, 174 tweets, 25 min read
- Asmara 2 Dunia -

Kisah ini, sempat heboh di sebuah kabupaten, beberapa tahun yang lalu.
Cerita tentang wanita cantik yang sering mencari pasangan dari kalangan masyarakat sekitar kabupaten itu juga dari daerah lain.

Siapa kah wanita itu?

Simak #bacahorror @bacahorror
Perlu saya sampaikan, bahwa alur cerita ini adalah sebuah rekaan, mungkin bukan cerita sebenarnya.
Tapi, untuk inti kejadiannya memang pernah terjadi di kabupaten itu.
Sore itu, langit terlihat mendung. Udara dingin mulai dapat dirasakan di sekitar area kota.
Suara gemuruh geluduk pun beberapa kali terdengar, seakan mengingatkan pada siapa pun yang masih berada dijalanan, untuk bergegas pulang. Setidaknya bersiap mencari tempat berteduh.
Waktu pun hampir menginjak saat adzan maghrib di wilayah itu.
Benar saja, sebelum adzan berkumandang, gerimis pun turun perlahan.
Seorang pemuda yang baru saja pulang dari tempat kerjanya, melintas di jalanan sekitar alun-alun kota.
Ia tampak terburu-buru mengendarai motornya agar segera sampai ke rumahnya yang berada di daerah kabupaten.

Merasakan air hujan mulai menetes ditangannya, ia pun menepi-
- hendak bersiap memakai jas hujan.
Ia berhenti sebelum sampai pertigaan, di depan sebuah bangunan eks gedung sekretariat daerah, yang sudah tak difungsikan.

Setelah memakai jas hujan yang dibawanya, ia segera naik keatas motor untuk meneruskan perjalanan pulangnya.
Namun tak disangka, tak jauh dari tempat itu, pemuda itu melihat seorang gadis yang sepertinya sedang mengalami kesulitan.
Gadis itu sedang berusaha menghidupkan mesin motornya yang sepertinya mogok.

Merasa kasihan, pemuda itu pun mendekat ke arah gadis itu.
"Motore kenopo mbak? Mogok pok?"
(Motornya kenapa mbak? Mogok?)

"Iyo iki mas, dek mau tak stater ora murup. Tak dogleng ora keno. Sampe tak tuntun dek ngarep H*******t."
(Iya nih mas, dari tadi distater tak nyala. Di sela jg tak bisa. Sampai aku nuntun dari depan H*******t).
Sekitar alun-alun itu memang ada sebuah pusat perbelanjaan. Dan dari penampilannya, sepertinya gadis itu salah satu pekerja di pusat perbelanjaan itu.

Pemuda itu pun turun dari motornya. Masih ia rasakan rintik air hujan yang hampir membasahinya kalau sebelumnya ia tak segera-
- memakai jas hujan.

"Sampean gowo jas udan po ra mbak? Nek nggowo dinggo disik"
(Kamu bawa jas hujan gak mbak? Kalau bawa dipakai dulu).

Gadis itu pun segera membuka jok motornya dan mengambil jas hujan didalamnya.
Sementara pemuda itu langsung menuntun motor gadis itu ke-
- sebuah bengkel tak jauh dari lokasi itu. Gadis itu menunggu di dekat motor milik pemuda yang menolongnya, sembari memperhatikan pemuda itu membawa motornya sambil sedikit berlari.

Sebuah senyuman kecil seakan merekah di wajah gadis itu.
Tak lama kemudian, si pemuda kembali menghampiri gadis itu, dan memboncengkannya menuju bengkel dimana motornya sedang diperbaiki.

Pemuda itu sepertinya cukup peduli dengan gadis yang baru ditemuinya itu. Setelah sampai di bengkel, ia tak segera pergi meninggalkannya sendiri.
Ia malah memutuskan untuk menemani gadis itu, sambil menunggu motornya.
Keduanya duduk di bangku panjang yang disediakan.
Pemuda itu pun seakan merasa tak canggung untuk memulai pembicaraan.

"Emange sampean baline ngendi mbak?"
(Kamu pulangnya kemana mbak?)
Tanya pemuda itu.
"W***s mas" Gadis itu menyebutkan nama daerah yang memang sering disebut dengan singkatannya saja.

"Oh. Adoh juga yo" (Jauh juga ya)

Gadis itu tak banyak bicara, untuk menanggapi pemuda itu.

"Kunu jenenge sopo?"
(Nama kamu siapa?)
Tiba-tiba gadis itu menanyakan nama pemuda itu
Suara gadis itu, baru dengan jelas diamati oleh si pemuda.
Ternyata, suaranya cukup lembut dan kalem. Cara bicaranya seperti orang yang menahan suaranya dikerongkongan, sehingga suara itu terdengar seperti suara anak kecil.

Pemuda itu menjulurkan tangannya, berniat memperkenal-
-kan diri.

"Johan", jawab pemuda itu masih menunggu gadis itu menjabat tangannya.

Gadis itu perlahan berusaha menjabat tangannya. Dan saat tangannya bersentuhan dengan gadis itu, pemuda itu merasakan sedikit keanehan.
Tangan itu terasa begitu halus, bahkan bisa dibilang seperti kapas yang basah, karena rasanya begitu dingin saat menyentuh telapak tangan pemuda itu.

"Nur" Katanya singkat.

Tak lama kemudian, motornya sudah selesai diperbaiki. Dan setelah memastikan kondisi motornya sudah-
- kembali normal, gadis itu pun menghampiri pemuda yang telah menolongnya, dan mengucapkan terima kasih sebelum berpamitan.

Pemuda itu meresponnya dengan senyuman, yang kembali dibalas senyuman oleh gadis itu.
Johan, nama pemuda itu, berniat mengikuti gadis itu, sekedar ingin memastikan bahwa diperjalanan nanti ia tidak mengalami kesulitan yang sama jika motornya kembali mogok.

Tapi tak disangka, gadis itu seakan membawa motornya dengan cepat, hingga Johan tak dapat menyusul-
- dan menemukannya lagi.

Ia mulai menyerah, dan mengabaikan keberadaan gadis itu lagi.
Namun, justru pikirannya malah teringat dengan saat bersama gadis yang memperkenalkan diri dengan nama Nur itu.
Johan berusaha mengingat wajahnya yang ayu, matanya yang sepertinya lebar, membuat gadis itu terlihat lucu. Ia pun seakan masih bisa merasakan telapak tangan Nur yang bersentuhan dengannya.

Ia pun masih merasa heran, kenapa tangan itu terasa begitu dingin. Tapi Johan mencoba-
- mengabaikan hal itu. Malah, saat ada kesempatan untuk melepaskan gas motornya, Johan mencoba mencium bau tangannya yang disalami oleh Nur.

Motor Johan hampir saja oleng, saat tiba-tiba ada lubang yang dengan sigap langsung dihindarinya.
Jantungnya berdegup kencang, karena ia hampir saja mendapat kecelakaan kalau sampai motornya terkena lubang jalan itu.

Ia pun menepi, memperlambat laju motornya sambil berusaha menenangkan diri.

Johan sempat syok, saat mengingat kejadian itu. Tapi, ada yang lebih membuatnya -
- merinding, saat ia kembali merasakan aroma tangannya yang baunya seperti bau melati.

Ia terheran, parfum apa yang dipakai gadis itu, bahkan sampai air hujan pun tak mampu menghilangkan baunya yang menempel ditangan johan.

Johan sempat berfikiran negatif saat itu.
Tapi setelah sampai di rumah, ia pun bisa sedikit melupakan pikiran negatif yang sempat terlintas dibenaknya.
Bahkan, hampir lupa bahwa sore itu ia telah menolong gadis cantik bernama Nur itu.
Hari berikutnya, sama seperti biasa Johan pulang dari tempat kerjanya lewat alun-alun kota.
Saat melewati depan H*******t, ia melambatkan laju motornya.

Tiba-tiba ia teringat dengan Nur. Berharap ia akan bertemu lagi dengannya.

Sayangnya, sampai ia melewati pertigaan, ia tak -
- berjumpa dengan Nur.

Johan meneruskan laju motornya. Kali ini, ia agak memperhatikan sekitar jalanan. Ia mencari keberadaan bengkel, tempat dimana sebelumnya ia membawa motor Nur yang mogok untuk diperbaiki.

Tapi ternyata bengkel itu sudah tutup.
Pintunya sudah tertutup-
- oleh papan kayu yang sudah hampir lapuk. Johan tidak merasakan keanehan selain ada pohon cukup besar di dekat bengkel, yang sepertinya tidak ia lihat saat mengantarkan Nur kesana.

Malahan, yang ia ingat, disekitar pohon itulah ia pernah duduk dengan Nur.
Selama beberapa hari ia melewati jalanan yang sama, dengan harapan yang sama. Untuk bisa kembali bertemu dengan Nur.
Hari itu hujan turun begitu lebat sejak pagi, hujan yang tak kunjung reda, bahkan sempai mengakibatkan banjir di beberapa daerah.
Setiap orang sudah memakai jas hujan, bahkan sejak keluar dari rumahnya masing-masing.

Beruntung, hari itu Johan sedang libur kerja.
Ia jadi tak terlalu direpotkan oleh aktifitas kerja yang pasti akan sangat tidak nyaman dikerjakan saat hujan seperti itu.

Johan hampir seharian berada dalam kamarnya yang terlihat gelap, karena lampunya tak dinyalakan, sedangkan langit diluar rumah mendung-
- gelap dan tak banyak menghantarkan cahaya kedalam ruangan kamar itu.

Tubuh johan terlentang diatas tempat tidurnya, matanya sayup-sayup terbuka pelan. Masih terdengar suara hujan dari luar kamarnya, yang membuat Johan kembali menggerutu.

"Harus e libur koyo iki biso jalan-
-jalan. Eh, malah udan sedino rak mandeg-mandeg" (Harusnya liburan seperti ini bisa jalan-jalan. Malah hujan seharian tak ada henti).

Johan beranjak dari tempat tidurnya, berjalan mendekat kearah jendela kamar yang terhubung ke halaman rumahnya.

Mengamati apakah hujan masih-
- sederas sebelumnya.

Memperhatikan bahwa hujan sudah tak begitu deras, Johan pun tergiur untuk buru-buru pergi keluar rumah. Sudah cukup lama ia ingin pergi ke suatu tempat.

Harusnya, hari itu Johan sudah pergi ketempat itu dan menemukan apa yang ia cari.
Johan sudah siap mengeluarkan motornya. Penampilannya cukup rapih, seperti seorang yang ingin pergi berkencan dengan pasangannya.

Sayangnya, penampilan itu sedikit terusak oleh jas hujan yang harus dipakainya saat diperjalanan.
Ditengah kondisi jalanan yang basah, dan gerimis yang masih belum berhenti, Johan mengendarai motornya menuju kota.

Dalam perjalanan, ia sempat bertanya-tanya apakah hari itu ia akan menemukan yang ia cari. Tak bisa dipungkiri, rasa penasaran terhadap Nur masih terus ia rasakan.
Tak kunjung bertemu dengan gadis itu setelah beberapa hari diharapkan, membuat Johan berniat mencarinya di Pusat Perbelanjaan yang ada di area alun-alun.

Hal yang masih ia ingat adalah Gadis itu berpenampilan seperti seorang sales yang pernah ia lihat di area perbelanjaan itu.
Jadi, ia merasa yakin akan bertemu dengan Nur disana.

Johan masih agak kebasahan saat masuk ke area perbelanjaan itu. Rambutnya cukup berantakan, dan pakaiannya pun jadi agak kusut setelah jas hujan yang dipakai ia lepas, dan tinggalkan di motornya.
Sambil berjalan, ia agak merapikan penampilannya. Ia tak ingin terlihat berantakan saat bertemu dengan Nur.

Dan setelah mencari lokasi kerja Nur, akhirnya Johan sampai di sebuah stand penjual asesoris yang penjaganya memakai seragam seperti yang dipakai Nur ketika ditolongnya.
Ternyata, tak ada Nur di tempat itu, dan Johan sempat merasa kecewa. Namun, penjaga stand itu menyambut dan mempersilakan Johan untuk melihat-lihat barang jualannya, yang membuat Johan jadi menemukan cara untuk mencari tau tentang Nur dari penjaga stand itu.
"Oh yo mbak, aku meh takon oleh po rak?"
(Oh ya mbak, boleh saya bertanya sesuatu?)
Tanya Johan, sambil tersenyum, nyengir.

"Takon opo mas? Sing penting ojo takon nomer HP!" jawab penjaga stand itu dengan gaya bercanda.
Johan agak geli mendengar jawaban penjaga stand itu. Dalam hati, Johan membatin, siapa yang mau minta nomer HP mu!, dan ia pun sedikit mengeluarkan tawa yang tertahan.

"Ora ora mbak. Aku yo jek rak duwe pulsa kok"
(Nggak mbak. Aku juga masih tak punya pulsa kok)
"Halah, hari gini gak punya pulsa? Melas temen! Yo wes, meh takon opo mas?"

Sebenarnya, Johan agak rikuh. Tapi rasa penasaran terhadap Nur membuatnya mengabaikan rasa rikuh itu.

"Koncone sampean ono sing jenenge Nur kan?"
(Temanmu ada yang bernama Nur kan?)
Mendengar nama Nur, penjaga stand itu agak terkejut. Lalu menanyakan alasan Johan menanyakan tentang Nur.

"Sampean kenal Nur? Temu ning ndi mas?"
(Kamu kenal Nur? Ketemu dimana mas?)

"Ora patio kenal sih, cuman pernah kenalan. Delok dek seragame koyo sing dinggo sampean kui"
(Tidak terlalu kenal sih, cuma pernah kenalan. Dilihat dari seragamnya, seperti yang kamu pakai itu)

"Tak kiro de'e kerja ning kene"
(Saya kira dia kerja disini)

Penjaga stand itu seperti berusaha mengamati Johan. Ada perasaan aneh melihat seorang pemuda asing yang tiba-tiba -
-menanyakan sesuatu yang membuatnya bingung.
Pasalnya, selama ia bekerja menjaga stand itu, ia tidak punya teman bernama Nur.

Tapi ternyata, bukan kali itu saja ia ditanyai tentang seseorang bernama Nur. Belum lama itu, pernah ada juga pemuda lain yang menanyakan tentang Nur.
Ia sempat berfikir, jangan jangan si Nur ini seseorang penipu yang mengaku bekerja disana, dan beberapa orang yang datang menanyakannya ke stand itu adalah korban yang pernah ditipunya.

Tapi, yang membuat penasaran si penjaga stand itu, setiap pemuda yang datang terlihat -
- punya usia yang sama. Dan setiap ditanya alasan kenapa mencari orang bernama Nur itu, tidak satu pun yang menjelaskan alasannya.

Sama halnya dengan Johan, karena mengetahui tak ada gadis bernama Nur bekerja di tempat itu, ia segera pamit tanpa melanjutkan pembahasan.
Johan meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewa. Harapan untuk bisa bertemu dengan Nur seakan pupus.

Untuk menghilangkan rasa kecewanya, Johan sempat membeli minuman dingin di salah satu stand. Saat sudah berada di luar bangunan, ia pun duduk di emperan sambil menikmati -
- minuman yang dibelinya. Sesekali pandangannya tertuju ke arah jalanan yang masih cukup ramai dengan orang-orang yang berkejaran dengan hujan.
Saat minuman yang dipegangnya telah habis dan ia bersiap meninggalkan tempat itu, tiba-tiba saja pandangannya seakan menemukan sesuatu.

Tak jauh dari tempatnya, tengah berdiri seorang gadis yang bertubuh kecil, tak terlalu tinggi, dengan rambut lurus, terurai hampir sepinggang-
- berbaju putih, dengan rok berwarna hitam yang cukup panjang hampir menutupi kakinya.

Gadis itu seperti sedang menunggu seseorang, dengan payung kecil dipegangi tangan kanannya, dan tangan kirinya berusaha menarik rok nya agar tidak terkena cipratan air dari motor yang lewat.
Johan terus mengamati gadis itu, dan seperti mengenalinya. Sesekali saat gadis itu menoleh, Johan semakin yakin bahwa ia benar mengenal gadis itu.

Dia lah gadis yang sedang dicarinya selama itu.
Buru-buru Johan mendekat ke arah gadis itu. Ia pura-pura tak sengaja menyenggol bahunya, dan langsung meminta maaf.

Saat itu lah, keduanya saling mengenali satu sama lain.

"Eh, Nur kan? Sing motor e tau mogok ning kono?"
(Eh, Nur kan? Yang motornya pernah mogok disana?)
Seru Johan, sambil menunjuk ke suatu tempat. Gadis itu pun nyengir hampir tertawa. Tangan yang memegangi rok, sampai berpindah ke mulutnya dengan maksud menutupi tawa.

Gadis itu mungkin merasa lucu, dengan kejadian saat itu, sampai-sampai ia hampir menertawai dirinya sendiri.
Menertawai diri sendiri? Atau mungkin justru menertawakan Johan?

Gadis itu menahan tawanya, tapi suaranya sempat terdengar oleh Johan. Suara tawa yang sedikit aneh, karena terdengar seperti suara perempuan terkikih-kikih.

Tapi, Johan seakan tak peduli dengan keanehan itu.
Rasa bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan gadis yang sudah membuatnya sangat penasaran, membuat Johan mengabaikan hal-hal yang berada disekitarnya.

Termasuk bau wangi aroma melati yang merebak disekitar tempat itu, dan beberapa orang yang seakan memperhatikan tingkahnya.
"Sampean ngenteni sopo Nur? Kok dewean?".
(Kamu menunggu siapa? Kok sendirian?)
Tanya Johan.

Nur masih menutupi mukanya yang seperti orang sedang tersipu malu.

"Nganu mas, sek ngenteni boncengan"
(Itu mas, masih menunggu jemputan)
Johan agak tertegun mendengar jawaban dari Nur.

"Oh, ngenteni pacare yo?" timpal Johan.
Nur hanya menjawabnya dengan menggeleng.
"Opo ngenteni bojone berarti?"
(Menunggu suaminya ya?)

Nur tetap menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Aku durung kawen lhoh mas. Sembarangan kowe"
(Aku belum menikah kok mas. Sembarangan kamu)
Suara Nur kembali terdengar menambahkan jawaban.

"Terus, ngenteni sopo?"
(Terus, nunggu siapa?)

Nur kembali terdiam tanpa kata-kata.
Nampaknya, hujan sudah mulai reda.
Johan menawarkan diri untuk mengantar Nur pulang, karena ia merasa kasihan membiarkan seorang wanita sendirian berdiri di pinggir jalan menunggu entah siapa yang akan mengantarnya pulang.

Tawaran itu diiyakan oleh Nur, tapi -
- Nur menyuruh Johan mengambil motornya terlebih dulu, sedangkan ia tetap menunggu disana.

Dengan semakin merasa bahagia, Johan pun segera berlari menuju tempat parkir yang berada di kawasan alun-alun, mengambil motornya untuk mengantar Nur pulang ke rumahnya.
Dari area tempat parkir itu, Johan bisa melihat sosok Nur yang sudah menyingkupkan payungnya. Gadis itu masih tetap berdiri ditempat yang sama.

Pandangannya seperti lurus kedepan tanpa ekspresi. Yang berbeda darinya, hanya tubuhnya seakan membungkuk, tangannya bertumpu pada-
payung yang jadi terlihat seperti tongkat.

Tapi, Johan seakan tak menyadari keanehan itu. Perasaannya masih berbunga-bunga, masih tak percaya kalau saat itu ia akan mengantarkan seorang gadis cantik yang belum lama dikenalnya.
"Yok, Nur. Sedelok meneh wes pak maghrib. Ndak kesoren tekan ngomahmu."
(Ayo Nur. Sudah hampir maghrib. Nanti bisa kesorean sampai rumahmu).

Dengan hati-hati, Nur membonceng motor Johan dengan posisi menyamping, karena Rok nya yang memanjang.
Johan mulai menjalankan motornya, meninggalkan tempat itu.
Ia sempat melewati seorang pejalan kaki di samping kiri jalan.

"Astaghfirullah".
Terdengar suara istighfar, ungkapan keterkejutan, dari si pejalan kaki itu. Entah sampai dengar oleh Johan atau tidak, yang pasti -
- ada sesuatu yang dilihat oleh si pejalan kaki, yang membuatnya kaget dan mengucap istighfar.

"Ya Allah, mugo-mugo ora ono opo-opo"
(Ya Allah, semoga tak terjadi apa-apa)
Gumam pejalan kaki, yang terlihat mematung sambil terus memperhatikan ke arah motor yang dikendarai Johan.
Dalam perjalanan menuju rumah Nur, Johan sempat merasakan adanya keanehan. Tangan Nur cukup erat memeluk pinggangnya, seakan takut jatuh. Johan malah merasa senang dengan hal itu.

Tapi rasanya tangan nur terasa dingin, sampai meresap menembus jaket yang dipakai Johan.
Gas motornya seakan lebih berat dari biasanya, sampai beberapa kali Johan berhenti untuk memeriksa kondisi mesin motornya yang entah kenapa cepat sekali panas.

"Nangopo mas, motormu?"
(Kenapa motormu mas?) tanya Nur penasaran.

"Mbuh kie, ora biasane koyo iki"
(Entahlah,-
- tak biasanya seperti ini)

Yang tidak disadari oleh Johan, entah kebetulan atau bukan, ia selalu berhenti di dekat jembatan dan rel kereta api.

Nur sendiri beberapa kali menyuruh Johan untuk meninggalkannya, katanya rumahnya sudah dekat, dan ia bisa berjalan kaki ke rumahnya.
Tapi, emang dasar si Johan yang terlanjur penasaran ingin tau dimana rumah Nur, ia tak membiarkan gadis itu pulang sendiri.

Sempat terlintas dipikirannya, beberapa kali saat mereka berhenti, Nur selalu bilang rumahnya sudah dekat, tapi sudah sampai kelewat waktu maghrib, mereka-
belum juga sampai di rumahnya.

"Mas mas, belok kono kae."
(Mas belok disana)
seru Nur yang menepuk pundak Johan ketika mereka hampir sampai di gang yang menuju rumah Nur.

Johan pun berbelok untuk menyeberang jalan.

Tiba-tiba, dari arah belakang sebuah Truk bermuatan membunyi-
-kan klakson yang mengagetkan Johan.
Johan yang kaget pun menepikan motornya.

Hampir saja, keduanya mengalami kecelakaan yang bisa merenggut nyawa.

Kondisi jalanan saat itu memang tidak begitu ramai. Saat Nur mengingatkannya untuk berbelok, Johan tak menyadari kalau ada truk -
- yang hanya berjarak beberapa meter dari belakang motornya.

"Ati-ati rha mas. Kae lho omahku wes cedak"
(Hati-hati dong mas. Itu rumahku sudah dekat)

Setelah memastikan jalanan aman untuk menyebrang, Johan pun menjalankan motornya menuju gang yang ditunjukkan oleh Nur.
Akhirnya, mereka sampai di depan rumah Nur. Johan coba memperhatikan lokasi sekitarnya.
Tempat itu cukup sepi, dan bisa dikatakan agak jauh dari rumah warga yang lain. Cahaya penerangan jalan pun cukup redup. Dan jalanannya agak becek karena seharian terguyur hujan.
Rumah Nur terlihat cukup antik bagi Johan. Bentuk rumahnya berbeda dengan rumah-rumah yang dilihatnya saat menuju ke tempat itu.

Halamannya lebih luas dari rumah lain, dibatasi oleh pagar bumi yang berupa dinding bata setinggi kurang dari dua meter.
Tak jauh dari pintu gerbang, Johan dapat melihat sebuah bangunan mirip gazebo, yang hanya berupa empat tiang yang didirikan dari kayu, dengan atap genteng yang tidak terlalu tinggi.

"Meh mampir pok mas?"
(Mau mampir gak mas?)

Nur mengagetkan Johan yang masih terheran dengan-
- dengan keadaan sekitar.

"Iki omahmu? Sepi yo, penak nggon e"
(Ini rumahmu? Sepi ya, enak nih tempatnya)

"Dudu mas, iki omahe simbahku. Aku dewekan si ning ngomah, cuma karo rewanganku"
(Bukan mas, ini rumah kakekku. Aku sendirian disini, hanya bersama pembantuku).
"Lha emange wong tuomu ning ndi?"
(Emangnya dimana orang tua mu?)

"Bapak ibukku do ning jakarta, karo adiku."
(Orang tuaku di jakarta dengan adikku).

"Melas hoo. Awas ati-ati diculik" Ujar Johan sedikit menggoda Nur.

"Ah, ora lucu mas"
(Tidak lucu mas)
"Yo wes dek, aku meh pamit sisan bae. Gampang mengko kapan-kapan dolane. Eh, aku oleh jaluk nomermu po ra?"
(Yasudah dek, aku pamit sekalian saja. Nanti kapan-kapan mainnya. Oh ya, boleh minta nomermu?)

"Aku ora gojekan HP mas."
(Aku tak pegang HP mas)

Johan tak percaya dengan-
- kata-kata itu. Tidak mungkin orang jaman sekarang tidak punya HP. Tapi karena tidak ingin terlalu memaksa, Johan pun mengalah.

"Wes, nek pingin ketemu aku meneh, parani bae nggon mau sampean ketemu aku." Ujar Nur.

Johan seakan mendapat kode dari Nur.
Beberapa kali Johan bertemu dengan Nur. Seperti biasa, Johan menjemputnya dari H*******t, lalu mengantarnya pulang.

Sesekali, mereka pun mampir makan bersama ditempat yang dipilih sendiri oleh Nur.

Johan yang sepertinya sudah terlanjur sayang dengan Nur, tak pernah menolak-
- permintaannya. Nur sendiri tak pernah meminta aneh-aneh. Orangnya sederhana, bahkan selalu menolak barang pemberian dari Johan.

Nur hanya meminta supaya Johan tidak mengganggunya di siang hari. Alasannya, ia sibuk dengan pekerjaannya.

Saat johan menanyakan tentang -
- kerjaan Nur yang sebenarnya, Nur hanya memberi tau, kalau dia sering ganti-ganti tempat kerja, tergantung kalau ada stand yang kosong, belum ada penjaganya, dia menawarkan diri untuk menjaga stand dengan upah harian.

Menurut Nur, ia tidak benar-benar mencari uang dari -
- pekerjaannya. Yang ia lakukan hanya berusaha mengisi waktu, daripada ia hanya dirumah sendirian.

Masalah keuangan, Nur sudah mendapat jatah bulanan yang dikirim oleh orang tuanya melalui pembantunya.

Saking sayangnya Johan pada Nur, ia tak pernah sedikit pun mengusik-
- privasinya.

Johan yang memang sudah dewasa, dan pernah punya trauma masa lalu terkait masalah privasi yang diusik, selalu berusaha bersabar dan mengabaikan setiap pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali bermunculan dibenaknya.
Hubungan keduanya semakin dekat.
Hampir selama dua bulan, Johan sering berkunjung ke rumah Nur.

Saking terbiasanya, ia sampai tak memperhatikan kapan ia kerap kali diajak ketempat itu.
Yang menyadari hal itu justru orang tua Johan. Hampir setiap hari kamis, anak laki-lakinya itu sering pamit pergi setelah waktu ashar, dan baru kembali tengah malam.

Saat ditanya, Johan hanya mengatakan sudah menemukan pengganti mantannya yang sudah menghianatinya. Dan Johan-
-sekedar menjelaskan, kalau ia pergi untuk bertemu dengan gadis pujaan hatinya itu.

Beberapa kali Johan sudah berusaha dinasehati, agar tidak terlalu sering ke rumahnya. Alasannya, tidak elok, seorang pemuda sering datang ke rumah gadis yang belum diikat dalam suatu hubungan.
Orang tua Johan tidak ingin anaknya jadi gunjingan orang, atau bahkan berurusan dengan warga sekitar rumah gadis itu.

"Wes buk, ibuk tenang bae. Aku ngerti batesane"
(Sudah bu, ibu tenang saja. Aku tau batasannya).

Itu hal yang sering dikatakan Johan saat dinasehati.
Orang tua Johan begitu khawatir, karena sudah hampir pukul 9 malam, putranya belum juga pulang ke rumah.
Kekhawatiran itu, seakan tak biasa.

Suara gemuruh dari atas langit seakan memberitahunya bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Masih ditunggunya Johan di teras rumah
Malam itu, terasa begitu dingin, angin malam sudah mulai berhembus lebih awal dari biasanya.
Sosok seorang ibu yang begitu mencintai putranya itu tetap bertahan, meski suaminya sudah berkali-kali menyuruhnya masuk kedalam rumah.

"Wes lah buk, nteni njero bae. Ora ilok-
- wes dalu kok izek ning ngarep omah."
(Sudahlah bu, tunggu didalam saja. Tak baik, sudah larut kok masih diluar rumah).

"Iyo pak, tapi perasaanku ora penak. Wes bengi, anakmu kae durung tekan ngomah. Ora eling wayah, opo ora ngemat nek iki malem jumat kliwon"
(Iya pak, tapi-
- perasaanku tak tenang. Sudah selarut ini, anakmu belum sampai rumah. Lupa waktu, apa tak tau kalau ini malam jumat kliwon?)

Tiba-tiba bulu kuduk ibu itu berdiri, saat ia menyebut nama malam yang sering dikeramatkan itu.
Hawa dingin pun semakin kuat terasakan olehnya. Dan akhirnya ia memutuskan masuk kedalam rumah, menunggu bersama suaminya.

Sementara itu, Johan sedang berada dijalanan hendak mengantarkan gadis yang telah menjadi pacarnya itu pulang ke rumahnya.
Ia berusaha mengendarai motornya lebih cepat, khawatir kalau ia kehujanan dijalan.
Ia ingin segera sampai di rumah Nur, setidaknya sebelum hujan turun. Jadi, ia tak kehujanan disaat yang tak tepat.
Johan pun menyadari bahwa malam itu adalah malam jumat kliwon.
Ia tak ingin ada kejadian yang tak di inginkan seperti saat pertama kali ia mengantarkan Nur ke rumahnya.

Begitu motornya telah berhasil menyeberang jalan raya, dan masuk ke gang yang menuju rumah Nur, Johan sedikit merasa lega.
"Akhire wes meh tekan. Biso tenang wes saiki."
(Akhirnya sudah hampir sampai. Bisa tenang deh sekarang).

Hanya terdengar suara tawa Nur yang hampir mirip suara cekikikan, tapi lirih. Johan tak merasa aneh dengan hal itu, karena memang suara tawa Nur yang dikenalnya memang-
- seperti itu.
Belum terlalu jauh ia masuk dalam gang, tiba tiba area sekitar menjadi gelap. Sepertinya, ada pemadaman listrik saat itu.
Seketika johan kaget dan menarik gas motornya secara tiba-tiba.
Nur hampir saja terjatuh kalau saja ia tak segera memeluk Johan.
"Ati-ati rha mas. Meh bae aku tibo".
(Hati-hati dong mas. Hampir saja aku jatuh). Tegur Nur, sambil menabok pundak Johan.

Johan pun sedikit tertawa, lalu meminta maaf. Nur memberi tau Johan agar hati-hati, karena jalanan menuju rumahnya agak rusak. Johan pun menurunkan kecepatan
Dari arah yang berlawanan, johan melihat ada sepeda motor yang melintas. Lampu motornya cukup terang dan menyilaukan mata Johan saat hampir berpapasan.

Johan sedikit bisa melihat wajah pengendaranya saat berpapasan.
Saat Johan mencoba memberikan senyuman, wajah bapak-bapak itu bukan membalasnya malah seakan seperti ketakutan, dan langsung mempercepat laju motornya.

Johan pun keheranan dengan tingkah pengendara itu.

Akhirnya mereka berdua sampai di rumah Nur.
Setelah membuka kan pintu, Nur menyuruh Johan membawa motornya masuk ke halaman rumahnya.
Nur mencegahnya langsung pulang, dengan alasan, ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Johan.

Johan pun menuruti permintaan Nur.
Ia memarkirkan motornya di depan tempat yang mirip seperti gazebo, di halaman rumah Nur. Kemudian sambil menunggu Nur yang sedang masuk kedalam rumahnya, Johan mendekat kearah gazebo itu.

Ia terduduk di atas sesuatu yang mirip amben / dipan kayu, sambil matanya sesekali melihat-
- kearah jalan depan rumah Nur.
Sesekali ia lihat ada pengendara yang melintas, tapi dengan kecepatan yang tidak wajar. Johan berpikiran, mungkin karena listrik padam dan jalanan jadi gelap, orang-orang jadi takut dan terburu-buru.
Nur tak kunjung keluar, karena merasa agak bosan, Johan mencoba berkeliling halaman sekitar.
Diamatinya, di halaman rumah Nur seperti banyak pohon-pohon kecil yang tumbuh.
Aromanya seperti tak asing bagi johan.
Ada aroma lembab yang sedikit tercium disekitar halaman rumah itu.
Dari arah pintu rumah, terlihat Nur berjalan mencarinya.
Johan pun segera kembali ke arah gazebo kecil itu yang segera disusul oleh Nur yang telah membawakan lilin yang sudah menyala.
"Ngopo toh mas, petengan kok malah mlaku-mlaku"
(Ngapain sih mas, gelap-gelap kok malah mondar mandir).

"Ngenteni kowe kesuwen kok, timbang pak opo, yo mending tak nggo mlaku-mlaku ndelok plataran"
(Nungguin kamu kelamaan kok, bingung mau apa, ya mending aku jalan-jalan)
Tak ingin terlalu mempermasalahkan hal itu, Nur pun meminta Johan untuk duduk disampingnya.
Dengan tenang, Nur pun mengatakan sesuatu.

"Mas. Jare kan kowe meh serius karo aku."
(Mas. Katanya kamu mau serius denganku)

Johan seketika jadi gugup mendengar ucapan Nur.
"Sesuk, aku meh nusul ibukku ning jakarta. Nek pancen kowe serius karo aku, yo mengko aku pak ngomong karo wong tuwoku"
(Besok, aku mau menyusul ibuku di jakarta. Kalau kamu memang serius denganku, nanti aku akan bilang ke orang tuaku).
Nur melanjutkan ucapannya.
Johan tak tau harus menjawab apa. Nyatanya, memang ia ingin segera melamar Nur untuk dijadikan istrinya.
Jadi, mendengar Nur yang sudah terlebih dulu menanyakan, Johan pun akhirnya mengiyakan.

"Koyone si, mengko wong tuoku meh bali bareng aku. Lha mengko, nek wes-
- tekan omah, yo aku pingin kowe moro bareng wong tuo mu mrene. Ketemu karo wong tuoku."
(Sepertinya, nanti orang tuaku akan pulang bersamaku. Nanti, kalau sudah dirumah, aku harap kamu dan orang tuamu datang kesini. Bertemu orang tuaku.)
Johan benar-benar tak menyangka, malam itu ia akan membahas hal yang seserius itu dengan pacarnya.

Nur memang lebih banyak bicara saat berada di rumahnya. Berbeda saat mereka sedang berada di luar.
Tapi malam itu, apa yang dikatakan Nur benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga
"Iyo, mengko wong tuoku tak ajak mrene."
(Ya, nanti orang tuaku aku ajak kesini)
Jawab Johan, dengan antusias.

"Temenan lho mas. Paling aku bali ne mengko dino kamis ngarep. Nek pancen kowe niat, yo berarti dino minggu ne, kowe ngajak wong tuomu merene"
(Beneran lho mas.-
- mungkin aku sudah pulang hari kamis depan. Kalau kamu memang sungguh-sungguh, nanti hari minggunya kamu ajak orang tuamu kesini).

"Serius pok dek?" Johan masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Nur seakan tidak ingin lagi mengulang kata-katanya, dan hanya merespon pertanyaan Johan dengan mengangguk.

Setelah itu, Nur seperti mengambil sesuatu dari kantong bajunya.

Sebuah cincin perak, kemudian diserahkan pada Johan.
"Lha iki opo?"
(Apa ini?)

"Tanda nek kowe pancen serius karo aku mas"
(Tanda kalau kamu memang serius denganku mas.)

Johan pun menerima cincin itu, hendak ingin ia pakai, sebelum Nur mencegahnya.

"Ra usah dinggo disik, mas. Mengko bae, nek kowe mrene bareng wong tuomu"
(Jangan dipakai dulu mas. Nanti saja, kalau kamu kesini bersama orang tuamu).

Mendengar penjelasan Nur, Johan pun menyimpan cincin itu di kantong bajunya.

Setelah menyerahkan cincin itu, Nur segera meminta Johan untuk pulang. Nur tak ingin Johan terlalu lama ditunggu ibunya.
Setelah berpamitan, Johan pun segera pergi meninggalkan rumah Nur.

Sebelum sampai di jalan raya, mata Johan seakan kaget dengan cahaya yang tiba-tiba menyala dari rumah sekitar kampung itu.

Akhirnya listrik sudah kembali dialirkan, dan lampu jalan pun sudah terlihat kembali -
- menerangi jalanan.

Johan segera menjalankan motornya untuk kembali pulang ke rumah.
Langit malam itu masih terus bergemuruh, hujan akhirnya turun tepat sebelum Johan sampai di rumahnya.

Sayup terdengar dari kejauhan, suara ibu Johan yang sedang mengaji, membaca surat Yasin.
Dikiranya, ibunya baru selesai tahlil yang biasa dilakukan secara rutin setiap malam jumat.
Perlahan, Ia membuka pintu rumah dan memasukkan motornya.
Lalu segera mendekat kearah ibunya.

Belum sempat ia hendak mencium tangan ibunya, si ibu keburu langsung memeluknya.
"Kowe dek ngendi bae si nang? Dek mau ibuk ngenteni kowe bali. Ibuk wedi nek kowe kenopo-kenopo"
(Kamu darimana saja si nak? Dari tadi ibu nunggu kamu pulang. Ibu takut terjadi apa-apa sama kamu)

"Ah, ibuk ki kebiasaan".

"Kebiasaan opo nang? Ibumu kui, awet mau ngenteni-
- kowe bali. Nganti moco surat yasin entek ping rong puluh"
(Kebiasaan apa nak? Ibumu itu dari tadi nungguin kamu. Sampai selesai baca surat yasin sebanyak dua puluh kali.)
Timpal Ayahnya, yang sudah terlihat berdiri dibelakang ibunya.
Johan pun meminta maaf pada kedua orang tuanya. Ia menjelaskan, bahwa ia baru saja mengantar pacarnya pulang, dan sempat diajak ngobrol sebentar.

Berhubung kedua orang tuanya masih terjaga, dan belum tidur, johan pun langsung mengatakan apa yang telah ia bahas dengan Nur malam-
- itu.
Kedua orang tua Johan sempat kaget, mendengar anaknya menyampaikan keinginan untuk melamar seseorang.

Sebenarnya, orang tua Johan pun masih agak kecewa dengan hubungan Johan dengan mantan pacarnya, yang sudah lama terjalin, namun harus kandas disaat keluarganya-
- sudah bersiap untuk melamarnya.

Johan belum pernah secara langsung menjelaskan apa yang terjadi antara ia dan mantan pacarnya itu, sehingga ia membatalkan sendiri acara pertunangan yang sudah dipersiapkan, tepat di hari itu juga.
Orang tua Johan masih belum bisa menghilangkan rasa malu pada sanak keluarga yang saat itu sudah terlanjur datang untuk mengiring proses pertunangannya.

Dan malam itu, Johan kembali memohon agar orang tuanya melamarkan gadis yang belum lama dikenalnya.
Sebenarnya, orang tua Johan masih keberatan dengan rencana putranya itu.
Tapi, keinginan anaknya seakan sudah begitu bulat, hingga kedua orang tuanya tak kuasa untuk menolak ataupun melarang.

Johan pun sempat menunjukkan cincin perak yang diberikan oleh Nur malam itu.
Kamis sore setelah pulang kerja, Johan berniat pergi ke rumah Nur. Ia yakin, pasti Nur sudah pulang dari Jakarta bersama kedua orang tuanya.
Ia hampir menyeberang jalan, ke arah gang yang menuju rumah Nur.
Namun tiba-tiba ada motor yang melaju cukup kencang, dan terjadilah -
- kecelakaan yang cukup parah.
Nasib baik masih menimpa Johan, Ia terlempar dari motornya, dan terpental hingga kepinggir jalan. Motornya rusak cukup parah, dan sepertinya tak bisa dipakai lagi.
Sedangkan pengendara motor yang menabraknya, terlihat mengalami luka yang serius.
Keduanya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Johan yang hanya mengalami memar dan lecet disekitar kaki dan tangan nya, masih bisa diajak berkomunikasi dan dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.
Sedangkan pengendara yang satunya sedang kritis di ruang ICU.
Orang tua Johan yang dikabari tentang kecelakaan yang menimpa anaknya, segera datang ke rumah sakit tempat Johan dirawat.
Orang tuanya begitu khawatir dengan keadaan putranya itu.

Mereka tak henti mengucap syukur-
- setelah mengetahui kondisi Johan yang tidak mengalami luka serius.

Malam itu pun, terpaksa Johan harus menginap di rumah sakit, dengan ditemani oleh Ayahnya.
Karena kecelakaan itu, Johan jadi kepikiran dengan rencana untuk melamar pacarnya.

Apakah rencana itu harus dibatalkan?

Johan hampir tak bisa tidur memikirkannya.
Entah saat itu jam berapa, ada seseorang yang datang ke kamarnya.
Johan bisa mengenali dengan baik siapa orang itu.

Nur, tiba-tiba datang dan menghampirinya yang sedang terbaring di tempat tidur.

Johan agak kaget, dan mencari keberadaan ayahnya. Yang tak ada diruangan itu.
Rupanya, sebelum Nur tiba di ruangan itu, Ayahnya baru saja keluar untuk cari minuman dan berniat untuk merokok di area luar rumah sakit.

"Loh dek, kamu kok biso nang kene?"
(Loh dek, kamu kok bisa kesini?)
"Jare sopo aku mlebu rumah sakit?"
(Siapa yang memberitaumu aku masuk-
- rumah sakit?)

Nur menyenderkan tubuhnya disamping tempat tidur Johan, dengan posisi agak duduk dipinggirannya.
Tangan Nur pun, seketika mengelus rambut Johan, membelai rambutnya, seakan berusaha menenangkannya.

"Mau ki aku weruh ono rame-rame mas, nang ngarep gang"
(Tadi aku lihat ada keramaian mas didepan gang)
"Lha aku weruh motormu. Terus jarene wong-wong ono tabrakan"
(Lalu aku melihat motormu. Dan kata orang-orang ada kecelakaan).

Nur coba menjelaskan, dengan suaranya yang pelan, dan seakan agak berbisik.
"Tak ematke, kok aku weroh kowe digowo ambulan. Asline aku pingin ngejar, tapi aku isin"
(Ku perhatikan, kamu dibawa ambulan. Sebenarnya aku ingin mengejar, tapi aku malu).

"Yo wes, sukur nek kowe ora kenopo-kenopo mas"
(Ya sudah, syukurlah kamu tidak apa-apa mas)
Johan seakan merasa begitu nyaman saat itu, hingga lupa menanyakan bagaimana Nur bisa masuk ke kamarnya, sedangkan saat itu harusnya tidak boleh ada orang yang menjenguk pasien.

"Terus, sidone kowe meh nggowo wong tuomu nang ngomahku rak mas?"
(Lalu, kamu jadi membawa orang-
- tuamu ke rumahku nggak mas?)

"Lha priye dek? Aku sek koyo iki. Aku yo bingung".
(Gimana ya dek? Aku kan masih seperti ini. Aku juga bingung).

"Yo nek jarene ibuk, nek misal sing moro wong tuomu disik yo rapopo mas. Gawe koyo acara nyangsangi kae si"
(Kalau kata ibuku-
- semisal yang datang orang tuamu dulu juga tak apa-apa mas. Acaranya dibuat seperti seserahan).
"Soale wong tuoku meh langsung bali nang jakarta meneh. Nek ora sido dino minggu, yo co'e malah dadi rak sido ne."
(Masalahnya, orang tuaku akan langsung balik ke jakarta lagi.-
- kalau tak jadi ada acara di hari minggu nanti, ya mungkin akhirnya akan dibatalkan).

Mendengar curhatan Nur, Johan pun kembali merasa bingung.
Apa yang harus ia katakan pada orang tuanya?

Johan tak ingin hubungannya dengan Nur jadi berakhir.
"Yo wes mas, mending diomongke disik karo bapak ibumu. Men wong tuo mu bae sing mutusi"
(Yasudah mas, lebih baik dibahas dulu dengan orang tuamu. Biar mereka yang memutuskan).

Nur kembali membelai rambut Johan. Terus berusaha menenangkan kekasihnya itu.
"Cincin sing dek aku kae sek mok simpen kan mas?"
(Cincin dariku itu, masih kamu simpan kan mas?)

"Iyo, isek tak simpen dek. Kui kan amanah dek kowe"
(Iya, masih kusimpan dek. Itu kan bentuk kepercayaan darimu)

"Yo wes. Bener. Dijogo yo mas. Ojo nganti ilang"
(Yasudah. Bagus. Dijaga ya mas, jangan sampai hilang).
Johan mengangguk kan kepalanya.

Tak terasa, belaian Nur membuat Johan merasa begitu nyaman. Saking nyamannya, ia sampai terlelap, dan tak menyadari kapan Nur pergi meninggalkan ruangan itu.
Ayah Johan pun kembali ke kamar anaknya dirawat, dan melihat anaknya telah tertidur lelap.

Digelarnya tikar yang dibawanya dari rumah, dan berniat untuk ikut beristirahat.

Pandangannya tertuju ke langit-langit kamar. Sambil mencoba menghela nafas.

Tapi, ada bau aneh yang -
- tercium olehnya. Bau yang sebelumnya tak tercium di ruangan itu.

Bau aroma melati.
Baunya tak begitu menyengat, bisa dikatakan sudah hampir memudar. Namun aroma yang tertinggal masih bisa terasa dan membuat bulu kuduk ayah johan berdiri.

Segera saja ditariknya sarung hingga menutup kepalanya.
Malam itu, ia seakan ingin segera tidur, agar tak menyaksikan apapun
- yang mungkin saja akan menakutinya.
Ia berusaha memejamkan matanya. Tapi tak kunjung bisa terlelap.

Meski kamar itu tergolong kelas 2, tapi hanya dia dan anaknya yang berada di ruangan itu.

Tiba-tiba, ia mendengar suara seperti kaki yang diseret.
Arahnya berasal dari kamar mandi tempat itu. Ayah johan sedikit mengintip dari celah sarungnya.

Ada sekelebat bayangan putih, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Tiba-tiba saja, bau aroma melati itu kembali tercium begitu kuat.
Ia langsung membuka sarung yang menutupi wajahnya, dan betapa kagetnya ia dengan apa yang dilihatnya, sosok wanita berpakaian serba putih, dengan rambut yang acak-acakan, berjalan ke arah pintu keluar.

Dan sebelum sosoknya menghilang, wajahnya menoleh ke arah ayah johan.
Terlihat dengan jelas, raut wajahnya yang disertai senyuman menyeringai, begitu menyeramkan, sampai akhirnya ayah Johan pinsan ditempat.
Keesokan harinya, ayah johan seakan syok dengan apa yang dilihatnya malam itu. Cerita itu ia sampaikan pada istrinya yang malah menyalahkannya.

"Paling bapak lali sholat isya, dadine diweruhi sing ora-ora"
(Kayaknya bapak lupa sholat isya, jadinya melihat yang tidak-tidak)
Hari itu juga Johan dibolehkan pulang ke rumah.
Sejak dari rumah sakit, Johan terus membujuk orang tuanya, agar tetap melaksanakan rencana yang sudah dibahas dan sudah pernah disetujui orang tuanya.

Kalau pun, ia tak bisa ikut, setidaknya orang tuanya bersedia menjadi wali-
-nya, yang bisa menjelaskan dan menunjukkan keseriusannya untuk meminang Nur.

Akhirnya, orang tua Johan pun bersedia. Mereka menghubungi beberapa sanak keluarga terdekat saja, untuk menemani mereka sebagai penghormatan pada calon besan.
Tak lupa, mereka pun mempersiapkan-
- beberapa makanan ringan untuk dibawa ke rumah Nur.

Dan sesuai rencana, hari minggu itu orang tua Johan pergi mendatangi kediaman Nur, yang alamatnya sudah dijelaskan oleh Johan.
Dalam perjalanan, orang Tua Johan sempat ditanyai oleh kerabat yang ikut dalam acara itu.
Darimana Johan mengenal calonnya itu, dan sudah berapa lama mereka menjalin hubungan.

Orang Tua Johan menjelaskan apa adanya, sesuai dengan yang diceritakan oleh anaknya.
Mereka hampir sampai di rumah Nur.
Setelah memastikan gang yang disebutkan oleh Johan, dan masuk kedalam gang yang tak begitu lebar itu.

Mobil rombongan itu telah sampai di alamat yang diberikan oleh Johan.
Arahannya sudah sesuai.

Dari dalam mobil pun, salah satu kerabat Johan-
Bisa melihat rumah yang dimaksud oleh Johan. Yang ada gazebo kecil di halaman rumahnya.
Semua orang hampir turun dari mobil. Namun, ibunya Johan tiba-tiba merasakan perasaan yang tak enak.

Saat melihat ke arah rumah Nur, ibunya Johan samar samar melihat hal yang-
- seakan tak disadari oleh orang-orang yang masih berada dalam mobil.

"Mas, iki bener alamate?"
"Iyo, bener iki aku nembe nelpon Johan, nggo mastike."
(Iya benar. Aku baru menelpon Johan untuk memastikan).

"Tapi mas, kui kan..."
(Tapi mas, itu kan...)
Belum sempat meneruskan perkataannya, pintu mobil satu persatu telah dibuka.

Dan betapa terkejutnya semua orang dalam rombongan itu.

Yang ada di lokasi alamat yang diberikan Johan adalah sebuah area pemakaman umum.
Pagar pembatas halaman rumah Nur, yang selama ini dilihat oleh Johan, ternyata adalah pagar pembatas area pemakaman.

Dan gazebo kecil yang dikatakan oleh Johan, ternyata adalah sebuah tempat yang khusus dibuat untuk meletakkan keranda dan perlengkapan pemakaman.
Cerita itu pun kemudian tersebar hampir ke penjuru daerah, dari kabupaten hingga wilayah kota.

Johan yang dijelaskan perihal kejadian itu seakan tak bisa menerima kenyataan.

Ia terus tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh semua orang yang dikenalnya.
Ia masih meyakini bahwa Nur, adalah seorang gadis yang nyata. Nur adalah manusia. Nur adalah takdirnya. Nur adalah kekasih yang selalu di idamkannya. Bahkan, Johan sudah menetapkan bahwa Nur adalah segalanya di kehidupannya.
Beberapa orang yang pernah melihat Johan, pun akhirnya mengatakan apa yang sebenarnya dialami oleh johan.

Dari tukang parkir H*******t, yang mengatakan pernah melihat seorang pemuda yang aneh, karena berbicara sendiri diarea depan lokasi perbelanjaan itu.
Awalnya Johan dianggap tak waras, karena sering kali terlihat duduk sendiri di emperan gedung tua, sambil ketawa-ketawa sendiri.

Ada seorang penarik becak yang pernah melihat seorang pemuda mendorong gerobak sampah kearah pohon besar di dekat warung yang sudah tutup.
Setelah memindahkan gerobak sampah itu, ia kembali ke pohon besar itu dan duduk disamping pohon, padahal saat itu sedang hujan cukup deras.

Ada juga seorang warga yang melihat seorang pengendara motor yang dibelakangnya memboncengkan seseosok makhluk ghaib wanita.
Dan warga sekitar makam itu pun, pernah beberapa kali melihat seorang pemuda yang keluar dari area makam ditengah malam.

Dan juga, seorang pengendara motor yang melihat seonggok makhluk yang terbungkus, membonceng seorang pemuda ke arah makam.
Banyak orang yang mengatakan bahwa apa yang dialami oleh pemuda itu, merupakan ulah makhluk ghaib yang terlanjur menyukai pemuda itu.

Dan sosok makhluk ghaib itu, tak hanya sekali itu mengganggu manusia.

Dari apa yang dikatakan oleh warga sekitar -
Di makam itu memang sering ada orang yang tertipu oleh penunggunya yang mewujud sebagai sosok gadis cantik, yang minta dinikahi.

Sosok yang akhirnya dikenal sebagai "Sosok Nur" yang ceritanya pernah populer dipenjuru daerah sekitar.
Cerita ini, mengingatkan kita agar lebih berhati-hati di jalanan.

Saat mengendarai motor atau kendaraan apa pun, jangan sampai pikiran kosong, sehingga mudah dipengaruhi oleh hal-hal ghaib yang tak pernah kita duga asalnya.
Dan yang terpenting, jangan mudah terpikat pada seseorang yang baru dikenal.
Karena resikonya, dapat menyebabkan baper, yang bisa berujung dengan kecewa.

Akhir kata, thread ini saya tutup.
Semoga dapat menghibur dan memberi pelajaran, apapun bentuknya, pada para pembaca.
Kurang lebihnya saya mohon maaf apabila ada kekurangan dalam cerita yang saya sampaikan.

Wassalam.
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to No Name
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!