, 112 tweets, 16 min read
My Authors
Read all threads
Saat induk sriti bersiap undur diri
Kau termenung...
Saat nyiur melantun melagu malam
Kau bergeming...
Saat tekukur mulai tepekur
Kau membisu...
Malam pilu syairmu
Senyummu memupus keteguhan kami
Tolong, pulanglah, tempatmu tak lagi di sini
#horror #bacahorror Image
1. Cerita ini sebagian kusaksikan sendiri, sedangkan sebagian lainnya dari penuturan temanku. Seingatku saat itu aku masih SMA.
2. Siang itu rumah Aji ramai. Rupanya kakak kandungnya pulang kampung. Mas Hardi namanya. Istri dan anaknya turut pula.

Sore harinya kusempatkan mampir ke rumah temanku itu. Kakaknya itu pun aku kenal. Lama tak jumpa, belum sempat pula berkenalan dengan istrinya.
3. Aji empat bersaudara, semua laki2. Dia anak bungsu. Kakaknya yg pulang itu anak ke-3. Kedua kakaknya yg lain tinggal bersama keluarga masing2.

Rumah mereka masih satu kabupaten dengan kami. Hanya kakaknya yg ke-3 itulah yg tinggal di provinsi lain.
4. Rumah Aji berada persis di samping rumahku. Aku akrab dengan Aji dan orangtuanya, bahkan sudah seperti saudara sendiri.

“Kok tumben datangnya tidak pas Hari Raya kemarin to Mas?” tanyaku pada Mas Hardi. “Iya Wan, repot, istriku juga kemarin tidak bisa cuti lama,” jawabnya.
5. Mbak Lestari istri Mas Hardi ternyata cukup supel. Baru sebentar kami ngobrol sudah terasa akrab. “Wan ini Mbak bawa oleh2, nanti nitip buat Bapak Ibu ya,” katanya.

“Wah tidak perlu dititipkan Mbak, biar kuhabiskan di sini aja,” jawabku bercanda.
6. “Oh boleh Wan, ini kebetulan Mbak bawa oleh2nya bumbu2 dapur, ayo lho silakan dihabiskan, ini ada bawang, ebi, sama merica, jangan malu2,” jawabnya yg langsung disambut tawa seisi rumah. Aku sendiri hanya cengengesan menahan malu.
7. Mas Hardi dan Mbak Lestari menikah hampir 2 tahun lamanya. Meski setelahnya sempat pulang kampung, tapi aku sendiri belum pernah bertemu sampai hari itu.
8. Menjelang magrib aku pulang. Tak lupa kubawa oleh2 dari Mbak Lastri yang ternyata memang bumbu dapur dan beberapa makanan ringan. Daerah tempat Mbak Lastri tinggal katanya merupakan salah satu penghasil sayur yg lumayan masyhur di Jawa.
9. Saat hendak ke masjid untuk salat isya kulihat beberapa kerabat dekat Mas Hardi datang. Sebagian aku kenal, sebagian lainnya belum pernah kulihat.

Pakdhe Mul dan Budhe Yem, orangtua Aji dan Mas Hardi, tampak bercakap2 dengan kerabatnya itu di teras rumah.
10. Selepas dari masjid aku sendiri tak langsung pulang, ikut nimbrung bersama beberapa warga di perempatan jalan dusun. Tak jauh di pos ronda.

Biasanya jadi semacam tempat transit bagi warga yang tinggal di sisi selatan dusun sebelum berangkat meronda.
11. Di tempat itu juga ada amben bambu. Tapi jarang yg mau duduk berlama2 di atasnya karena berada persis di bawah lampu penerangan jalan. Bisa2 badan jadi bau atau malah bentol karena dikerubuti serangga malam.
12. Kami lebih memilih duduk di batu2 besar tak jauh dari amben. Daerah kami sebenarnya masih masuk area perbukitan. Banyak batu2 gunung yg ditemukan di dusun kami.
13. Tiap malam pasti ada saja warga dusun yang datang ke perempatan itu untuk sekadar ngobrol, meski tak sampai larut malam.

Yang jelas tempat itu favorit bagi warga selatan dusun yang ingin ngobrol. Tinggal memukul tiang listrik saja, dijamin ada warga yg datang.
14. Malam itu Aku, Pras, dan Aji ikut nimbrung bersama warga. Temanku lainnya sepertinya sedang malas ke luar rumah. Maklum udara bertambah dingin gara2 hujan magrib tadi.
15. Aku sendiri sebenarnya lumayan penat. Siang sepulang sekolah aku ikut bermain bola dengan anak2 sekolah lain.

Dan memang tak lama berselang aku memilih pulang. Mata rasanya sudah lengket. Namun, Pras dan Aji masih tinggal bersama bapak2 yg asyik ngobrol.
16. Di rumah kulihat Bapak dan Ibuku menonton televisi, sedang adikku sudah tidur di tikar depan ruang televisi. Anak itu masih SD saat itu, tidur masih harus ditemani bapak atau ibu.
17. “Lek Dhi apa ada di perempatan tadi Wan?” tanya Bapak saat melihatku masuk rumah. “Ada Pak, tapi cuma sebentar terus pindah ke pos ronda,” jawabku.

“Yasudah, kamu tidur di kamar belakang saja malam ini, jaga2 kalau adikmu bangun malam2. Bapak giliran meronda,” kata Bapak.
18. Bapak pun segera mengangkat adikku dan membawanya ke kamar. Ibuku pun turut serta setelah mematikan televisi.
19. “Itu di lemari ada duwet (jamblang) kalau kamu mau Wan. Lek Lar yang bawa katanya habis dari alas (hutan),” kata Ibu. “Enggak Bu, sudah ngantuk mau langsur tidur saja,” jawabku.
20. Tak berapa lama Bapak pun berangkat ke pos ronda. Aku mengunci pintu depan, sedangkan Bapak biasanya akan menggunakan pintu samping rumah saat pulang meronda. Beliau selalu mambawa kuncinya.
21. Aku pun segera masuk kamar. Merebahkan badan di kasur kapuk yang agak keras tapi nyaman. Kutarik selimut dan memejamkan mata. Udara dingin selepas hujan membuatku segera terlelap.
22. Rasanya belum lama aku tidur, saat aku terbangun karena mendengar suara ramai di luar rumah.

Sepertinya dari rumah Aji. Kulihat jam dinding di kamarku, masih jam 1 dini hari kurang. Terdengar suara tangis bayi cukup keras. Mungkin anak Mas Hardi.
Aku keluar kamar, kulihat ibu juga terbangun. “Ada apa Bu?” tanyaku. “Sepertinya dari rumah Dhe Mul, tadi ada yg menjerit entah siapa. Ibu tak segera bangun karena adikmu bangun minta ditemani,” kata Ibu.
24. Aku pun langsung ke ruang tengah untuk mengintip ke luar dari balik jendela. Beberapa rumah tetangga akan terlihat dari situ karena jarak yang berdekatan. Dari tempat itu suara juga akan terdengar lebih jelas.
25. Kulihat beberapa orang di depan rumah Dhe Mul. Ada Lek Lar, Mas Heru, Pak RT, Lek Dhi dan ada Bapakku.

Mereka berdiri di depan pintu rumah Dhe Mul. Ada beberapa orang lagi di amben teras, tapi tak kulihat jelas karena tertutup orang2 itu.
26. “Kami sudah keliling rumah malah sampai di sumur belakang rumah, tidak ada apa2 Dhe,” kata Mas Heru. “Iya Kang, di dalam rumah juga tidak ada apa,” kata Lek Lar.
27. “Mungkin memang benar sudah pergi, tapi sebaiknya Lestari dan bayinya tidur di tempat lain dulu. Kasian,” kata Pak RT.

“Iya benar, bayi itu sepertinya masih merasa terganggu,” kata Lek Lar. “Di, kamu bawa anak dan istrimu tidur di rumah bulekmu Par,” kata Dhe Mul.
28. “Kamu di sini saja Ji, tinggal di rumah sama Bapak dan Emak,” lanjutnya.

“Biar nanti kami bergeser ronda ke perempatan, sebelum pulang. Untuk memastikan saja. Semoga tidak ada apa2,” kata Pak RT.
29. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi aku tak mau juga keluar rumah ikut bapak2 itu, karena sepertinya ada hal yang genting terjadi.

Suara tangis bayi Mbak Lestari masih terdengar sesekali. Sepertinya bayi itu sedang disusui ibunya.
30. “Ayo Dik, kita pindah dulu ke rumah Lek Par. Tidak usah takut, ada kami semua,” kata Mas Hardi pada istrinya. Kulihat Mbak Lestari tampak menutupi wajahnya dengan kain jarik yang dipakai menggendong bayinya. Sepertinya dia sedang menangis.
31. Mereka pun lantas pergi, Mas Heru dan Lek Lar kulihat berjalan mengikuti mereka. Mungkin hendak menemani ke rumah Lek Par di dusun sebelah.
32. “Sekarang sebaiknya kalian istirahat Kang. Kami akan berkeliling lagi dan nanti berhenti sejenak di perempatan itu untuk mengawasi,” kata Bapak ke Dhe Mul dan Dhe Yem.

“Kalaupun muncul lagi, kami akan ke rumah Mbah Man, pukul kentongan saja,” kata Pak RT.
33. “Iya Kang, terima kasih kalian sudah datang kemari. Mungkin Mbah Man bisa tahu apa yang mengundang makhluk itu kemari. Semoga malam ini tak muncul lagi,” jawab Dhe Mul.
34. Mendengar kalimat itu, rasanya aku mulai paham dengan apa yg sedang terjadi. Rasa takut pun mulai menjalari. Rasanya aku ingin meminta Bapak untuk segera pulang saja.
35. “Makhluk apa yang sedang mereka bicarakan?” kataku dalam hati. Tak berani aku menerka-nerka. Jantungku pun berdegup lebih kencang.

Aku terkesiap saat tiba2 kudengar suara burung malam. Agaknya arahnya dari belakang rumah.
36.
Malam-malam di luar hujan, paling enak makan bakmi (cakeep...) Agar jangan kamu penasaran, mari cerita kita lanjutin lagi 👻👻👻
37. “Sudah tidak usah ikut mereka Wan, kamu tidur lagi saja, paling Bapak sebentar lagi pulang,” kata Ibu mengagetkanku. Rupanya adikku sudah kembali tidur.
38. Sepertinya Ibuku juga mendengar pembicaraan para peronda itu. “Ya Bu. Aku mau tidur saja. Aku tidur di kamar depan saja ya Bu, di belakang banyak nyamuk,” jawabku.
39. “Yasudah, sana segera tidur,” kata Ibu. Sepertinya beliau tau bahwa alasanku tak mau tidur di kamar belakang adalah karena kamar itu bersebelahan dengan rumah Dhe Mul. Hanya ada pagar bambu dan sebidang tanah kecil yang memisahkan. Ada pohon jambu yg sering dijarah codot.
40. Tentu saja aku tak berani tidur di kamar belakang setelah apa yg kudengar malam itu. Meski informasi yg kudengar masih samar, tapi pastilah makhluk yg mereka maksud itu bukanlah sejenis manusia. Tak bisa kubayangkan jika makhluk itu tiba2 menyeberang ke kamarku.
41. Meski masih diliputi rasa cemas, malam itu aku masih bisa tertidur dan bangun pagi seperti biasanya.
42. Sore sepulang sekolah aku datang ke rumah Aji. Tentulah maksudku ingin menanyakan apa gerangan yg terjadi di rumahnya semalam. Rumah temanku itu terlihat sepi. Sampai di depan rumah barulah aku tahu pintu masih digembok. Pastilah semua penghuninya sedang pergi. Aku pun pulang
43. Malam selepas salat magrib di masjid, aku tak segera pulang, mampir ke pos ronda karena kulihat ada Lek Lar dan Mas Maryo. Inilah kesempatanku mencari tahu apa yg terjadi semalam. Bukannya dia juga ada di rumah Aji malam tadi.
44. Kenapa aku tak bertanya saja pada Bapakku? Bisa sih, tapi aku yakin cerita beliau akan cenderung netral saja, karena pasti menghilangkan bagian2 yg dapat membuatku cemas. Tapi nanti pasti aku akan bertanya pada Bapak. Sekarang ke Lek Lar dulu.
45. “Tumben to Lek jam segini sudah di pos ronda?” tanyaku. “Lha ini pas. Ayo Wan bantu angkat2 kursi ke rumah Pak RT, nanti malam mau ada acara,” kata Lek Lar. “Wah malah apes aku ke sini,” jawabku. “Sukuuur,” kata Mas Mar menimpali sambil tertawa.
46. Akhirnya aku membantu mengangkat kursi2 plastik yg disimpan di pos ronda. Kursi2 itu milik RT kami, hasil iuran warga. Biasanya dipakai kalau ada warga yg punya hajat.
47. Untunglah tak banyak kursi yg dibutuhkan. Walaupun jarak pos ronda ke rumah Pak RT dekat, tapi mengangkat tumpukan kursi itu bikin pegel juga. Ternyata malam ini ada pertemuan warga. Biasanya digelar setiap Rabu Pahing, hari pasaran Jawa. Pesertanya para kepala keluarga
Beres merapikan kursi, kami pun istirahat sejenak di rumah Pak RT. “Ini kalian minum teh anget dulu biar sumringah,” kata Bu RT. “Kalau ada es teh saja Dhe, keringetan aku,” jawab Lek Lar. “Musim hujan begini kok ya masih suka minum es to Lar, masuk angin nanti kamu,” kata Bu RT
49. Alhasil Lek Lar pun pasrah dan nyeruput tehnya. “Semalam itu katanya ada rame2 di rumah Dhe Mul ya Lek?” tanyaku mulai mengorek informasi. “Iyo Lek, aku dengar dari istrinya Har pas ketemu di warung tadi, tapi belum terlalu jelas.” Tak kusangka Mas Maryo ikut menimpali, cocok
50. “Lha apa kamu tidak dengar ada ribut2 semalam Wan? Bapakmu juga ga cerita?” kata Lek Lar. Aku pun pura2 tak tahu saja. “Aku tidur pules Lek, capek habis maen bola, sempat bangun tak pikir yg rame2 semalam cuma peronda yg lewat, jadi aku tidur lagi,” jawabku.
51. “Jadi semalam itu kami sedang meronda keliling dusun. Baru melewati perempatan depan rumah Kang Mul, kami dengar ada yg berteriak, ya dari rumah itu,” katanya
52. “Ternyata Lestari istrinya Hardi. Katanya dia melihat demit di dalam rumah.” “Demit opo Kang?” tanya Mas Maryo. “Katanya kuntilanak. Nggantung di atap rumah dekat kamar mandi,” jawab Lek Lar.
53. “Wah pantes Lek. Kamu ingat tadi sore kita habis dari alas terus kita lewat dekat kebon belakang rumah Lek Mul?” tanya Mas Maryo. “Iya, memang kenapa?” kata Lek Lar.
54. “Lha itu aku tadi merasa ada yang aneh. Aku merasa hawanya panas. Tapi tidak kupedulikan karena aku buru2 pulang dan kamu mampir ke rumah Dhe No ngasih duwet,” terang Mas Maryo.
55. Seperti yg pernah kuceritakan di thread sebelumnya, Mas Maryo ini sering laku prihatin dan sempat berguru ilmu2 kebatinan di sejumlah daerah. Ya mungkin saja jadi bisa merasakan hal2 gaib semacam itu.
56. “Kami lalu ngecek ke dalam dan sekeliling rumah, tapi sepertinya demit itu sudah hilang. Akhirnya malam itu juga Hardi membawa Lestari dan bayinya pindah ke rumah Yu Par. Aku sama Har yg ngantar mereka.”
57. “Wah jadi takut aku Lek, kalau2 makhluk itu datang ke rumahku juga,” kataku. “Rasah wedi [jangan takut], Bapakmu itu pasti sudah tau harus berbuat apa,” kata Lek Lar.
58. Aku sedikit tenang mendengar kata Lek Lar. “Ya, Bapak pasti sudah menyiapkan sesuatu untuk berjaga-jaga. Apalagi ini ancamannya dekat sekali,” batinku. Kami meneruskan ngobrol di rumah pak RT sampai waktu salat Isya tiba, lalu aku bergegas ke mesjid
59. Pulang dari mesjid aku singgah di pos ronda. Hanya ada beberapa temanku di situ, termasuk Aji. Agaknya mereka sedang asik bercerita. “Weh Ji, tadi sore tak cari ga ada di rumah,” kataku.
60. “Iya Wan, tadi sore keluarga ngumpul di rumah bulekku,” katanya. “Ini kakakku dan Emakku juga masih di sana, aku pulang sama Bapak.”
61. “Wan tadi kamu dicari Lek Lar lho. Katanya suruh bantuin ngangkat kursi nanti habis kumpulan,” kata Pras sambil tersenyum. “Apes aku tadi itu, cuma mau mampir malah disuruh ngangkatin kursi ke rumah Pak RT,” jawabku.
62. “Eh jadi semalem itu kejadiannya gmn Ji? Aku dengar dari Lek Lar katanya ada demit di rumahmu,” tanyaku. “Wah jangan diomongin Wan, nanti malah datang apes kita,” jawabnya dengan memelankan suara
63. “Penasaran aku Ji, soalnya semalam aku lihat waktu rame di rumahmu. Lha aku juga jadi takut orang tembok kamarku dan rumahmu itu cuma dibatasi pagar bambu dan pohon jambu,” kataku. “Ya sama, aku juga takut sebenarnya tidur di rumah walau ada Bapak sama Mas Hardi,” jawabnya
64. Tak lama Aji pun bercerita, meski dengan suara dipelankan. Aku, Pras, dan Yanto serius menyimak. “Semalam itu kan ada beberapa keluargaku datang. Ya karena mau nengok anaknya Mas Hardi itu. Sekitar jam 8 lewat mereka pulang.”
65. “Aku lalu membereskan gelas dan piring sisa makanan, sedangkan Mas Hardi mengantar Lek Par pulang karena sekalian mau minta jamu bayi. Nah, Mbak Lestari menidurkan bayinya di kamar. Bapak dan Emakku juga segera istirahat.”
66. “Ga lama setelah itu, Mas Hardi datang. Saat akan masuk ke salah satu kamar untuk menyimpan barang, Mbak Lastri bilang, ‘jangan masuk ke kamar itu Mas, ada budhe lagi istirahat,’ kata Mbak Lestari.” “Lho budhe siapa?” tanya Mas Hardi.
67. Rumah Aji memang tergolong luas. Ada 5 kamar di rumah itu. Menurut Aji, memang disiapkan sesuai jumlah anggota keluarga. Sehari-hari cuma 2 kamar yang dipakai. Karena kali ini ada Mas Hardi dan keluarganya maka tinggal 2 kamar lagi yang kosong.
68. Satu kamar sementara ini dipakai untuk menyimpan beras, sehingga masih ada 1 kamar lagi yang kosong. Letaknya di sisi selatan berhadapan dengan kamar yang digunakan Mas Hardi dan istrinya. Nah kamar inilah yang berada tepat di sebelah kamarku, jaraknya tak lebih dari 5 meter
69. Aji lantas melanjutkan ceritanya. “Mbak Lestari bilang setelah bayinyanya tidur, dia lalu ke dapur untuk mencuci piring. Namun tak lama, dia mendengar suara bayinya menangis.”
“Dia lalu bergegas ke kamar. Namun baru mau masuk tiba2 seorang wanita tua keluar dari kamarnya. Karena menduga itu saudaranya yg datang, Mbak Lestari lalu bertanya, ‘lho budhe belum pulang ya?’ Wanita tua itu tersenyum, ‘belum, aku turu kene yo nduk,’ [aku tidur di sini ya nak]”
71. “Mbak Lestari bilang wanita tua itu lalu masuk ke kamar yang berada di sisi selatan. Kamar yang biasanya kosong dan dipakai untuk menyimpan beberapa barang.”
72. “Mendengar keterangan Mbak Lestari aku dan Mas Hardi semakin bingung,” jelas Aji. “Akhirnya Mas Hardi membangunkan Bapak dan Emak, mereka berdua juga kaget mendengar cerita itu. Bapak pun langsung membuka pintu kamar itu, dan ternyata memang tidak ada siapa2,” kata Aji.
73. Kami langsung merinding mendengar cerita Aji. Kulihat Pras dan Yanto juga hanya mengangguk2. Apalagi aku, tetangganya. Ingin rasanya ngungsi ke rumah simbahku dulu.
74. “Trus gmn Ji, kamu lihat yang aneh2 juga,” tanya Yanto. “Ya Mbakku itu yg ketakutan sekali, pucet, apalagi bayinya jadi rewel, nangis terus.”
75. “Akhirnya sama Bapak Mbak Lestari dan bayinya disuruh tidur sama Emak, sedangkan aku dan Mas Hardi tidur di ruang tengah dengan tikar. Bapak sendiri tidur di kamar Mas Hardi,” jelas Aji.
76. “Sampai tengah malam kami serumah terbangun karena kaget mendengar jeritan. Ternyata Mbak Lestari. Katanya dia melihat kuntilanak menggantung di dekat kamar mandi. Nah itu yg akhirnya bikin peronda pada datang semalam,” kata Aji panjang lebar.
77. Bapak dan Mas Hardi langsung memeriksa ke ruangan dekat kamar mandi, tapi katanya tidak ada apa2. Bapak kulihat segera masuk kamar dan keluar lagi membawa semacam kendi. Lalu dia mengisi kendi itu dengan air dari kuali tempat air minum.”
78. “Bapak lalu memercikkan air dari kendi itu ke sudut2 ruangan. Beliau tidak menjelaskan kepada kami. Beliau lalu mengajak kami semua keluar karena mbakku masih histeris, kebetulan juga ada para peronda itu,” ujar Aji. Kami hanya bisa manggut2.
79. Belum mereda ketakutan kami. Tiba2 dari arah selatan muncul Mas Heru, berlari-lari. Sambil terengah2 dia bilang “Cah, ayo tak ajak ke rumah Pak RT. Cepet, penting ini,” katanya. Mimik mukanya serius, pucat. Kami yang kebingungan pun segera mengikutinya. Bingung, waswas.
Lanjut ah... 👻 #horror #bacahorror
80. Di rumah Pak RT rembug warga masih berlangsung. Mas Heru tidak langsung menemui Pak RT, melainkan membisiki Lek Lar yang duduk di dekat pintu. Mereka lalu ke luar rumah, Mas Maryo ikut juga
81. “Piye Her ceritamu tadi,” tanya Lek Lar. “Tadi aku mau ke warung Mak War beli obat nyamuk, lha pas lewat samping rumah Dhe Mul ada orang berjalan cepat dari samping rumah masuk ke kebon belakang. Aku ga lihat jelas wajahnya,” kata Mas Heru
82. “Karena curiga aku ikuti orang itu. Ternyata seorang wanita tua yang aku tak kenal. Lalu kupanggil dia. “Dhe badhe teng pundi?” [Bude mau ke mana?” Tapi dia tidak menjawab malah terus berjalan masuk ke kebon sampai di dekat pohon2 bambu.”
83. “Aku panggil lagi, tiba2 dia hilang. ‘Dhe, Dhe...?’ Tidak menyahut. Nah begitu aku mendekat ke pohon bambu itu, tiba2 ada suara ‘Aku neng kene Le’ [Aku di sini Nak]. Image
84. “Waktu kulihat ke atas pohon, kulihat orang itu nggantung kepalanya di bawah rambutnya tergerai. Edian, serem banget Lek. Aku langsung lari sipat kuping.”
85. “Wah jangan2 itu yg kemarin datang ke rumahku Mas. Dia datang lagi,” sahut Aji yang tampak ketakutan.
86. “Bisa jadi begitu. Siapa sekarang yang ada di rumahmu Ji?” tanya Lek Lar. “Tadi aku pergi masih ada Mas Hardi. Tapi mungkin sekarang sudah pergi ke rumah Lek Par. Istrinya masih di sana. Emak juga di sana. Bapak itu masih ikut rembug warga di dalam,” jawab Aji
87. “Nah karena itu makanya kita bilang Pak RT saja. Karena sebagian warga sudah tau kejadian semalam,” kata Mas Heru. “Yasudah aku tak kasih tau Pak RT dan Kang Mul dulu,” ujar Lek Lar.
88. Mendengar kabar tersebut Pak RT lalu memberi tahu pada para kepala keluarga yg hadir di rembug warga. Akhirnya disepakati mereka akan minta pendapat Mbah Man dulu sebelum bertindak.
89. Mas Maryo, Yanto dan aku sendiri ditugasi menjemput Mbah Man. Beliau ini sesepuh kampung kami. Intinya warga percaya dia punya kemampuan menangani hal2 demikian. Malah di rumah beliaulah pusaka warisan leluhur dusun kami disimpan. Berupa keris dan tombak.
90. Beliau tinggal di sisi timur dusun bersama istrinya. Mas Maryo masih kerabat jauh beliau, begitu pula dengan Pak RT. Kami berjalan cepat2 ke rumah Mbah Man.
91. Setelah menjelaskan kepada Mbah Man, kami kembali ke rumah Pak RT. Mbah Man bilang akan menyusul sebentar lagi. Pak RT pun mengajak warga yang hadir untuk bersama2 ke kebon yang dimaksud Mas Heru.
92. Dhe Mul sendiri sejak tadi langsung pulang. Kata Aji, Bapaknya itu khawatir Emak dan kakaknya sudah pulang ke rumah. Tapi dia justru melarang Aji ikut pulang. Disuruhnya Aji ikut bersama warga saja.
93. Kami pun bersama2 berangkat. Ada puluhan warga. Kami lewat jalan yg sepi agar tak membuat warga lain bingung dan khawatir. Sampai di sisi kebon yang agak luas itu dari jauh terlihat ada api kecil menyala. Tepat di bawah rimbun pepohonan bambu. Ada 2 orang di sana
94. Warga yg cemas mulai waspada dan terus bergerak mendekati orang itu. Ternyata 2 orang itu adalah Mbah Man dan Dhe Mul.
95. “Ada apa sebenarnya Mbah? Kamu juga sudah di sini Mul?” tanya Pak RT. “Aku tadi langsung ke sini lewat pinggir kali jadi lebih cepat sampai. Ternyata Mul juga sudah di sini. Untung kamu tdk sembrono Mul, bahaya,” kata Mbah Man.
96. “Aku takut cucuku pulang dan diganggu lagi. Memang benar2 ada sesuatu di sini,” kata Dhe Mul. “Sudah kalian semua tidak usah takut. Kita ada banyak orang. Mereka hanya ada beberapa. Masih di atas sana,” kata Mbah Man sambil menunjuk rerimbunan bambu
97. “Iya Mbah aku lihat ada beberapa makhluk di sana, mungkin yang satu itu yg dilihat Heru,” kata Mas Maryo. Warga lain yg tidak bisa melihat hanya berdebar2 mendengar penjelasan itu. “Jadi harus bagaimana sekarang Mbah?” tanya Pak RT
98. “Makhluk2 itu datang karena tumbuh bambu pethuk di sini. Aku sudah menemukannya. Sebaiknya dipotong saja. Kalau mau disimpan bersama pusaka dusun kita yang lain. Sebaiknya malam ini juga dibereskan agar tidak menggangu,” kata Mbah Man
99. Tiba2 rimbun bambu itu bergoyang agak kencang, seperti terkena angin. Anehnya kami tak merasakan ada angin kencang sama sekali. Kami jadi gugup. “Ayo cepat kita tebang, itu bambu yang di tengah,” kata Mbah Man sambil bergegas
100. Mbah Man yang ternyata sudah membawa arit lalu menuju ke batang bambu itu ditemanin beberapa warga. Sebagian yang lain bersiap2. Ada yang berlari pulang mengambil obor yang lebih banyak
101. Tiba2 seperti ada kilat muncul dari atas rerimbunan bambu itu. Daunnya lalu bergoyang hebat seperti diterjang badai. Warga pun cemas, sebagian lainnya terus beristighfar. Aku sendiri tercekat menyaksikan peristiwa itu
102. Kemudian muncul beberapa api kecil terbang di atas bambu. Berputar kencang seperti hendak menyambar2 lalu menjauh dan hilang.
103. Mbah Man sudah memotong bambu pethuk itu. “Ini yang menarik mereka,l. Sebenarnya tidak masalah jika mereka tinggal di sini, tapi ternyata banyak yang usil mengganggu orang. Yang datang ke rumahmu itu juga Mul. Sepertinya tertarik karena ada cucumu,” jelas Mbah Man
104. Batang bambu itu memiliki ranting yang saling bertemu, tumbuh dari ruasnya. Warga akhirnya sepakat agar bambu itu disimpan bersama pusaka lain. Malam itu juga digelar doa bersama dipimpin Pak RT. Esok harinya warga memotong semak2 dan ranting2 di sekitar rumpun bambu itu
105. Mbah Man bilang ada kemungkinan makhluk itu kembali lagi. Dia meminta Dhe Mul agar selama di rumah cucunya jangan pernah ditinggalkan sendiri baik terjaga maupun saat tidur. “Jangan lupa buat pager Mul,” katanya. Aku tak tau apa yg dimaksud pager itu.
106. Namun karena Mbak Lestari sudah telanjur ketakutan, dia minta segera pulang ke rumahnya. Mas Hardi akhirnya menuruti kemauan istrinya itu. Dia juga khawatir bayinya masih diganggu. Esok harinya, aku dan Aji mengantar mereka sampai ke terminal bus terdekat
107. Konon sampai sekarang bambu pethuk itu masih disimpan sesepuh dusunku, meski aku juga tak pernah menanyakannya, dan merasa tak perlu juga.
Sekian cerita kali ini. Trims sudah menyimak, jumpa lagi di kisah seram selanjutnya 👻👻👻
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Pusat Studi Horror

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!