tanyaku.
“aku sendirian kok” jawab Albert.
“iya, Albert sendirian kok” kata Yudi.
“tuh masih di dekat motormu bert” jawabku sambil nunjuk keluar.
“gak ada siapa – siapa di luar” kata Albert.
Kami berenam saling pandang. Aku pun menjelaskan bahwa dari pertama ketemu di depan komplek tadi Wendi sudah berboncengan sama Albert.
Namun semua temanku bilang Wendi gak ikut, lagi sakit katanya. Aku pun menengok keluar warung, benar saja, taka da siapa – siapa di luar.
Tidak lama kemudian kami pun pulang, sesampainya di rumah persis seperti apa yang kuduga, semuanya sudah tidur. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 wib.
Aku masuk rumah dan langsung menuju kamar mandi karena kebelet pipis, aku pun pipis, namun ketika pipisku belum tuntas, terdengar suara “waaaak” yang asalnya dari lantai atas rumahku, aku tak menghiraukannya.
Aku pun melanjutkan pipisku, namun suara itu muncul kembali dan kali ini lebih dekat, “waaaaakkk”, aku terkejut dan bergegas menyelesaikan pipisku dan lari ke kamar kakakku dan tidur.
Kejadian 5.
kejadian ini terjadi ketika rumahku ini selesai direnovasi, dulunya rumah ini hanya satu lantai, setelah di renovasi rumahku menjadi dua lantai. (lihat denah rumah di part 1).
Beberapa hari setelah rumahku selesai di tingkat, kami masih membersihkan sisa – sisa kayu dan sisa bahan bangunan lain yang ada di dalam rumah.
“Karena besok akan ada saudara yang datang dari kota apel, maka pembersihan diusahakan selesai hari ini” kata Bapakku.
Kami bekerja sama membersihkan seluruh isi rumah, dan syukurlah tepat jam 23.00 rumah sudah dalam keadaan bersih. Aku, Mas Gembul, Bapak dan Ibuku berkumpul di ruang tamu untuk beristirahat setelah selesai bersih – bersih.
Kami ngobrol santai dan nampaknya Ibuku merasa kasihan dengan Bapakku yang sepertinya sangat kelelahan, akhirnya Ibuku berdiri untuk menuju dapur dan menyalakan kompor,pasti sedang membuatkan wedang jahe kesukaan Bapakku.
Namun ketika ibuku di dapur, kami bertiga yang sedang di ruang tamu mendengar suara wanita sedang menyanyi (nyinden). Awalnya kami mengira itu adalah ibuku yang sedang nyanyi –nyanyi. Suaranya aneh dan bahasanya tidak kami mengerti,
padahal biasanya sinden itu menyanyikan lagu – lagu jawa, nah yang kami dengar ini entah bahasa apa. Yang pasti suara sinden itu sangat jelas.
Bapakku rupanya risih juga dengan nyanyian itu, beliau pun bilang “nyanyi apaan sih bu?, kok gak jelas!”.
Lalu ibuku berjalan kearah ruang tamu sambil mengaduk wedang jahe buat Bapak dan menjawab “siapa yang nyanyi, aku diem daritadi, suaranya dari lantai atas” kata ibuku. Rupanya ibuku juga mendengar apa yang kami dengar.
Bapakku pun penasaran, beliau jalan kearah tangga dan mendongakkan kepalanya keatas mencari sumber suara, namun tak mendapatkan hasil. Suara itu berhenti tepat ketika bapakku berjalan tadi.
Bapakku kembali keruang tamu, dan kembali ngobrol dengan kami, lalu tiba – tiba suara nyanyian sinden itu terdengar lagi, aku dan ibuku kali ini yang berdiri dan berjalan kearah tangga.
Lalu suara itu menghilang lagi. Namun ketika kami sedang mencari cari suara sinden itu, tiba – tiba listrik padam. Dan kembali suara itu muncul dari bagian atas rumah kami. kami tak menghiraukannya dan bergegas tidur.
malam - malam berikutnya, sering sekali suara sinden itu terdengar. yang pasti para tamu pun terkadang ada yang sanggup mendengar juga. dan kami tak menghiraukannya. PART 3 TAMAT
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Keep Current with Fendy Lagi

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!