My Authors
Read all threads
Saya akan coba mengambil perspektif sedikit dari pengalaman saya. Semoga tidak "winners-take-all situation" yg terjadi. Kata kunci yg saya coba timbulkan adalah komunitas dan hubungan.
Sekolah keluarga yang ada di Bukit tinggi mau tidak mau adalah juga komunitas. Sekolah adalah satu komunitas yg sedikit tidak mengambil peran pada akademik siswa.
Guru adalah gelar untuk mereka yg memiliki ilmu lebih dan diajarkan kepada siswa (guru dalam sansekerta artinya "berat"). Di non-akademis ada yang menyebut coach, ustad, romo, pendeta dll. Di dalam keluarga kalau di dalam Hindu disebut Guru Rupaka. Guru juga.
Intinya adalah pembelajaran bidang karakter tidak sepenuhnya milik keluarga. Guru-guru yg lain memiliki peran yg sama. Akan tetapi kita lebih menekankan pada orang tua, karena ikatan biologis yang tidak terbantahkan.
Di komunitas rugby yang saya ajar di Bali, kata karakter banyak disebut berulang-ulang. Kenapa? Karena kita berusaha mengambil inti dari olahraga itu sendiri. Yaitu menciptakan manusia yang lebih baik. Physically and mentally.
Rugby adalah olahraga keras. Kadang kita bercanda dgn sahabat bola "Soccer is a gentlemen's game, being played by barbarian. Rugby is a barbarian's game, being played by gentlemen." Penekanan kepada coach utk menelorkan sifat gentlemen kepada atlet menjadi prioritas.
Values pada rugby juga terpampang jelas di setiap kegiatan: Integrity, Solidarity, Passion, Respect and Discipline. Keren? Yang saya bilang ini susah diterapkan. It takes years to build and teach.
Jadi apa peran guru-guru tersebut. Menurut saya yg perlu ditekankan dan sudah Sekolah Keluarga lakukan adalah komunikasi yang baik antara guru-guru. Jadi antara guru, coaches dkk dengan guru biologis anak.
Hubungan dan komunikasi yang baik antara guru-guru (jadi banyak guru ya) dan orang tua menjadi krusial terhadap mau kemana kah si anak. Dan kita harus punya visi yg sama di awal bahwa "anak memiliki 100% hak untuk memilih their future".
Semakin seeing komunikasi dilakukan akan lebih baik. Orang tua memiliki limited 1) time, atau 2) resources, 3) knowledge dan semua scarcity yg pelajaran ekonomi ajarkan ke kita. Yang saya tau guru bertemu orang tua intens dalam setahun hanya 30 menit. Saat rapotan.
Coaches kami di rugby dan saya yakin komunitas olahraga yg lainnya akan lebih banyak, karena mereka perlu itu (dibayar cuy, read: les). Kalo nggak ketemu gak dibayar. Sekolah Keluarga intens melaksanakan pelatihan.
Intinya adalah pendidikan didapat dari banyak cara, evaluasinya jg dgn banyak cara. Tulisan, lisan, prestasi dll. Pemahaman ini yang menjadi inti.
Lalu bagaimana di level kebijakan. Poin perubahan yg sama saya rasakan perlu adalah 1) pengambil kebijakan dan 2) kebijakannya. *ngabisin karakter doang
Perlu lebih banyak Nadiem. Pengalaman saya sama. Pemda yg disini adalah Dinas Pendidikan atau Dinas Pemuda dan Olahraga yang tergabung dan terpisah tergantung daerah anda (disini aja sudah labil), banyak yang belum rapi. Bahasa kita sehari-hari ya: ngaco.
Tulisan Pak @HikmatHardono tentang Indonesia yg tidak bisa diberikan one-size-fits-all policy sebenarnya harus diaplikasikan ke semua sektor (beliau menulis tentang UN dan Zonasi)
Sehingga diperlukan Nadiem lain di daerah. Kepala Dinas bagi saya tidak semua layak menjadi pemimpin yg menunjukan masa depan anak-anak kita.
Lalu bagaimana solusinya? Sudah banyak researcher maupun praktisi, contoh Indonesia Mengajar, yang melihat lebih dalam dan melakukan research mumpuni untuk melihat problem dan solusi. Tentu kita ingin yg terbaik.
Kalau kata Pak Hikmat, the policies basically places the heaviest burden on students rather than other education actors. Yang mengambil konsekuensinya semua siswa tanpa ada sistem "penalty" untuk officials.
Kalau dari perpektif olahraga bagi siswa, banyak pembahasan yang dilakukan memilih untuk sistem prestasi. Sistem "Gold medal beats all" atau "Poin per medal". Sebentar saya coba uraikan.
Gold medal beats all maksud saya adlh sistem yg ada di semua kejuaraan skrng. Satu gold medal, akan menggenjot ranking dibanding dgn 1000 perak yg kalian dapat. Jadi 1 emas yg sekolah/Kabupaten km dapat menjadikan km rank 1, dan km akan tetap rank 2 walaupun km dpt 1000 perak.
Jadi keliatan kan, effort kalian yang 1000 perak tadi tidak ada apa2nya dibanding 1 emas. Kita berbicara development of young athletes, gimana gak menjadi pressure utk mereka.
Padahal yg kita perlukan adalah menyaring sebanyak2 talent dgn menghargai semua effort. Berbeda dgn prestasi professional yang sudah dgn level yg diatas.
Sistem poin dipihak lain berbeda yg memberikan sejumlah poin pada setiap medali. Emas: 5, perak: 3, perunggu: 1, contohnya. Atlet junior akan merasa lebih dihargai dan sekolah/kabupaten memiliki insentif utk mendidik sebanyak2 atlet.
Karena jika tidak, mereka akan berusaha pick and choose, dimana peluang emas, disana yg akan sangat diperhatikan. Yang perak dan perunggu, ya anak tiri.
Oke, tapi poinnya apa? Kebijakan seperti ini menjadi perdebatan. Arah yg lebih baik tidak diambil. Pengambil kebijakan masih terpantau pada sisi kotak ruangan kerja mereka. Contoh development seperti ini banyak dilakukan olh negara lain. Kewajiban R&D mereka dimana?
Malah departemen Litbang yang seharusnya menjadi ujung tombak perbaikan diplesetkan "suLIT berkemBANG". Astaga maafkan hamba ya tuhan.
Balik lagi. Intinya pengambil kebijakan di daerah saya menbuat saya stress. Mungkin berbeda dengan daerah anda.
Kapasitas pengambil kebijakan perlu terobosan juga, tidak hanya guru (problem nambah, bukan problem solved). Maafkan saya.
Tapi ujung nya adalah yg poin kedua. Yaitu kebijakannya. Karena kapasitas pengambil kebijakan yg baik tentu berimbas pada kebijakan yang every sizes matters. Berbeda masalah dan daerah berbeda solusi dan cara memperbaikinya.
Dan komunitas memiliki peran yg tidak kalah penting. Malah menurut saya krusial untuk pengembangan anak kedepannya. They ought to choose what they like, and they will listen to what ever things being said.
Saya akan lebih paham jika saya suka dgn bidang yg saya pelajari. Saya akan memiliki higher respect. Saya akan aplikasikan seumur hidup. Itu nilai yg saya dapat dari Rugby. @prui_bali
Ini pemahaman saya tentang karakter. Maaf saya sedikit curhat pribadi. Ini hanya pandangan saya. Saya yakin Indonesia punya potensi yg besar sebagai leader dunia. 🙏
Dan saya optimis dengan perubahan di @KemendikbudRI sekarang. Jadi tidak lagi ada #IndonesiaTidakPercayaDiri di masa depan.
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Wira Ditta Lokantara

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!