Wah. Profile picture
13 Aug, 157 tweets, 21 min read
"DIMENSI LAIN GUNUNG MERAPI"

Pendakian yang tak terlupakan.

True Story

- a Thread.

@bacahorror #bacahorror
@ceritaht #ceritaht
@IDN_Horor
Cek ombak dulu, baru mulai cerita.
Gimana nih ? Lanjut ?
bentar lagi mulai ya. Mau nutup lapak dagangan dulu maklum anak pedagang 🙏🏻😁
Oke saya mulai ya.
Cerita ini berawal dari seorang pendaki di tahun 2015 yang beranama Edi. Ia mendaki ke gunung yg terkenal dengan gunung yg paling aktif di Indonesia. Yap, gunung Merapi.

Cerita ini diceritakan dari sudut pandang Edi.
Oke , gas langsung ke cerita ‼️
Kala itu saat sedang libur panjang semesteran sekolah. Aku yg baru saja naik tingkat ke kelas 12 pun ikut menikmati libur panjangku.
Malam itu saat aku nongkrong di salah warung di dekat rumahku. Tiba-tiba Kosim sahabatku datang "ayo munggah Merapi sesok (ayo naik merapai besok)" ajak Kosim kepadaku. " Ha? Edan kowe sim, ngajak munggah gunung kok dadakan nemen . Karo sopo wae to?"
(Ha? Gila kau sim, ngajak mendaki kok dadakan. Sama siapa aja?) Tanyaku

"Aku karo Ali (Aku sama Ali)" jawab Kosim. "Sesok aku mangkat isuk-isuk menyang Selo langsung munggah pasar bubrah (Besok aku berangkat pagi-pagi ke Selo langsung naik ke pasar bubrah" tambah kosim.
"Pancen edan nek lungo karo kowe ki, aku sesok ono gawean seko bapakku aku rak biso nek isuk-isuk. (Memang gila kalau pergi sama kamu, aku besok ada kerjaan dari bapakku. Aku gak bisa kalau pergi pagi-pagi"
"Ngene wae ed, kowe kan wes sering muncak tekan parak-parak, aku karo Ali tak munggah sek nyang pasar bubrah. Aku karo Ali camp ng kono njuk kowe nyusulo yo . "(Gini aja ed, kamu kan sudah sering mendaki sampai mana-mana, aku sama Ali naik duluan ke pasar bubrah.
Aku sama Ali camp disitu nanti kamu nyusul ya)"

Sebenarnya ada rasa kurang enak saat mendengar ajakan Kosim, tapi entah setan apa yg merasukiku saat itu hingga akhirnya aku mengiyakan ajakannya.
Besoknya pagi-pagi Kosim memberi kabar lewat pesan hp jika ia dgn Ali sudah berangkat dari rumah. Aku yg sudah mengiyakan ajakannya pun berpikir bagaimana minta izin ke orang tuaku kalau mendadak begini. Kalau aku bilang mau ke merapi pasti tidak dibolehkan
Akhirnya setelah selesai pekerjaanku aku menghampiri bapak ibuku yg masih ngobrol di teras depan rumah. Aku izin mau menginap dirumah temanku karena ada syukuran dirumahnya. Padahal mah faktanya aku mau naik ke Merapi.
"Pak, buk aku meh ng omahe Dika ng kono ono syukuran, ngko wengi aku nginep ng omahe (pak bu, aku mau ke rumah Dika disana ada syukuran, nanti malam aku nginep disana ya)" ucapku sambil gemeteran didalam hati.
"Adike bar sunatan pak, aku karo cah-cah liyane diundang dikon dolan nyang omahe melekan (Adiknya baru selesai khitanan pak, aku dan teman-teman lainnya diundang disuruh datang ke rumahnya melekan" Jawabku. Melekan = ngobrol hingga larut malam
Saat itu aku mengerahkan seluruh, segenap jiwa ragaku, segala perkataan manis ku keluarkan berusaha agar aku diberi izin oleh orang tuaku.

Saat izin sudah kudapat aku yang hanya bermodal tas ransel berisikan SB dan sedikit makanan pun aku berangkat.
Saat berangkat aku coba menghubungi Kosim dan Ali tapi ternyata hpnya sudah tidak aktif, mungkin mereka sudah mulai naik didalam hutan.

Tepat jam 15.00 aku berangkat menuju Selo. Sesampainya di basecamp ternyata sepi hanya segelintir orang yg aku dapati.
Entah baru mau naik atau baru turun aku aku tak tau

Selesai mengurus administrasi aku mulai jalan. Baru 15 menit jalan aku bertemu dengan warga lokal sana yg baru turun dari hutan namanya pak gun "Arep ng ndi le kok dewean? (mau kemana mas kok sendirian?)" tanya pak gun
"Kula ajeng muncak pak, rencange kula sampun munggah disek ngentosi ng pasar bubrah (Aku mau muncak pak, temanku sudah naik duluan nunggu di pasar bubrah)" jawabku ke pak gun. "Ati-ati yo le, mengko nek ng ndalan ono sing ngajak opo-opo karo kowe, kowe ojo gelem.
ileng wae karo tujuanmu, mengko nek kowe nemu pasar ng nduwur tukunono rak ketang siji ati-ati ya le, nanti kalau dijalan ada orang yg ngajak kamu,kamu jangan turuti.Ingat aja dengan tujuanmu dan nanti jika kamu ketemu pasar diatas tolong dibeli walaupun hanya satu yg kamu beli)"
Aku yg bingung dengan perkataan pak gun hanya mengangguk karena aku merasa sudah pernah kesini dan tidak terjadi hal apapun. "Nggih pak gun, kula bakal ngati-ati. Maturnuwun nggih (Iya pak gun, aku akan hati-hati. Terimakasih)" jawabku.
Saat itu jam menunjukan pukul 17.00 dan aku baru memasuki are hutan. Tepat adzan maghrib aku tiba di pos satu, sampai sini belum kudapati pendaki lain. Benar-benar sejak tadi aku mendaki sendirian di gunung yg melegenda ini. Aku istirahat sebentar sembari minum air.
10 menit istirahat akupun melanjutkan perjalanan. Aku melanjutkan perjalanan dalam keadaan gelap malam hari ditemani lampu senter. Hiburanku dijalanan hanyalah musik yg kuputar lewat hp lawasku, inginku ngobrol sendiri untuk menyairkan suasana saat itu,
tapi aku takut kalau tiba-tiba ada yg menjawab ditengah hutan seperti ini. Jadi aku hanya mengandalkan hp lawasku ini dan bernyanyi dalam hati sambil sesekali meliak-liukan pinggulku untuk berjoget menikmati alunan lagu haha.
Setengah perjalanan menuju pos 2 masih kulewati seorang diri, hingga akhirnya aku melihat ada pendaki perempuan istirahat ditepi jalur. Saat melihatnya nampak ia seorang diri tanpa ada pendaki lain yg menemani. Aku yg penasaran akhirnya mencoba menghampirinya
"Mbak darimana?" tanyaku. Dia diam tanpa menjawab."Mbak sama siapa? teman-temannya dimana?" tanyaku lagi. Lagi-lagi ia hanya diam. Tampilannya tampak seperti pendaki pada umumnya,ia membawa daypack,jaket dan kupluk di kepalanya. Namun saat aku melihat wajahnya dengan lebih jelas
nampak sekali wajahnya pucat dan bibirnya biru. Perasaanku mulai tidak karuan melihatnyadan rasa takutku seketika muncul. "Mbak aku duluan ya? nanti kalau ada temannya diatas aku panggilkan" ucapku kepadanya . Perempuan itu hanya diam dan mengangguk.
Agak jauh berjalan aku kembali menoleh kebelakang dan ternyata ternyata ternyata........

perempuan itu gak ada lagi disana. "Buset,marak endi wadon kui mau? cepet nemen ilange(buset,pergi kemana perempuan tadi? cepet banget hilangnya)"ucapku sendirian saat menyadari kejadian itu
Langkah kupercepat sedikit lari, gak peduli nafasku ngos-ngosan. Lelah hanya ku tahan karena pikiranku hanya cepat-cepat pergi jauh dari tempat itu.
Sedikit lega saat sudah agak jauh dari tempat itu dan aku istirahat sebentar dengan keadaan musik yg masih menyala
Saat itu aku masih ingat lagunya kangen Dewa-19. Dulu aku masih belum kenal siapa itu Fiersa Besari, belum tau lagunya fourtwenty.

Saat kembali jalan aku mendengar suara burung yg sangat banyak didekatku, saat ku perhatikan tak nampak ada burung di sekitarku.
Aku terus berjalan ditemani riuhnya suara burung. Hingga akhirnya langkahku kembali tertahan lagi. Aku terkejut dengan apa yg aku lihat tepat didepanku. Aku melihat ada gubuk berdiri didepan sebelah kiri ditepi jalur. Gubuknya seperti umumnya gubuk di kampung-kampung.
Disitu nampak duduk seorang orang tua(laki-laki) berpakaian jawa seperti sedang menunggu di kawasan situ.
Dengan ragu-ragu aku melangkah, gak mungkin juga aku kembali turun karena Kosim dan Ali sudah menunggu di atas.
Dengan hati-hati aku melangkah hingga sampai sedikit melewatinya dengan terkejut orang tua itu memanggilku. Bulu kuduku disepanjang tangan berdiri saat mendengar suara itu. Suaranya pelan tapi terdengar saat besar
"Arep nang ndi le? seko ngendi asalmu? meh opo kowe nang kene? (mau kemana le? darimana asalmu? mau apa kamu kemari?)" tanya orang tua itu. Aku yg saat itu masih ketakutan gak berani sedikitpun menjawabnya, bahkan melihat menoleh ke arahnya pun tidak.
Saat itu aku sangat berharap ada pendaki yg datang.
Dgn tetap diam aku terus melangkah pelan-pelan.Namun ternyata orang tua itu kembali memanggilku dgn suara keras"Le opo kowe rak krungu karo pitakonanku? Mreneo(Le,apa kamu tak mendengar pertanyaanku?Kesinilah"ucap orang tua itu
Jantungku berdetak kencang, keringat mengalir deras diantara dahi. Sampai-sampai aku merasakan keringat mengalir didalam bajuku. Bulu kuduku masih berdiri karena saking ketakutannya aku saat itu. Bayangkan saja aku menemukan hal-hal aneh sedari tadi dan aku mendaki seorang diri
Dengan mengumpulkan sedikit-sedikit keberanianku, aku memutuskan menghampiri orang tua itu daripada ada hal-hal buruk terjadi saat aku memilih melanjutkan perjalananku. Aku berdiri di dekat gubuk itu dengan kepala menunduk, tak sedikitpun keberanianku untuk melihat wajahnya
Dia kembali memberiku pertanyaan yg sama "Arep nang ndi le? seko ngendi asalmu? meh opo kowe nang kene? (mau kemana le? darimana asalmu? mau apa kamu kemari?)" ,
dengan tertatih aku menjawab "kula ajeng melampah mendaki dateng pasar bubrah(gunung merapi) , dateng mriku kula sampun dientosi rencang-rencange kula, kula saking kuto ******** .
Kula namung ajeng mendaki dateng mriki mboten macem-macem (aku mau jalan mendaki ke pasar bubrah(gunung merapi. Panjenengan sinten nggih?) , disana aku sudah ditunggu teman-temanku, aku dari kota ******** .
Aku hanya ingin mendaki disini tidak macam-macam. Anda siapa ya?" jawabku sambil bertanya. "Kowe ra perlu ngerti sopo aku, omahku nang merapi kene, suoro manuk sing mau mbok rungoake mau kabeh bangsaku, nek kowe macem-macem nang kene. Entek kowe le"
(kamu tidak perlu tau siapa aku, rumahku disini, suara burung yg kamu dengarkan tadi semua adalah bangsaku, kalau kamu macem-macem disini. Habis kamu)" jawab orang tua itu dengan nada sedikit tinggi
Detak jantungku bertambah kencang, seakan-akan aku ingin langsung lari darisini. Tapi apa jadinya nanti kalau aku tiba-tiba lari darisni. Aku disitu berdoa sekuat hati sebisaku, semua doa yg kubisa kuucapkan dalam hati agar lekas terbebas dari situasi ini.
Sejak darisini aku memberanikan melihat wajahnya.Wajahnya selayaknya manusia tidak ada tanda-tanda seperti setan yg biasanya aku lihat di film-film hanya saja wajahnya nampak sangat bersih."Kowe arep opo saiki le?arep melu aku nang kene opo nang ndi?" tanya orang tua itu lagi
"Kula ajeng mlampah mawon, nyusul rencang-rencange kula dateng pasar bubrah, kula pamit nggih? (aku mau jalan saja nyusul teman-temanku di pasar bubrah, aku minta izin jalan lagi)" jawabku . "Kowe oleh lanjut meneh le, nanging ono syarate (kamu boleh lanjut, tapi ada syaratnya)"
jawab orang tua itu.
Spontan aku bertanya apa syaratnya.

Syaratnya.....
Break sebentar ya lur. Saya mau nyeduh kopi dulu biar betah melek buat ngelanjutin ceritanya hehehehe
Saya lanjut tipis-tipis ya lur karena sudah lewat tengah malam hehe
"Syarate nek kowe pengen selamet, kowe ojo noleh mburi sakurunge tekan watu kae, pokoe ojo ndelok mburi (Syaratnya kalau kamu pengen selamat, kamu jangan melihat kebelakang, apapun yg terjadi jangan melihat kebelakang)" ucap orang tua itu.
Aku yg mendengar ucapannya itu mengangguk dan hanya mengiyakan karena yg aku pikirkan aku ingin segera pergi darisini. Selepasnya aku kembali berjalan dengan tanpa melihat kebelakang. Saat mulai berjalan punggungku terasa sangat berat seperti ada yg menahan.
Aku berhenti sebentar memegang bahuku, terasa tidak apa-apa selain tas yang menempel di bahu dan punggungku. Aku kembali berjalan tapi sialnya malah semakin berat beban dipunggungku.
"Ed, Edi" , aku mendengar ada suara memanggilku. Suara itu terus memanggil, suaranya mirip suara kosim, "tapi kan kosim sudah mendaki duluan?kok ia memanggilku dibelakang?" pikirku dalam hati.
Tiba-tiba aku ingat pesan orang tua tadi jika aku ingin selamat aku dilarang melihat belakang.Aku putuskan terus melangkah keatas tanpa menghiraukan suara panggilan itu.Punggungku masih terasa berat tapi aku terus berusaha bergerak minimal sampai dibatu yg dimaksud orang tua tadi
"Ed, Edi tolong aku (Ed, edi tolong aku)" suara itu terdengar semakin keras seakan-akan memang sedang terjadi apa-apa dibelakangku. Lagi-lagi aku kudu tetap melihat kedepan, aku buru-buru mempercepat langkahku agar tiba di batu besar yg dimaksud
Hingga akhirnya aku sampai di batu yg dimaksudkan oleh orang tua itu, sesampainya disitu aku melangkah sedikit melewati batu itu dan aku melihat ke belakang.
Betapa terkejutnya aku, aku tidak percaya dengan apa yg mataku lihat
Saat melihat ke belakang yg kulihat hanyalah jurang yg sangat dalam dan kakiku berdiri tepat dibibir jurang. Batu yg dimaksudkan orang tua tadi yg menjadi perbatasan antara jurang dengan tanah tempatku berdiri
Aku bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya jalan apa yg kulewati tadi? Siapa orang tua yg ku temui tadi? siapa suara yg memanggilku tadi? Semuanya tidak sampai jika dipikir dengan akal dan logika. Bagaimana tidak? Bagaimana caranya aku bisa sampai di jurang itu?
Aku berdiam diri cukup lama memikirkan itu. Aku terus berdoa dengan doa yg kubisa. Aku ingin melanjutkan perjalanan tapi aku bingung mau kemana kakiku melangkah? Jalan yg kukira jalur pendakian ternyata malah membawaku ke tempat seperti ini
Didepanku yg kulihat hanyalah semak-semak, aku ingin berjalan tapi takut langkahku salah. Yg ku ingat hanyalah kalau aku sudah melewati pos 1. Malam itu pukul 21.00, tanpa kusadari ternyata hp lawasku sudah mati.
Tiba-tiba kabut datang hanya saja tidak terlalu tebal. Jadi aku masih bisa melihat walaupun tidak sejelas tadi. Saat itu aku berpikir kalau aku harus segera bergerak darisana, tidak mungkin kalau aku terus-terusan berdiam diri disini
Oh ya, sejak samapi di batu tadi badanku sudah normal kembali, punggungku tidak lagi berat. Perlahan aku melangkah menerabas lebatnya semak-semak didepanku, saat itu aku berpikiran kalau aku harus terus keatas karena semakin keatas vegetasi akan semakin sedikit.
Dan jika aku sudah tiba di medan berpasir aku bisa melihat keadaan disekitarku.
Hanya bermodalkan lampu senter aku mencari jalanan yg bisa kulewati. Lagi-lagi aku terkejut dengan sosok samar-samar disebelah kanan, sosok hitam besar sangat tinggi dan matanya menyala berwarna merah
Saat itu aku hanya menunduk dan terus berjalan. Aku tidak mau begitu menghiraukan, karena aku ingin cepat bebas dan kembali ke jalur pendakian yg normal. Aku masih terus melewati semak-semak, hingga aku menemui jalanan setapak.
Aku ikuti jalan itu hingga akhirnya aku sampai di jalur pendakian yg benar. Aku sampai di jalur tepat sebelum masuk di pos 2. Aku yg menyadari sudah kembali ke jalan yg benar tak henti-hentinya bersyukur. Aku berhenti disitu dan sedikit minum dengan air yg kubawa
Saat itu jam menunjukan pukul 22.30, aku harus bergegas sampai di pasar bubrah. Aku heran, setibanya aku disini aku masih belum menemui keberadaan pendaki entah naik atau turun.
Aku kembali berjalan, baru berapa langkah berjalan aku terjatuh. Aku merasakan ada cengkereman tangan yg mencengkeram menahan kaki kiriku hingga membuatku terjatuh. Tapi saat ku lihat tidak ada apapun disekitar tempatku terjatuh. Yg ada hanya batu-batuan
Aku langsung berdiri dan melanjutkan perjalanan, setelah melewati pos 2 jalanan mulai terbuka dan perlahan melewati batas vegetasi. Aku mulai melewati trak berpasir, jalur terlihat jelas hanya saja saat aku melihat ke arah atas yg ada hanyalah kabut yg tebal
Akhirnya aku tiba di papan petunjuk pasar bubrah tanpa gangguan apa-apa lagi. Aku mulai sedikit turun ke area pasar bubrah yg sangat-sangat luas. Disana aku baru menyadari jika ada cukup banyak tenda yg berdiri. Tandanya pasti ada lumayan banyak pendaki yg naik hari ini.
Tapi kenapa aku tak menemui mereka satupun ?
Ah sudahlah aku mau mencari tenda Kosim dan Ali. 10 menit mencari akhirnya aku menemukan keberadaan mereka. "Sim, li" sapaku ke mereka. "Akhire kowe tekan kene, suwe temen lo emang kowe munggah jam piro?"
(akhirnya kamu sampai sini, lama banget. Emang kamu naik jam berapa?)" jawab kosim. "Aku mangkat jam 16.30 seko basecamp (aku berangkat jak 16.30 dari basecamp)" jawabku. "Lha kok suwe temen tekanmu? iki wes jam 12 lewat ed, kowe nang ngendi wae? "
"(lha kok lama banget sampaimy? ini sudah jam 12 lebih ed, kamu kemana aja?)" jawab Ali sembari bertanya. "Ah wis-wis , aku kesel aku pengen leren" jawabku sambil masuk ke dalam tenda. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar kosim dan Ali tidak terus menanyaiku.
Kosim membuatkanku secangkir susu hangat dan mie instan. Aku yg sudah sedari tadi kelaparan langsung melahapnya tanpa jeda. "Kowe jane kenopo to ed?(kamu sebenarnya kebapa to ed?)" tanya kosim lagi. Aku yg tidak ingin terus ditanya hanya menjawab"sesok wae nang ngisor aku cerito"
kosim dan Ali yg paham dengan maksudku akhirnya tidak melanjutkan pertanyaannya.
Singkat cerita kami semua tidur karena rencana akan naik ke puncak kalau ada barengan dari pendaki lain. Jam menunjukan hampir pukul 01.30 pagi dan kami baru mulai tidur
Oke ceritanya sampai sini dulu ya lur? Edi, ali dan kosim pun tidur. Saya juga ikut tidur dulu ya karena sudah malam hehe

Sabar ya.
Lanjut nanti malam, akan saya ceritakan hingga tuntas.
Selamat malam lur 🔥
Sebelum melanjutkan cerita semalam. Seperti biasa saya mau cek ombak dulu seberapa besar 😁
Jam 21.15 kita mulai ya
Bismillahirahmanirrahim.

Cerita saya lanjutkan. Mari merapat dan disimak baik-baik ‼️
Saat tidur.

Aku tidur di tengah sementara Ali dan Kosim di pojok kanan kiri dalam tenda. "Ed ed, tangi. Kowe krungu rak wit mau (ed ed bangun. kamu dengar gak daritadi?)" tanya Ali yg tiba-tiba membangunkanku.
"Ono opo to li li, rak pengertian blas koncone awake kesel (ada apa sih li li, gak pengerian sama sekali temannya sedang kelelahan)" ucapku ke Ali sebal
Ali bercerita jika sedari tadi ia mendengar suara banyak orang berjalan di sekitar tenda kami.
"Krungu opo? aku rak ngerti. Aku wit mau turu rak krungu opo-opo (dengar apa? aku tak tau. Sejak tadi aku tidur tidak dengar apa-apa)" jawabku karena memang tidak mendengar suara apa-apa
"Wes to li, paling kowe ngelindur turuo meneh (sudah to li, mungkin kamu ngelindur. Tidur lagi aja) jawabku sambil kembali memejamkan mata lagi karena memang aku benar-benar kelelahan setelah semalaman berjalan
Baru saja merem tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara gamelan diluar tenda. Ali kembali membangunkanku "Lah kae kae ed krungu ora kowe? (nah itu ed dengar gak kamu?" tanya Ali. Ali juga membangunkan kosim saat itu.
Kosim yg baru bangun ikut mendengar dan tanya tentang suara yg didengarnya. "Suoro opo kae? (suara apa itu?" tanya Kosim. "Wes meneng (sudah diam)" jawabku. Kami bertiga diam dan saling tatap didalam tenda sambil menunggu suara gamelan itu hilang.
Bukannya hilang malah kami tambah dikagetkan dengan suara lain lagi. Kami mendengar suara langkah kuda (delman) dengan suara gantungan krincingannya yg khas dan bebarengan dengan itu tiba-tiba keadaan diluar tenda berubah menjadi ramai seperti pasar.
Suara ramai orang-orang sangat jelas kami bertiga dengarkan dari dalam tenda. Lagi-lagi kami masih diam dan saling tatap. Saat itu aku teringat dengan pesan pak gun saat di awal pendakian tadi
Pesannya yg berisi jika aku menemukan pasar diatas, aku harus membeli salah satu barangnya disana. Aku yg bingung akhirnya menceritakan pesan pak gun ini kepada Ali dan Kosim.
"Li, sim . Pas aku munggah mau aku ketemu karo wong tua jenenge pak gun. Aku dikei pesen nek awake dewe ketemu pasar ng nduwur, awake dewe kudu tuku barang seko pasar kui"
(Li,sim. Waktu aku naik tadi aku ketemu dengan orang tua namanya pak gun. Aku diberi pesan jika kita ketemu pasar diatas, kita harus beli barang dari pasar itu)" ucapku kepada mereka berdua.
"Gemblung kowe ed, awak dewe wae rak ngerti ono bab opo ng njobo kok kowe malah ngajak aneh-aneh (gila kamu ed, kita saja tidak tau apa yg terjadi diluar kok kami malah ngajak aneh-aneh)" jawab si kosim
"Lha pie sim? aku dikei pesen seko pak gun koyo ngono (lha gimana sim? aku diberi pesan dari pak gun seperti itu)" jawabku. Aku yg sudah pernah ke Merapi sebelumnya baru kali ini mendapati kejadian-kejadian aneh seperti ini.
Kami yg sedang ngobrol tiba-tiba dikagetkan dengan tali tenda kami seperti ada yg menyenggol. Tidak cukup disitu, tenda kami dari belakang seperi ada yg meraba-raba, saat kami perhatikan nampak jelas dari dalam tenda yg meraba tangan yg entah tangan siapa
Benar-benar tenda kami saat itu seperti berdiri ditengah keramaian. Firasatku aku harus menjalankan pesan dari pak gun agar semua ini cepat pergi.Aku memberanikan diri mengajak Ali dan Kosim keluar tenda untuk melihat apa yg sebenarnya terjadi
"Emoh aku rak wani (Tidak, aku gak berani)" jawab Kosim. "Ngene lho sim, li. Awake dewe dongo wae InsyaAllah ora bakal ono opo-opo. Iki nek awake dewe ora metu kayae bakal terus entuk gangguan koyo ngene"
Gini lho sim, li. Kita berdoa saja insyaAllah tidak akan terjadi apa-apa. Ini kita kalau tidak keluar sepertinya akan terus diganggu)" ucapku dengan menjelaskan.
"Percoyono karo aku, aku entuk pesen koyo ngono seko pak gun. Firasatku aku kudu ngelakoni pituturane pak gun ben ora ono opo-opo (percayalah denganku, aku dapat pesan seperti itu dari pak gun.
Firasatku aku harus melakukan dari apa yg dipesankan pak gun agar tidak terjadi apa-apa)" tambahku
Ali dan Kosim hanya diam mendengar ucapanku.
"Yowes tapi kowe sek yo sing ngarep (yaudah, tapi kamu duluan yg depan)" ucap Ali. Aku yg mendengar ucapannya langsung bergegas membuka tenda. Tenda kami buka, kami disambut dengan dinginnya kabut malam
Sembribit angin kurasakan di malam entah pagi yg mencekam ini.
Aku lihat jam, jam menunjukan pukul 03.20 artinya baru 1 jam yg lalu kami tidur. Akhirnya kami bertiga keluar tenda bersama-sama dengan membawa lampu senter yg kami bawa.
"Iki aku ora ngimpi? iki panggonan opo kok ono pasar tekan nduwur gunung ngene? (ini aku tidak mimpi? ini tempat apa kok ada pasar di atas gunung seperti ini?" tanya Ali yg kaget dengan apa yg dilihat dengan matanya
Aku hanya diam dan tidak menjawab, saat aku melihat kosim ia nampak sekali ketakutan. Aku memperhatikan semua keadaan saat itu, banyak sekali yg berjualan dan orang-orang didalamnya mengenakan pakaian orang desa jaman dulu.
Aku tidak percaya dengan semua ini, rasa-rasanya tidak nalar jika ada pasar tumpah diatas gunung seperti ini
Herannya aku juga melihat beberapa tenda pendaki yg berdiri diantara pasar ini . Aku bertanya tanya sendiri didalam hati apakah semua pendaki itu tidak menyadari hadirnya pasar ini dan ditengah malam bolong seperti ini?
Ah sudahlah aku harus fokus menjalankan pesan pak gun dengan cepat dan langsung masuk ke dalam tenda lagi. Aku masih memperhatikan keadaan, kali ini aku memperhatikan barang apa yg dijual disini. Yg dijual semuanya normal selayaknya pasar yg ada di kota dan di desa-desa
Tapi pandanganku dialihkan dengan salah satu lapak yg dijaga seorang nenek-nenek, disana menjual daging segar. Saat ku lihat seksama nampak daging berbentuk tangan dan kaki seperti kaki tangan manusia. Sontak aku beristigfar melihat itu
Tidak mungkin aku akan beli daging dagangan nenek itu.
Aku memilih tujuan lapak mana yg akan kuhampiri dan kubeli. Diujung pasar aku melihat lapak menjual sembako, aku memutuskan kesana. "Ikuti aku" ucapku kepada Ali dan Kosim.
"Bismillahirrahmanirrahim, Gusti Allah Kang Maha Agung lindungi kami Semua"

Pelan-pelan aku melangkah melewati tengah-tengah pasar situ. Kami bertiga saling diam tanpa mengeluarkan kata-kata
Aku perhatikan lagi lebih dekat orang-orang disana. Wajah mereka pucat seperti wajah pendaki perempuan yg kutemui di atas pos satu. Ali dan Edi masih mengikuti di belakangku
Akhirnya aku sampai di lapak yg aku tuju disitu yg jual anak-anak laki-laki jika kuperkirakan berusia 12 tahun. "Tumbas nopo mas? (beli apa mas?)" tanya anak itu. Ia berbicara dengan nada lemas dan raut mukanya yg datar menyeramkan
Aku menelan ludahku sendiri saat melihatnya. Aku terus berdoa dalam hati. Aku melihat-lihat apa yg bisa kubeli, disitu ada mie instan, air mineral dan makanan lainnya.
Dengan cepat aku memutuskan mie instan yg akan ku beli.
"Niki pinten dek?(ini berapa dek)?" tanyaku sambil menunjuk mie instan.
"3000 mas" jawabnya lagi
"Kula tumbas kaleh nggih dek(aku beli dua ya dek)"jawabku
Saat hendak bayar aku lupa kalau uangku didalam tas yg ada di tenda
"He kowe ono gowo duit 6000 gak? (kalian ada yg bawa uang 6000 gak?)" tanyaku ke Ali dan Kosim. Syukurlah Ali membawa uang dan langsung ku serahkan ke adik-adik penjualnya.
Saat menyerahkan uang tak sengaja tanganku menyentuh sedikit tangannya, aku merasakan tangannya dingin dan jika aku lihat tangannya lebam seperti bekas luka. "Maturnuwun nggih mas (Terimakasih mas)" ucap adik itu. Lagi-lagi dia mengucapkannya dengan wajah seramnya itu.
"Sami-sami dek (sama-sama dek)" jawabku

Aku sudah membeli barang dari pasar ini dan sekarang aku harus lekas kembali ke dalam tenda. Kami bertiga berbalik untuk kembali ke tenda
Kami bertiga terkejut banyak orang-orang diantara mereka yg memperhatikan kami bertiga. "Pie iki nasibe dewe? (gimana ini nasib kita)" tanya Ali dengan ketakutan
"Ndongomu kabeh ojo pedot. Wes ayo mlaku wae, awak dewe nunduk amit-amit (doa kalian jangan putus, sudah ayo jalan aja, kita nunduk aja) nunduk amit-amit = tata krama orang jawa jika berjalan didepan orang tua atau didepan orang yg kita hormati.
Aku mulai melangkah diikuti Ali dan Kosim bersampingan dibelakangku. Tak sedikitpun aku menoleh kanan kiri, aku hanya fokus melihat kebawah menunduk dan sedikit membungkukkan badan sambil berjalan.
Suara gamelan yg kami dengar sejak di tenda masih menggema sampai sekarang, kabut yg menyelimuti pasar ini juga masih ada hingga sekarang. Benar-benar malam itu aku merasa ada di alam lain yg entah alam apa
Saat hampir sampai tenda langkahku terhenti. Aku melihat sosok hitam besar yg aku lihat saat tersesat semalam.
Sosok itu memperhatikan kami dengan mata merahnya yg menyala. Tak henti-hentinya aku melantunkan doa yg kubisa didalam hati.
Saat tiba didepan tenda Ali dan Kosik mendahuluiku masuk ke dalam tenda. "Bocah sialan" ucapku ke mereka

Perlahan aku masuk ke dalam tenda agar lekas lepas dari situasi ini.
"Astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim" . Aku mendengar Kosim tak henti-hentinya beristigfar
Aku melihat Ali langsung minum didalam tenda. Kami bertiga masih belum percaya dengan apa yg kami lihat tadi diluar tenda
Mie instan yg kubeli barusan, aku simpan didalam tas dan kuberi tanda agar tak tertukar saat aku akan memasaknya pagi nanti.
Jam menunjukan pukul 04.00 suara gamelan dan gemuruh keramaian masih menyertai kami bertiga. Hingga akhirnya kami mendengar lantunan adzan subuh yg mungkin dari pemukiman bawah
Perlahan suara gamelan dan suara gemuruh keramaian hilang, kami bersyukur saat keadaan kembali normal. Kami cepat-cepat bersiap shalat sama-sama didalam tenda
Setelah shalat kami berusaha tidur lagi.
Dalam tidurku aku bermimpi didatangi seorang kakek-kakek memakai jubah putih. Disitu ia mengatakan ingin menuntunku, ia berpesan dan memintaku lekas turun sebelum gelap tiba.
Jam 8.00 aku bangun, ku lihat pintu tenda sudah terbuka. Ternyata Ali dan Kosim sedang masak di depan tenda.
Pagi itu kami lewati selayaknya pendaki pada umumnya.
"Summit gak?" tanya Kosim.
"Wis rak usah, medun wae yo (sudah gak usah, turun aja ya)" ajakku.
"Iyo medun wae yo sim (iya turun aja ya sim)" jawab Ali yg juga minta langsung turun.
"Yowis awak dewe medun wae , firasatku yo rak enak (tasudah kita turun aja, firasatku tidak enak) ucap Kosim
Aku lega saat Ali dan Kosim satu suara denganku untuk langsung turun gunung setelah ini.
Kami membuat susu hangat, masak mie instan dan sosis pagi itu.
"Mie sing ndek mau tuku pie ed (mie yg tadi beli gimana ed?)" tanya Ali menanyakan mie instan yg kami beli di pasar tadi.
"Gak usah dimasak, tak gowo medun wae aku wedi nek ono opo-opo nek awak dewe mangan mie kui (gak usah dimasak, aku bawa turun aja. Aku takut ada apa-apa jika kita memakannya)" jawabku
Selesai makan kami langsung packing bersiap turun. Aku lihat beberapa pendaki summit ke puncak dan ada yg hanya di tenda. Aku bingung dan menyimpan tanya dengan kejadian semalam. Apakah pendaki yg lain juga merasakan kejadian yg kami alami semalam
Sebelum turun gunung kami bertiga berdoa bersama. Saat turun aku paling depan sementara Kosim di paling belakang dan Ali di tengah
Kami turun dengan sangat hati-hati setelah banyak hal-hal terjadi menimpa kami. Semua kembali normal.
Rasa-rasanya setelah kejadian semalaman sejak aku yg disesatkan hingga kejadian pasar semalam aku menjadi peka dengan keberadaan-keberadaan makhluk gaib disekitarku.
Saat memasuki pos satu kami disambut dengan bau busuk hingga Kosim hampir muntah karena saking busuknya bau itu
"Ambu opo iki? (bau apa ini?)" tanya Ali. Aku coba cek keadaan sekitar ternyata ada setan berkuncung yg berdiri dantara semak-semak siang-siang bolong seperti ini
"Ngati-ngati, deloken kae ono pocong ngadek ng kono. Pantes wae mambu ngene (hati-hati, lihat itu ada pocong berdiri disana. pantas aja bau gini)" ucapku sambil menunjuk ke arah semak-semak
Wajahnya hitam gosong, ada nanah mengalir disekitar wajahnya.
Aneh sekali ada setan siang-siang seperti ini.
Oiya lupa, aku turun gunung jam 10.00 . Saat turun kami hanya menemui 2 rombongan pendaki diantara pos satu dan pos dua
Singkat cerita kami tiba di basecamp pendakian. Kami merebahkan badan beristirahat .
Kami bersyukur karena sudah tiba di basecamp dengan selamat
Kami tiba dibawah kurang lebih pukul 14.00. Aku langsung mandi membersihkan badan
Selesai mandi aku lihat ada yg berbeda dengan Kosim
Aku lihat Kosim duduk diluar ditepi jalan, tatapannya tak lepas dari Merapi. Saat ku panggil ia tak sedikitpun menoleh
"Sim, kowe kenopo? (sim kamu kenapa?)" tanyaku sambil menghampiri dan menepuk pundaknya
"Aku diparani cah cilik sing ng pasar mau ed, aku dijak dolan rono meneh (aku didatangi anak kecil yg di pasar tadi ed, aku diajak main kesana lagi)" jawab Kosim
Aku terkejut dengan jawaban Kosim.
Saat itu juga aku ajak Kosim kedalam lagi, aku minta Ali dan Kosim segera berkemas dan pulang ke rumah.
Rencanaku seharusnya aku ingin makan dulu di basecamp sebelum pulang pun pupus mengingat kondisi Kosim barusan
Singkat cerita kami sampai di rumah kami masing-masing dengan selamat.
Esok paginya badanku terasa kurang sehat, seluruh badanku panas. Aku deman tinggi dan muntah-muntah. Saat aku ke dokter katanya hanya sakit biasa karena kelelahan
Aku berinisiatif memastikan keadaan Ali dan Kosim. Ternyata mereka juga merasakan hal yg sama sepertiku. Mereka berdua sakit panas, demam tinggi.
Mungkin kalau kata orang jawa "Sawanen"
Yg kutau Sawanen adalah reaksi tubuh setelah ketemu hal-hal gaib. Biasanya orang tsb akan jatuh sakit
Kami bertiga saling berkomunikasi lewat pesan di hp. Kami saling memberi saran selain menggunakan obat, agar setelah ini kami perbanyak lagi ibadah dan berdoa agar badan kami lekas sehat.
Beberapa hari setelahnya kami bertiga kembali sehat dan aktifitas seperti biasanya.
Pesan yg bisa penulis adalah selain fisik, mental adalah hal utama dalam mendaki. Sekuat apapun fisikmu jika mendaki tidak disertai dengan mental kalian tidak akan tau apa yg akan dilakukan jika menemui hal-hal yg diluar nalar
Percaya kepada Allah SWT adalah hal yg utama, beribadah dimanapun kita berada sudah menjadi kewajiban. Dan berdoa adalah cara manusia berkomunikasi dengan penciptanya.
Saat di gunung :
Jangan lepas dari Allah SWT
Jangan lalai dalam beribadah
Dan jangan berhenti dalam berdoa

Jika semua itu sudah kita genggam insyaAllah kita akan dilindungi dimanapun kita berada.
Aku yg sebelumnya belum pernah dihadapkan dengan masalah seperti ini hanya bisa menjadikan ini semua pelajaran agar aku semakin didekatkan dengan Sang Kuasa.

Ingat. Setinggi apapun kita berdiri, kita harus tetap bersifat tanah.

------TAMAT------
Pendakian ini tak akan pernah ku lupakan seumur hidupku. Jika ada kesempatan lagi, aku ingin kembali mendaki ke gunung Merapi.

Mari sejenak mendoakan agar gunung Merapi lekas membaik dari status waspadanya.
Aamiin

#MERAPI #bacahoror #horror #threadhorror #threadhoror #pendaki
Oh iya ada part yg lupa dijelaskan.
Cekidott lanjut dikit ‼️

Setibanya kamu dirumah masing-masing. Aku teringat dengan 2 mie instan yg kubeli di pasar bubrah
Aku terkejut, karena yg kudapati hanyalah 2 batu dan beberapa daun yg entah daun pohon apa aku sendiri tidak tau

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Wah.

Wah. Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @wahyuariyantn_

10 Oct
"MISTERI TEWASNYA 3 BOCAH DI WADUK BEKAS GALIAN KARDOYO"

- A THREAD

@ceritaht @bacahorror @IDN_Horor
#bacahorror #bagihorror #threadhorror #hororstory
Saya akan menceritakan kisah haru sekaligus menakutkan yg terjadi dan sempat menghebohkan banyak masyarakat khususnya lampung di awal tahun 2020
Seperti biasa monggo merapat dulu. Silahkan rt, like dan tinggalkan jejak sebanyak mungkin sebelum saya mulai cerita nanti.

Monggo saya suguhi kopi dulu...
Read 115 tweets
26 Sep
"TERJEBAK DI PASAR SETAN"

Perjalanan membawaku kesana, ke tempat yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya

- A THREAD

@ceritaht @bacahorror @IDN_Horor
#bacahorror #bagihorror #threadhorror #hororstory
Malam ini, saya akan membagikan cerita yg belum lama juga sudah saya baca.

Sebuah pengalaman dari seseorang yg cukup membuat kalian terperangah.

Cerita tentang,
"TERJEBAK DI PASAR SETAN"
Seperti biasa, silahkan kumpul dulu.

Tinggalkan jejak atau apa saja yg bisa ditinggalkan asalkan bukan meninggalkan perasaan.

Silahkan juga like, komen dan RT sepuasnya sebelum saya memulai cerita ini
Read 47 tweets
23 Sep
Jarang-jarang saya baru posting di jam malam gini ya ? hahaha

Malam ini saya ingin membagikan kisah yang belum lama saya baca juga, sangat menarik untuk dibaca dan mengandung banyak pelajaran di dalamnya.
Bagaimana nih? masih ada semangat buat baca jam segini?

Kalau masih silahkan merapat, like dan RT sebanyak-banyaknya.

Tinggalkan apa saja yg ingin ditinggalkan, yg penting jangan tinggalkan perasaan anda karena bukan tanggung jawab saya hehehe
Read 117 tweets
17 Sep
"PAMIT"

Sampaikan maaf ku untuk kedua orang tuaku dan semua teman-temanku.

- A THREAD

@ceritaht @bagihorror @bacahorror @IDN_Horor @cerita_setann
#bacahorror #bagihorror #threadhorror #malamjumat Image
Seperti biasa monggo merapat dulu. Silahkan rt, like dan tinggalkan jejak sebanyak mungkin sebelum mulai cerita...

Tak suguhi kopi monggo hehehe Image
saya mulai nantian yah, soalnya masih keluar ngopi 😁
Read 145 tweets
10 Sep
Urban Legend

"MISTERI RUMAH SAKIT TAYU, PATI"

Sejarah dan fenomena misteri di dalamnya.

- A THREAD

@ceritaht @bagihorror @bacahorror @IDN_Horor @cerita_setann
#bacahorror #bagihorror #threadhorror #malamjumat #malamjumatkliwon
drop cover cerita dulu, silahkan rt, like atau komen sepuasnya. Saya akan mulai cerita nanti malam pelan-pelan hehe....
Jangan kesusu (buru-buru) ya slur

Saya tinggali teh hangat dan pisang goreng dulu..
Rapatkan barisan ya, bentar lagi cerita saya mulai pelan-pelan...

Jangan menuntut cepat ya lur hehe
Read 77 tweets
3 Sep
Urban Legend

"ALAS ROBAN"

Dan cerita misteri di dalamnya

- A THREAD

@ceritaht @bagihorror @bacahorror @IDN_Horor @cerita_setann
#bacahorror #bagihorror #threadhorror #malamjumat
drop cover cerita dulu, silahkan rt, like atau komen sepuasnya. Saya akan mulai cerita nanti malam agar feel malam jum'at nya terasa hehe....

Monggo kopi dan gorengannya dulu..
Sebentar lagi cerita saya mulai pelan-pelan ya....
Read 92 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!