, 68 tweets, 14 min read Read on Twitter
TERJEBAK 2 MALAM DI BEKAS POS AIR JALUR SUWANTING

🏕⛰[A THREAD]🏕⛰
4 april 2019, kami berempat kembali melakukan sebuah perjalanan. rindu akan suara angin yang menabrak pohon dalam hutan adalah motivasi kami untuk masuk ke dalam belantara merbabu via suwanting.
tiket sudah di tangan, carrier sudah dipacking rapih, dan logistik untuk 4 hari 3 malam yg pasti sisa dimakan 4 orang manusia ini sudah rapih di dalam carrier yang saya bawa. pendakian kali ini tergolong berat, makanya segala persiapan kita lakukan dengan matang
logistik di carrier saya, air berjumalh 12 botol 1,5 liter ada di carrier @_bangkyeee , tenda dan peralatan masak ada di carrier @bukan_bradpit, dan segala perlengkapan tidur dan pakaian ada di carrier @widyibrahim . Kami siap untung berpindah tidur di alam terbuka.
kereta brantas yang membawa kami ke stasiun solo jebres pun sampai tengah malam, kami langsung menuju parkiran stasiun karena sudah dijemput driver yang sudah kami hubungi sebelumnya untuk menuju pos pendakian suwanting.
subuh waktu suwanting kami tiba di basecamp, beristirahat sejenak sambil kembali mengecek persiapan dan melihat rute jalur yang akan kita lalui. cukup panjang, curam dan melelahkan, itu yang saya lihat. Hujan pun masih turun, dari tadi malam tidak berhenti sedetik pun.
“harusnya matahari udah nongol nih jam segini” ujar iky sambil mengepulkan asap dari rokoknya ke udara. “ya semoga aja sejam lagi berenti lah” kata mpul. Kami memilih menunggu hujan reda sambil sarapan yang sudah kami pesan.
jam 8 pagi matahari mulai menampakan wujudnya, hujan pun pergi, kami lekas menggendong carrier dan menuju pintu hutan. sebelum melanjutkan perjalanan kami berkumpul melingkar, memanjatkan doa, dan saya memberi sidikit brief tentang penjalanan ini.
“kita jalan santai aja, medannya lumayan berat. kalo cape bilang, kalo ngerasa ngga kuat jangan dipaksain, kita bisa balik lagi kok lain waktu. kita berangkat berempat, pulang juga harus berempat. enggak boleh kurang enggak boleh lebih”
kompak 3 orang di sekitar gue langsung melihat ke arah gue yg habis memberikan sedikit brief. “iya, nggak boleh kurang, nggak boleh lebih” gue menegaskan. mereka mengangguk tanda setuju. lalu kita berfoto bersama untuk asupan media sosial~
jalur dari pintu hutan menuju pos 1 cukup panjang karena banyak pos bayangan. kontur jalur juga bervariasi dari mulai datar hingga curam, tapi lebih banyak curamnya. sehingga kami banyak sekali menghabiskan waktu untuk beristirahat.
“sebat dulu ica kali” baru berjalan setengah jam tanpa henti dengan langka kecil yang konstan akhirnya iky meminta berhenti. di sekitar lembah lempong kita berhenti sejenak. dan kemudian melakukan aktifitas masing-masing. ada yg minum, makan dan main hp.
“bang lu ada sinyal? dari tadi story mulu ama twitteran” tanya mpul penasaran melihat gue yg sibuk dengan hp gue. “Ada kok, tuh 4G lagi” emang lu nggak ada? “kaga bang” makanya pake “@Telkomsel” kata gue #Bagusnya4GTelkomsel #TerusBergerakMaju
@Telkomsel Emang dari 4 orang ini cuma gue yang masi bisa internetan di tengah hutan, upload story dan pos twitter, sambil ngabarin progres pendakian ke orang yg standby di kota. mitos 4G katanya nggak stabil, patah di pendakian kali ini. #Bagusnya4GTelkomsel #TerusBergerakMaju
@Telkomsel Tapi sebelumnya emang gue juga pernah ditolong sama sinyal 4G @Telkomsel waktu keadaan mendesak, waktu pulang dari gunung gede tengah malem dan ada yang sakit di akhirnya ngabarin orang di basecamp #Bagusnya4GTelkomsel #TerusBergerakMaju
@Telkomsel Waktu jadi tim advance juga enak kabar-kabaran sama panitia lainnya jadi lancar, buat gue yg sering masuk hutan dan berkegiatan di daerak yang bukan perkotaan, milih @telkomsel adalah keputusan yang nggak pernah gue sesali #Bagusnya4GTelkomsel #TerusBergerakMaju
@Telkomsel “Dah balik dari sini ganti @Telkomsel 4G biar bisa kek gue” “iya bang enak kan kalo bisa pamer liburan lagi ntar wkwkwk” “telat sih lu tau #Bagusnya4GTelkomsel #TerusBergerakMaju
kami akhirnya melanjutkan perjalanan. baru beberapa langkah. iky yg ada di depan gue tiba-tiba teriak. “Astagfirullah” gue langsung mempercepat langkah mencoba menyusul iky untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“napa lu ki?” “ini bener bang jalurnya kaya gini?” gue menengok untuk melihat apa yg iky liat. sebuat jalan curam ke atas, hampir 85 derajat dengan ketinggian 2 meter. dan terus berundak sampai kira-kira 6 meter.
“lah iya bener ki” ucap mpul yang memang sebelumnya sudah pernah melalui jalur ini sebelumnya. “dah pelan-pelan aja yang penting sampe” kata paman widy sambil memulai kembali perjalanan. kalo diinget inget lagi ini memang jalur paling bikin capek.
Langit kembali mendung, gue sudah mulai cemas, karena kalo hujan turun, jalur semakin licin dan menyulitkan perjalanan kami. sejam kemudian gantian saya yang meminta break
“break bentar, sambil jaga-jaga takut ujan, jadi bisa siap-siap” kami pun glosoran lagi di tanah. tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara kerincingan.

“bang lu denger ga?” kata iky.

“denger”
semakin lama suara semakin dekat, diikuti dengan suara langkah kaki yg berat. semua mata kami tertuju pada sumber suara yang berada di bawah kami. kami terdiam serius mengamati jalur di bawah kami
kemudian sosok manusia menggendong carrier warna biru muncul dan tiba di hadapan kami.

“sendirian aja bang?” tanya mpul ke seorang pemuda tersebut

“iya sendirian, gabung boleh?”

“boleh bang, mending gabung aja daripada sendirian”
singkat cerita pemuda itu bernama david, datang dari jakarta, mendaki seorang diri. akhirnya tim kami bertambah 1 orang anggota. ya gapapa nambah yang penting “manusia”
tak lama setelah kita berkenalan dan ngobrol, kami melanjutkan perjalanan. sekitar 30 menit kemudian, hujan rintik turun. kami akhirnya memutuskan berhenti sejenak untuk memakai jas hujan, dan kembali melanjutkan perjalanan.
hari sudah mulai menuju gelap, kira-kira pukul 4 sore dan hujan semakin deras. kami terus melanjutkan perjalanan untuk menuju pos 3. rencananya kita akan beristirahat sejenak untuk makan dan menunggu hujan reda
setelah menyusuti jalan yang semakin sulit kami tiba di tempat datar, tidak begitu luas, hanya cukup untuk mendirikan 3 tenda.

“ini pos air pul?” kata gue

“harusnya sih ini, abis dari sini udah masuk lembah manding ”
ketika gue sedang mengolah daging yakiniku yang kami bawa, mpul yang berada tiba-tiba melompat dan berlari keluar bivak darurat. kami semua kaget dan kompak melihat ke arah mpul.
mpul terdiam di depan semak yang bawahnya jurang yg cukup dalam. suasana tiba-tiba hening lumayan lama

“pul, pul.” iky memanggil mpul namun dia tetap terdiam tidak bergerak dari tempatnya
fak tiba-tiba merinding lagi inget yg ini
kemudian mpul menengok ke arah kami

“lu pada denger ga?”

“apaan? kaga ada apa-apa” paman menimpali

“ada suara cewe minta tolong! masa lu pada nggak denger? ayo tolongin!"
"apaan sih lu orang kaga ada apa-apaan!" bentak paman widy

“tapi gue denger, ayo tolongin! lu pada gila apa ada yg minta tolong kaga kita tolongin”

“dari tadi cuma kita doang di sini kaga ada siapa-siapa” paman kembali menimpali
iky, paman, dan david melihat ke arah gue. gue cuma mengangguk. dan mereka pun paham. gue memang mendegar suara yg mpul dengar. jelas. suara perempuan meminta tolong dengan suara lirih “tolonggg saya". sampai saat ini pun masih saya masih terbayang suara itu.
“dah sini, halu lu itu mah karena laper, dingin. makan nih dah ada yg mateng, ntar malah tepar lu, kita yg jadi nolongin jadinya” kata gue membujuk mpul kembali ke tempat kami memasak.
kami pun makan di tengah guyuran hujan yg terus turun, dan hari pun semakin gelap.

“dah, kita camp di sini. udah pada capek, ujan juga masih deres. gelap, ujan jalur di depan kata mpul makin sulit, mana dia penah muter-muter seharian di hutan manding kesasar. kita cari aman aja”
malam itu kami tidur di situ, gue cemas karena memang tampatnya tidak begitu kondusif, terlebih lagi dengan suara perempuan yang meminta tolong. tapi karena kondisi tidak memungkinkan untuk tim melanjutkan ya mau bagaimana lagi.
kami semua pun setuju untuk bermalam di situ. dan kita membagi tugas untuk membangun tenda dan membangun dapur untuk kami memasak dan makan.

sehabis magrib tenda dan dapur sudah berdiri, kami bergantian berganti baju yang basah agar tetap sehat tidak terserang hipotermia
karena lelah setelah seharian berjalan di jalan yg curam, kami satu per satu pun tidur. kami berdesakan tidur di satu tenda agar tetap hangat. kecuali david yang memilih untuk tidur di dapur padahal tenda masih muat kalo dia ikut tidur di dalam.
david tidak membangun tenda karena semua peralatan tidur yang di bawa basah semua termasuk sleeping bag dll karena telur yg dia bawa di dalam carrier pecah. nggak kebayang kalo misal dia nggak ketemu kami. tidur bau amis telor.
saat semua sudah terlelap, gue masih terjaga. padahal tubuh ini sudah lelah. tapi tak bisa juga tidur walau sudah memejamkan mata. yang paling menyebalkan, suara perempuan yg meminta tolong masih terngiang di pikiran gue
di tempat itu hanya ada 2 tenda. 1 tenda kami, dan 1 lagi milik pendaki lain yg sejak kami tiba, kami belum bertemu sama sekali dengan pemiliknya. hujan pun masih turun malam itu.
saat gue mencoba untuk tidur, sesekali terdengar derap langkah di tanah. hanya ada suara langkah kaki tanpa suara apa pun, dan kadang suaranya ramai, seperti ada banyak pendaki yg lewat.
logikanya adalah, ketika ada pendaki yang lewat, suara langkah diikuti dengan cahaya senter dan terlihat bayangannya dari dalam tenda, karena kondisi gelap di malam hari. tapi, malam itu tak terlihat ada cahaya dan bayangan sama sekali. bahkan suara manusia pun tak terdengar.
karena penasaran saya mencoba membuka pintu tenda dan mengintip ke luar untuk melihat keadaan. tapi tidak ada apa-apa kecuali suara hujan dan david yg tidur di dapur darurat.
“ah nggak beres mulu dari sore heran” gumam gue dalam hati. “jangan ganggu ya, capek banget ini sumpah” gue kembali mencoba tidur kembali. tapi tetap tidak bisa. suara tadi tetap saja muncul dan semakin sering intensitasnya.
entah pukul berapa akhirnya gue tertidur.

pagi datang, hujan masih turun. kami pun belum bisa melanjutkan perjalanan. seharian itu kami hanya mengobrol, memasak dan makan. dan hari itu tidak ada pendaki lain yg melintas. kecuali pemilik tenda yg satu lagi yg memilih untuk turun.
tanpa terasa sore pun datang kembali.kami memutuskan untuk kembali bermalam, karena hujan masih terus turun. tidak memungkinkan untuk naik atau pun turun karena kami rasa cukup berbahaya, sempat terpikir untuk ikut turun bareng tetangga tadi tapi kami memilih untuk tetap aman
padahal gue agak cemas karena kejadian semalam kalo bermalam sehari lagi. tak ada obrolan mengenai kejadian yg malam tadi gue alami, gue nggak tau apakah mereka mendengar juga apa tidak. kalo saya buka obrolan pasti mereka akan memilih opsi untuk turun.
menjelang magrib. mpul dan iky melancarkan buang air besar. tempat mereka buang air ada di semak yg lokasinya ada di atas tenda. jadi semaknya terlihat dari dapur. saat gue sedang merokok dan melihat ke arah semak. tiba-tiba..
semak lain bergoyang dan ada sesuatu yg keluar dan terbang melayang di atas semak tidak jauh dari tempat iky dan mpul bab.

gue langsung memutuskan untuk masuk ke dalam tenda.

“fakkkkkk iky sama mpul berak diliatin kuntilanak”
dari dalam tenda gue memanggil mereka berdua

“pul, ki, buruan keburu gelap. bentah banget lu berak ujan-ujanan”

tak lama suara mereka mengobrol terdengar dari dalam tenda, yg menandakan mereka sudah selesai.
“ki buru yuk ke tenda dingin” kata mpul. mpul pun datang lalu menatap gue

“bang, lu denger suara cewe ketawa nggak?”

“iya denger, makanya lu gue panggil tadi suruh buruan”

“jelas banget ketawanya bang sumpah”

“ya udah jangan dibahas, ntar yg laen denger repot”
malam itu kami kembali memasak, sambil memasak kita membahas rencana esok hari.

“besok kalo cerah, kita turun. kalo gerimis kita turun, kita nggak mungkin lanjut ke atas, waktunya ga cukup. logistik mempet jadinya ga ada spare lagi kalo misal haru extend lagi” kata gue ke mereka
mereka pun setuju. lalu kami menghabiskan malam terakhir di sini dengan saling bercerita dan mencurahkan isi hati. malam semakin larut, kami satu persatu masuk ke dalam tenda untuk tidur

“pid, tidur dalem aja, masih muat ini”

“gue di luar aja bang, pen ngegalau sendiri gue."
david tetap tidur di luar malam itu

tak ada suara aneh seperti malam kemaren di malam itu. namun, tiap memejamkan mata, yg terbayang adalah tempat kami mendirikan tenda dan jurang yg ada di semak dekat tenda. suara perempuan meminta tolong juga terbayang. tapi kali ini berbeda.
sosok perempuannya terbayang, bukan cuma suaranya saja seperti malam kemarin. perempuan berambut panjang, yg sebagian wajahnya tertutup dengan rambutnya. jadi hanya terlihat sebagian saja wajahnya, wajah bagian sebelah kanan, yg kiri tertutup rambut.
tapi wajah yg terlihat juga masih samar karena dia menundukan wajahnya. gue membuka mata dan duduk.

“anjir ini mah gue dikasih liat beneran”

gue coba menangkan diri, membuka tenda untuk mengambil air untuk minum.
ketika pintu tenda terbuka, david sudah terlelap. tapi

di bawah kakinya ada pocong yg berdiri melihat david tertidur, tepat di depan mata gue.

“astagfirullah”

lalu si pocong melihat ke arah gue, membuka mulut dan mengeluarkan suara

“khaaaaarggggggg”
“pergi atau gue bakar?” gue menggertak

dia kembali mengeluarkan suara seperti tadi tapi lebih keras, kemudian hilang begitu saja.

tak ada satu pun yg bangun, padahal suara gue dan dia cukup keras tadi.

gue kembali masuk tenda dan memilih untuk tidur kembali
saat memejamkan mata kembali, sosok perempuan yg tadi muncul hadir kembali. tapi kali ini si perempuan didekap oleh si kuntilanak tadi sore. si perempuan masih terus berucap lirih “tolong saya" tapi makin lama sosoknya makin kabur dan menghilang.
gue akhirnya memilih untuk menunggu pagi baru tidur, karena takut nanti ada apa-apa. terlebih lagi. yg pertama dengar suara minta tolong si mpul dan dia ngotot mau nolongin. dia juga denger suara ketawa. gue takut nanti ada kejadian yg ga diinginkan.
malam berasa panjang banget ke paginya. begitu pagi nongol gue keluar tenda untuk menyeduh kopi. lalu satu persatu teman-teman yg lain bangun dan bergabung. saat lagi memasak david tiba-tiba buka suara
“untung hari ini pulang, semalem gue mimpi serem bener mana berasa nyata lagi”

“mimpi apaan lu?” sambung iky

“gue mimpi ngeliat pocong di situ tuh” david menunjuk tempat yg semalem gue liat
“lu sih gue suruh tidur di dalem ngga mau” kata gue. cuma mimpi doang itu mah. kami pun kembali bercerita tantang hal lain lagi. setelah makan dan beberes kami merapihkan perlengkapan. seperti diizinkan semsta, cuaca hari itu cerah. dan kami pun turun kembali ke base camp.
sesampainya di base camp

“pid, gue tadi di atas boong, sebenernya yg semalem itu lo bukan mimpi. emang beneran lu di liatin. gue liat sendiri. selama kita di sana emang banyak bener yg gangguin. makanya gue tadi melek paling duluan kan"
lalu gue ceritain semua yg gue alamin selama di atas. kami juga bercerita sama ranger yg stay di base camp.

“pos aer dipindahin ya karena emang banyak kejadian di situ mas, udah sering banget yg kena dan makanya jarang ada yg ngecamp di situ”
-tamat-

bonus kegiatan kami selama diujanin 3 hari
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to renné nésa
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!