My Authors
Read all threads
Saya menemukan video menarik ini dari laman FB "Tropic Monsters TV". Setelah menonton sampai selesai (nanti saya bagikan tautannya pada akhir utas), saya teringat bahwa saya punya banyak teman orang asing (alias bule) yang pernah kerja di Malaysia dan sekarang tinggal di Jakarta.
Profesi mereka bergam, mulai dari pekerja lepas (freelancer), diplomat, sampai dubes. Mereka cukup lama tinggal di Malaysia, sekitar 3 – 5 tahun, dan tiap saya tanya, “Berarti bisa bahasa Melayu?” jawaban mereka selalu sama: enggak bisa.
Kenapa? Karena mereka enggak merasa ada kebutuhan untuk bicara bahasa Melayu — hampir semua orang di Malaysia bisa bahasa Inggris, jadi buat apa belajar bahasa lokal?
Semua berubah ketika mereka pindah Indonesia. Di sini, ternyata mereka “mau enggak mau/suka enggak suka” minimal harus belajar bahasa Indonesia, bahkan untuk ukuran dubes sekalipun.
Kenapa? Ya … di sini orang-orang bicara bahasa Indonesia (dan orang Indonesia suka dengan orang asing yang bisa bicara bahasa Indonesia). Bahasa Indonesia menjadi syarat untuk bisa berkomunikasi di negara ini.
Walau ada banyak bahasa daerah, tetap yang utama, bahasa pemersatu — bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia itu identitas kita sebagai bangsa Indonesia.
Video ini memperlihatkan kepada kita bagaimana “saudara-saudara” serumpun kita, generasi muda Melayu, sudah semakin lupa dengan salah satu identitas bangsanya — bahasa Melayu.
Terlepas dari ini diambil di Singapura, yang kita sama-sama tahu bahwa negara ini (kalau bisa dibilang) sudah sangat “go international”, bahasa Melayu sebetulnya masih merupakan bahasa resmi negara itu bersama bahasa Inggris, Mandarin, dan Tamil.
Kita juga enggak tahu apakah orang-orang yang dipilih secara acak di video ini memang warga Singapura asli atau ada juga turis Malaysia.
Yang jelas: mereka orang Melayu, yang (seharusnya) bisa bicara bahasa Melayu karena itulah bahasa resmi mereka baik di Malaysia maupun di Singapura.
Ini bukan seperti, misalnya, kamu berdarah Jawa berarti seharusnya bisa bahasa Jawa (sebelum ada yang berargumen seperti itu, saya tangkal dulu), LOL. 😁
Masalahnya, bahasa Melayu ini adalah bahasa resmi negara mereka, bukan bahasa daerah. Maka menjadi tanda tanya kalau mereka enggak bisa bicara bahasa mereka sendiri.
Jadi, kita, sebagai orang Indonesia, harus bangga sama bahasa kita sendiri. Kita harus bangga bahwa Indonesia, terlepas dari segala masalah dan kekurangannya (ya … negara mana yang bebas masalah), masih memegang teguh salah satu identitas kebangsaannya — bahasa Indonesia.
Salah satu yang sempat bikin saya enggak habis pikir, ketika perpres yang mengatur bahwa presiden, wapres dan pejabat negara lain wajib berpidato dengan menggunakan bahasa Indonesia baik di dalam atau pun luar negeri, orang-orang malah ribut. 😑
Padahal, itu kan peraturan bagus. Lagi pula, kepala-kepala negara lain yang negaranya tidak berbahasa Inggris juga pada umumnya berpidato dengan bahasa resmi negaranya, bukan dengan bahasa Inggris, dan mereka bangga.
Jadi, jangan di-bully, guys, kalau presiden kita pidato dengan bahasa Indonesia di forum-forum internasional — berbanggalah.
Sementara, di antara kita, orang Indonesia sendiri, terlepas dari semakin banyak orang yang bisa berbahasa Inggris, atau beberapa orang suka bicara campur-campur Indonesia-Inggris (yang kadang bikin gatal kuping), kita masih bicara bahasa Indonesia.
Apa pun itu. Bahasa Indonesia-Inggris, bahasa Indonesia gaul, bahasa Indonesia “anak jaman now”, apa pun itu — (masih) bahasa Indonesia. Dan bahasa Indonesia masih masuk dalam kurikulum pendidikan kita, jadi salah satu mata pelajaran yang diujikan, dan ini penting.
Banggalah jadi orang Indonesia yang berbahasa Indonesia. Jangan sampai kita lupa dengan bahasa kita sendiri. Enggak salah kalau kita mau belajar bahasa asing — itu harus! Tapi, jangan kita lupakan atau bahkan menyepelekan bahasa kita sendiri. Betul begitu, 'kan Uda @ivanlanin?
@ivanlanin Mengutip slogan @BadanBahasa: Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.
@ivanlanin @BadanBahasa P.S. Sebelum "rusuh-rusuh" lebih lanjut, coba kita cek lagi, minimal, apa bedanya "di-" sebagai imbuhan dan "di" sebagai kata depan. Saya buat banyak pembahasan di Instagram saya. 😊
@ivanlanin @BadanBahasa Terakhir, versi lengkap video di atas bisa ditonton melalui tautan berikut. facebook.com/tropicmonsters…
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Fauzan Al-Rasyid

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!