Profile picture
, 70 tweets, 9 min read Read on Twitter
Hai,
Gimana puasanya? Lancar ya?

Gak tahan juga pingin cerita 😁
Malam ini gw mau cerita tentang kejadian di kampung halaman, waktu gw kecil.

Simak ya..

@InfoMemeTwit
#briikecil
Bulan Ramadan..
Sama dengan anak-anak lainnya, waktu kecil gw juga sangat menunggu kedatangannya, karena suasananya sangat menyenangkan.

Jam pelajaran sekolah dikurangi, satu minggu awal Ramadan dan satu minggu sebelum lebaran sekolah libur, seru..😁
Ada juga acara buka puasa bersama di sekolah, pesantren kilat, mengejar-ngejar tanda tangan Imam salat Tarawih, itu adalah beberapa kegiatan dari banyak yang seru lainnya.

Oh iya, gw juga senang main petasan, tangan kanan pernah sampai terbakar gara-gara petasan 😖
Apa lagi waktu itu gw tinggal di kampung, jadi makin banyak yang seru. Yang sudah follow lama pasti tahu nama kampungnya.

Di kampung ini gw lahir dan tumbuh besar.
Dari banyak teman kecil waktu itu, ada beberapa yang selalu main bareng gw, namanya Ali, Yosep, dan Yanto.

Banyak petualangan seru yang gw alami bareng mereka, termasuk juga petualangan seram, beberapa diantaranya seram banget, nanti kapan-kapan gw ceritain satu-persatu..

***
Nah pernah ada kejadian seru yang kebetulan terjadi pada bulan Ramadan. Salah satu kisah yang gw ingat sampai sekarang, karena cukup menarik dan agak lucu.

Gw masih kelas enam SD.

Begini ceritanya..
Waktu itu, kampung gw ini termasuk kampung yang masih banyak kejadian mistis dan menyeramkan. Setiap ada kejadian, beritanya langsung menyebar dengan cepat ke setiap sudut kampung, jadi buah bibir.
Memang begitu adanya, beberapa kejadian seram gw alami sendiri, seram dan sangat menakutkan.

Walaupun banyak juga cerita kejadian yang ternyata hoax, cerita bohong.

***
Ramadan tiba..

Gw dan teman-teman sangat senang menyambutnya.

Salah salah satu ibadah di bulan Ramadan yang gak pernah kami tinggalkan adalah tarawih, setiap malam kami selalu ke Musala untuk melaksanakannya
Biasanya, setelah berbuka puasa, Ali, Yosep, dan Yanto selalu datang menjemput gw di rumah, setelah itu kami jalan kaki menuju musala yang jaraknya kira-kira satu kilometer ke arah pelosok kampung.
Waktu itu kampung ini masih tergolong sepi, masih banyak tanah kosong, banyak kebun yang isinya pepohonan kelapa dan banyak sawah juga.
Makanya, selama perjalanan kami harus melewati wilayah-wilayah seperti itu, kebun kelapa dan beberapa tanah kosong. Tapi juga ada beberapa rumah penduduk di antaranya.
Dengan riang kami berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang gak terlalu lebar. Waktu itu kira-kira jam setengah tujuh malam, jadi masih banyak orang lalu lalang. Belum sepi..
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kami memperlambat langkah,

"Rumah ini masih kosong aja ya."

Ali menunjuk rumah yang ada di sebelah kiri jalan yang tengah kami lewati.
Rumah besar berhalaman luas yang sudah kosong beberapa bulan sebelum masuk bulan Ramadan.

Kami gak tahu siapa pemiliknya, yang kami tahu penghuni yang terakhir pergi meninggalkan rumah secara mendadak.
Kanan kirinya hanya ada lahan yang gak terpakai, semak belukar dan pohon-pohon seri tumbuh liar gak terurus. Pokoknya, sekeliling rumah ini gak ada rumah lain, sendirian.
Nah, menurut cerita yang beredar, setelah kosong gak berpenghuni, rumah ini jadi rumah angker.

Katanya, banyak warga yang pernah melihat penampakan hantu. Ada yang melihat kuntilanak, gendoruwo, pocong, dan lain sebagainya.
Tapi yang paling santer terdengar, banyak warga yang kadang mendengar suara bayi menangis atau tertawa. Kalau kebetulan mendengarnya ketika melintas di depan rumah itu, pasti langsung lari terbirit-birit ketakutan.
"Iya, masih kosong aja, tambah gelap juga, serem." Gw menimpali omongan Ali.

Yosep, kebetulan paling penakut, lalu mempercepat langkahnya dan menjadi yang jalan paling depan.
"Mana?, gak ada suara bayi, bohong kali tuh orang-orang.."

Yanto buka suara, agak menantang tapi raut mukanya jelas-jelas kelihatan takut juga.

Tapi memang benar, ketika kami melintasinya gak terjadi apa-apa, gak ada penampakan atau pun suara bayi, sepi aja..
Ya mungkin karna masih sore, masih jam tujuh kurang, belum terlalu malam, masih banyak orang yang berlalu lalang.

Lalu kami melanjutkan perjalanan.

Singkatnya, kami sampai juga di Musala, lalu melaksanakan salat Isya dan Tarawih.

***
Selesai Tarawih sekitar jam sembilan malam.
Seperti biasa, kami gak langsung pulang. Banyak kegiatan seru yang kami lakukan, entah itu perang sarung, petak umpet, menyalakan petasan, banyak..

Sekitar jam sebelas biasanya baru pulang, begitu juga dengan malam itu.
Dengan personil yang sama, kami berempat pulang melintasi jalan yang sama dengan jalan waktu berangkat tadi.
Suasana sudah sepi, gak seperti jam tujuh tadi. Jalan tanah yang gak terlalu lebar itu sangat gelap di banyak bagian, akan sedikit terang kalau ada rumah di kanan atau kirinya, setelah itu gelap lagi.
Gak ada lagi orang lalu lalang, hanya suara gelak tawa kami yang kadang memecah kesunyian.
Perbincangan ramai dan canda tawa tiba-tiba berhenti, kami diam dan suasana menjadi sepi.

Sekitar tiga puluh meter di depan, rumah kosong yang katanya angker itu akan kami lewati.

Gerak langkah kaki kami perlambat, posisi berjalan jadi semakin merapat..
Rumah dalam keadaan gelap, sangat sepi dan terlihat seram. Pagar temboknya yang putih kusam membuat semakin kelihatan mencekam.
Ketika sudah benar-benar tepat melintas di depannya, langkah kaki semakin pelan, rasa penasaran membuat kami menolehkan wajah ke kanan, memperhatikan situasi dan kondisi rumah.
Bagian depan ada jendela kaca yang besar, besarnya dua kali lipat dari besar pintu yang ada di sebelah kirinya.

Nah, dari jendela kaca inilah tiba-tiba gw melihat ada bayangan hitam di dalam rumah.
Bayangan hitam berbentuk perempuan rambut panjang, berbaju terusan panjang juga.

Yang membuatnya jadi semakin menakutkan, bayangan itu terlihat bergoyang-goyang pelan..
Gw menghentikan langkah karena penasaran,

kemudian berdiri diam sambil memicingkan mata, menajamkan penglihatan.

"Ada apa Brii? Knapa berenti?"

Tanya Ali, yang kemudian ikut berhenti berjalan.
"Ada bayangan di dalam rumah, coba liat deh."

Gw menjawab sambil menunjuk ke arah jendela rumah.

Kami berempat akhirnya berhenti berjalan semuanya, berdiri memperhartikan rumah, mencari bayangan yang gw maksud.
"Gak ada Brii ah, mana?"

Yosep mulai protes sambil ketakutan.

"Udah ah, yuk pulang yuk.."

Yanto menimpali dengan suara yang mulai bergetar.

Namun kemudian, tiba-tiba kami mendengar sesuatu..
"Oaaaaa, oaaaaa, oaaa."

Terdengar suara tangis bayi dari dalam rumah!

Sangat jelas..

Tanpa dikomando, kami langsung lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Ketakutan.

***
Keesokan harinya, kami membahas kejadian yang baru terjadi semalam bersama teman-teman yang lain.
Saling menambahkan cerita versi masing-masing, cerocosan Yanto dan Ali yang paling ramai.

Setelah itu teman-teman yang lain menambahkan cerita mengenai rumah kosong itu, entah kejadian yang dialami orang lain atau pun yang katanya dialami sendiri.
Gw senang mendengar mereka bercerita, seru. Pembahasannya gak pernah habis.

Dengan begitu, semakin tersebar luaslah rumor tentang rumah kosong itu, tentang keangkerannya.

Kalo gw, masih penasaran dengan bayangan perempuan yang gw lihat semalam.

Siapa perempuan itu?

***
Malam berikutnya, seperti malam sebelumnya, kami berempat berangkat ke Musala jam setengah tujuh.

Melewati jalan yang sama, tentu saja kami juga harus melintas di depan rumah kosong itu lagi.
Karena masih ingat dengan kejadian sebelumnya, kami memutuskan untuk berlari ketika sudah benar-benar tepat berada di depannya, takut..

Gak lama kemudian kami sampai di Musala.

***
Gw ingat, malam itu harus mengejar tanda tangan Imam salat, untuk tugas sekolah.

Tapi karena keasikan bermain setelah Tarawih, gw malah lupa minta tanda tangan. Parahnya, Bapak yang jadi Imam ternyata sudah pulang ke rumahnya.
"Aku ke rumah Pak Ustad dulu ya, lupa minta tanda tangan."

Gw bilang gitu ke teman-teman.

"Ya udah, kami tunggu di sini aja ya."

Begitu kata Yanto.

Setelah itu gw berjalan sendiri ke rumah Pak Ustad, yang gak terlalu jauh dari Musala.
Sesampainya di rumah Pak Ustad, gw sempat menunggu cukup lama sebelum akhirnya beliau membubuhkan tanda tangan di buku tugas.

Selesai, lalu gw berjalan kembali ke Musala.

**
Sial, sesampainya di Musala ternyata sudah sepi.

Teman-teman sudah pulang duluan semua, padahal tadi gw udah minta untuk tunggu.

Ya sudah, dengan berat hati akhirnya pulang sendiri.
Masih bersungut-sungut karna ditinggal sendirian, gw melangkahkan kaki, berjalan menyusuri jalan yang sudah sangat sepi.
Jalan ini sudah sangat gw kenal, setiap sudutnya gw sangat hapal. Makanya, gw sudah tahu ketika beberapa belas meter lagi akan melewati rumah kosong yang sedang jadi pembicaraan hangat itu.
Jujur, gw juga merasakan takut, terbawa dengan cerita yang beredar tentang keangkerannya. Apalagi, malam sebelumnya gw merasakannya sendiri, melihat bayangan hitam perempuan, mendengarkan suara tangisan bayi.

***
Gw mempercepat langkah, sampai nyaris berlari, ketika sudah benar-benar melintas di depan rumah itu, pandangan lurus ke depan gak berani menolehkan wajah ke arah kanan.

Seperti kemarin, keadaan dan situasinya tetap sama, gelap dan menyeramkan.

Cp:google
Langkah gw berhenti..

Karena sayup-sayup gw mendengar sesuatu..

"Oaaaaaa, oaaaaa, oaaaaaa."

Tangisan bayi terdengar lagi.
Entah apa yang ada di dalam pikiran saat itu, gw malah berhenti melangkah.

Perlahan gw arahkan pandangan ke depan rumah, mencoba mencari sumber suara.

Gak kelihatan ada apa-apa, tetap kosong.
Gw memperhatikan kaca depan, siapa tahu ada bayangan perempuan lagi. Tapi gak ada, gak kelihatan apa-apa juga.

Gw penasaran, karna tangisan bayi semakin jelas tersengar, semakin kuat..

Nekat, gw mendekat ke pintu pagar dan membukanya.
Rasa takut semakin lama semakin menghilang, tertutup dengan rasa penasaran.

Sesampainya di pintu depan, gw langsung mencoba membukanya, perlahan memutar gagang pintu. Tapi ternyata pintu dalam keadaan terkunci, gak bisa terbuka.
Mencari jalan lain, gw memutar menuju samping kanan rumah, di situ ada jendela kayu, siapa tahu gw bisa masuk dari situ.

Sementara itu suara tangisan bayi masih saja terus terdengar, tapi kali ini ditambah dengan suara lain.

"Sssttt, ssssssstt."
Ada suara berdesis seperti menyuruh bayi itu untuk diam. Gw yakin kalau suara itu adalah suara perempuan..
Semakin penasaran, sesampainya di depan jendela samping, gw membukanya perlahan, mencoba membuat celah untuk mengintip ke dalam.

Setelah cukup ada celah, akhirnya gw melihat sesuatu..

***
Ruang tengah ternyata ada cahaya, penerangan yang bersumber dari lampu kecil yang tergeletak di atas lantai.

Kenapa gak kelihatan dari luar? Karena ruang tengah itu berbatas tembok dan pintu tertutup dengan ruangan depan yang ada jendela kacanya, jadi cahayanya gak kelihatan.
Ada yang lebih mengagetkan lagi, ternyata di ruang tengah itu ada seorang perempuan yang sedang menggendong bayi dengan kain yang melingkar di pundaknya.

Perempuan itu tampak sedang mencoba menidurkan bayinya, yang tangisannya perlahan mulai mereda.
Gw berdiri diam, bukan ketakutan tapi malah bingung, karna perempuan itu bukan hantu, tapi benar-benar manusia.

Sedang apa dia di dalam rumah kosong bersama bayinya sendirian?
Ketika masih diam kebingungan, gw kaget, karna tiba-tiba ada yang menepuk pundak. Sontak langsung menoleh ke belakang.
"Masuk aja yuk dek, kita ngobrol di dalam."

Seorang laki-laki berumur sekitar 30 tahun berdiri di belakang gw, sambil tersenyum dia mengajak untuk masuk ke dalam rumah.
Gw ikuti kemauannya, karena dia menunjukan raut wajah bersahabat, gak menakutkan sama sekali.

Kemudian kami masuk melalui jendela.

***
Beralaskan tikar, kami duduk di atas lantai.

"Maaf sudah buat kamu ketakutan ya, ini istri dan anak om."

Lelaki itu membuka pembicaraan sambil memperkenalkan anak dan istrinya, senyum gak lepas dari wajahnya.

Selanjutnya ketika suasana sudah mulai mencair, kami berbincang.
Om Iwan namanya, bersama istri dan anaknya sudah sekitar dua bulan terakhir tinggal di rumah kosong itu, secara sembunyi-sembunyi.

Mereka keluar masuk rumah kalau keadaan sudah sepi dan gak ada orang sama sekali.
Kenapa begitu? Karena mereka belum mampu memiliki tempat tinggal, sama sekali belum ada uang.

Tapi om Iwan bilang, rencananya esok hari mereka akan meninggalkan rumah itu, saat itu adalah malam terakhir, karena mereka sudah mampu untuk menyewa kamar kontrakan.
Sedih gw mendengar ceritanya, keluarga kecil yang masih berjuang untuk hidup.

Gak berapa lama kemudian gw pamit pulang..

***
Jadi begitu, ternyata rumah itu selama dua bulan terakhir memang ada penghuninya, manusia.

Suara bayi yang sering terdengar menangis atau tertawa memang berasal dari seorang bayi manusia, bukan hantu.

Bayangan hitam perempuan yang gw lihat adalah perempuan biasa, bukan hantu.
Gw senang karena sudah tahu kebenarannya, lega..

***
Beberapa hari setelahnya, teman-teman masih juga terus membahas tentang seramnya rumah kosong itu, membahas dengan antusias dengan perbincangan seru.

Ceritanya semakin bervariatif, makin banyak rumor yang beredar, gak hanya suara tangisan atau tawa bayi, macam-macam jadinya.
Sementara gw, tetap ikut nimbrung kalau ada pembahasan mengenai kisah seram rumah itu, tapi gak mau menceritakan yang sebenarnya.
Gw suka dengan kehebohannya,
Gak mau merusak keseruan kisahnya,
Biarlah tetap seperti itu adanya.

Sikap seperti ini yang masih gw coba pegang sampai sekarang, gak mau merusak keseruan dan kehebohan cerita..☺️

***
Sekian cerita ringan #bukanmemetwit malam ini, semoga menghibur dan ada hikmahnya.

Selamat berpuasa, ditunggu undangan bukbernya ya.. 😊

Met bobo, semoga mimpi indah.

Salam
~Brii~
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to Brii..
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!