Profile picture
, 134 tweets, 20 min read Read on Twitter
- KOTAK MAKAN -

@bacahorror #bacahorror
A Thread
Selamat malam,

Malam ini saya mau berbagi cerita tentang pengalaman salah satu anggota keluarga dari teman saya sewaktu kami masih duduk di bangku SMP

Sejujurnya, saya sendiri kurang tau apakah ini merupakan kisah nyata atau hanya cerita horror anak-anak
Tapi yg jelas,
Pada masa itu cerita ini berhasil membuat saya dan beberapa teman SMP saya tidak berani melintas pada sebuah jalan besar yg letak nya tidak jauh dari sekolah kami ketika hari mulai petang
Demi untuk menjaga kenyamanan teman-teman yg sekiranya berdomisili di sekitar area tersebut, maka saya tidak akan menyebutkan lokasi tepat nya, seperti nama jalan, nama sekolah dan nama teman-teman saya. Semua akan saya jabarkan dengan nama-nama samaran
Tanpa panjang lebar lagi,
Mari kita mulai cerita nya
Ketika itu pertengahan tahun 1999, satu minggu sudah kami memasuki fase baru dalam jenjang pendidikan kami di bangku sekolah menengah pertama. Sekolah saya merupakan sekolah swasta yg cukup ternama di perbatasan Jakarta Selatan-Depok karena memiliki jenjang pendidikan yg...
...terbilang cukup lengkap. TK, SD dan SMP yg pada masa itu hanya sedikit sekolah swasta yg memiliki jenjang pendidikan yg cukup banyak seperti itu.

Saya merupakan satu dari sekian banyak lulusan dari SD yg sama
Dari sekian banyak teman-teman yg merupakan lulusan dari SD yg sama dgn saya, ada salah satu teman saya yg kemudian menceritakan sebuah cerita yg saat ini saya tulis kembali
Sebut saja namanya Bima (nama samaran)
Bima merupakan anak yg cukup bagus dalam bidang akademik dan non-akademik kala itu. Kami pun memiliki hobi yg sama, sama-sama suka bermain musik. Bahkan kami sempat beberapa kali latihan band bersama di rumah teman saya yg lokasi nya tidak jauh dari sekolah
Sampai suatu hari ketika kami ingin membuat jadwal untuk latihan band berikutnya, tiba-tiba Bima bilang,
"Eh, boleh gak sih kita latian nya di studio deket rumah gw aja?"

Temen saya, Galih, yg rumah nya memang biasa kami pakai untuk latihan band bingung dan dgn nada sedikit...
...kecewa Galih pun bertanya,
"Emang kenapa Bim, bosen ya kalo main nya di rumah gw?"

"Bukan gitu", kata Bima.
Dia pun akhirnya menjelaskan,

"Jadi kemarin, tante gw yg punya katering main ke rumah. Tante gw curhat gitu ke nyokap. Trus gw gak sengaja nguping..."
Tante nya Bima memang punya usaha katering dan lumayan maju kala itu. Saya sendiri blm pernah ketemu sama tante nya Bima, tp beberapa kali Bima pernah bawa bekal makanan dari katering tante nya itu. Dan memang enak sih!
"Curhat apaan emang Bim, apa urusannya sama latihan band?" Tanya Bayu yg merupakan salah satu teman band kami.

"Jadi gini, udah sekitar 6 bulan belakangan tante gw nerima order katering harian buat di rumah-rumah..."
Kami pun menyimak dgn serius.

"Nah, sekitar 2 bulan lalu ada tlp ke rumah tante gw katanya mau langganan katering..."

"Alamatnya gak jauh dari rumah lo Gal", lanjut Bima
"Ya terus kenapa emangnya?" Tanya Galih bingung.

"Tapi ada yg aneh nih..."

"Aneh gmn Bim?" Tanya saya semakin penasaran dgn cerita Bima.

"Iya... Ini org gak ninggalin no.tlp ke tante gw. Cuma bilang tolong taro aja di depan pintu rumah tiap jam 8 pagi"
Eeeh, udah jam segini ya... Lanjut besok deh ya. Kerja pagi euy
Okay, mulai dari sini saya akan melanjutkan cerita ini dari sudut pandang tante Rima (nama samaran), tante dari teman teman saya Bima.

Kenapa?

Karena sebenarnya, semua cerita dimulai dari sini...
"Riing.... Riing..."

Bunyi telepon pagi itu menambah kepenatan tante Rima yang sedang sibuk menyiapkan pesanan katering beberapa pelanggan untuk hari itu

"Riing... Riing..."

"Iya, Iyaa... Sabar!" Sahut tante Rima mendengar suara telepon yg tidak berhenti...
...seakan telepon yg terletak di atas meja kecil di ruang tv itu mengerti arti kata "sabar" dari mulut tante Rima.

"Ya, halo..." Sapa tante Rima kepada sisi lain telepon tersebut.

"Selamat pagi, Bu... Apa benar ini dengan Katering Cita Rasa Selera?"...
...tanya suara lembut seorang perempuan dengan kisaran usia 35-40 tahunan di sisi lain telepon itu

"Iya betul, Bu... Dengan siapa ini, Bu?" Tanya tante Rima melanjutkan

"Oh, akhirne dapet juga... Sudah dari beberapa hari lalu aku tak cari-cari no. telepon nya susah banget e..."
"... Anu Bu, aku mau langganan katering mu untuk rumah kakak ku iso Bu?" kata suara perempuan tersebut kental dengan aksen Jawa bercampur dengan bahasa Indonesia

"Boleh boleh, Bu... Untuk berapa porsi ya Bu?"

"Cuma 2 sih, tapi aku mau pesen buat 5 orang ndak papa?"
"Ooh bisa Bu... Saya minta alamat sama no.telepon nya ya Bu"

Kata tante Rima sembari mengambil secarik kertas dan bulpen untuk mencatat informasi data yang sekiranya bisa dia dapatkan.

"Di Perumahan Blok H Jl. Rajawali No.47, Bu... Oh iya, aku tak bayarne mingguan ya..."
"Oh boleh Bu, gpp... "

Jawab tante Rima sedikit bingung dengan respon dari sang pelanggan baru nya tersebut

"Biaya mingguane piro Bu?" Tanya suara perempuan itu melanjutkan

"Untuk 5 porsi total nya di Rp. 75.000 Bu untuk sekali makan"
Nominal itu adalah angka yg besar kala itu untuk 5 porsi katering rumahan. Namun, respon berikutnya dari sang pelanggan baru membuat tante Rima semakin bingung dan di saat bersamaan juga senang...

"Yo wes bu, aku tak ambil 5 porsi untuk 3x makan sehari yaa...
...jadi total semua Rp. 1.575.000 seminggu ya Bu"

"Ooh boleh boleeh Bu..." Jawab tante Rima dengan nada sumringah nya.
Usaha katering tante Rima memang sudah berjalan 5 tahun lamanya. Hanya saja semenjak kejadian kerusuhan Mei '98 omset usahanya turun drastis
Order katering pernikahan dan event yg hampir tidak pernah kosong setiap minggu nya kini harus menelan kenyataan pahit bahkan mengenaskan, terutama ketika kantor satu-satu nya yg berlokasi di daerah Cipete Jakarta Selatan harus tutup karena kendala ekonomi kala itu
Dan baru sekitar 5-6 bulan belakangan ini tante Rima mencoba membangun kembali usaha katering dengan target pasar sekolah dan perumahan untuk makan harian. Dan tipikal pelanggan yg seperti pelanggan baru nya ini termasuk spesies langka yg sangat sulit ditemukan menurut tante Rima
Pasal nya, tipikal pelanggan yg banyak bertanya biasanya berujung tidak jadi memesan atau setidaknya hanya memesan 1-2 porsi, itu pun dengan drama negosiasi yg sangat alot dan ratusan alasan yg klise dalam sudut pandang tante Rima.
"Alamat ne jangan sampe salah ya Bu, Blok H Jl. Rajawali No.47. Di taro ae di pintu depan rumah... Nanti Setiap minggu aku tak taro uang katering ne di dalem kotak makan ya"

Tegas suara perempuan

"Oh iya Bu, maaf saya boleh minta nama dan no.tlp nya?"
Tante Rima kembali menanyakan pertanyaan yg sudah sedari tadi beliau tanyakan namun belum juga mendapatkan jawabannya

"Nanti aku ae yg telpon Bu... Wes ya, Terimakasih banyak Bu."
"Ceklak... Tut... Tut... Tut..."

Terdengar suara telepon yg dimatikan dari sebrang sisi
Tante Rima bingung bukan kepayang, beliau tidak tahu siapa nama dan no.telepon sang pelanggan baru.
Bahkan yg paling lucu adalah, beliau sampai lupa menanyakan menu harian yg diinginkan sang pelanggan tersebut
Hari pertama untuk mengantar katering ke alamat yg diminta oleh pelanggan perempuan itu pun tiba

Tante Rima bersama salah satu asistennya, mba Sum pun berangkat menuju ke alamat yg telah diberikan oleh si pelanggan
Mereka menyusuri sepanjang jalan raya Cinere ke arah Sawangan sampai mereka mulai memasuki kawasan elit dengan plang nama jalan yg tertulis,

"Jl. Rajawali"

"Nah, sudah dekat nih... Tolong perhatiin nomor rumahnya ya mba Sum"
Pinta tante Rima kepada asistennya
"Iya bu..." Saut mba Suma menjawab arahan tante Rima

Kira-kira sudah 1 Km mereka berjalan dan melalui sekitar 10-11 rumah, mba Sum pun melihat penanda jalan dengan tulisan

" Blok H --> "

"Belok kiri Bu tulisannya...", Kata mba Sum memberitahu
Tante Rima pun segera mengarahkan mobil Daihatsu Espass keluaran tahun 1996 warna merah nya berbelok ke kanan.
Tepat di posisi Hook di ujung jalan itu terlihat rumah putih besar dan lumayan megah, persis seperti rumah di sinetron-sinetron layar kaca
Di depan tembok pagar nya tertulis angka "47".

"Nah, Bu... Ini rumahnya!" Kata mba Sum dengan nada terkejut dan terkesima melihat rumah putih yg besar itu

"Pantes aja dia berani pesen buat langganan sebanyak ini ya bu, wong rumah nya aja segede gaban!" tambah mba Sum
"Iya ya mba Sum... Alhamdulillaah ya kita dpt pelanggan kayak gini"
Sahut tante Rima menimpali peryataan mba Sum

"Udah mba, coba kamu turun bel rumahnya.."

"Iya Bu, saya turun dulu yaa..."

Mba Suma pun segera menyiapkan 5 kotak makan berukuran besar...
...sesuai dengan jumlah yg dipesan oleh perempuan di telepon tempo hari

Dengan berhati-hati mba Sum pun membawa ke lima kotak makan yg telah disusun bertingkat itu di depan dada nya. Sesampainya di depan pagar, dengan perlahan mba Sum meraih tombol bel yg terletak cukup tinggi..
...di balik pagar nya.

"Cari siapa mba?"

Belum sempat menekan tombol bel, terdengar suara laki-laki samar-samar dengan nada rendah dan berat dari dalam rumah yg sontak membuat mba Suma terkejut

"Anu Pak, saya mau nganter katering"
Jawab mba Sum kepada suara tersebut sambil...
...melihat lebih jauh ke dalam rumah mencari asal suara tersebut.

Tak begitu lama terlihat pintu utama perlahan terbuka, dan seakan tak ingin bertemu langsung dengan mba Sum, sesosok lelaki tua mengintip di sebagian daun pintu yg terbuka tadi
hanya menampakan sebagian kecil wajah dan bagian matanya, lelaki itu pun bertanya,

"Katering harian dari Ningrum?"

"Ningrum? Kurang tau pak saya... Cuma diminta nganter ke alamat sini"
Jawab mba Suma kepada lelaki itu

Dengan tatapan yg membuat mba Sum merasa tidak nyaman...
...lelaki itu pun berkata dengan suara beratnya,

"Taruh saja di situ"

"I.. Iya Pak.."

Mba Sum segera meletakan tumpukan kotak makan tersebut di depan pagar dan bergegas kembali ke dalam mobil

"Kenapa kamu mba?"
Tanya tante Rima yg kebingungan melihat tingkah mba Sum yg aneh
"Gak papa, Bu..."
Mba Sum menjawab dengan nada panik dan terlihat sekali ekspresi tidak tenang di muka nya

"Yowes, kita lanjut ya mba... Masih banyak nih orderan yg harus kita anter"
Lanjut tante Rima,

"Iya Bu..."
Mba Sum kembali menjawab seakan tidak tenang
"Aneh"
Hanya kata itu yg terlintas dalam pikiran mba Sum dan tante Rima

mereka memikirkan sebuah kata yg sama dengan 2 sudut pandang berbeda

Di satu sisi, mba Sum mulai merasa ada hal yg tidak beres dengan order katering mereka kali ini
Mba Sum merupakan salah satu karyawan tante Rima yg paling setia. Dia telah bekerja dengan tante Rima selama 5 tahun.
Ya, 5 tahun...
Dia adalah salah satu dari 3 karyawan paling lama yg bekerja untuk katering tante Rima. Mba Sum dan teh Rina telah mengikuti tante Rima sejak...
...tahun 1994 ketika pertama kali tante Rima memulai usaha katering ini. Mereka lah yg setia menemani tante Rima bahkan di saat usaha katering ini mengalami kemunduran drastis pada tahun sebelumnya.
Selama mba Sum bekerja dgn tante Rima, baru kali ini dia merasakan perasaan...
...yg tidak mengenakan dan mengganggu hati dan pikirannya. Seolah langkah yg mereka tempuh kali ini adalah pembuka kesialan yg akan datang

Di sisi lain, tante Rima pun merasakan keanehan pada gelagat mba Sum.
Selama mba Sum bekerja dengan nya, belum pernah dia melihat...
...mba Sum bertingkah segelagapan ini

padahal, dari semenjak mba Sum menyiapkan kotak makan di dalam mobil, turun ke depan pagar, sampai mba Sum kembali ke dalam mobil tak sekali pun tante Rima melepaskan pandangannya dari mba Sum dan rumah itu
Namun dalam sudut pandang tante Rima, tidak ada satu pun hal aneh yg muncul atau pun terlihat

Satu-satu nya keanehan yg dia lihat hanyalah ketika mba Sum berusaha menggapai tombol bel, kemudian terhenti dan terdiam kaku di depan pagar memandang...
...dengan tatapan kosong ke sisi bagian dalam rumah sambil memegang tumpukan kotak makan

Ketika itu, tante Rima yg melihat sikap mba Suma membuka kaca mobil nya dan memanggil-manggil namanya namun mba Sum seakan tak mendengar suar tante Rima
"Sum... Sum...!!!"
"Sumirah...!!!"

Suara teriakan tante Rima kemudia seakan-akan memecah lamunan mba Sum yg seketika itu lgsg terhenyak sambil meletakan tumpukan kotak makan yg ia bawa, kemudia bergegas kembali ke dalam mobil.

"Aneh!"
Kata itu saja yg terngiang di otak mereka
* "Belok kanan Bu tulisannya...", Kata mba Sum memberitahu
Hari menjelang petang, waktunya untuk tante Rima kembali patroli katering mengambil kotak-kotak makanan yg telah beliau edarkan bersama mba Sum pagi tadi

"Mba Sum, ayok temenin saya ambil kotak-kotak makanan"
Ajak tante Rima kepada mba Sum

Mendegar ajakan tante Rima tersebut...
...mba Sum seakan enggan. Mba Sum pun berkilah mencari alasan,

"Bu, maaf... Aku boleh gak gantian sama teh Rina bersih-bersih peralatan aja di rumah?"

"Lho kenapa? Tumben mba kamu nawarin diri buat bersih-bersih alat?"
Tanya tante Rima bingung dengan sikap mba Sum yg...
...lagi-lagi tidak normal dari biasanya

"Gak papa Bu, lg pengen bersih-bersih aja..."
Jawab mba Sum bingung harus berkata apa kepada atasannya itu. Mba Sum tau betul tante Rima bingung dengan jawaban yg ia berikan. Namun ia jg tidak tau harus beralasan apa
Para karyawan yg telah lama bekerja dengan tante Rima sangat paham bagaimana tante Rima begitu skeptis akan hal-hal yg tidak masuk akal. Mana mungkin alasan mba Sum yg hanya berlandaskan "perasaan tidak enak" bisa diterima dengan baik oleh atasannya itu
"Yowes lah, tolong panggilin teh Rina ya... Bilangin saya tunggu di mobil" Tegas tante Rina

"Iya bu..." mba Sum menjawab dan segera pergi ke bagian belakang rumah untuk memanggil teh Rina

"Teh, sore ini kamu yg temenin ibu ambil kotak makan yaa..." Pinta mba Sum kepada the Rina
"Ku naon eta tah... Tumben-tumbenan maneh ulah mau ngikut Ibu, mba?" (Ada apa emang... Tumben kamu gak mau ikut Ibu, mba?)
Tanya teh Rina bingung

"Gak papa teh, perasaan ku gak enak aja..."
Jelas mba Sum

"Gak enak kumaha eta tah?"
Sahut teh Rina semakin bingung
"Kamu tau orderan baru yg 5 porsi kali 3 sehari?"

"Ho'oh... Ku naon sama order nya mba?"

"Tadi pagi, aku sama Ibu nganter ke sana..." mba Sum menjelaskan

"Di dalem rumah, aku liat Bapak-bapak, dia nyuruh aku taro aja kotak nya di depan pager..."
"Lah kan emang begitu cenah pesennya..." Timpal teh Rina

"Iya, tapi aneh..." Kata mba Sum

"Iyaa, aneh kumaha?" Tanya teh Rina penasaran

"Gini teh, aku tuh ngerasa ada yg..."

"Mba Sum! Teh Rina nya manaa? Ayok, udah mau jam 5 ini...!"
Seketika suara tinggi tante Rima...
...memecah fokus percakapan mereka berdua

"Iya Bu...!" Sahut mba Sum

"Udah sana teh, berangkat... Hati-hati ya teh"
Pesan mba Sum kepada teh Rina

Dengan berat hati dan diselubungi kebingungan akan sikap sahabatnya teh Rina pun berjalan menuju mobil
Jam menunjukan pukul 18:27 WIB

Tante Rima dan teh Rina masih dalam perjalanan mereka menuju alamat terakhir untuk mengambil kotak makanan katering

Dan, yaa...
alamat terakhir tujuan mereka adalah Blok H Jl. Rajawali No.47
Tante Rima memarkirkan mobil espass nya tepat di depan pagar rumah putih megah itu
Kali ini, beliau sendiri yg turun untuk mengambil kotak makan yg tadi pagi ditinggalkannya
Teh Rina yg yg duduk di bangku sebelah pengemudi pun dengan cekatan membalikan sebagain tubuh atas nya...
...dengan posisi duduk menghadap ke jok belakang, untuk merapihkan kotak-kotak makanan yg sudah lebih dulu mereka ambil

* Di sini saya akan jelaskan sedikit mengenai denah area di sekitar rumah tersebut supaya teman-teman tidak bingung... *
Ini adalah denah rumah putih tersebut.
Seperti yg bisa teman-teman liat, rumah putih ini seperti terisolasi dari rumah-rumah lainnya. Mobil tante Rima diparkir tepat di depan rumah putih seperti yg terlihat di denah gambar

Kita kembali ke cerita...
Teh Rina yg sedang menghadap ke jok belakang jelas dihadapkan dengan pemandangan tanah kosong yg luas dan tanpa pencahayaan yg cukup baik.

Ditengah kesibukannya, tiba-tiba sekelebat teh Rina dikagetkan oleh bayangan yg lewat tepat di belakang mobil mereka
Namun karena kurangnya pencahayaan di area itu, teh Rina tidak dapat memastikan apa yg barusan dilihatnya.

"Heeh... Dasar jurig! Ngagetin wae..." Celoteh teh Rina yg terkejut. Namun tanpa teh Rina sadari, kata-kata itu justru memancing kejadian lainnya
Sesaat teh Rina merasa mobil terguncang ringan...
Masih dengan pikiran positif, teh Rina menduga guncangan itu disebabkan oleh pergerakannya yg sedang gumurusuk merapihkan kotak-kotak makanan.
Guncangan itu pun terjadi lg, namun teh Rina masih blm menggubrisnya

Sampai...
Sesuatu seakan menghantam keras pintu bagasi jok paling belakang mobil mereka.

"Astaghfirullah...!"
"Naon eta tah...??" Sembari terkejut teh Rina menoleh ke kiri dan ke belakang mencari tau asal suara tersebut.

Tidak mungkin arah suara itu datang dari sisi kanannya...
...mengingat bahwa tante Rima sedang berdiri di depan pagar rumah tersebut yang posisi nya tepat di sisi kanan teh Rina saat ini.

Masih berusaha mencari asal suara tersebut, tanpa sengaja teh Rina menengok ke sisi kanannya dan melihat sesuatu yg aneh...
Sisi kiri mobil seakan gelap gulita, tak terlihat apa pun dari dalam kaca. Tidak ada rumah putih megah yg sebelumnya ia lihat, bahkan tidak terlihat sosok atasannya yg telah lama ia ikuti.

Kemana perginya rumah putih itu?
Kemana perginya tante Rima?
Sampai teh Rina menyadari sesuatu, bukan pemandangan tersebut yg menghilang. Namun seolah sisi kiri mobil terhalang sesuatu yg besar sehingga tidak terlihat apa pun dari dalam mobil.

Perasaan tidak enak seketika menyelimuti pikiran dan hati nya, membuat bulu kuduknya berdiri
Tiba-tiba teh Rina merasakan ada semilir hembusan udara yg cukup dingin mengalir di sekitar tengkuk nya. Seakan ada yg bernafas tepat di belakangnya.

Sadar akan situasi yg dihadapinya, membuat teh Rina berusaha meraih knop pintu mobil untuk bergegas keluar dan menyelamatkan diri
Bukannya berhasil keluar dari mobil, justru kejadian aneh lain malah menimpanya...

Tangan teh Rina yg berusaha meraih knop pintu tiba-tiba terasa kaku dan nyeri, seakan ada yg mencengkram menahan tangannya, membuat teh Rina semakin ketakutan
Tak mampu menahan rasa takutnya lg, teh Rina akhirnya berteriak sembari memejamkan mata nya...

"Ibuuuu... Tolong saya Buu!!!"

Tiba-tiba knop mobil yg taid tidak mampu diraihnya terbuka, disertai suara yg sangat familiar ditelinganya
"Kenapa kamu Rina?!!"

Suara teriakan tante Rima yg sangat diharapkannya, terdengar di telinga teh Rina...

"Rina takut Bu..."
Teh Rina menjawab suara tante Rima masih dengan mata terpejam dan menutup kedua telinga nya
"Sudah... Sudah... Gak apa-apa"
Tante Rima mengulurkan kedua tangannya meraih tangan teh Rina. Teh Rina segera menggenggam tangan tante Rima begitu ia merasakan sentuhan tangan tante Rima yang berusaha merangkul di sekitar pundak nya
Merasa situasi mulai aman, teh Rina perlahan membuka kedua matanya.

Betapa kagetnya teh Rina ketika ia membuka kedua matanya. Bukannya wajah atasannya yg ia lihat, malah sosok Bapak-bapak tua yg menatap mata nya dengan tatapan yg sangat mengerikan sambil tersenyum...
...menyeringai membuat teh Rina semakin ketakutan.

Seketika itu juga teh Rina berteriak dan terjatuh di jok belakang mobil tidak sadarkan diri
Teh Rina perlahan mulai sadarkan diri. Ia membuka matanya perlahan mencoba mengumpulkan tenaga dan ingatannya tentang apa yg terakhir kali menimpa nya

Tiba-tiba terdengar suara teriakan yg familiar dan cukup untuk membuat teh Rina tersadar seketika
"Buu... Buu... Teh Rina we melek Buu!!!"

Ia sadar, itu adalah suara mba Sum, sahabat nya yg telah lama bersama-sama dengannya di usaha katering milik tante Rima.

"Sum... Urang teh udah pulang?"
Dengan suara lemas terbata, teh Rina berusaha mengkonfirmasi keberadaanya sekarang
"Udah teh... Udaah... Teh Rina udah di rumah..."
Jawab mba Sum dengan nada sedikit terisak, kebingungam dan sedih melihat kondisi sahabat nya.

Mba Sum memang sudah menduga akan terjadi hal yg tidak menyenangkan dan jauh dari logika. Ia sudah merasakannya semenjak pagi tadi
"Ibu mana Sum...?" Tanya teh Rina,

"Iyaa Rin... Saya di sini"
Tiba-tiba tante Rima masuk ke dalam kamar teh Rina, melihat kondisi salah satu karyawan setia nya.

"Maafin Rina ya Bu, tadi Rina pingsan ya...?" Ucap teh Rina kepada tante Rima
"Sudah Rin, gak usah kamu pikirin. Yg penting kamu sekarang sudah sadar."

"Tapi Rina teu enak ku Ibu..."

"Gak usah kamu pikirin Rin. Besok aja lanjut ceritanya, sekarang kamu istirahat dulu ya..."

Tante Rima berusaha menengakan karyawannya yg terlihat lemas itu
"Iya Bu, hampura ya Bu..." Lanjut teh Rina yg masih merasa tidak enak kepada tante Rima.

Tante Rima pun kemudian beranjak meninggalkan kamar teh Rina, dengan pikiran nya yg tak menentu. Ia mencoba menelaah peristiwa-peristiwa aneh yg menimpa karyawan nya hari ini
Apa yg sebenarnya terjadi?

Tante Rina berusaha mengingat momen demi momen yg terjadi tadi sore di depan rumah putih yg megah itu

Ia ingat, setelah ia turun dari mobil untuk mengambil kotak makan yg diletakan si pemilik rumah di depan pagar yg tinggi tadi ia mendengar suara...
...dari dalam rumah yg seolah memanggil-manggil namanya dengan lengkap,

"Rima Rahayu Ningsih..."

Dengan nada lirih dan intonasi yg sangat pelan, hingga terdengar seakan seseorang tengah berbisik kepadanya dari jarak 1 meter

Tante Rima menoleh ke arah datang nya suara itu
Ia mencoba melihat jauh ke dalam rumah di tengah pencahayaan yg sangat minim

Seketika ia melihat dari balik jendela yg berdampingan dengan pintu utama, seseorang sedang melambaikan tangan kepadanya

Entah siapa...
Namun yg tante Rima tau, orang itu mengenakan pakaian seperti...
...gaun panjang berwarna merah menyala, sehingga ia bisa dengan jelas melihat warna gaun tersebut di tengah gelap nya rumah itu

Sesaat ketika tante Rima memfokuskan pandangannya, ingin memastikan apa yg ia liat, tiba-tiba terdengar suara benturan yg cukup keras dari dalam mobil
Ia pun terkejut dan segera memalingkan pandangannya ke arah mobil yg ia parkir tepat di belakangnya

Namun apa yg tante Rima liat justru semakin membuat nya terkejut...
Ia menyaksikan teh Rina, salah satu karyawan setia nya itu sedang menggebrak-gebrak kaca mobil...
...sambil menatap nya dengan tatapan yg aneh dan senyuman menyeringai yg membuat tante Rima merinding

Pandangan teh Rina seperti pandangan seekor serigala yg sangat bahagia menemukan mangsa nya dari kejauhan
"Astaghfirullahal azhiim... Kenapa kamu Rina?!"

Teriak tante Rima kepada teh Rina

"Rin, nyebut Rin... Nyebut!"

Tante Rima segera membuka pintu mobil dan mencengkram tangan teh Rina dengan erat, khawatir sosok yg dia hadapi saat ini akan menyerangnya tiba-tiba
"Lapaar... Lapaar...",
Hanya kata itu yg dapat keluar dari mulut teh Rina sambil tetap menatap tante Rima dengan seringaian yg mengerikan

Namun aneh nya, suara itu bukan suara yg familiar di telinga tante Rima...

"Kamu bukan Rina, kan?!" Bentak tante Rima

"Rin, eling Rin..."
Tante Rima tetap berusaha menyadarkan karyawan nya tersebut, hingga tiba-tiba tubuh teh Rina terhentak, mengejang dan jatuh tak sadarkan diri di jok belakang mobil

Melihat hal itu, tante Rima segera bergegas menyalakan mesin mobil nya dan pergi meninggalkan area tersebut
...

Tante Rima berjalan menuju kamar tidur nya sambil tetap memikirkan semua kejadian aneh tadi

Hingga terlintas dipikirannya, bahwa besok ia harus menemukan jawaban dari keanehan-keanehan tersebut
Suara adzan Subuh terdengar berkumandang dengan lantang dan indah

Tante Rima sudah bersiap untuk mengantar kotak-kotak makanan ke setiap rumah pelanggan nya

Tapi ada yg berbeda hari ini, tante Rima tidak hanya ditemani oleh mba Sum, tetapi jg disertai oleh satu lg...
...karyawan setianya

Ingat kan di awal saya tulis bahwa tante Rima punya 3 karyawan yg paling lama ikut bekerja dengan beliau,
Ini adalah orang ketiga tersebut...

Mang Jamal.
Begitu lah beliau dipanggil. Mang Jamal adalah karyawan yg paling senior dari semua karyawan tante...
...Rima.

Bukan hanya dari lama masa kerja nya, tetapi jg dari usia.
Mang Jamal awalnya adalah supir dari Mbah Kakung nya Bima, teman saya.
Yaa, supir dari Ibu nya Bima dan tante Rima sedari mereka masih duduk di bangku SMA

Usia mang Jamal memang sudah tidak muda lg
Menginjak usia yg sudah 58 tahun kala itu, namun beliau masih terlihat bugar dan bersemangat

Mang Jamal merupakan sosok yg ramah, sopan dan menyenangkan, bahkan bagi kami teman-teman sekolah Bima.

Tapi ada yg menarik dari mang Jamal,
Menurut rumor yg saya dapat dari Bima, mang Jamal ini punya "kekuatan ghoib" kalo istilah kami dulu...

Lebih tepatnya, beliau pernah mendalami ilmu bela diri yg bersinggungan dgn ilmu kebatinan. Jadi sedikit banyak beliau paham mengenai hal-hal yg tak kasat mata
Singkat cerita,

Berangkat lah tante Rima ditemani dengan mba Sum dan mang Jamal pergi oengantar kotak-kotak makan para pelanggan satu demi satu,

Hingga akhirnya tersisa lah 1 kotak makan terakhir dengan alamat tujuan Blok H Jl. Rajawali no.47
Sampai lah mereka di depan rumah putih yg megah itu lagi. Namun kali ini mereka memutuskan untuk meletakannya saja di depan pagar dan langsung pergi tanpa banyak membuang waktu di area tersebut

Namun, metode tersebut sengaja tante Rima tetapkan dengan sebuah tujuan...
... Mereka harus memantau, apa yg sebenarnya terjadi dengan kotak makan mereka?

Karena sebenarnya, ada kejadian aneh lainnya yg mereka alami pagi ini, ketika salah satu karyawan tante Rima, Euis tengah mencuci kotak-kotak makanan untuk menyiapkannya ia menemukan hal aneh...
...di dalam salah satu kotak makan.
Dan, yaa... Di depan kotak makan itu tertulis alamat dari rumah putih yg megah itu

Awalnya Euis mencium aroma yg tidak sedap seketika ia membuka kotak makan tersebut. Namun Euis masih berpikir positif, namanya jg bekas makanan...
...orang kemarin, dan baru dibuka pagi ini. Wajar kalo tercium bau yg tidak sedap

Namun kejanggalan berikutnya yg Euis temukan tidak lg dapat ditoleransi oleh akal sehat nya...

Euis menemukan potongan daging yg membusuk dan dipenuhi belatung, jg bercak darah yg mengering
Hal ini membuat Euis ketakutan dan segera melaporkannya kepada tante Rima.

Inilah yg akhirnya membuat tante Rima semakin yakin untuk memantau rumah tersebut dari kejauhan dan mengajak mang Jamal untuk menemani
Tante Rima, mengarahkan mang Jamal untuk memarkir mobil mereka tidak terlalu jauh dari rumah putih tersebut agar mereka bisa memperhatikan dgn jelas keadaannya

1 jam, 2 jam tidak terjadi apa-apa...
Hingga akhirnya jam menunjukan pukul 11:47 WIB,
Tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh ketukan di kaca mobil mereka

Mereka melihat sosok lelaki muda berseragam, mang Jamal pun segera membuka kaca mobil dan menyapa dengan sopan

"Siang mas..." Sapa mang Jamal kepada lelaki muda itu

"Siang Pak!" Jawab nya,
"Sedang menunggu siapa Pak? Dari tadi saya perhatiin mobil Bapak diam aja di sini, tapi mesinnya masih nyala..."

"Anu pak hansip, saya lagi nungguin orang rumah itu..."
Jawab mang Jamal sambil menunjuk ke arah rumah putih megah yg sudah mereka pantau sejak pagi...
"Hah? Rumah mana Pak?" Tanya hansip itu menegaskan sekali lg

"Itu lhoo Pak rumah yg..."
Jawaban tante Rima tiba-tiba terhenti

Seketika mereka semua yg berada di dalam mobil kaget bukan main saat tante Rima menunjuk ke arah rumah putih megah itu
Bagaimana tidak,
Mereka melihat bersama-sama ke arah jari tante Rima menunjuk, namun apa yg mereka temukan benar-benar di luar nalar dan logika mereka...

Benar-benar tidak masuk akal!
Rumah putih megah dengan pagar tinggi layaknya istana di sinetron itu seketika berubah menjadi rumah besar yg terlihat sudah lama ditinggalkan...

Dipenuhi dgn ilalang yg tinggi menjulang di pekarangan depan dan cat yg sudah lapuk. Jendela yg sudah tidak berkaca dan pintu yg...
...sudah hancur.

"Astaghfirullaahal azhiim...!!!"

Hanya kata itu yg bisa mereka ucapkan bersama

Seperti sudah paham dengan situasi nya, hansip itu pun bertanya kronologis cerita nya kepada tante Rima dan akhirnya bersedia membantu untuk mengambilkan kotak makan yg...
Telah mereka tinggalkan sebelumnya di depan pagar
Setelah mendapatkan kembali kotak makan itu, tante Rima, mba Sum dan mang Jamal segera pergi meninggalkan rumah itu

Masih menyusuri Jl. Rajawali yg cukup panjang, mba Suma yg sejak awal duduk sendiri di jok belakang tiba-tiba berkata,

"Bu, koq hati ku rasa gak enak ya..."
Mendengar hal itu, tante Rima menoleh ke belakang dan bertanya,

"Gak enak gmn mba Sum?"

"Iya bu, koq rasa-rasa nyium bau busuk ya..."

"Duh, jangan aneh-aneh kamu mba Sum... Eling ya!"
"Capek aku ngadepin teh Rina kayak kemarin..."

Kata tante Rima menahan kepanikan nya
Mang Jamal yg sedang menyetir dengan tenang pun tiba berucap,

"Bu, mba Sum, dzikir ya... Baca-baca apa aja yg kalian tau..."

"Nek opo toh Mang?" Tanya mba Sum dgn aksen Jawa nya...

"Iya mang, ada apa emang nya...?" Tanya tante Rima yg jg penasaran
"Ada yg ngikutin Bu, mba..."

"Astaghfirullaah... Apa lagi toh mang...???"

Sahut tante Rima penasaran sambil tetap berusaha menahan rasa takutnya

Mba Sum yg mendengar perkataan mang Jamal lgsg menggenggam tangan tante Rima yg sudah pindah ke jok belakang dgn erat
Sambil memejamkan mata, mba Suma pun membaca segala macam doa yg ia hafal,

Sampai...

Suara hentakan yg keras dari kaca sebelah kiri mobil, yg tepat di terletak di samping mba Sum membuyarkan bacaanya

Dan refleks mba Suma menoleh ke arah kaca

Namun apa yg ia lihat...
...kali ini benar-benar membuat mba Suma tak kuasa menahan tangis dan teriakan nya

Sesosok perempuan bergaun merah dengan mata hitam pekat menempelkan kedua telapak tangannya yg penuh dengan bercak merah di kaca mobil mereka

Kali ini tak hanya mba Sum,
Tante Rima pun menyaksikan hal yg sama...

Teriakan mba Sum dan tante Rima pun tak henti-henti nya keluar sembari mengucap kalimat takbir

"Baca ayat kursi Bu, mba..."
Ucap mang Jamal kepada kedua perempuan yg ia tau mereka sudah tidak kuat lagi menyaksikan hal aneh semacam ini
Sampai tiba-tiba sosok itu menghilang dari kaca samping dan seketika muncul di depan mobil mereka dengan jarak sekitar 100 meter,
Seolah berusah mencegat menghentikan laju mobil itu...
Mang Jamal yg sepertinya sudah terbiasa melihat hal-hal mistis seperti ini berusaha tetap tenang dan terus menginjak gas mobil sambil dengam lantamg melantunkan bacaan ayat kursi...

Mobil itu pun terus melaju dengan kencang,

Sampai...
Tepat di depan sosok itu, mang Jamal justru semakin dalam menginjak gas mobil dan semakin lantang melantunkan bacaan ayat kursi...

Seperti adegan di film-film horror, mobil mereka menembus sosok tersebut... Dan bertepatan dengan momen itu, mereka semua mendengar suara...
...dengan nada lirih dan tempo yg sangat pelan, jelas sekali di telinga mereka,

"Laa... paar..."

Seketika itu, sosok perempuan bergaun merah itu lenyap dari pandangan mereka.
Tidak ada yg tau kelanjutan dari cerita ini, kami pun tidak mendapatkan klarifikasi dari Bima

Tapi yg jelas setiap kami main ke rumah nya dan iseng bertanya kepada Ibu nya Bima tentang cerita ini, kami selalu mendapat jawaban yg tidak memuaskan...
"Wes toh, suka banget sih bahas-bahas yg ndak penting..."

Sulit sekali untuk mendapatkan konfirmasi mengenai cerita ini,

Hampir semua org yg mengalami nya termasuk mang Jamal yg sampai terakhir kami lulus SMP masih suka menjemput Bima di sekolah selalu menjawab...
...dengan senyuman dan perkataan,

"Udah kaseep... Jangan dibahas-bahas"

Memang kami sering mendengar rumor bahwa rumah itu ditinggalkan pemilik terakhirnya setelah kerusuhan Mei '98, karena sang pemilik mengalami kebangkrutan pada perusahaannya
Mereia membawa semua barang-barang mereka, terkecuali 1...

Sebuah lukisan perempuan cantik dengan gaun warna merah yg konon katanya tidak lapuk termakan usia

Untuk tante Rima sendiri, terakhir kali saya bertemu Bima waktu kuliah semester 5, katanya kateringnya masih berjalan
Mba Sum sudah pulang ke kampung nya karena menikah dengan pemuda di sana.

Teh Rina tidak lama dari kejadian itu sempat pulang ke Subang, namun beberapa tahun kemudian kembali lg dan masih membantu usaha katering tante Rima
Yg jelas,

Cerita meninggalkan ketakutan yg cukup lama selama kami di SMP.
Selama hampir 2 tahun kami berusaha menghindari melewati jalan itu apabila hari sudan mulai sore
Sekian cerita yg bisa saya bagikan kepada teman-teman semua,

Mohon maaf apabila ada kesamaan dalam penulisan nama atau lokasi, maaf jg untuk beberapa typo yg sempat tertulis.

Apabila dianggap kurang menarik atau kurang menakutkan, saya mohon maaf...
Karena tujuan saya berbagi cerita ini memang bukan untuk menakut-nakuti, tetapi hanya sekedar berbagi cerita saja.

Saya pamit,
Semoga hari teman-teman esok lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Salam
bonkioong
Missing some Tweet in this thread?
You can try to force a refresh.

Like this thread? Get email updates or save it to PDF!

Subscribe to bonkioong
Profile picture

Get real-time email alerts when new unrolls are available from this author!

This content may be removed anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!