-RUMAH BESAR DI TENGAH PERKEBUNAN SAWIT VERSI II-

Jika para pembaca pernah membaca thread Ketakutan Mira, maka thread ini yg menjadi lanjutannya. Semoga kalian semua suka. Makasih

@bacahorror @IDN_Horor @ceritaht @WdhHoror17 @bagihorror #bacahorror #ceritaht Image
Menjelang dini hari di dalam sebuah rumah besar yang berdiri terpencil di tengah-tengah perkebunan sawit yang telah lama ditinggalkan.

Sarah berdiri di depan pintu, menghadang Mira yang hendak melewati pintu tersebut.

"Kau mau ke mana, maniak?" ucap Sarah dingin.
Mira menghentikan langkahnya kemudian menatap malas ke arah Sarah.

"Menyingkir dari jalanku, Sarah! Kau belum puas menindasku?" Mira menatap tajam ke arah teman sekelasnya yang ia tahu kerap membully-nya.

Sarah mendecih, "Aku tidak akan menekanmu terus-terusan jika kau tidak
bersalah. Apa kau tidak sadar dengan perbuatanmu yang membuat nyawa teman-teman kita melayang? Andi, Roni, Firman, Linda, mereka semua mati karena ulahmu!" Sarah berkata dengan suara keras.

"Berapa kali harus kubilang kalau mereka tersesat di kota mati itu? Lagipula mereka
belum tentu sudah mati," tukas Mira seraya melirik ke arah Damar yang muncul bersama Pak Ardi.

"Hari sebentar lagi fajar. Setelah itu kita bisa pergi meninggalkan tempat ini. Tapi, kita tetap harus waspada. Sebab, Bela beberapa saat yang lalu melihat sesosok perempuan berwajah
hancur di lantai dua," ujar Pak Ardi.

Mira menggernyitkan kening, "Bella naik ke lantai dua?"

"Iya, aku melihatnya tiba-tiba turun dari sana sambil berteriak ketakutan begitu," kata Damar menimpali.

"Berapa lama lagi sih ke shubuh?" tanya Sarah.

"Masih tiga jam lagi,"
ujar Pak Adnan yang muncul bersama Bella.

"Saya merasa kita di sini bukannya aman tanpa gangguan, ya. Bukan tidak mungkin mereka ada di sini, di antara kita," lanjutnya sambil memutarkan pandangan ke seluruh orang yang ada di sana.

Mira melenguh malas kemudian pergi melewati
pintu yang dihadang Sarah.

"Hei, mau ke mana kau?" Sarah menarik kerah baju Mira.

Mira berbalik kemudian menepis tangan Sarah.

"Kau tidak tahu apa yang telah aku alami selama di luar sana. Kuharap kau mengalaminya juga," kata Mira kemudian berlalu.
Padang ilalang yang menyelimuti salah satu area perkebunan sawit itu terlihat bergetar. Semakin kencang bergetar hingga getarannya bergerak maju dengan cepat ke arah rumah besar itu.

Sesuatu yang seperti hembusan angin kencang itu menyeberangi jalan kemudian menghantam daun
pintu dengan cepat dan keras.

Bruggggg....

Semua orang yang berada di dalam rumah teekejut dengan suara benturan keras dari arah depan itu.

"Apa itu!" pekik Sarah setelah mendengar suara benturan itu.

"Seperti suara benda keras yang menabrak pintu. Pasti itu sesuatu yang
sangat besar," tukas Adi seraya menyorotkan senternya ke arah ruangan depan.

"Bella ke mana, ya? Kok dia pergi begitu saja?" ucap Sarah sambil celingukan.

"Ke mana juga Pak Adnan, Pak Ardi, Mira, dan juga Damar?" gumam Adi sambil terus menyoroti ruangan depan itu.
"Mereka bilang ingin melihat ruangan bawah tanah itu. Kalau Mira, kau tahu dia pergi keluar begitu saja dari rumah ini. Atau jangan-jangan tadi itu suara dia membanting pintu," kata Sarah.

"Aku tidak yakin itu Mira. Meskipun dia dibantingkan ke pintu, suaranya tidak akan
sekeras itu. Lagipula kok Mira nekat keluar rumah di saat semua orang tidak ada yang berani keluar?" kata Adi seraya berjalan mendekati pintu diikuti Sarah.

Saat itu keadaan cukup gelap. Hanya cahaya senter yang menerangi ruangan itu.

Adi dan Sarah merasakan bulu kuduk
merinding tatkala suatu hembusan angin aneh menerpa tubuh mereka berdua.

"Sar? Aku merasa ada sesuatu di belakang kita." Adi tidak berani menoleh ke belakang hingga suatu tangan berjari-jari lancip berwarna hitam menyentuh pundaknya.

Sarah pun merasakan hal yang sama.
Hrrrrrrrr....

"Di?" Sarah berucap pelan sambil menoleh perlahan ke arah Adi.

"Aaaahhhhhh.....!"

Sarah dan Adi berteriak histeris kemudian lari pontang-panting kembali ke ruang tengah. Mereka terus berlari hingga mencapai pintu belakang yang kebetulan terbuka.

Mereka pun
bablas melewati pintu tersebut hingga mencapai area yang dipenuhi ilalang di belakang rumah besar.

Mereka berlari hingga merasa kelelahan. Setelah kelelahan, mereka berhenti tepat di depan sebatang pohon sengon yang meranggas.

Akkk, akkk, akkk,

Sayup-sayup terdengar suara
burung gagak. Terdengar jauh, namun itu cukup membuat yang mendengar merasa cemas.

"Sar, suara burung gagak. Aduuh, jangan-jangan itu pertanda buruk buat kita," ujar Adi dengan nyali ciut.

"Entahlah, di. Di mana pun kita sekarang, kita harus kembali ke jalan tadi. Kita harus
kembali ke rumah itu. Pak Adnan dan yang lain pasti sedang mencari-cari kita," tukas Sarah kemudian menatap ke arah Adi yang tampak melotot ke arahnya.

"Di? Apa-apaan sih kok melototin aku kayak begitu? Hei, di!" kata Sarah menatap dengan bingung bercampur takut ke arah Adi.
Adi tidak menjawab. Ia mengangkat telunjuknya ke arah Sarah dengan gemetar. Gigi-giginya gemeletuk pertanda ia sedang melihat sesuatu yang menakutkan di belakang Sarah.

Karena penasaran, Sarah menolehkan wajah dengan perlahan ke belakang.

"Aaaaaaaaaaahhhhhh...!"
Suara jeritan Sarah dan Adi membuncah di tengah dini hari buta.

Mira yang sedang berbaring di dalam salah satu kamar, terbangun mendadak kemudian celingukan.

"Sarah? Adi?" Mira segera menyambar tas, kemudian bergegas keluar.

"Lho, di mana Pak Adnan, Pak Ardi, dan Damar?"
Mira terkejut saat mengetahui orang-orang yang baru ia sebut namanya tersebut tidak berada di lorong dekat kamar di mana sebelumnya ia berbaring.

"Pak Adnan, Pak Ardi? Damar? Kalian di mana?" Mira menelusuri lorong tersebut kemudian mencapai kamar mandi dengan pintunya yang
terbuka.

Saat ia menyorotkan senternya ke dalam, ia mendadak melihat sesosok remaja perempuan berusia belasan tahun. Wajah sosok tersebut tidak dapat ia lihat karena gelap.

Ia pun menyorotkan senternya ke wajah sosok itu. Namun, tiba-tiba sosok itu melenyap, hilang.

"Mira..."
Suara mendayu-dayu seorang remaja perempuan terdengar di kedua telinga Mira.

Mira pun terkejut karena suara itu menyebut namanya. Ia celingukan mencari sumber suara gadis itu.

"Ssiapa kamu? Apa kau ada hubungannya dengan demit berlumpur itu? Dia juga tahu namaku," kata Mira.
Lama suara tidak itu tidak terdengar kembali. Mira pun merasa penasaran.

"Hei, kamu kenapa diam saja? Ayo katakan siapa kamu!" seru Mira tanpa merasa gentar menelusuri seisi kamar mandi.

Ia kemudian menatap ke arah dinding kamar di sebelah atas sekat pembatas kamar mandi
dengan ruang WC.

Ia tertegun saat melihat seperti noda darah yang sangat luas menempel di sana. Ia juga melihat sebongkah tulang kering menggantung di sana.

Mira pun syok melihat itu hingga ia mundur perlahan ke arah pintu keluar kamar mandi.

Mendadak ia merasakan hawa panas
berhembus meniup tengkuknya.

Ia juga dapat merasakan kehadiran sesuatu di belakangnya, bersiap hendak menyentuh bahunya.

Dengan sigap ia meraih smartphone-nya dan menyalakan kamera depannya kemudian melihat melalui tampilan kameranya tersebut.

Terlihatlah seraut wajah
seorang perempuan dengan rambut panjangnya yang sebagian menutupi wajahnya. Di sela-sela rambut yang menutupi wajahnya, terlihatlah sorot mata yang bengis serta mulutnya yang menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang rusak serta dipenuhi darah.

Saat melihat penampakkan itu,
Mira menjepretkan kameranya hingga lampu flash-nya menyala terang.

"Aaaaaaaa.......!" Sosok negatif tersebut rupanya bisa berteriak.

Sembari berteriak, sosok itu terjengkang ke belakang.

Tanpa berlama-lama, Mira kembali menjepret sosok itu dengan kamera smartphone-nya.
Sosok itu terus terjengkang hingga membuyar di balik dinding yang berhadapan dengan pintu kamar mandi.

Setelah sosok itu menghilang, Mira bergegas turun untuk mencari rekan-rekannya yang entah ke mana.

Ia keluar dari rumah besar itu, kemudian menelusuri area di mana mobil
terparkir.

Tidak ada siapa-siapa di sana. Ia juga sempat mengintip ke dalam mobil, namun tidak ada siapa-siapa.

Sekelebatan bayangan terlihat olehnya melintas di seberang jalan di mana mobil terparkir.

"Apa mereka keluar lewat pintu belakang? Tapi ngapain, ya? Di belakang
kan hutan kalau tidak salah," gumam Mira seraya bergegas menuju belakang rumah namun terhalang tanaman menjalar yang tumbuh di samping rumah.

Ia pun masuk kembali ke dalam rumah untuk selanjutnya menuju pintu belakang yang mengarah langsung ke area yang dipenuhi tanaman liar.
Mira menyoroti padang ilalang dengan beberapa batang pohon maupun tanaman sawit di sana. Tidak terlihat hal mencurigakan meski ia telah mengikuti jejak-jejak langkah yang ia pastikan milik Sarah dan Adi.

Ia kemudian menuju bagian padang ilalang yang rubuh bekas diterjang
manusia yang melewatinya.

Mira kemudian mencapai suatu tempat di mana terdapat sebatang pohon besar yang meranggas.

Saat hendak terus melangkahkan kakinya, ia mendadak melonjak kemudian mundur. Hampir saja ia terperosok jika tidak mundur.

Mira pun melihat suatu cekungan
besar yang hampir tidak terlihat karena tertutup dedaunan ilalang yang menjuntai ke sana. Di balik rimbunnya dedaunan ilalang yang menjuntai rupanya terdapat genangan lumpur yang tampaknya sangat berbahaya jika ia tercebur ke sana.

Mira mengamati cekungan berlumpur itu kemudian
melangkahkan kaki hendak melewati jalur lain dengan mengitari cekungan tersebut. Namun ia terperanjat saat melihat seonggok tulang-belulang manusia lengkap dengan tengkoraknya, duduk di bawah pohon besar meranggas dekat cekungan berlumpur itu.

Kerangka manusia itu hampir tidak
tidak terlihat karena terhalang sebagian oleh daun-daun tanaman liar.

Mira semakin terperanjat saat mendengar suara kecipak dari genangan lumpur di dalam cekungan. Kecipakkan tersebut semakin keras terdengar.

Tampak genangan lumpur seperti bergolak oleh sesuatu yang berontak
di dalamnya.

Mira menyorotkan senter ke arah genangan lumpur yang menggejolak itu. Ia melihat seperti sesosok manusia sedang meronta-ronta ingin keluar dari lumpur tersebut.

"Awkkkhhh....!"

Sosok itu sepertinya seorang manusia yang ingin meminta tolong agar dikeluarkan dari
kubangan lumpur itu.

Mira tentu saja merasa ragu untuk menolong orang yang tercebur ke dalam kubangan lumpur itu. Apalagi ia waspada betul dengan kemungkinan tipu daya makhluk astral yang banyak mendiami area perkebunan sawit terbengkalai itu.
Ditambah lagi pengalamannya bertemu dengan demit berlumuran lumpur sewaktu melarikan diri dari bangunan tua di tengah hutan antah berantah yang dijaga Nyai Yaro itu. Hal itu jelas semakin membuatnya waspada dan tidak mempercayai segala apa yang berwujud dengan lumuran lumpur.
Mira pun benar-benar meninggalkan sosok yang tengah meronta-ronta di dalam cekungan berlumpur tersebut. Hingga kemudian langkahnya terhenti saat sosok di dalam cekungan tersebut merangkak keluar sembari bersuara riuh menyeramkan.

Benar dugaan Mira, sosok tersebut memang hanya
bentuk tipu daya demit di cekungan berlumpur itu.

Makhluk mengerikan itu merangkak kemudian melompat mengejar Mira yang kini sedang berlari menjauh.

Ia terengah-engah saat mencoba menghindar dari kejaran makhluk penghuni cekungan berlumpur itu. Ia terus berlari sampai ia pun
merasa kelelahan.

Terdengar sayup-sayup suara seorang perempuan dengan intonasi pelan dan serak serta agak bergema.

"Miraa... Jangan lari dari ibu, nak..."

Mendengar kata-kata itu, Mira sudah menduga bahwa itu adalah demit yang sebelumnya ia jumpai di dalam rumah tua yang
dijaga Nyai Yaro itu. Ia jelas merasa tidak percaya bahwa makhluk itu adalah ibunya.

Secara dirinya adalah manusia sedangkan makhluk itu adalah demit yang bahkan hampir mencelakainya.

Mira pun terus melangkah meski tidak secepat sebelumnya karena ia merasa kelelahan.
Saat ia terus melangkah, mendadak sosok demit berlumpur itu muncul di hadapannya sembari mendesis dan menjulurkan lidahnya yang panjang.

"Sssss.... Anakku, Mira.. Dirimu akhirnya kutemukan. Ikutlah bersama ibu ke dunia penuh lumpur. Sssss...."

Makhluk tersebut menatap ke arah
Mira dengan tatapannya yang menakutkan.

"Pergi dari hadapanku, demit! Aku tidak memiliki ibu demit sepertimu!" Mira menatap dengan waspada ke arah demit berlumpur itu seraya mundur.

Namun mendadak dari belakangnya muncul sosok demit berlumpur yang lain, mendesis, mendekat ke
arahnya.

"Sssss... Sayang sekali, nak. Ibu pikir kamu akan mempercayai ibu. Nyatanya dirimu tidak percaya pada ibu. Kolonn, bawa dia ke Dunia Lumpur! Dia akan menjadi anggota baru kita!" Demit yang menghadang Mira memerintahkan demit yang di belakang Mira untuk membawa Mira
ke suatu tempat.

Mira pun hanya bisa panik tidak karuan. Ia tentu saja tidak mau dibawa ke alam yang jelas bukan peruntukkannya.

"Apa mau kalian! Tinggalkan aku! Jangan paksa aku ikut kalian!" Mira celingukan, berharap ada celah untuk dirinya melarikan diri.
"Ibu harus memaksamu, nak. Itu karena kamu adalah satu-satunya anak ibu yang masih hidup. Ssss... Dengan demikian, lengkaplah sudah keinginan ibu untuk berkumpul lagi dengan darah daging ibu.." Demit di depan Mira terus saja memaksa Mira agar ikut dengannya.

"Ssss.. Kau tahu
anakku, kamu memiliki nama seperti namaku yaitu Mira Aini Nurfatika. Nama Aini diambil dari namaku, yaitu Arsini. Ssss... Kamu anakku yang istimewa, Mira. Ayo ikutlah dengan ibu," lanjut demit lumpur bernama Arsini itu.

"Tidak! Nama ibuku bukan Arsini! Jangan asal mengaku, kau
demit lumpur! Biarkan aku pergi!" pekik Mira dengan panik.

"Tidak! Kau harus ikut denganku, Mira! Kolonn, cepat bawa dia!" Arsini menyuruh Kolonn lagi untuk membawa Mira.

Saat kedua tangan Kolonn menjulur beberapa senti lagi ke tubuh Mira, mendadak sesosok gadis kecil muncul
dan menghentikan apa yang dilakukan Kolonn.

"Hentikan itu, ibu! Jangan lagi kau korbankan keluarga kita demi ambisi jahatmu. Kau sudah mati tapi masih saja serakah. Ini adalah kesalahan kenapa ayah menceburkan ibu ke dalam lumpur, bukannya membunuh ibu dengan pisau," teriak
gadis kecil bertubuh tembus pandang dan bercahaya itu.

"Rana? Ssss... Kenapa lagi bisa muncul arwah salah satu anakku yang seharusnya sudah berada di genggaman Wawagor?" Arsini menyeringai ke arah si gadis kecil yang adalah Rana itu.

"Mira, sebaiknya kau segera pergi. Biar
aku yang menangani ibu dan anteknya. Kamu seharusnya tetap hidup dengan damai. Tidak sepertiku dan kak Indira yang harus mengalami kepahitan karena ibu yang durjana. Pergilah dan jangan melihat ke belakang!" teriak Rana kencang.

Tanpa membantah, Mira pun berlari meninggalkan
tempat tersebut.

Sementara Arsini dan Kolonn tidak dapat menghentikan Mira karena Rana menghalangi mereka berdua.

"Makhluk kegelapan seharusnya tetap berada di dalam gelap. Lihatlah fajar datang!" teriak Rana sambil menunjuk ke ufuk timur.

Arsini dan Kolonn pun buru-buru
pergi ke cekungan berlumpur karena kemunculan sang mentari merupakan kelemahan mereka.

Sedangkan Rana telah menghilang lebih cepat sesaat sebelum Arsini dan Kolonn pergi.

"Ini belum berakhir! Ssss..." ancam Arsini.
Pagi telah tiba, Mira kini sedang berada di suatu sudut jalan berbatu. Ia tengah duduk di atas tembok gorong-gorong sembari berusaha mendapatkan sinyal. Ia ingin menghubungi siapapun yang sebelumnya bersamanya.

Nihil, tidak ada sinyal. Hal itu wajar, mengingat ia sedang berada
di tempat yang jauh dari keramaian.

Suatu tempat di tengah perkebunan sawit yang terbengkalai. Perkebunan yang lebih seperti hutan belantara itu sangat terlihat menyeramkan karena kuatnya kehadiran entitas mistik di sana.

Mira pun masih dapat merasakan kuatnya aura mistis
meski hari sudah menjelang siang. Ia juga dapat merasakan kehadiran entitas mistik melalui smartphone-nya yang layarnya selalu berriak-riak seperti air. Terkadang smartphone-nya juga bergetar sendiri meski tidak ada pemberitahuan maupun panggilan masuk.

"Tolooooooong.....!"
Mendadak terdengar suara seseorang minta tolong. Dari suaranya jelas itu adalah seorang perempuan yang tentu Mira mengenalinya.

"Sarah? Di mana itu?" gumam Mira kemudian bangkit.

"Saraaaaah.....!" teriak Mira kemudian mencoba menelusuri arah sumber suara.
Tidak terdengar suara sahutan. Mira terus menelusuri jalur berbatu menuju tempat yang ia yakini di mana teriakan Sarah berasal.

Sesampainya di area jalan berbelok dengan jurang kecil di sebelah kirinya, terdengar lagi Sarah berteriak.

"Miraaa...! Tolooong... Akuuu...!"
Mira pun kini dapat menentukan di mana sumber teriakan Sarah berasal.

"Saraahh....! Tunggu aku di sana!"

Namun, ia merasa ragu untuk ke sana karena ia harus menuruni jurang kecil tersebut. Sementara jurang itu dipenuhi tumbuhan-tumbuhan liar bhkn di antaranya berduri tajam.
Mira hanya mengamati jurang tersebut hingga ia menemukan suatu celah yang sepertinya dapat ia lewati.

"Sarah melewatinya? Untuk apa?" gumam Mira seraya dengan berhati-hati menuruni jurang kecil itu.

Mira kemudian memasuki celah tumbuhan-tumbuhan itu dengan cara merunduk.
Beberapa saat kemudian ia berhasil melewati area yang dipenuhi tanaman tersebut. Ia terus melangkah kemudian terperangah saat melihat Sarah sedang terikat dengan beberapa kaki tingginya di sebatang pohon.

Kedua tangannya terbentang ke dahan dan juga terikat. Kondisi gadis itu
juga sangat berantakan. Pakaiannya juga sebagian telah robek. Wajahnya pun tampak pucat serta dihiasi beberapa lelehan darah yang mengering.

Apa yang telah terjadi pada Sarah? Mira merasa sangat penasaran. Ia pun segera mendekat ke arah pohon di mana Sarah terikat.

Namun,
mendadak terdengar suara gemerisik riuh dari balik semak-semak sekeliling tempat tersebut.

"Mira! Lari!" Sarah mendadak berteriak menyuruh Mira lari.

Namun Mira tidak segera menuruti kata-kata Sarah. Ia terpaku di tempat saat sekelompok orang berseragam hitam merah mengepung
nya.

Orang-orang tersebut membawa senjata tajam di tangan masing-masing. Mereka saling berbicara dengan bahasa yang Mira tidak mengerti.

"Mira! Kenapa kamu tidak lari? Mereka para penjahat. Mereka yg mengikatku di sini. Mereka juga yg membawa Adi entah ke mana," kata Sarah.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sampai aku berhasil menyelamatkanmu, Sarah. Kalau mereka memang penjahat, aku akan menghadapi mereka semua," tukas Mira sambil memutarkan pandangannya dengan waspada ke arah orang-orang berseragam itu.

"Berhati-hati, Mira. Mereka semua membawa
senjata. Jika kamu punya kesempatan untuk lari, lebih baik larilah. Tinggalkan aku di sini," kata Sarah dengan nada gemetar.

"Aku tidak akan lari. Kota itu telah memberiku pengalaman berkelahi bahkan menggunakan senjata sekalipun," tukas Mira dengan nada setengah bergumam.
Mira saat ini dapat memperkirakan bahwa orang-orang berseragam dengan senjata tajam tengah bersiap untuk menangkapnya. Sementara ia tengah berfokus pada salah satu dari orang-orang tersebut. Ia mengincar golok yang ditenteng orang itu.

Mira dalam hati menghitung mundur dari
sepuluh ketika melihat gelagat orang-orang tersebut.

Mencapai hitungan terakhir, benar saja orang-orang itu merangsek ke arah Mira.

"Awas Mira!" teriak Sarah merasa ngeri saat orang-orang tersebut mengeroyok Mira.

Mira tanpa merasa kesulitan, menangkap tangan salah satu
pengeroyoknya kemudian menekannya sekuat tenaga menggunakan ujung jempolnya.

"Aaaaaaa.....!" Penyerang itu berteriak kesakitan.

Di saat itu Mira dengan cepat merebut golok yang ditenteng si penyerang. Setelah berhasil merebut golok, ia tanpa ampun lagi menyayat tangan si
penyerang.

Tidak hanya itu, ia juga menebas penyerang lainnya yang posisinya cukup dekat. Suara jerit kesakitan membahana di dalam hutan di bawah jurang kecil itu.

Mira telah melukai cukup banyak para penyerangnya. Sebagian dari mereka pun mundur perlahan, bersiap hendak
melakukan strategi lain untuk melumpuhkan Mira.

Mira kini mewaspadai jika orang-orang tersebut akan menggunakan senjata api. Hal itu ia lihat saat orang-orang tersebut mengeluarkan magasin pistol dari saku celananya.

"Mira, lebih baik kamu lari. Kamu tidak akan bisa melawan
mereka lagi. Mereka membawa senjata api," ucap Sarah dengan ketakutan.

"Biar kutunjukkan cara mengatasi orang-orang asing itu. Bukan tidak mungkin mereka adalah teroris. Setidaknya untuk saat ini targetku adalah menyelamatkan kalian berdua," tukas Mira.
Setelah berkata demikian, Mira mengalihkan perhatian ke arah para pengeroyok bersenjata yang kini sedang mengisi rumah magasin pistolnya. Tak lama mereka pun menodongkan senjata apinya ke arah Mira dan Sarah seraya mengatakan kata-kata yg tidak dapat dimengerti olehnya dan Sarah.
"Itu bahasa apa, sih, sar?" tanya Mira setengah berbisik disambut gelengan kepala oleh Sarah.

Mira mengerti kalau Sarah pun sama seperti dirinya, tidak memahami bahasa orang-orang tersebut. Namun Mira yakin bahwa orang-orang tersebut ingin ia menyerah. Hal itu terlihat dari
gelagat orang-orang tersebut yang menodongkan pistol sambil berbicara ke arahnya.

Mira pun melemparkan goloknya ke dalam semak-semak. Seterusnya ia mengangkat kedua tangannya pertanda ia menyerah.

Orang-orang itu pun merangsek maju sembari terus menodongkan pistol ke arah Mira.
"Mira? Untuk apa kau lakukan itu?" Sarah berkata dengan panik saat melihat Mira dikerubungi orang-orang bersenjata.

Mendadak terdengar suara letusan senjata dari arah Mira yang dikerumuni orang tersebut. Letusan itu diikuti dengan terjungkalnya satu orang penyerang dalam keadaan
dadanya terluka tembak dan berdarah. Tak lama kemudian menyusul para penyerang lainnya yang juga berjungkalan dalam kondisi yang sama.

Sementara Mira tampak berdiri penuh kemenangan dengan pistol yang rupanya berhasil direbutnya.

"Sekarang kita harus mencari Adi," ucap Mira
seraya melepaskan ikatan yang mengikat Sarah di atas batang pohon itu.

Sarah sangat terkejut dengan apa yg telah Mira lakukan. Ia tidak menyangka teman satu sekolahnya tersebut memiliki kemampuan bertarung yang sangat hebat dan juga tidak terduga.

"Mira? Kau sebenarnya siapa?"
Mira menoleh ke arah Sarah.

"Aku adalah Mira, seorang penakut yang dipaksa menjadi pemberani," tukasnya.

Cerita dipercepat kalau perlu langsung tamat...

Oke, tamat ya... 🤣🤣
Cerita dilanjutkan.

Saat itu hari telah kembali gelap. Bella yang merupakan teman sekelas Sarah, Adi, damar, dan Mira, secara tidak sadar memasuki ruangan rahasia tidak jauh dari pintu menuju ruang bawah tanah.

Saat itu ia kebingungan karena teman-teman maupun gurunya tidak
ada di dalam rumah besar di mana saat ini berada. Ia sebenarnya telah menunggu selama seharian penuh tanpa berani keluar rumah untuk mencari mereka. Hingga petang menjelang pun, ia tetap tidak keluar rumah.

Alhasil ia pun sendirian di dalam rumah yang berada di area terpencil
itu.

"Duuh, ke mana Sarah dan Adi, ya? Juga ke mana yang lain?" keluh Bella seraya memperhatikan pintu di depannya.

"Pintu ini mengarah keluar, ya? Tapi bukannya ada pintu depan dan juga pintu belakang di rumah ini untuk keluar dari sini." Bella sejenak merasakan pandangannya
kabur meski senter smartphone-nya telah ia nyalakan.

Ia juga merasakan kepalanya seperti agak berat.

"Uhh, mungkin ini akibat aku terlalu pulas tidur," keluhnya sembari membuka pintu tersebut tanpa disadarinya.

Mendadak angin semilir keluar dari pintu menghembus menerpa
wajahnya.

Bella masih belum menyadari apa yang baru saja dilakukannya hingga ia memasuki ruangan di balik pintu. Di saat ia sadar, pintu telah tertutup dan terkunci.

Bella panik bukan kepalang. Ia mencoba membuka pintu tersebut namun tidak bisa. Ia hanya bisa menggedor-gedor
pintu sembari berteriak-teriak.

"Sarah, Adi, siapapun tolong bukakan pintu!"

Hening, tidak ada siapapun yang menyahut dari luar, membuat Bella semakin panik saja.

Ia kemudian menghentikan gedorannya saat merasakan seperti ada seseorang sedang menghampirinya dari belakang.
Bella lantas membalikkan badan dan melihat siapa yang menghampirinya itu.

"Pak Guru?" Bella langsung mengenali bahwa orang tersebut adalah Pak Adnan. "Bapak sedang apa di sini? Kok gelap-gelapan?"

Pak Adnan berdehem, "Ehmm, seharusnya saya yang bertanya begitu."
Bella menatap Pak Adnan dengan penasaran.

"Ruangan ini aneh sekali, pak. Apa ini gerangan?" Bella menyorotkan senternya ke lantai dan terlihatlah suatu pola lingkaran yang tidak asing dalam dunia okultisme lengkap dengan gambar bintang terbalik.
"Yaah, namanya juga seorang yang haus akan pengetahuan. Apapun akan dilakukan demi mengetahui segala hal yang belum diketahui. Begitupun denganku yang selalu ingin mengetahui berbagai misteri di dunia ini, termasuk misteri di rumah yang terpencil ini," kata Pak Adnan membuat
Bella tercengang.

"Pak Guru yang membuat ini? Untuk apa?" tanya Bella penasaran.

"Iya saya yang membuatnya. Ini untuk siapapun yang pertama masuk ke ruangan ini dan menemukan saya," tukas Pak Adnan membuat Bella terkejut.

"Maksud bapak?" Bella terperangah saat Pak Adnan
menjentikkan jarinya. Suatu hal mengejutkan terjadi.

Mendadak puluhan lilin menyala dengan posisinya yang membentuk lingkaran di tepian lingkaran okultis dengan bintang terbalik.

"Apa yang hendak bapak lakukan?" tanya Bella agak panik.

"Berbaringlah di sana dengan sukarela
jika tidak maka aku akan memaksamu!" Sontak Bella melangkah mundur dengan ketakutan.

"Bapak ini bicara apa? Bapak mau ngapain?" Bella menatap tajam ke arah Pak Adnan dengan perasaan ngeri.

"Melakukan ritual yang kurencanakan sejak lama. Cepat baring sana!"
Bella mundur beberapa langkah hingga mencapai salah satu dinding kamar tersebut. Ia melihat dengan ketakutan ke arah Pak Adnan yang sedang bersiap meraihnya dengan kedua tangannya.

"Pak Guru, istighfar, pak. Bapak jangan berbuat macam-macam begini, dong," kata Bella ketakutan.
"Hahaha, menyerahlah, Bella! Aku akan menjadi orang yang dipenuhi dengan segala bentuk pengetahuan. Aku akan menjadi orang pintar mulai dari malam ini!" Pak Adnan meraih kerah baju Bella dengan kasar kemudian menariknya hingga gadis itu terjerembab.

"Hentikan, pak! Jangan sakiti
saya!" teriak Bella panik bukan main.

"Itu tidak akan sakit! Aku akan melakukannya dengan cepat agar kau tidak menderita. Hahahaha...." Pak Adnan yang sudah kesetanan terus menyeret Bella hingga mencapai tengah-tengah lingkaran dengan simbol bintang besar terbalik itu.
Bella terus menjerit-jerit ketakutan seraya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Pak Adnan. Namun tenaganya kalah jauh dari guru kelasnya tersebut. Ia hanya bisa meronta di atas lingkaran simbol okultis tersebut.

Sementara Pak Adnan mencabut sebilah pisau dari
pinggangnya. Rupanya ia telah membawa senjata tajam itu sejak sebelum keberangkatan ke rumah besar ini dari dua hari yang lalu.

Pak Adnan komat-kamit seraya bersiap hendak menyayat pergelangan tangan kiri Bella. Artinya ia juga hendak menghabisi nyawa muridnya tersebut.
Tentunya Bella juga terus meronta, berusaha melawan tenaga Pak Adnan. Ia tidak mau jika harus mati dengan cara demikian. Ia berpikir jika ia mati karena dikorbankan maka arwahnya akan gentayangan. Tentu saja ia tidak mau jika hal itu sampai terjadi.

Tangan sebelah kanan yang
awalnya ia gunakan untuk melawan, kini ia gapaikan ke arah salah satu lilin yang letaknya sedikit lebih dekat daripada lilin-lilin yang lainnya.

Ketika mata pisau Pak Adnan hampir mencapai pergelangan tangan Bella, sebatang lilin dengan nyala apinya melayang ke wajahnya.
"Aaaaahhhh, brengsek!" Pak Adnan sontak gagal melakukan ritualnya. Wajah dan rambutnya terkena jilatan api lilin yang dilemparkan Bella.

Bella tanpa membuang kesempatan lagi, lantas bangun kemudian menyerang gurunya tersebut dengan lilin lainnya. Karena kerapnya serangan yang
Bella lakukan, akibatnya tubuh Pak Adnan terbakar dimulai dari kepalanya.

Pak Adnan yang terbakar berlari ke sana ke mari sembari menjerit-jerit dengan jeritannya yang mengerikan. Karena ia berlari ke sana ke mari, tidak disadari api juga turut membakar ruangan tersebut.
Kebakaran tersebut lantas semakin membesar karena api merembet keluar dari ruangan tersebut dan melalap ruangan lainnya.

Kebakaran besar di tengah malam gelap gulita pun melanda rumah besar yang berdiri di tengah perkebunan sawit yang terbengkalai.
Sementara itu di suatu area hutan yang di dalamnya terdapat beberapa gubuk dan bangunan kayu tak berdinding. Hutan itu tidak begitu jauh dari lokasi rumah besar yang kini sedang terbakar.

Mira dan Sarah yang sedang berada di sana terkejut saat melihat sinar dari nyala api yang
begitu terang menerangi gelapnya malam.

Sebelumnya Mira dan Sarah berhasil menemukan bangunan-bangunan kayu di tengah hutan itu. Bangunan-bangunan tersebut telah ditinggalkan dari beberapa saat sebelum keduanya tiba di sana.

"Kebakaran?" Mira bergumam saat melihat kobaran api
di kejauhan itu.

"Jangan-jangan kebakaran itu di rumah besar itu, mir. Kan di sebelah sana adalah perkebunan sawit dengan rumah besar itu," ucap Sarah menatap penasaran ke arah sumber kobaran api.

"Kok bisa kebakaran begitu, ya? Apa di sana masih ada orang? Damar? Pak Adnan?
Pak Ardi? Bella?" tukas Mira merasa heran.

"Setahuku mereka semua sudah tidak ada di sana, mir. Mereka keluar dari rumah itu sebelum kita." Sarah menatap ke arah Mira.

"Tapi kok rumah itu bisa terbakar begitu saja?" ucap Mira. "Kita belum bisa mengeceknya lagipula kita belum
menemukan Adi. Ke mana orang-orang itu membawa Adi? Sialnya kita tidak mengerti bahasa mereka begitupun sebaliknya."

Sarah mengerang frustrasi.

"Kalau saja sekarang msh siang, mungkin kita bisa menelusuri jejak kaki mereka. Sepertinya kita harus meminta bantuan polisi, mir,"
tukas Sarah.

"Apa itu memungkinkan, sar? Kita sedang berada di tempat antah-berantah. Tidak ada sinyal di sini. Kita tidak bisa menghubungi siapapun," tukas Mira. "Kita hanya bisa terus mencari sampai kita menemukan Adi. Siapa tahu mereka belum jauh."
Malam telah mencapai pertengahannya di mana saat itu Mira dan Sarah menembus kegelapan untuk mencari Adi yang mereka yakini dibawa oleh orang-orang berseragam serta bersenjata itu.

Hanya cahaya senter dari smartphone menerangi jalan yang akan mereka lewati. Suasana sunyi, hanya
suara binatang malam yang saling bersahutan. Tak lama mereka juga mendengar suara gemuruh air terjun yang tampaknya berlokasi tidak jauh dari mereka berdua.

Beberapa lama berjalan, Mira dan Sarah tiba di pinggir sungai dengan bagian hilirnya yang ternyata adalah ngarai. Dengan
demikian air terjun tersebut berada di hilir sungai itu.

"Buntu, mir. Sungai ini sangat lebar. Kita tidak dapat menyeberanginya," ujar Sarah sambil menyoroti bagian air sungai itu.

"Kita tidak akan menyeberanginya meskipun dalam keadaan genting. Kita susuri saja sungai ini
ke arah hulu. Siapa tahu di sana kita menemukan area dangkal bahkan jembatan yang bisa kita lewati," tukas Mira seraya melihat ke arah hulu sungai.

Sarah mengangguk setuju. Mereka berdua pun menyusuri pinggiran sungai ke arah hulu.

Sepanjang perjalanan itulah mereka berdua
menemukan hal-hal menyeramkan seperti penampakkan sosok perempuan berkebaya merah dengan wajah hancur.

"Mir, itu, itu. Pasti itu demit, mir," ucap Sarah panik sambil melihat ke arah sosok itu.

"Sangkapati?" gumam Mira.

"Apa itu Sangkapati, mir?" tanya Sarah heran.
"Aku pernah mendengar cerita tentang seorang perempuan yang mati mengenaskan setelah mendapatkan penyiksaan sadis dari seorang raja karena menolak menjadi selir si raja. Nama perempuan itu adalah Rahayu. Konon kejadian terjadi pada masa kerajaan-kerajaan begitu," jelas Mira.
"Jadi itu jelmaan Rahayu, mir?" tanya Sarah.

"Entahlah, aku tidak yakin. Lagipula itu hanya cerita yang belum dapat dibuktikan kebenarannya," tukas Mira. "Kita tidak bisa mengambil risiko dengan melewatinya, sar. Kita harus mencari jalan lain."

Mira dan Sarah pun melangkah
menuju jalur lain yang mereka pikir sosok Sangkapati tidak akan ada di sana.

Sialnya, Sangkapati justru muncul semakin mendekat dan menghadang langkah mereka berdua.

"Astaga! Dia mencegat kita." Mira menggelengkan kepalanya kemudian mengacungkan jari kelingkingnya dengan
cincin yang melingkar di sana. Cincin tersebut berkilauan saat tersorot cahaya lampu senter.

Sangkapati terlihat membuka mulutnya yang hancur, memperlihatkan gigi-giginya yang rusak dan hitam serta dipenuhi darah.

Mira juga mengeluarkan liontin kalung yang ia kenakan di leher
nya. Liontin tersebut ia arahkan pada Sangkapati disusul percikan sinar seperti percikan api yang melesat ke arah sosok itu.

Sangkapati meraung kemudian mundur sembari menutupi wajahnya. Selanjutnya sosok itu melompat ke depan hendak menyerang Mira.

Namun sesuatu terjadi.
Sosok Sangkapati mendadak menembus Mira dan Sarah hingga melewati sebatang pohon di belakang mereka.

Selanjutnya sosok tersebut tidak muncul kembali.

"Mira? Apa yang kamu barusan lakukan tadi? Apakah itu yang disebut mengusir setan?" ujar Sarah dengan takjub.

"Tidak juga.
Aku hanya melakukan apa yang pernah aku lakukan di kota itu saat bertemu dengan hal-hal kayak tadi," tukas Mira seraya memasukkan kembali liontinnya.

Singkat cerita, Mira dan Sarah mencapai suatu desa yang tidak terpikirkan setelah mereka menyeberangi sungai itu.
Desa yang sepi namun terdapat beberapa aktivitas warga terutama di pos ronda atau warung kopi.

Mira dan Sarah saling pandang saat menemukan desa yang mereka tidak sangka-sangka itu. Rupanya beberapa kilometer dari perkebunan sawit terbengkalai itu, terdapat sebuah desa yang
memiliki semacam tugu peringatan di atas suatu tanah lapang yang tampaknya adalah alun-alun pinggir desa.

"Selamat malam adik-adik. Apa ada yang bisa dibantu?" ujar seorang warga yang berjaga di pos ronda saat Mira dan Sarah mendatanginya.

"Maaf, pak. Kami tersesat saat
mencari teman kami yang hilang. Apakah bapak pernah melihat orang ini?" tukas Sarah sambil menunjukkan foto Adi di layar smartphone-nya.

Bapak tersebut melihat dengan seksama layar smartphone kemudian ia berbicara kepada rekan merondanya.

"Pak Diman, Pak Arda, apa kalian
pernah melihat orang yang di foto ini?" ucapnya ke dua temannya itu yang disambut gelengan kepala.

"Saya belum pernah melihatnya, neng," kata Pak Diman.

"Hmm, saya merasa pernah melihatnya tapi di mana, ya? Aah, ya, dia itu kan anak yang kemarin dibawa mbak Rahayu ke Desa
Kayu Jati. Iya, ini emang anak laki-laki itu. Dia konon tersesat hingga kemari dan mbak Rahayu membawanya ke desa terdekat. Katanya sih mau diantar ke terminal," kata Pak Arda membuat Mira dan Sarah menghela nafas lega.

"Kami adalah teman-temannya, pak," tukas Sarah.
Setelah mendengar pemaparan dari Pak Diman dan Pak Arda, Mira dan Sarah pun pergi menuju balai desa untuk menemui Kepala Desa.

Di sana mereka secara kebetulan disambut oleh seorang perempuan cantik berpakaian PNS berpelang nama Rahayu. Dengan ramah, perempuan tersebut menyambut
kedatangan dua tamu yang datang dari arah hutan di selatan desa.

"Jadi kalian berdua adalah temannya?" Rahayu menatap ke arah Mira dan Sarah.

"Iya, mbak. Kami telah mencarinya sejak dari hutan sana, mbak. Ternyata ia sudah tidak di sini," tukas Mira.

"Iya, saya telah
mengantarnya ke terminal yang terdapat di desa terdekat dari sini," ucap Rahayu seraya menghela nafas.

"Mir, sekarang yang tampaknya luput dari perhatian kita adalah Pak Adnan dan yang lain. Kita meninggalkan mereka di perkebunan sawit terbengkalai itu," ujar Sarah.
Mira hanya tertegun namun tidak menjawab apa yang dikatakan Sarah.

"Jangan khawatir, mereka semua baik-baik saja kecuali satu orang yang dengan sengaja menyeleweng, melakukan ritual terkutuk itu," kata Rahayu membuat Mira dan Sarah terkejut.

~~SEKIAN DAN THANK YOU ~~

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Acep Saepudin

Acep Saepudin Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @acep_saep88

16 Nov 20
>>PARA PENGHUNI DESA MATI BAGIAN II<<

Sebuah thread dr sy pribadi. Semoga pembaca suka
Cerita masih berfokus pada desa terbengkalai yg berusaha dihidupkan kembali oleh saudara tiri Pak Raman

@bacahorror
@IDN_Horor @ceritaht @WdhHoror17 @Bagihoror #bacahoror #CeritaHororTwitter Image
Desa Cikahuripan yang telah lama mati, di salah satu sudut wilayahnya berupa rumah-rumah penduduk yang terbengkalai.

Saat itu kondisi di desa dalam keadaan gelap. Bukan karena hari telah malam, melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang sangat kuat, yang mencengkeram desa
hingga tidak berkutik.

Di dalam salah satu rumah, Pak Raman berbaring dengan menyilangkan tangan kanannya di atas keningnya. Kedua matanya tampak terpejam.

Entah sudah berapa lama ia tertidur di dalam rumah yang telah ditinggalkan pemiliknya itu.

Sayup-sayup terdengar suara
Read 92 tweets
28 Oct 20
>Para Penghuni Desa Mati<

Sebuah thread dari Acep_saep...

Cerita akan sedikit mengulas apa yang terjadi di desa di mana di cerita sebelumnya keluarga Pak Raman diusir.

Selamat membaca

@WdhHoror17 @ceritaht @bagihorror @IDN_Horor #CeritaHororTwitter #ceritahoror #ceritaseram Image
Setelah semalam berlalu pasca diusirnya keluarga Pak Raman dari desa.

Pagi itu, desa yang dipimpin Kades Samsudin mengalami kegemparan yang dahsyat.

Bagaimana tidak, setidaknya sepuluh keluarga tewas dalam keadaan mengerikan. Mereka tewas dengan seluruh tubuh dipenuhi luka-
luka yang sangat parah persis seperti yang terjadi pada Indira di cerita 'Rumah Besar di Tengah Perkebunan Sawit'.

Sepuluh keluarga tersebut setidaknya salah satu atau dua anggotanya adalah yang paling gencar mengusir Keluarga Pak Raman, bahkan menjadi orator utama.
Read 110 tweets
18 Oct 20
>Rumah Besar di Tengah Perkebunan Sawit<

Sebuah cerita mengenai suatu keluarga yg diusir dari desa karena dugaan persekutuan salah satu anggotanya dengan iblis..

@ceritaht #CeritaHororTwitter @IDN_Horor @WdhHoror17 #hororstory @bagihorror #ceritaseram Image
Di suatu pagi menjelang siang. Di jalanan desa itu terlihat beberapa orang warga sedang berjalan terburu-buru menuju ke arah selatan. Terkadang para warga tersebut menemui warga lain yang ditemuinya kemudian membicarakan sesuatu yang tampaknya penting sekali.

"Ayo kita labrak!"
Begitu kata-kata yang terdengar dari warga yang menemui warga lain yang ditemuinya.

Siapa sebenarnya yang akan mereka labrak? Jumlah mereka semakin banyak saja, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu bahkan para lansia. Mereka bersama menuju ke arah selatan.

Rombongan warga tersebut
Read 112 tweets
5 Oct 20
> Impian Pupus Sang Pengantin<

Sebuah cerita tentang macam2 aja, deh. Eksekusinya nanti aja, ya.

Lagi disuruh ngasuh sama bini...

#CeritaHororTwitter @ceritaht #ceritahoror @IDN_Horor @horrornesia @WdhHoror17 Image
November 1965

Sore itu di suatu rumah berbilik bambu di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Rumah yang teduh karena terletak berdekatan dengan rerumpunan bambu yang rindang.

Isah, si gadis putri Pak Ramidjan dan Bu Surtini, sedang di kamarnya bersama ibundanya.
Gadis tersebut sedang disisiri sang ibunda sembari berkeluh kesah mengenai hari pernikahannya yang seminggu lagi akan digelar.

"Bu, Isah merasa tidak percaya diri. Pernikahan ini bagiku terlalu mendadak. Padahal baru kemarin dia datang melamar, tahu-tahu seminggu lagi," ucap
Read 133 tweets
25 Aug 20
- KOTA MISTERI DI LINGKUP HUTAN -
Cerita ini akan mengetengahkan perjalanan Johan dan kawan-kawan di tengah kota terpencil. Selamat membaca.

Pict. source : Google
@ceritaht #ceritahorortwitter @bagihorror @WdhHoror17 #bagihoror #wdhhoror #ceritamisteri @IDN_Horor
Cerita ini merupakan kelanjutan yang seharusnya dari cerita berjudul "Paninggaran". Cerita akan berfokus pada Johan dan Lidya yang setelah berhasil menghindari kejaran makhluk-makhluk penunggu Taman Ramayana, berhasil mencapai kota yang dinamakan Warung Kiara.
Cerita dimulai sebelum Johan dan Lidya diganggu sosok negatif di kota tersebut yang bernama Salasatri.

Johan saat itu menghentikan laju mobilnya saat tiba di depan sebuah bangunan tua terbengkalai berbentuk seperti pendopo.
Read 88 tweets
4 Jul 20
Sebuah Thread

- Pasukan Sirah Domba -

Mereka muncul dari balik gelapnya sebuah kebun misterius. Sepasukan makhluk halus yg haus darah muncul meneror desa.

Pict source : Google

@bagihorror @ceritaht @WdhHoror17 @horrornesia #CeritaHororTwitter #ceritahoror
Malam itu di suatu desa yang berlokasi tidak jauh dari hutan lebat. Tampak dua orang laki-laki sedang berbicara satu sama lain sambil celingukan.

"Pak Usup jangan bilang-bilang ke warga soal hal ini agar tidak ada kepanikan massal. Desa ini bisa bertahan karena apa yang
janggal yang terjadi selalu kita rahasiakan. Termasuk fakta perkebunan sawit yang tidak diketahui siapa pemiliknya ini," ucap laki-laki pertama.

Pak Usup menatap nyalang ke arah lawan bicaranya itu. Ia menghela nafas.

"Pak Nasrun, desa ini berdiri berkat sesepuh kita, Abah
Read 223 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!