, 71 tweets, 12 min read
-Home Sweet Home-

Mereka yang tak kasat mata, selalu ada disekitar kita. Sebagaimanapun mereka menganggu ditempatku, rumahku tetaplah yang ternyaman bagiku.

@bacahorror #bacahorror
@ceritaht #threadhorror
Ini adalah kisah yang kita alami selama tinggal dibangunan tersebut. Sebuah rumah dengan luas 150m² yang berada disebuah perumahan di kota kecil. Rumah berlantai dua yang gue tempati dari akhir kelas 6 SD hingga gue kuliah.
Denah rumah?
Semua diawali pada awal tahun 2008. Abi (ayah) meminta seseorang untuk membangun rumah berlantai dua disebidang tanah.

Pada saat proses pembangunan, salah satu tukang bercerita bahwa setiap malam ada suara ketukan dari kamar 2 yg berada di lantai 2.
Namun cerita itu hanya ditanggapi biasa saja oleh keluarga gue. Karena kita beranggapan mereka cuma ingin berkenalan saja.

Beberapa bulan kemudian, keluarga gue mengadakan selametan atas pembangunan rumah ini. Akhirnya keluarga besar gue dari kampung pun turut hadir.
Beberapa hari setelah kejadian, nenek gue yang sedang berada di ruang keluarga mendengar ketukan pintu dan suara salam dari luar.

"Assalmualaikum."

"Waalaikumsalam." Ujar nenek gue sambil berjalan menuju pintu depan. Namun anehnya tidak ada satu orangpun disana.
Nenek menghampiri umi (ibu) gue yang berada di kamar utama.

"Mi, tadi denger suara orang ketuk pintu dan mengucapkan salam?" Tanya nenek ke umi.

Umi mengangguk, "Iya nek, tadi umi denger. Emang siapa?" Tanya umi kembali.
"Masalahnya gak ada siapapun disana." Ucap nenek.

Umi terlihat syok, "Beneran nek?"

Nenek mengiyakan. Namun sosok berusia lebih dari setengah abad itu menenangkan anaknya, "Udah gapapa mi, lagian dia jin baik kok. Kan mengucap salam." Ucap nenek sambil mengelus bahu umi.
Setelah itu, jujur hampir semua keluarga gue dari abi, umi, kakek, nenek, om dan tante mengalami kejadian serupa. Namun gue belum digangguin pada saat itu.

Pernah suatu malam, saat itu tante menginap dirumah. Dia tidur di ruang keluarga karena anaknya menangis.
Hingga suatu pagi tante terbangun, dia duduk bersender dinding dan menghadap ke dapur.

Awalnya dia mendengar seperti orang mencuci piring di dapur, namun dia mengabaikannya karena tante mengira bahwa itu adalah umi yg sedang mencuci piring.
Tante melihat ponsel dan terkaget saat mengetahui bahwa waktu itu masih jam 3 pagi.

"Masa umi jam 3 pagi nyuci piring?" Tanyanya dalam hati. "Gak beres ini." Lanjutnya.

Tak selang lama, tante mendengar bunyi gelas beradu dari meja makan. Arah matanya kita menghadap dapur.
Di tengah remangnya lampu dapur, tante melihat ke arah meja makan dan dia melihat gelas saling beradu, menghasilkan bunyi 'ting-ting'.

Yang membuat bulu kuduk merinding adalah tante sama sekali tidak melihat manusia disana, melainkan sosok hitam tinggi melebihi plafon.
Bahkan wajahnya itu tidak terlihat. Dari kejauhan, genderwo itu terlihat mendorong meja makan melewati sebelah tangga dan kini berada di ruang tengah.

Setan itu kemudian berlalu menuju arah bagasi mobil. Sedangkan tante tidak bisa menggerakan badannya.
Setelah setan itu menghilang, tante pun menjerit, membangunkan gue dan om yang tertidur di kamar bawah.

Gue dan om mendatangi tante yg tengah menutup mata dan akhirnya dia menceritakan kejadian yg baru saja menimpanya. Selanjutnya, sekeluarga tidak ada yang tidur sampai pagi.
Jujur, selama empat tahun dari awal pindah sampai gue lulus SMA, gue sama sekali tidak mendapat gangguan.

Gue hanya tau kisah-kisah yang ada di rumah gue dari saudara-saudara gue. Bahkan juga ada temen gue yang juga diganggu oleh mereka.
Sampai suatu saat, diakhir gue kelas 10, sesuatu itu terjadi.

Hari itu gue pulang sekolah dan sampai rumah jam 4 sore. Gue dapat kabar bahwa orang tua gue sedang keluar dan menaruh kunci rumah di rak sepatu. Gue tanpa curiga sedikitpun membuka kunci pintu rumah.
Kebiasaan gue waktu masuk rumah itu buka pintu terus mengucapkan salam.

"Assalamualaikum." Ucapku.

"Waalaikum salam."

Gue berhenti seketika, tangan gue bergetar sambil menggenggam ganggang pintu. Ada yang menjawab salam dari dalam. Entah itu siapa.
Padahal di dalam gak ada siapa-siapa. Gue dulu masih penakut, sampai akhirnya gue tutup kembali pintu itu dan menunggu ortu gue sampai pulang.

Beberapa hari kemudian, hal yang lebih menakutkan lagi terjadi. Gue masih ingat hari itu hari jumat.
Gue baru pulang futsal di sekolah sehingga gue pulang sebelum waktu magrib tiba.

Saat itu ortu juga sedang keluar dan gue masuk ke rumah itu sendirian.

Pada saat itu gue duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Tiba-tiba ada suara aneh yang berasal dari dapur.
Gue berjalan menuju dapur, namun suara itu menghilang seiring gue sampai disana. Benar-benar hening.

Disaat gue sedang mencari tahu, tiba-tiba suara itu berpindah dan terdengar dari garasi. Akhirnya gue balik lagi menuju garasi.
Kalo misalnya ada yg nanya suaranya kayak gimana, gue gak bisa ngejelasin. Tapi suara itu terdengar asing di telinga gue.

Pada saat gue sampai di garasi, suara itu menghilang. Jujur gue kesel. Tapi disaat gue mau mengumpat, tiba-tiba terdengar bunyi dari dapur.
"Bruk Bruk."

Ya, suaranya seperti setumpukan buku yang dibanting ke lantai. Jelas sekali di telinga gue. Gue berjalan menuju dapur, tapi tidak ada satupun barang yang terjatuh.

Jujur, gue kesel dikerjain sama mereka pada saat itu.
"Gue teh lagi cape, asu." Umpat gue.

Tiba-tiba ada suara buku dibanting kembali, persis suaranya di dapur.

"Bruk...!"

Gue liat ke sekitar, gak ada apa-apa. Gue merinding, akhirnya gue lari ke luar rumah.

"Bajingan, djancok." Umpat gue sambil lari.
Di luar gue ketemu tetangga gue. Dia keheranan melihat gue lari-lari dari dalem.

"Sia kunaon, Nan?" (Lo kenapa, Nan) Tanya tetangga gue. Sebut aja teh amy.

"Aya jurig, teh." (Ada setan, mba) Kata gue sambil ngos-ngosan.

Gue langsung translete aja yak. Pake bhs indo.
"Yaelah sama setan aja takut." Ledeknya.

Gue cuma diem. Masih ngatur nafas.

"Yaudah, pintunya ditutup. Lo mahriban dulu di rumah teteh. Sekalian teteh ambil sesuatu dulu ke rumah." Ucap teh amy terus masuk ke rumahnya diikuti gue.
Setelah sholat, gue dan teh amy pergi ke rumah gue. Teh amy membawa lilin ditangannya. Kita mulai masuk ke dalam rumah gue.

Hanya lampu teras yang menyala terang, sedang lampu diruang tengah hanya remang-remang dan selebihnya lampu dimatikan.
Sesaat setelah sampai diruang tengah, teh amy berdoa dengan caranya (teh amy non-mus btw).

Waktu kita noleh ke arah dapur, bom! Ada sosok hitam tinggi disana. Teh amy mengenggam erat tangan gue. Lah gue, cuma bisa diem melongo melihat sesuatu yang seperti itu.
Gue beristigfar, teh amy udah memejamkan mata. Saat gue sadar, gue tarik tangan teh amy sampe keluar rumah.

"Anjir, tadi suara doang, sekarang wujudnya." Umpat gue lagi.

Gue dan teh amy cuma bengong di pelataran rumah, akhirnya gue menunggu ortu gue sampai pulang (lagi).
Jujur, gue itu penakut, sampai suatu kejadian yang bikin gue tak acuh terhadap yang begituan. Gue ceritakan di thread yang lain.

Semenjak kejadian itu gue jadi penakut, bahkan gue selalu tidur di lantai bawah dan membiarkan lantai atas tak berpenghuni.
Makin lama, gue semakin sering liat hal yang begitu, entah di luar rumah atau di dalam rumah.

Sampai suatu hari, gue dinasehatin seseorang agar gue gak takut terhadap hal begitu.

Sampai suatu hari gue tidur di lantai dua, dan benar-benar sendiri.
Awal-awalnya memang banyak gangguan. Beh banyak bet banyak.

Dulu pernah gue bangun tidur. Waktu itu masih jam 5an kalo ga salah. Gue itu selalu naro handuk di pegangan deket tanda (cek foto cover, itu adalah foto di lantai 2 dan ada handuk disana.)
Waktu itu kakek gue meninggal dan gue gak sempet mudik buat ngelihat kakek di kuburin hari itu juga soalnya gue ada ulangan.

Gue tidur di kamar 1 di lantai 2 dan waktu gue ambil handuk, otomatis gue nengok ke lantai satu. Dan lo tau, gue liat orang berjalan di bawah.
Gue kan sendiri, soalnya ortu pada mudik toh. Nah itu yang gue liat siapa?

Gue liat seseorang memakai jubah warna putih, sama seperti kakek gue pas naik haji. Jujur, gue gak takut sama sekali waktu itu, bahkan gue berlari turun tangga buat kejar dia.
Dan pas sampai lantai satu, gak ada siapa-siapa. Tapi gue merasa hawanya sejuk banget. Gue sih mikirnya kakek gue ngasih salam perpisahan.

Kayaknya, seumur-umur gue liat begituan, cuma saat itu doang, gue gak gemeteran. Bahkan gue kejar itu setan yang menyerupai kakek.
Gue juga punya temen indigo. Anggap aja namanya Amin. Dia pernah nginep di rumah gue.

"Nan, asu rumah lo banyak banget." Ucap Amin sedaat setelah masuk rumah.

Awal-awalnya dia nunjukin ditempat mana aja yg ada setannya.
"Di gudang ada cewek Nan, Di dapur ada genderwo. Di kamar bawah ada anak kecil yang usil." Kata dia setelah melihat-liat lantai satu.

"Gue cuma pernah diliatin yg genderwo." Kata gue jujur.

"Mau gue buka lagi?" Tanyanya.

"Ogah." Jawab gue sambil gelenggin kepala.
Sampai adzan isya berkumandang. Gue iseng-iseng ngomong sama dia.

"Lo sholat sama dzikir di lantai dua gih."

Dia menuruti permintaan gue. Dia lalu sholat isya diatas, tanpa penerangan. Benar-benar gelap. Dan apakah kalian tau apa yg terjadi?
Gak sampai lima menit dia di lantai 2, udah balik lagi ke bawah. Bahkan dia udah keringetan banyak macam orang habis olahraga.

"Kenapa lo?" Ucap gue saat liat dia turun tangga.

"Anjir, banyak kampret." Umpat dia.

Gue cuma ngakak waktu itu.
"Lo beruntung gak bisa liat nan." Ucap dia.

"Tapi gue gak beruntung di gangguin mulu, Min."

Dia gamau cerita apa aja yang ada di lantai dua, katanya mah biar gue ngerti dengan sendirinya. Dan katanya dia berdoa supaya gue diliatin juga, ngeselin kan?
Awalnya gue itu kalo di lantai atas tidurnya selalu di kamar 1. Soalnya menurut gue paling aman. Gue juga ngerasa gue jarang terganggu di kamar itu.

Kamar 2? Gue gak berani. Jujur, kamarnya gelap, hawanya yang gelap maksudnya hehe.
Ya mungkin juga karena gue teringat pada omongan salah satu tukang yang bilang kalo di kamar dua ada suara ketukan tembok itu.

Beh gue selalu ngehidarin kamar itu untuk beberapa tahun. Bahkan gue juga ga pernah masuk ke kamar itu.
Sampai beberapa lama kemudian, gue merasa gak takut terhadap hal yang begitu. Soalnya gue sering mengalami hal di luar nalar sewaktu di luar rumah.

Akhirnya gue iseng-iseng buat tidur di kamar dua itu. Dan segalanya terpampang jelas dalam mata dan telinga.
Beberapa hari setelah gue tidur di kamar 2 itu, ada sebuah ketukan di salah satu sudut tembok kamar.

Kalo kalian mikir itu tetangga, kalian salah besar. Rumah gue itu tingkat sendirian disitu. Dan gak mungkin itu tetangga yang ngetuk temboknya.
Lagipula rumah di sebelah dan belakang dari kamar itu kosong alias gak berpenghuni.

Jam 2 malam, suara ketukan itu muncul.

"Dug dug" Bunyi tembok di ketok.

Gue kaget dong, tapi dengan iseng gue balas ketok sebanyak tiga. Dan ketukan gue dibalas 3 kali juga.
Gue masih gak percaya, gue bales ketukan itu dengan ketukan pramuka. Tau kan tepok pramuka? Nah gue ngetuknya begitu.

Dan sesuatu di luar nalar itu terjadi lagi. Mereka yg tak kasat mata membalas ketukan gue, seirama dengan ketuk pramuka men. Merinding gue saat itu.
Tapi gue udah jadi orang pemberani saat itu. Akhirnya ya gak gue bales lagi, soalnya merinding wkwk. Tapi gue gak kabur dari kamar itu.

Pernah juga suatu malam, mungkin waktu itu masih jam 12an dan gue baru balik dari tongkrongan gue.
Gue masuk ke dalam kamar 2. Gue sedang berada disalah satu sudut ruangan dan terdengar bunyi lagu sunda. Gue dengerin tuh supaya gak salah denger.

Tapi anehnya pas gue pindah ke sudut ruangan yang lain, itu lagu gak ada men. Benar-benar hilang.
Tapi pas gue balik lagi ke sudut ruangan yang pertama, deh itu suara ada lagi disana. Bener-bener jelas suara lagu sunda tersebut.

Gue merinding saat itu tapi ya gak kabur, masih diem diruangan itu, karena gue udah mulai teratur untuk tidur di kamar 2 itu.
Gue tegasin disini, gue itu penghuni lantai 2 satu-satunya. Setiap hari, setiap malam ya gue sendiri di lantai 2.

Adik gue 2 dan masih kecil. Mereka tidur di kamar utama dan dikamar lantai bawah.

Umi ke atas paling buat jemur pakaian doang. Sama bangunin gue palingan hehe.
Suatu malam pas gue tidur di kamar 2 di lantai dua, gue kebangun gara-gara ada suara knop pintu dibuka-buka.

Waktu itu gue liat persis dengan mata kepala sendiri itu gagang pintunya dibuka-buka men, (tapi pintunya ga sampe kebuka) gue kaget saat itu.
Karena kesel tidur gue keganggu, gue akhirnya bangkit dari tidur dan berjalan ke arah pintu. Waktu gue deketin itu gagang pintu masih gerak.

Dan dengan cepat gue buka pintu itu, kalian tau? Gak ada siapa-siapa disana. Sumpah eweh jalma didinya. (Gak ada orang disana.)
Karena kesel, gue mengumpat pake bahasa jawa, "Asu, wes wengi iku turu cuk, palah ngangguni wong tok, jangkrik." (Ajg, udah malem itu tidur, malah gangguin orang, jangkrik)

Oh iya, gue itu orang jawa. Tapi dari kelas 2 SD pindah di sunda, makanya gue paham 2 bahasa daerah.
Setelah gue mengumpat, ada suara kaya plafon jatuh.

"Brug"

Gue merinding saat itu juga dan kembali masuk ke kamar untuk melanjutkan tidur. Gue sempetin juga buat minta maaf,

"Yaelah sensian amat jadi setan, lagian ganggu orang tidur." Ucap gue bermonolog.
Jujur, gue cuma dua kali diliatin pas di lantai dua. Dua-duanya itu cewek.

Waktu itu gue lagi nonton film sambil tiduran di kamar 1, tp pintu kamarnya terbuka.

Saat gue liat pintu kamar, sekelibet ada cewek jalan cuy di depannya. Ngeselin emang.
Lo liat cover judul, nah di depan itu ada jendela, nah itu ruangan kecil buat gue naik ke atap, soalnya buat ngecek toren/tandon air.

Setiap malam, gue gak pernah nutup korden jendela.

Suatu malam disaat gue lagi tiduran di kasur kecil itu, yg ada di foto juga.
Waktu gue liat jendela, gue liat dipantulan cermin itu ya, dia ada di belakang gue. Dia cuma diem doang sih. Ya gausah nanya gimana reaksi gue hehe.

Gue gak kabur kok, gue cuma diem aja, terus tutupin mata, berharap cepet tidur :) Dan terbangun di keesokan harinya.
Pernah juga suatu hari, gue di rumah sendirian. Saat itu gue berada di ruang tengah, entah dari mana ada kucing hitam masuk ke dalam rumah. Padahal pintu depan itu ketutup loh.

Nah kucing itu berjalan menuju arah dapur, dan tentunya gue ikutin dong.
Kucing itu berjalan menuju bangku meja makan, dan naik ke bangkunya. Tapi di bangku itu ada handuk, jadinya ketutupan, membuat gue gak melihat kucing itu.

Waktu gue deketin ke bangku itu, kucingnya hilang dong. Bener2 gak ada, seketika gue tutup semua pintu yg ada di dapur.
Oh iya, dari ruang tengah, di muka dapur itu ada pintu men. Tapi model pintunya itu pintu kaca yg digeser.

Gue cari itu kucing di seluruh dapur dan gak ada. Gue panik dong, akhirnya gue buka pintu geser itu, gue keluar dan gue geser lagi pintu itu sampai ketutup.
Gue pergi ke rumah temen gue dan cerita hal begitu. Temen gue itu selalu gak percaya dan bilang gue halu kalo liat setan atau sesuati yg gak wajar. Ngeselin emang bocah yg model begini. Bahkan gue pernah berdoa, supaya bocah itu bisa ngelihat setan, bener dah.
"Lo halu kali Nan. Kali aja kucingnya itu ngumpet." Ucap dia.

"Tai ah, yaudah hayok ke rumah gue dah." Ajak gue ke dia. Diapun menyanggupi.

Setengah jam kemudian, sekitar jam 8 malam, gue balik ke rumah bersama temen gue itu. Panggil aja namanya Sukijan.
Waktu gue masuk rumah dan berjalan menuju dapur. Sumpah itu kucing ada di depan pintu geser itu men. Bahkan pintunya masih ketutup.

Itu kucing gimana bisa keluar anjer? Padahal sebelum gue pergi, gue pastiin bahwa kucing itu gak keluar dari dapur.
Gue liat kucing itu berjalan menuju ruang tengah dan gue berdiri menatap Sukijan dengan wajah tidak percaya.

"Lo lupa kali, kalo kucing itu sebelumnya udah keluar dari dapur, Nan." Kata Sukijan.

"Belom jan, bener, suer dah." Kata gue.
Akhirnya gue dan sukijan kembali ke ruang tengah, dan kalian tau? Kucingnya udah hilang men. Sumpah semua pintu saat itu tertutup.

Gue mencari kucing itu bersama Sukijan dan tetap kita gak nemuin. Bahkan setelah 10 menit mencari.
"Nah kalo gini, lo bisa jelasin secara nalar, Jan?" Tanya gue ke Sukijan.

Dan dia cuma diem aja.

Habis itu terdengar bunyi air ngucur dari dapur. Gue dan sukijan pergi ke arah dapur dan di dapur gak ada keran yg mengucur men. Seketika itu sukijan berlari ke luar rumah.
Pas sampai depan, sumpah muka sukijan itu pucet dah wkwk. Lucu anjeng kalo diinget-inget lagi mah.

Bahkan dia langsung meminta pulang saat itu juga.

Dia sampai sekarang sih selalu bilang gue itu halu kalo gue cerita habis liat sesuatu, hehe. Semoga lo liat deh jan wkwk.
Kasih foto dulu sembari nunggu gue ngopi+ngerokok.
Gue di rumah tuh cuma diliatin beberapa kali aja, bahkan masih bisa dihitung jari. Tapi gangguan itu sering, ya kayak suara, benda gerak atau geser.

Aslinya masih banyak gangguan, gara-gara saking banyaknya itu gue bingung mau ceritakan yg mana.
Lain kali, gue post cerita yang memiliki alur aja, okey? Gue lebih nyaman buat cerita yang ada alurnya.

Sehabis thread ini, gue akan memberikan kalian cerita-cerita yang entah itu gue mengalaminya sendiri, atau orang lain yg mengalaminya.
Maaf, jika ada kesalahan kata-kata. Maaf jika thread ini kurang berkenan, ya karena kalo gue bahas mah bisa gak ada habisnya, bener dah.

Sekian dari saya.
Salam, Nan.
Kalo kalian mau tanya, gue sepenakut apa. Liat aja videonya hehe 😋😋

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Call Me, Nan.

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!