My Authors
Read all threads
Tepat 4 tahun lalu, 10 Agustus 2015, aku terkena serangan stroke hemoragik; pembuluh darah pecah di otak kiri--setidaknya begitu diagnosis dokter atas pemeriksaan CT scan.

Tiba-tiba saja cara kerja otakku berubah.

-- A Thread --
Berhubung pecah di otak kiri, kemampuan berbahasa jadi kacau. Anehnya, saat itu, aku merasa mengerti dan bisa berkomunikasi, tapi rupanya yang terdengar cuma racauan tanpa arti. Teman & tetehku bilang mirip bahasa Rusia campur Belanda.
Tapi yang ngeri bukan itu.
Setiap bangun tidur, ingatanku kadang terhambat di tahun tertentu.
Misalnya pas bangun, ujug-ujug manggil, "Maah, aku di mana? Seragamku di mana?"

Iya, aku bangun jadi anak SD kelas 5. Hal ini bakal tambah ancur kalau ngaca, sempat histeris karena gak hapal muka sendiri.
Yah bayangin saja, otak masih menyimpan bayangan diri sebagai anak-anak, lihat kaca kok yang ada wujud om-om? Brewokan pula.
Nangis loh aku.
Terus menurut tetehku yang menemani di rumah sakit, hampir setiap pukul 2 malam, aku jerit-jerit minta ampun. Menurut keterangan dokter, efek painkiller-ku habis, tapi untuk menjaga dosis (?), baru bisa diberikan saat pagi hari.

(Kalau info ini ganjil/keliru, kabari aku ya)
Saat itu dokter-dokterku berunding, apakah aku perlu operasi penyedotan darah di otak, dengan risiko "bisa cacat", karena alat yang ngubek-ngubek otak itu bisa ganggu sel otak sekitar.
(Mon maap bahasanya cupu banget, soalnya ini yang aku tangkap. Mohon revisi ya bila perlu)
Saat itu, seakan hidup cuma ada dua pilihan: hidup cacat atau meninggal.
Kalau otakku lagi 'benar', dalam arti mengerti keadaan, rasanya sedih dan takut banget.
Tapi kalau otak lagi 'error', nyangkut di memori masa kecil, rasanya happy, walau sesaat.
Saat malam-malam penuh jerit itu, keluarga kembali membahas opsi operasi. Tapi untuk melakukannya, kami harus pindah rumah sakit demi fasilitas memadai. Sementara kepalaku gak boleh banyak gerak, agar darah pembuluh pecah itu gak menyebar/menekan area otak lebih luas lagi (?)
Menurut dokter, aku kena stroke karena faktor genetik: hipertensi.
Pas pembuluh pecah, tensi sekitar 200/100.
Tapi ya, gaya hidupnya kacau juga sih. Jeroan, ngerokok, jarang olah raga, ngopi > air putih.

Lanjut besok ya ❤️
Lanjutnya pelan-pelan ya. Di hari lebaran haji ini, ibuku juga ulang tahun. Jadi lagi persiapan bikin kejutan tumpeng nih 😍

Nah, pas kena stroke itu, umurku 35 tahun, berat 128 kg (tinggi 185 cm). Kesalahan fatalku (selain gaya hidup kacrut ya), mengabaikan gejala stroke.
Barangkali karakter mainstream orang yang punya darah tinggi itu marah-marah mulu ala tokoh antagonis sinetron ya.
Aku nggak gitu, gaes. Anaknya demen ketawa-tawa, woles, hidupnya ala ala happy go lucky gitu. Eh, lagi senang-senang, ujug-ujug ambrug.

Tapi, benerkah ujug-ujug?
Rupanya tubuh udah ngasih sinyal sejak tiga tahun sebelumnya: dari sekadar leher belakang yang sakit sampai kelopak mata kiri yang sempat gak bisa nutup sesaat. Saat itu aku kira cuma 'masuk angin' atau 'kecapean'. Rupanya pembuluh darah sedang menjerit-jerit cari perhatian.
Jadi sebenernya aku agak kurang setuju kalau hipertensi dijuluki 'silent killer', karena sesungguhnya ia sudah ngasih banyak kode, cuma akunya salah tangkap saja. Kayak zodiak... (pret, gak usah 😃).
Plus (dulu) aku bukan tipe orang yang dikit-dikit ke dokter.
Eh jangan takut, leher belakang sakit kan belum tentu hipertensi. Lalu yang hipertensi pun bukan berarti pasti bakal stroke, kan.
Temanku bertensi >200/100 'cuma pusing dikit'.
Lain tubuh, lain derita.
Yang pasti mesti cek dokter dan bertaktik asyik biar bertahan hidup, YAITU:
Diet tahu diri.
Apalagi Lebaran penuh menu daging bersantan gini, aku yang hipertensi ini mesti tahu diri.
Rendang secukupnya, gule kambing secukupnya, kentang ati secukupnya.
EH, KOK PUSING. Karena 'secukupnya' itu kadang menyesatkan.
Jadi kalo aku sih, stop daging merah. Hiks!
Setiap tergoda makanan berlemak itu, aku lantas teringat rasa sakit stroke yang sungguh memorable itu.
Ironis ya, katanya pelupa, giliran rasa sakit, malah inget terus 💯

Mau tau sakitnya kayak gimana?
Pas kena serangan stroke itu, aku lagi joget-joget di kamar, lagi semangat banget, banyak proyek asyik dan rencana liburan.

Eh, sekonyong-konyong, kayak ada yang nyayat leher sampai ke ubun-ubun secepat kilat. Kayak ada yang matiin tombol pengontrol panca indra. Ambruk.
Entah pingsan berapa lama, gak inget juga apakah sempat siuman sebelum akhirnya bisa mengingat rasa yang memorable itu: otak berasa kayak perlahan diiris-iris pakai silet tumpul, debar jantung gak keruan, debamnya kayak lagu dubstep (asli), mata kiri panas, pandangan berganda.
Berhubung saat itu belum ngerti apa yang terjadi dalam kepala, saat siuman aku berupaya menggerakkan kepala mau minta pertolongan. Alhasil tiap gerak, rasa otak disilet itu makin bertubi-tubi. Pingsan lagi.
Sadar2 sudah dikerumuni teman-teman yang sigap antar ke rumah sakit ❤️
Nah, opsi untuk operasi penyedotan darah di otak itu ditangguhkan. Minggu kedua perawatan aku 'dibuat mabuk', soalnya jadi gak begitu ingat apa yang terjadi. Tetehku bilang sih, aku udah gak jerit-jerit tengah malem, tapi suka ngigau+ngeracau+senyam senyum aneh kayak bayi.
Teteh dan sahabat yang menjagaku bercerita, banyak momen kami saling bertatapan, tapi aku tidak mengenali mereka, lalu tunjuk sana, tunjuk sini, ngomong pake bahasa bayi.
Yah kalau beneran bayi sih, nggemezin yaa. Lah ini, brewokan.
Ada pula momen bangun aku manggil-manggil kakek, "Abaaah..."
Sayangnya Abahku sudah meninggal tahun 86. Saat itu teman2 jadi menduga aku melihat (roh) Abah, tapi secara medis bisa jadi ingatanku lagi mandek atau proses 'loading' di umur balita.
Memasuki minggu ketiga, ingatan perlahan mulai pulih, walau masih sering acak. Setidaknya mulai ingat wajah tetehku.
Nah, saking acaknya, kadang ada ingatan yang memantik perasaan lampau yang harusnya sudah tuntas.
Duh, pusing gak bacanya? Mari kita minum air kelapa muda dulu!
Pernah gak teringat berantem pas SD? Kita yang mengingatnya sebagai orang dewasa sih, bisa jadi ngerasa konyol dan tentu sudah memaafkan.
Lah ini mah, gara-gara otak nyangkut memori masa kecil, bisa banget nangis/marah sama teman yang bahkan kini gak tau ada di mana.
Perihal keingetan emosi masa lalu ini bakal makin ngeri kalau terjadi pas efek painkiller sudah habis tapi mesti 'menjaga dosis' itu.
Udah mah sakit hati, jerit-jerit sakit kepala.
Oh ya, perihal menjaga dosis ini, ada yang berbagi ilmu nih:

Kala itu dokter sudah bekerja keras agar aku gak ngerasa sakit, dari suntikan sampai tembak dubur segala (IYA!). Tapi kalau saat dosis maksimal dan sakit kembali menjalar, harap sabaaarrr.
Penjelasan berikut bisa bantu ngerti nih:
Misalkan kamu gak tahu nih latar belakangku, lalu lihat aku jejeritan, nangis, ngeracau kacau, histeris pas ngaca, barangkali bisa berpikir aku gila kan ya?
Sebagian mungkin akan maksa aku di-ruqyah, kan. Padahal bisa jadi otak lagi berusaha keras menyambungkan jembatan memori.
Selama 15 hari perawatan, kepalaku gak bisa noleh. Duh, jangankan tengak-tengok, batuk manja aja bikin kepala kayak kesetrum.
Nah, memasuki hari 16, perlahan-lahan kepala sudah bisa menyerong--tanpa sakit.
Gila, cuma segitu doang, happy-nya kayak dapet trip gratis 3 bulan!
Memasuki minggu 3, aku kembali menjalani pemeriksaan CT scan kepala.
Rembesan darah di otak dinyatakan kering, yang berarti aku diizinkan pulang. Hore!!
Anggap saja ini happy ending season 1, karena berbagai keanehan setelah pulang dari rumah sakit, tak kalah sadis.
Dan setelah kena stroke, panduan tentang otak kiri dan otak kanan yang banyak bertebaran itu bagiku jadi kurang akurat. Efek otak kanan yang cedera pun, aku mengalaminya, sih.

Lalu, bingung sendiri.
Wah, terima kasih teman-teman dan perawat penyintas sudah berbagi cerita. Aku jadi tidak merasa aneh sendiri ❤️

Ini selaras dengan salah satu diagnosis dokter tentang berbagai 'keanehan' pasca stroke.
Sempet patah hati juga sih; masa abis gangguan fisik, aku mesti kena gangguan mental juga?
Akhirnya pasrah dan jadi belajar banyak. Tapi makin tau, makin linglung 😁
Lantas bagaimana bisa bertahan hidup sampai hari ini?
Salah duanya:
- meringankan badan: alias ganti pola/jenis makan.
- meringankan beban pikiran: alias... susah banget. Aku apa-apa dipikirin.
Yah gimana, abis sakit mesti muter otak biar sehat dan banyak uang 😁
Lalu beli tensimeter digital, biar bisa mantau tekanan darah setiap saat. Jadi ngeh, setiap aku bersemangat (entah itu karena dapet proyek atau sekadar naksir orang 😄), tekanan darah naik.
Akhirnya mesti atur emosi biar gak terlalu lebay. Senang sedih seperlunya.
Pret, susah.
Buat teman-teman yang sudah kadung berhipertensi, selain ubah gaya hidup, sudah konsultasi dengan dokter untuk keperluan minum obat, belum?
Karena aku pun hingga hari ini dibantu obat-obatan biar stabil.

Jadi untuk bisa tampil 'normal' itu, aku perlu minum beberapa obat untuk pembuluh darah dan sel otak.
Awal-awal suka senyum miris gitu kalau dapet tegur sapa semacam "Ih lo gak keliatan kayak orang pernah stroke, deh!"
Tapi sekarang udah paham kok; gak semua orang bisa ngerti.
Awal-awal sering diam-diam nangis kalau dapet komen yang menghubungkan stroke dan dosa/azab.
Tapi kini belajar paham cara pikir mereka, dan merancang jawabannya:
Setelah memberanikan diri kembali bergaul pun banyak tantangannya.
Gak jarang bikin teman keki, marah, nangis, karena mereka mungkin tidak menemukan aku yang dulu.
Ini salah satu korbannya. Huhuhu. 😘
Seharian baca reply teman2 yang punya pengalaman merawat penyintas stroke. Kalian pun jaga kesehatan diri ya!
Rasanya pasti sedih melihat kesayangan jadi tidak mengenalimu, ya?
Saranku sih, jangan dipaksain mengingat, apalagi dimarahin. Terkadang foto2 pun cuma bikin lelah saja.
Tahun pertama recovery, kamarku penuh dengan foto dan tulisan pengingat, biar kalau pas bangun aku bisa langsung ingat diri ala-ala film.
Sayang, hidup tak semudah film 50 First Dates.
Yang ada kalau lagi kumat liat foto sendiri malah, "Siapa sih nih mesti dipajang segala?!"
Solusinya bisa coba ikut menyelami masa memori yang sedang diselami penyintas.
Misalnya nih, kalau ingatanku lagi nyangkut di masa kecil; manggil-manggil Abah, lalu dibilang Abah sudah meninggal, bisa makin emosional; nangis, panik, tensi meroket.
Coba dengan pancingan ini:
"Terakhir maen sama Abah kapan?"
Tanya-tanya terus, ajak ngobrol perlahan, sampai kemudian perlahan bisa mengingat secara utuh. Kadang perlu 10 menit, sebulan, bahkan bertahun-tahun.
Tapi selalu konsultasikan dengan dokter atau terapis ya. Beda kasus, beda penanganan.
Kenapa repot buka-bukaan tragedi sendiri? Karena aku paham para penyintas stroke susah dipahami, karena beberapa dari kami susah berkomunikasi. Aku saja suka bingung sendiri, apalagi para perawat.
Mumpung sekarang lagi ingat, aku ingin berbagi gambaran yg semoga bisa memudahkan.
Wah, senasib! Kalau gak disangka halu, dianggap kesurupan.
Aku pernah nginep di rumah teman, bangun-bangun nangis dramatis karena gak ingat/paham keadaan sekitar. Lalu aku diguyur air dingin, gaes. Basah iya, linglung masih 😃

Gak selalu setiap memori nyangkut itu histeris kok, sering juga cuma bisa diam bengong lihat situasi saat ini, sementara ingatan lagi di tahun 1989 misalnya.
Itu kayak lagi traveling ke masa depan, sih.

Oh nggak, nggak seasyik film film kok.
Tantangan berikutnya adalah tahun kedua pemulihan, saat aku memutuskan kembali eksis dan mencoba relevan 😜
Loh, ngapain? Butuh uang, gaes.
Saat itu belum kenal asas twitter please do your magic sih, haha!

Ugh, banyak kekacauan!
Waktu itu ada acara tanya jawab di Ubud seputar karir. Sialnya aku lupa buku-buku yang kutulis.
Pas penanya ngutip kalimat dari bukuku pas jadi TKI, reaksiku, "Ih kok ngeri ya?"
Mereka pun saling berpandangan heran. Mungkin nyangka aku nyewa ghostwriter buat nulis buku itu 😃
Waah, kebayang ini sungguh ingatan yang menyebalkan buatmu!
Salut dan terima kasih sudah bersabar mendampingi ❤️

Aku dulu begini sih. Sekalinya makan sayur, yang digoreng pake tepung. Sekalinya ngunyah buah, cuma aromanya aja di kue2!
Gimana kalo perlahan-lahan 'cekokin' makanan sehat yang enak? Terus minta temenin jalan kaki keliling taman tiap hari sambil pacaran👌
Sebagai penggila daging yang terpaksa mencintai sayuran, 6 bulan pertama masa pemulihan adalah cobaan berat.
Tapi lama-lama lidah menyesuaikan; mulai menikmati rasa dedaunan yang ternyata beragam dan bisa diracik jadi menu lezat.

Ini ada beberapa menu yang bisa dicontek:
Ada restoran di Ubud yang berhasil bikin menu sayur jadi sexy!

Kadang suka nekad juga sih nyobain resep-resep menu sehat kayak gini, walau seringnya sih cuma bikin terong panggang mozarella. Mudah dan nikmad!
(Iya, kejunya gak bisa banyak-banyak, tapi ada versi vegan kok 😜)
jamieoliver.com/recipes/catego…
Apa yang mesti dijauhi penderita hipertensi?
Teman yang bikin bad mood 😋
Garam sih, ngaruh banget bikin tensi naik. Bye bye kepiting saus telur asin!
Lalu yang bikin tensi stabil/turun?
Kalau tubuhku sih:
- pisang (gak digoreng ya)
- garlic (tanpa kebab ya)
- air kelapa muda
Penjelasan dokter mengenai kenapa pasca stroke aku suka tiba-tiba meracau bahasa aneh dan kesangkut memori lampau:

Hari ini beberapa pihak menginvestigasi utasanku ini, yang mana aku sambut baik. Bagus itu, jangan mudah percaya dengan kisah yang berseliweran di medsos.

Beberapa waktu lalu pernah ngobrol juga dengan @jakpost seputar tantangan berkreasi pasca stroke:
Sesungguhnya dalam menulis thread ini aku sudah menyiapkan mental buat dikatain ngawur/bohong. Rupanya banyak yang bersaksi serupa, baik penyintas atau caretaker, juga dukungan dari para dokter. Coba cek mention.
Semoga selalu diberikan semangat buat lanjut hidup dan mengobati 🙏
Wow, aku takjub baca berbagai artikel yang lahir dari utasan ini, sampai ada kiat makan nasi padang segala!
Terima kasih untuk perhatiannya 😄
Memasuki tahun kelima ini kondisiku jauh lebih baik sih, tapi ada kejadian di tahun kedua dan ketiga yang membuatku tetap mawas diri, gak akan terkecoh dengan perasaan 'sudah sehat' yang seringkali bikin aku sembrono, kembali lupa diri--baik dalam arti sebenarnya dan harafiah.
Sebagai usaha mengusir lemak, aku jalan kaki setiap hari, minimal 2 km. Alhasil berat badan turun 30 kg, cihuy! Suatu pagi saat jalan, aku mendadak limbung, jatuh. Lalu perlahan-lahan berdiri lagi, mencoba berjalan, eh jatuh lagi.
Loh, kok, aku jadi lupa cara berjalan kaki?!
Biasanya selama ini kalau jalan kaki sudah autopilot kan ya, otomatis gak perlu mikir. Tapi pagi itu, aku berpikir keras cara berjalan: kalo kaki kanan ke depan, tangan kiri ngapain nih? Kaki kiri mesti kapan geraknya? Alhasil jatuh lagi.
Akhirnya dipapah seorang ibu baik hati.
Dulu aku sering mengira, mereka yang gak bisa berjalan pasca stroke karena ada yang salah dengan kaki mereka. Tapi setelah mengalami sendiri, ternyata bisa jadi karena kita lupa bagaimana cara menggerakannya. Iya gak sih, Dok?
Ah, benar!
Aku pernah mengubah jam telan pil hipertensi karena sok sok nekat mau ikutan puasa. Ternyata khasiatnya di tubuhku jadi kurang efektif; tensi kembali meroket. Ternyata ada obat-obatan yang perlu disiplin untuk jam pemakaiannya ya?

Yang paling ngeri itu ya, kalau salah nelan obat. Ya maklum otak lagi dong dong. Harusnya kan pagi-pagi minum obat buat pelemas pembuluh darah, yang kutelan malah obat penenang.
Baru sadar sejam kemudian, lagi meeting pula. Auw lemaazzzzz.
Wassalam.
Tapi dari semua kengerian itu, yang paling menakutkan waktu terdampar di Bandara Ataturk. Itu penerbangan internasional pertama pasca stroke. Aku terbang dari Arnhem menuju Istanbul. Eh bandaranya dibom!
Dahsyat, asli takut. Stok obat abis, dan gak dapet di bandara.
Kejadiannya 2016.
Jadi begitu sampai Ataturk, suasana kacau banget; dari yang nangis histeris sampai marah-marah. Kami ditolak boarding, mesti standby tanpa kepastian akan dapat pesawat jam berapa.
Di sini kepala mulai pening. Inginnya sih tidur elegan, tapi gimana nasib, gan.
Akhirnya pasrah, ketimbang tensi meroket, kuputuskan tidur sejenak. Terus kekhawatiran lain muncul: kalau pas bangun, memori nyangkut lagi gimana? Akhirnya cerita ke penumpang pesawat yang senasib buat jaga2. Dia menatapku bagai, "Hidupmu kok thriller gitu."
Ya monmaap :)
Pas bangun, sempet linglung sih, tapi untung bisa ingat keadaan. Di samping udah ada roti dan minun dari temen penumpang yang ternyata beneran menjagaku ❤️
Setelah antre dan dipingpong sana-sini, besoknya bisa terbang pulang. Phew!
Sampai Jakarta langsung serbu apotek 👩‍🍳🌼💯
Pelajaran yang kudapat dari trip itu:
- bawa stok obat lebih untuk jatah seminggu lebih.
- simpan obat seperti menaruh uang, sebarkan di berbagai area: saku kek, kolor kek.
- bawa catatan medis berbahasa Inggris, apalagi kalo ingatan suka ngilang, biar orang bisa cepat bantu.
Makasih, Dit! Senang diajak ngobrol beginian 🙏
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Valiant Budi #TukarTakdir

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!