, 122 tweets, 17 min read
My Authors
Read all threads
-Jembatan-

Setiap pembangunan, pasti ada tumbalnya. Entahlah, tapi sepertinya benar.

@bacahorror #bacahorror
Foto : Google.
Sore ini gue berada di sebuah terminal bus kecil di kota Hujan. Deretan bus malam berjejer rapi di sepanjang parkiran.

Setelah puas memotret beberapa penguasa pantura itu, gue melangkahkan kaki menuju loket bus yang akan gue tumpangi malam ini.
"Mas, pesanan tiket atas nama Rizz" Kata gue kepada seseorang dibalik kaca loket.

Lelaki bername tag Jake itu mengecek komputernya, "Oh iya, pesanan atas nama Rizz, satu tiket jurusan rumah mantan ya." Ucapnya sembari menyodorkan selembar tiket.
Gue mengambil tiket itu, setelah sebelumnya membayar dengan uang yang pas. Kini gue membalikan badan, mencari bus berplat nomor sama dengan yang tertera pada tiket.

Setelah menemukannya, gue menaiki kendaraan roda enam tersebut.
Gue duduk di kursi nomor satu, lalu mengambil hape yang berada di dalam tas.

"Her, ngko jemput nang prapatan yo, aku wis nunggang bis kie." (Her, nanti jemput di prapatan ya, gue udah naik bis nih) Gue menulis pesan kepada salah satu teman kampung yang bernama Heru.
Tak begitu lama Heru membalasnya, "Iyo, kiro-kiro gutul ngeneh jam pira?" (Kira-kira sampai sini jam berapa?).

"Jam loroan lah, angger ra keno macet." (Jam duaan, kalo enggak kena macet) Jawab gue kemudian.
Gue memasukkan kembali ponsel ke dalam tas, bebarengan dengan keluarnya bus bercorak pelangi ini keluar terminal.

Sepanjang perjalanan, pikiran gue hanya ingin cepet-cepat sampai kampung, kenapa ya setiap lagi mudik pasti pemikirannya kayak begitu 🤣
Jam sudah menunjukan pukul setengah tiga pagi, gue sedang berada di sebelah supir, "Kiri nang prapatan ngarep ya, Pak." (Berhenti di prapatan depan ya, Pak) Pinta gue kepada pak supir.
Sang kondektur membukakan pintu samping, lalu gue berjalan turun keluar. "Suwun kang." (Makasih mas) Ucap gue kepada mereka berdua.

Setelahnya, gue dikerubungi oleh beberapa tukang ojek yang menawarkan jasanya. Namun gue menggelengkan kepala.
Gue memandang sekitar, mencari seseorang dan gue temui Heru yang berada di sebrang jalan.

"Hoy." Ucap gue sembari berjalan ke arahnya. "Wes sue tah nunggune?" (Udah lama nunggunya?) Tanya gue kemudian.
"Nembe sepuluh menit koyone." (Baru sepuluh menit kayaknya) Jawab pemuda berkulit sawo matang itu.

Gue langsung menaiki motor matic miliknya, "Arep langsung balik opo baturaden sek?" (Mau langsung pulang apa ke baturaden sek?) Tawar gue.
"Cocote, langsung balik bae." (Mulutnya. Langsung pulang aja) Jawab Heru sembari menstarter kendaraan roda dua tersebut.

Angin dingin persawahan mulai menyambut kami. Bulan purnama menemani perjalanan menuju rumah tempat kelahiran gue.
Sesampainya di sebuah jembatan desa, suara percikan air berasal dari dam yang bersebelahan dengan jembatan, menambah kesyahduan malam itu.

Bahkan gue pernah berfikir, apakah orang kota dapat merasakan suasana ketenangan seperti ini?
Gue menilik ke sebuah pohon yang berada persis disebelah jembatan. Ada sesuatu yang bergantung di dahannya.

"Her, mandeg sit. Ndeleng-ndeleng jembatan ki apik ketone." (Her, berhenti dulu. Liat-liat jembatan bagus nih kayaknya) Pinta gue kepada Heru.
"Rausah, mending balik bae. Ndelenge ngesuk sore bae." (Gausah, mending pulang aja. Liatnya besok sore aja) Jawab Heru dengan menambah kecepatan motornya.

Gue tidak menghiraukan ucapannya, pandangan mata ini masih tertuju pada sesuatu yang bergantung itu.
"Ah, paling buah sing wis arep mateng, mulane dikarungi." (Ah, paling buah yang mau masak, makanya di karungin) Batin gue.

Akhirnya kita melanjutkan perjalanan pulang, namun ada yang berbeda. Heru tidak banyak omong seperti sebelumnya. Entahlah.
Dalam waktu tidak kurang dari tiga menit, gue sudah sampe di rumah.

"Suwun ya, Her." (Makasih Her) Ucap gue. "Mampir disit apa ora?" (Mampir dulu apa enggak?) Tawar gue.

"Rausah, langsung balik bae." (Gausah, langsung pulang aja) Jawab Heru.
"Ngesuk sore bae ngumpul neng gone Roni." (Besok sore aja ngumpul di rumah Roni) Ajaknya.

Gue mengangguk, "Yoweslah, koe ati-ati baline." (Yaudah lo baliknya hati-hati)

"Iya." Kata Heru dengan melajukan kendaraannya.
Setelah masuk ke dalam rumah, gue mencoba untuk tidur namun selalu gagal. Pikiran ini selalu terbayang dengan sesuatu yang menggantung di pohon dekat jembatan.

"Asu, malah kemutan bae." (Asu, malah kepikiran mulu) Umpat gue kesal.
Bahkan hingga adzan subuh berkumandang, gue masih saja terjaga. Seakan mata ini dilarang untuk tertutup.

Akhirnya, gue memutuskan sholat subuh dan tak begitu lama, gue tertidur diatas sajadah bekas gue bersujud kepada Tuhan.
Sore hari telah datang. Kini gue berada di teras rumah Roni untuk bersenda gurau dan melampiaskan rindu kepada teman-teman kampungku.

"Balik kapan koe, Riz?" (Balik kapan lo, Riz) Tanya salah satu temanku, Ilham namanya.
"Mau mbengi, Ham." (Tadi malam, Ham).

"Wes sue koe ra balik ya, ujarku wis kelalen karo dewek." (Udah lama lo gak pulang, gue kira udah lupa sama kita) Celoteh sang tuan rumah, si Roni.
"Yo kepriwe maning, akeh gawean nang kulon." (Ya gimana lagi, banyak kerjaan di sana) Jawab gue.

Sore itu kami berbincang-bincang, melepas rindu setelah sekian lama tidak berkumpul seperti ini.
"Eiy, ke jembatan yuk." Ajak gue ke temen-temen. "Sore ngeneh pasti rame nang kono." (Sore gini pasti rame disana) Lanjut gue.

"Yowes lah, lagian wes suwe dewek ra nongkrong nang kana." (Yaudah, lagian udah lama gak nongkrong disana) Tutur Ilham.
Akhirnya kita bermain ke jembatan dan memarkirkan motor di dekat dengan bendungan.

"Sore-sore ngene, angine pancen gede." (Sore-sore gini anginnya memang gede) Ucap gue dalam hati.
Gue melihat kebawah jembatan, airnya sedang surut. Wajar, sudah beberapa bulan ini memasuki musim kemarau. Bahkan air di bendungannya tidak sederas biasanya.

Wajah gue terangkat, melihat ke sisi jembatan yang lain. Gue sedikit syok, namun mencoba tenang.
Gue berjalan perlahan menuju sesuatu yang kini sedang gue tuju. Menerka-nerka kejadian tadi malam saat gue lewat jembatan ini.

Setelah gue berhasil mengingatnya, gue yakin bahwa pohon itu ada di tempat gue berpijak saat ini. Kok sekarang sudah tidak ada?
Pohon itu sudah tertebang.

"Aneh, padahal tadi malam gue liat pohon ini masih ada." Gue bermonolog.

"Ah mungkin ditebang pagi tadi." Gumam gue.

Gue mendekat kepada pohon itu, memeriksa bekas potongannya, namun terasa janggal kembali.
Potongannya terasa janggal. Dari bekasnya, gue bisa prediksi jika pohon ini sudah tertebang selama beberapa minggu yang lalu, bukan tadi pagi.

Gue melamunkan hal semalam, tapi rasanya gue tidak halu. Gue benar-benar melihat pohon itu.
"Heh, koe kenangapa?" (Heh, lo kenapa?) Tanya Ilham menepuk pundak gue.

"Rapopo Ham." (Gapapa ham) Jawab gue dengan geleng-geleng kepala.

"Aja bengong, ngko kesambet." (Jangan bengong, nanti kesambet) Saran dari Ilham yang kemudian gue iyakan.
"Hayu, ngeneh." (Ayo, kesini) Ucap Ilham sembari menarik tangan gue.

Dengan menyisakan rasa bingung, gue mengikuti Ilham. Namun sesekali melihat kebelakang, ke arah pohon yang gue lihat masih utuh tadi malam.
"Kie ngopi loh." (Kopi nih) Heru memberikan gue segelas kopi.

"Sisan udude kie." (Sekalian rokoknya nih) Kali ini Roni memberikan gue sebungkus rokok.

"Tumben wes pada tuku kopi karo udud?" (Tumben udah beli kopi sama rokok?) Tanya gue.
Ilham tertawa, "Lah koe tak celuki kawit mau, malah begong ndelengi wit sing wes di tegor." (Lah lo dipanggillin dari tadi, malah bengong liatin pohon yang udah di tebang)

"Emang ada apa, Riz?" Tanya Roni kepada gue.

Gue cuma menggeleng, "Gakpapa."
Gue kembali melanjutkan obrolan, ditemani suara gemercik air dan matahari yang kini mulai nampak di ufuk barat.

"Weh, ngko mbengi mancing yok." (Wey, nanti malam mancing yuk) Roni membuka obrolan.

Gue setuju mengangguk, sudah lama gue tidak mancing.
Heru terlihat berfikir, namun tak kunjung membuka suara.

"Wes melu bae, Her!" (Udah ikut aja, Her) Ajak gue sedikit memaksa.

"Arep mancing nang ndi, Ron?" (Mau mancing dimana, Ron?) Tanya Heru.
"Neng kali persawahan bae." (Dikali persawahan saja) Jawab Roni.

Kali persawahan adalah sebuah sungai lumayan besar yang berada ditengah persawahan.

Memang, dari dulu kerap dijadikan tempat untuk memancing bagi warga desa.
"Nang kali kan nembe disetrum minggu wingi. Wes pasti langka iwakke." (Di kali kan baru disetrum minggu kemarin. Sudah pasti gak ada ikannya) Tolak Heru.

Disetrum adalah sebuah cara mengambil ikan, dengan setrum sebagai medianya. Namun ini dilarang oleh pemerintah.
"Yowes, nang jembatan wae yo." (Yaudah di jembatan aja ya) Ucap gue menginterupsi pembicaraan.

"Yaudah deh." Jawab Roni. "Kowe piwe?" (Kamu gimana?) Tanya Roni kepada Heru.

"Emm, yoweslah, aku melu." (Em yaudah gue ngikut) Ujar Heru.
"Em, aku nyusul bae ya." (Gue nyusul aja ya) Kata Ilham sambil nyengir.

"Lah kenapa?" Tanya gue.

"Aku rep jalan disit karo Nana. Ngko bar kue, langsung marani." (Aku mau jalan sama Nana. Nanti habis itu, gue langsung nyusul) Jelas Ilham.
"Yauwis, ngko arep kepriwe?" (Yaudah, nanti mau gimana?) Tanya gue ke mereka bertiga.

"Ngko jam 10 mbengi, ngumpul sek neng umahku. Bar kui langsung cus." (Nanti jam 10 malam ngumpul di rumahku, habis itu langsung berangkat) Roni memberi ide.
"Oke lah, mayuh balik, wes magrib." (Oke, hayuk pulang udah magrib) Ujar Ilham mengingatkan.

Senja atau sandekala memang indah, namun kita harus buru-buru pulang untuk menunaikan ibadah magrib, karena itu sebuah kewajiban.
15 menit sudah terlewati dari batas waktu janjian. Satu persatu teman gue berdatangan, kecuali Ilham.

"Langsung mangkat wae, ngko Ilham toli nyusul." (Langsung berangkat aja, nanti Ilham pasti nyusul) Ucap Roni yang sedang merakit alat pancingnya.
"Her, tuku kopi karo udud gone mba Andha yo." (Her, beli kopi sama rokok diwarungnya mba Andha ya) Perintah gue kepada Heru.

"Duite ndi cuk?" (Duitnya mana?) Heru menjulurkan tangan, meminta uang untuk membeli apa yang gue perintahkan.
"Ngomong wae si Ilham sing bayar. Mbok Ilham adine mba Andha. Pasti dee percaya." (Bilang aja Ilham yg bayar. Kan Ilham adiknya mba Andha. Dia pasti percaya) Usul gue sambil menaik turunkan alis.

Heru tersenyum, "Yo wes aku tuku." (Yaudah aku beli dulu.)
Roni menyiapkan barang-barang, setelah beres, ia mengajak gue untuk berangkat.

"Hayuk Riz, mangkat saiki. Ngko mampir warunge mba Anda, sisan jemput Heru." (Ayo Riz berangkat sekarang. Nanti sekalian mampir warung mba Andha, jemput si Heru) Ucap Roni.
Sesampainya di warung, ternyata Heru sedang berbincang degan Mba Anda. Tak lupa ada Mba Ayu juga disana.

"Ilham durung balik sekang ngelencer si Nana, Mba nda?" (Ilham belom pulang dari pacarannya sama si Nana, mba Nda?) Tanya gue ke mba Nda.
"Urung." (Belom) Jawab mba Nda singkat. Mba Andha memang terkenal cuek, meskipun cantik.

Gue turun dari motor dan menghampiri mereka.

"Wah kamu toh Riz, balik kapan?" Tanya mba Andha sambil menyalami gue.
"Mau esuk, Mba." (Tadi pagi, mba) Jawab gue. "Yowes, aku mangkat mancing sit ya mba." (Yaudah, gue lanjut berangkat mancing dulu ya mba) Lanjut gue.

"Lho kie temenan sing bayar si Ilham?" (Ini beneran yang bayar si Ilham?) Tanya mba Andha.
"Iyo mba, adimu sing ganteng dewe sing mbayar." (Iya mba, adikmu yang paling ganteng yang bayar) Ucap gue dengan mengajak Heru ke boncengan.

Alhasil, kami bertiga berangkat memancing dengan mengendarai satu motor, seperti terong-terongan.
Kami berangkat menuju jembatan yang hanya berjarak tiga menit dari rumah kami. Jembatannya memang sedikit menjauh dari pemukiman, sehingga terasa sepi disini.

Bahkan jembatan sepanjang lebih dari 50 meter ini hanya diterangi oleh tiga buah lampu yg remang-remang.
Gue memarkirkan motor didekat bendungan, tempatnya memang rada kebawah. Lebih rendah sekitar 3 meter dari jalanan.

Tempatnya sangat sepi, bahkan lampu di jalan belum mampu menerangi posisi kami berada.
Roni membuka pancingannya, begitupun dengan Heru. Mereka berdua terlihat semangat pada malam ini. Mungkin gara-gara rokok dan kopi gratis hasil menipu di warung mba Andha.

Roni melempar pancing pertamanya. Di susul oleh Heru.
Jam sudah menunjukan pukul 11 lewat 15 menit. Kami baru dapat satu ekor ikan paus. Itu juga hanya sebesar dua jari.

"Woy, sianying goblok."

Teriakan dari belakang, membuat gue menoleh. Dan kita dapati Ilham disana tengah berjalan kemari.
"Gara-gara sia kabeh, aing diomelan ku teteh." (Gara-gara elu semua, gue diomelin sama kakak) Cerocos Ilham.

"Salah server woy. Pake basa jawa." Ucap Heru.

"Eh, salah nya, hampura euy." (Eh salah ya, maaf) Lanjut si Ilham.
"Asu, gara-gara ko tuku udud, ngomonge nyong sing bayar." (Asu, gara-gara kalian beli rokok, ngomongnya gue yang bayar) Cerocos Ilham.

"Lah aku kan ra ngerti apa-apa, balik ngumah kon bayar udud. Jingan." (Lah gue gatau apa-apa, pas pulang disuruh bayar rokok) Lanjutnya.
"Yo maaf, lagian malah pacaran sama Nana." Ucap kita bertiga sambil tertawa.

"Nih pancingnya." Kata Ilham memberikan gue satu pancingan. Gue menerimanya dan berjalan sedikit menjauhi teman-teman. Berharap dapat ikan di lain tempat.
Gue memancing ditemani segelas kopi dan sebungkus rokok. Suasana sangat sepi, hanya bunyi percikan air dari bendungan.

Heru, Ilham dan Roni pun tak ada yang mengeluarkan satu patah kata. Benar-benar sunyi malam itu. Semua terfokus pada pancingnya masing-masing.
Hingga sepasang mata ini menoleh ke tengah jembatan. Ada seserang berdiri ditengah-tengah remangnya lampu jalan. Wajahnya tidak terlihat, cukup samar.

Gue mendekatkan diri kepada Heru yang berada tak jauh dari tempat gue berada.
"Her, koe ndeleng ora?" (Her, lo lihat gak?) Tanya gue pelan kepada Heru agar tidak terdengar oleh Ilham dan Roni.

"Ndeleng apa?" (Liat apa?) Tanya Heru bingung.

"Itu." Gue memberikan kode kepada Heru untuk melihat ke arah jembatan.
Heru menoleh menuju apa yang gue arahkan. Dia memalingkan wajahnya kembali, "Ih kae sopo?" (Ih itu siapa?) Tanya Heru.

"Mbuh. Mulane aku takon meng koe." (Gatau makanya gue nanya ke elo) Jawab gue.
"Ih jangan-jangan.."

Belum sempat Heru melanjutkan kalimatnya, gue sudah menginterupsinya, "Jangan-jangan apa?"

Heru nyengir, "Jangan-jangan orang iseng yang ngeliat kita mancing." Ujar Heru kemudian sedikit terkekeh.
"Raimu, arep jam 12 kaya kie, sapa sing iseng nontoni dewek mancing, wong gemblung apa." (Mukamu. mau jam 12 kaya gini, siapa yang iseng nontonin kita mancing, orang gila apa) Umpat gue.

Karena menurut gue ini sedikit menyeramkan saat ini.
Sehabis itu, gue mencoba untuk fokus mancing kembali. Namun sesekali menengok kepada sosok tersebut.

Setelah hampir lima menit sosok itu mulai mendekat ke sisi tempat kita mancing.

"Wonge mereki." (Dia mendekat) Ucap gue pada Heru.
"Jal takoni si Ilham." (Coba tanya ke si Ilham) Suruh gue kepada Heru.

Heru menurut dan terlihat berbincang kepada Ilham. Setelah itu, Heru balik kembali ke tempat gue.

"Ilham ya ndeleng, tp mbuh kae sopo." (Ilham ya liat, tp gatau dia siapa) Jelas Heru.
Gue cuma mengangguk.

Tak selang lama sosok itu sudah berada dibawah lampu jembatan. Kini gue melihatnya sedikit jelas ketimbang sebelumnya.

Sosok tersebut seperti mencangking sesuatu ditangan kanannya.
Namun kepada dari sosok tersebut tidak terlihat, seperti tertutup kupluk.

Gue sudah tidak fokus memancing. Kini fikiran gue hanya terpusat pada sosok itu.

Perlahan sosok itu memutar badannya dan terlihat jelas siapa gerangan sosok tersebut.
Namun kepala dari sosok tersebut tidak terlihat, seperti tertutup kupluk.

Gue sudah tidak fokus memancing. Kini fikiran gue hanya terpusat pada sosok itu.

Perlahan sosok itu memutar badannya dan terlihat jelas siapa gerangan sosok tersebut. (Ulang).
Sosok tersebut ada kepalanya, namun kepalanya itu di pegang oleh tangan kanannya. Matanya melotot ke arah kami.

"Astagfirullah." Teriak gue, Heru dan Ilham secara bersamaan.

Sedangkan Roni yang berada dibawah, segera berlari menuju kami.
"Ana apa, su?" (Ada apa, njir?) Tanya Roni.

Gue memandang wajah Roni dengan shock, kemudian menunjuk sosok itu dengan tangan, "Kae ndeleng dewek." (Tuh liat sendiri) Titah gue.

Roni menengok, kemudian menutup matanya "Astagfirullah, apa itu?"
Gue perlahan membuka mata, Roni masih memejamkan mata, tangannya menggenggam erat pergelangan tangan gue.

Ilham terdengar sedang membaca surat-surat pendek. Begitu juga dengan Heru.

"Kepriwe kie?" (Gimana nih?) Tanya Ilham.
Break bentaran ya. Sebatang dulu. Capek ngetik akutu.
"Balik bae mayuh." (Pulang aja yuk) Ajak Heru.

"Arep balik kepriwe, dalan balike bae lewati kae setan." (Mau pulang gimana, jalan pulangnya saja lewatin itu setan) Ucap gue.

Jujur, kita semua sudah tidak tenang pada saat itu, mau pulang tapi harus melewati sosok tersebut.
Tiba-tiba itu setan melayang perlahan mendekati kami, "Asu, malah mereki." (Anjir, malah mendekat) Heru mulai panik.

Roni pun mulai berlari berlawanan arah dari jembatan, melewati kebun warga ditengah pekatnya malam.
"Susul Roni bae, wes tinggal pancingan karo motore." (Kejar si Roni, udah tinggalin aja pancingan sama motornya) Ucap gue sambil berlari mengejar Roni, lalu disusul oleh Heru dan Ilham.

Kita berlari hingga sampai ke jalan, nafas kami sudah tak beraturan.
Kita diterpa keheningan ditengah jalan yang berjarak kurang lebih 100 meter dari jembatan.

Kami terduduk di pinggiran jalan hampir 5 menit dan tidak ada seorangpun juga yang melewati jalan ini.

Memang sih, jarang yang lewat sini jika sudah tengah malam.
"Le, agi pada ngapa nang kono?" (Nak, lagi pada ngapain disitu?)

Sebuah suara dari seseorang menyadarkan kami berempat. Gue menengok dan didapati seseorang yang sudah paruh baya sedang mengopi di teras rumahnya.
Kita berjalan ke arah pria itu, namanya Mbah tikno, salah satu tetua di desa kami.

"Maaf mbah, tadi abis liat setan di jembatan." Kata Ilham mewakili kita semua. "Makanya kita lari kesini." Lanjut Ilham.
Mbah Tikno menyeruput kopinya, "Pada ngapa koe nang kono?" (Pada ngapain kalian disana?)

"Mancing mbah." Jawab gue.

"Wes ngerti angker, esih mancing nang kono." (Udah tau angker, masih aja mancing disana) Ucap Mbah Tikno lagi.
"Pasti koe pada di delengi setan sirah buntung yo?" (Pasti kalian diliatin kepala buntung ya) Terka mbah Tikno.

Kita mengangguk, "Kok iso ngerti mbah?" (Kok bisa tau?).

"Wong aku ya ndeleng sekang kene." (Kan aku liat dari sini) Ucap mbah Tikno sembari tertawa.
Memang kalo dari teras rumah mbah Tikno, dari sini bisa terlihat jelas ke arah jembatan. Jadi wajar saja jika ia melihat semua hal yang terjadi barusan. Walaupun minim pencahayaan.

"Ro, Roro." Teriak Mbah Tikno ke arah dalam rumahnya.
Sesosok wanita paruh baya yang dikenal dengan nama Mbah Roro ini keluar dari dalam rumah.

"Ro, tulung gawekna kopi papat, go cah bagus-bagus iki yo." (Ro, tolong bikinin kopi empat, buat anak bagus ini) Ucap mbah Tikno yang dituruti oleh mbah Roro.
"Wes, koe pada nang kene bae, ngasih subuh. Mbah kancani, sisan tak critakna awal mula jembatan karo bendungan iku." (Kalian disink saja sampai subuh. Mbah temenin, sekalian mbah ceritain awal mula jembatan dan bendungan itu) Ujar mbah Tikno.
Mbah Tikno mulai bercerita, "Mbien jaman penjajahan, desane dewek iku desa yang sering disanggahi londo." (Jaman penjajahan dulu, desanya kita itu desa yang sering dilewati Belanda)
"Tapi akses meng desa nang duwur kui engel, soale ana kali kui. Angger bisa ya londo harus muter adoh ra eling." (Tapi akses ke desa yang diatas bukit itu susah, karena ada kali itu. Kalo mau kesana ya Belanda harus muter, tapi jauh banget)
"Akhire londo gawe jembatan disana sekang kayu, go sementara." (Akhirnya Belanda bikin jembatan disana dari kayu, buat sementara)

Mbah Roro keluar rumah, "Niki mas diunjuk, entene kados niki tok." (Silahkan mas diminum, adanya begini doang) Tutur mbah Roro.
"Kesuwun mbah, ngapunten kita ngerepotin." (Makasih mbah, maaf kita ngerepotin) Ungkap Roni.

"Halah, gak popo, sisan mbatiri ngalong mbah Tikno kui." (Halah gapapa. Sekalian nemenin mbah Tikno begadang) Jawab mbah Roro.
"Nah waktu mbien jaman londo gawe jembatan, yo ana sing mati, goro-goro kerja peksa langka istirahate." (Nah dulu waktu Belanda bikin jembatan, ya ada yang mati, gara-gara kerja paksa, gak ada iatirahatnya) Lanjut mbah Tikno bercerita.
"Kawit mbien yo tempat kui angker, le. Bahkan akeh sing mati yo dibuange nang kono mbiene." (Dari dulu tempat itu memang angker, nak. Bahkan banyak yang mati lalu mayatnya dibuang disana dulu)
"Tapi taun 70an, jembatan kayu kui ancur, kegowo banjir. Akhire digawe jembatan beton sing ana ngasih siki iku." (Tapi tahun 70an, jembatan kayu itu hancur, kebawa banjir. Akhirnya dibuatlah jembatan beton yang ada sampe sekarang itu)
"Pas gawe jembatan beton kui, sisan juga dibangun bendungan, soale tempate kui pas go gawe bendungan nang kono." (Waktu bikin jembatan beton itu, sekalian dibuat bendungan, soalnya tempatnya pas buat bangun bendungan disana)
"Wong-wong sing gawe proyek iku sekang desane dewek, tapi ana juga sing sekang desa liya. Go tujuan tertentu." (Orang-orang yang buat proyek itu berasal dari desanya kita, tp ada beberapa juga yang dari desa lain. Untuk tujuan tertentu)
"Setiap kita mau membuat sebuah bangunan, maka itu harus ada tumbal. Itu kepercayaan orang-orang dulu. Entahlah benar atau salah, tapi memang seperti itu peraturannya." Ujar mbah Tikno sambil menyeruput kopinya.
Gue yang saat itu mendengarnya, sedikit merinding. Bahkan Heru, Ilham dan Roni sangat serius mendengarkan cerita dari mbah berkepala botak itu.

Kita sama-sama membisu, penuturan dari tetua desa itu ternyata baru kita tau sekarang ini.
Gue menyeruput kopi hitam perlahan, kemudian menghisap rokok pabrikan khas dari kota Kediri tersebut.

Cita rasa tembakaunya memang pas, mampu menahan gundah yang kini tengah menyelimuti gara-gara mendengar kisah kelam dari sebuah jembatan.
"Neng jero tiang jembatan karo nang jero bendungane kui ana wonge. Deweke sengaja di cor nang kono. Aku seksine." (Di dalam tiang jembatan dan di dalam bendungan itu ada orangnya. Mereka sengaja dicor disana. Aku saksinya)
"Tapi wong sing di taro iku dudu wong asli desane dewek, tapi wong desa liyo. Kui sing aku mau ngomong ana maksud lain." (Tapi orang yang ditaruh disana itu bukan asli desa sini, melainkan dari desa lain. Itu yang aku bilang 'ada maksud lain')
"Wong-wong petinggi proyek kue selalu ngomong ngene, masalah iki ojo ngasih ono sing ngerti, biarlah hanya kita-kita saja." (Orang petinggi proyek itu selalu bilang gini, masalah ini jangan sampai ada yg tau, biarlah hanya kita-kita saja)
"Iya mereka mengorbankan orang desa lain, agar orang-orang disini tutup mulut. Agar kisah kelam ini tidak banyak yang tahu. Ya setidaknya hanya mereka yg pernah bekerja di proyek itu saja yang tau mengenai hal ini."
"Tau sepisan, ana cah wadon kui teka meng desane dewek, cah wadon kui goleti mbojone sing jere kerja nang proyek kie." (Pernah sekali, ada perempuan datang ke desanya kita, perempuan itu nyariin suaminya yang katanya kerja di proyek ini)
"Deweke takon, bojone wes 3 dino ra balik, apa pada kenal bojone apa ora, sekang deso sebelah, tapi dewek mung iso meneng." (Dia nanya, suaminya udah 3 hari gak pulang, apa kita kenal sama suaminya, dia dari desa sebelah. Tapi kita hanya diam)
"Asline ya melasine pol, tapi kepriwe maning. Dewek kon meneng, ngomonge dewek ra ngerti. Padahal dewek ngerti kedadeane." (Aslinya kasian banget, tapi gimana lagi. Kita disuruh diam, ngomong aja gak tau. Padahal kita tau kejadiannya)
"Semenjak itu, jembatan ini selalu menjadi tempat paling angker disini, setelah kuburan yang dipinggir hutan itu. Banyak yang melihat setan-setan disana. Suara meminta tolong, dan tentunya kepala buntung itu."
"Ternyata sehabis pembangunan itu, masih banyak korban berjatuhan di daerah itu. Mulai dari yang tenggelam, dibuang jasadnya, tabrakan disana, hingga beberapa orang yang gantung diri di pohon-pohon pinggir jembatan. Anehnya semuanya berasal dari desa lain."
"Ra ono siji wong pun kawit mbien sing sekang desane dewek. Sekabehane kue sekang desa liya. Kue sing gawe lewih aneh maning." (Gak ada satupun dari dulu yang berasal dari desa kita. Semuanya berasal dari desa lain. Itu yang paling aneh)
Mbah Tikno menyeruput kopi hitamnya untuk kesekian kalinya.

Gue termenung, mengaitkan beberapa kejadian yang sejak kemarin menghantui.

"Wingi pas aku balik dijemput Heru, ana sing aneh." (Kemaren waktu aku pulang dijemput Heru, ada yang aneh) Ucap gue.
"Aneh piwe?" (Aneh gimana?) Tanya Roni.

"Pas aku balik wengi kie, aku ndeleng ono sing gantung nang wit pinggir dalan." (Pas balik kampung malem itu, gue liat ada yang gantung di pohon pinggir jalan) Gue mulai bercerita.
"Aku merentah Heru kon mandeg, tapi deweke ora gelem. Padahal aku penasaran apa sing nggantung kue." (Gue merintah Heru untuk berhenti, tapi dia gak mau. Padahal gue penasaran dengan yg menggantung itu) Lanjut gue.
"Nah, anehe pas sorene aku ndeleng wit kae, wite wis ditegor. Ketone sih wes lawas." (Nah, anehnya pas sore hari gue liat pohon itu, pohonnya sudah ditebang. Kayaknya udah lama ditebangnya) Lanjut gue lagi.
"Lho koe ngapa Her ra gelem mandeg?" (Lah kamu kenapa Her gak mau berhenti?) Tanya Roni.

"Nah iyo, ngapa koe malah langsung banter karo ra gelem mandeg?" (Nah iya, kamu kenapa langsung ngebut dan gamau berhenti?) Tanya gue juga kepada Heru.
Selow paketanku masih 270MB 🤣🤣
Heru nyengir, "Aku ya jane ndeleng apa sing ko ndeleng, Riz. Aku ngerti kae wit wis di tegor, tapi kok wengi kae esih ana. Wes kue ana sing gantung maning." (Gue itu liat apa yg lo liat, Riz. Gue tau pohon itu sudah ditebang, tp kok malam itu masih ada. Udah gitu ada yg gantung)
"Dadi ko ya ndeleng, Her?" (Jadi lo juga liat, Her) Tanya gue sedikit kaget.

"Iyo, mulane aku langsung banter, bar kue meneng, kepikiran kok wite esih ana, padahal wis ditegor." (Iya, makanya gue langsung ngebut, habis itu diem kepikiran tentang pohon itu) Jawabnya.
"Ketone sing dideleng ko pada kui wong sing pegat kae ya." (Kayaknya yang dilihat sama kalian itu orang yang bunuh diri ya?) Tanya Roni.

Mbah Tikno mengangguk, "Iya Ron."

Roni menelan ludah, sedangkan Ilham masih menjadi pendengar yang setia.
"Dan yang kalian liat tadi di Jembatan adalah salah satu dari mereka yang gantung diri." Mbah Tikno menambahkan.

Gue dan teman-teman yang lain langsung merinding mendengar penjelasan dari mbah Tikno.

Kini kopi gue sudah dingin dan telah habis setengah.
"Setiap pohon yang habis dijadikan tempat bunuh diri, pasti akan ditebang kemudian, namun akan di sisakan sedikit sebagai tanda. Makanya, kalian akan melihat banyak pohon yang ditebang di sekitar jembatan dan bendungan. Itulah bekasnya." Tutur orang tua itu lagi.
Memang disekitar Jembatan dan Bendungan, banyak pohon yang ditebang dan masih ada beberapa yang terlihat bekasnya.

"Dan semua yg gantung diri itu bukan berasal dari desa kita kan?" Tanya mbah Tikno yang diangguki oleh Ilham dan Heru.
"Itu yang dikatakan orang-orang sini, bahwa korban dari proyek itu masih berjalan sampai sekarang."

"Warga desa aman-aman saja, namun sebaliknya dengan warga dari desa lain, tempat ini seakan bencana." Masih mbah Tikno menambahi.
"Tempatnya memang enak. Masih banyak pohon disekitarnya. Angin sepoi-sepoi yang menyejukan. Belum lagi sunset pada saat senja. Indah dan sempurna tempat ini."

"Namun dibalik itu, Jembatan dan Bendungan ini menyimpan misteri bagi kita semua."
"Menyimpan kisah yang kelam bagi para pekerjanya, yang harus bertahun-tahun lamanya tertutupi. Bahkan tidak semua orang di desa ini tahu menahu cerita ini."

"Namun kalian pantas untuk mendengarnya, sebagai pengetahuan bagi kalian tentang jembatan ini." Bijak mbah Tikno.
Ayam mulai berkokok, menandakan waktu pagi telah datang. Gema adzan subuh bersahutan diantara masjid dan mushola.

Tidak terasa hampir 5 jam kami berbincang dengan mbah Tikno, banyak pengetahuan dan asal usul dari desa tempat kelahiran kami.
Bahkan sebuah tempat, dengan kegagahan dan eksotiknya ini menyimpan sebuah rahasia yang tertutup rapat oleh orang-orang yang bersangkutan. Bahkan dari warga desa itu sendiri.
Dan seperti biasa, jika ada kesalahan dalam bercerita, mohon dimaafkan.

"We won't be aware till we lose one."

Salam, Nan(a).
Muehehehe 🤣🤣
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Call Me, Nan.

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!