My Authors
Read all threads
MEREKA INGIN KITA KEMBALI

[ RIZAL STORY ]

Sebuah Cerita Air Terjun (curug) / II

@bacahorror #bacahorror
“Dari kejadian tersebut, aku yang merasa paling bersalah. Walau kejadian itu sudah lama berlalu dan sudah menjadi cerita bahkan kurun waktu yg sudah lama sekalipun, perasaan bersalah itu masih saja ada, apalagi jika mengingatnya kembali.”

—Rizal
Begitulah jawaban Rizal (pemilik cerita), ketika gw tanya apakah berkenan menceritakan “Mereka Ingin Kita Kembali” dari sudut pandang dia. Walau menurut dia ini lumayan susah, akhirnya dia setuju. Dengan kesepakatan yg telah Rizal mau dan gw iyahkan.
Sama seperti di cerita “Mereka Ingin Kita kembali” bagian I dan II. Nama tempat, lokasi dan latar cerita untuk dirahasiakan. Karna, takut jika pembaca mengetahuinya akan ada dampak yg tdk baik buat pemilik cerita atau gw. Jika ada yang mengetahui untuk tetap merahasiakannya.
Sebelumnya gw saranin yg belum baca bagian I dan II baca terlebih dahulu, karna cerita ini dari sudut pandang Rizal. Mari kita mulai ceritanya!
Rumahku selalu jadi tempat berkumpul dari dulu, dari jamanan sekolah dasar (SD) khususnya aku dan Farhan sudah berteman dekat karna memang Ayah kita juga berteman dekat.
Segala aktivitas sepulang sekolah dll, selalu dihabiskan paling banyak di rumahku ini. Karna memang Ayah sering keluar kota untuk berkeja dan kakaku juga kuliah diluar kota.
Jadi tinggal aku sama Ibu, hal itulah yang menjadikan rumah ini tempat yg paling pas dan suasana jadi tidak terlalu sepi.
“bu, aa pulang dari mana kenapa sakitnya lama tumben bgt?” - tanya Rizal

“pulang kemping bareng temen-temen kuliahnya gak bisa diomongin ibu sih s aa nya” – jawab Ibu

*Aa = panggilan untuk kakak*
Kakak aku, sampai 3 minggu lebih waktu itu mengalami sakit dan sakitnya sama sekali tidak masuk akal, kejadian tersebut sekitar 2010 atau aku masih kelas 1 SMA.

***
Aku dengan spontan mengajak teman-teman untuk liburan apalagi kebetulan ini bulan Mei dan tahun 2012 adalah kelulusan SMA ku, dan karna ada penasaran lebih dengan sesuatu berkemah/ kemping.
makanya aku dengan sangat tumben yang menawarkan acara tersebut, dan memang diantara kami semua belum ada yg pernah juga.
Padahal mereka semua tau, kalau aku diantara merekalah yang paling acuh dan terbiasa ikut saja apa keinginan mereka.

Aku tau mereka semua akan heran dengan apa yang aku sarankan tentang liburan kali ini, Karna ini hal pertama kalinya aku bersuara dari lamanya persahabatan kita.
Tentu juga keinginanku kali ini mendukung untuk dilakukan karna diantara mereka semua juga merasa sudah sangat jenuh juga sangat amat membutuhkan liburan yg sudah lama tidak kita lakukan.
Ketika aku bilang

“liburan yu kayanya enak”

aku jelas melihat raut wajah Farhan, Bagas, Uki dan Dani. Kebetulan waktu itu kita lagi kumpul.
Mereka sangat kaget dan raut wajah itu baru aku lihat, apalagi tempat yang aku ajukan sebuah curug/ air terjun C*******t yg tentu mereka semua tau bahwa tempat itu belum banyak di jamah orang, bertambah lagi raut keanehan dari mereka.
Dengan alasan kuat bahwa liburan ke Curug C********t bakalan menjadikan hal yang sangat seru, ditambah pengalaman yg belum kita lakukan itulah hal logis yang menjadikan liburan dan saran dari aku disetujui.
Dan jujur, bukan karna rasa penasaran aku saja. karna kakak aku pernah mengalami hal-hal yg aneh, menjadikan aku egois untuk menuju tempat itu karna tempat kakak aku dulu beda dengan yang akan aku tuju.
Hal inilah yg menjadikan aku dilema, merasa bersalah, karna akibat dari saran aku kejadian itu terjadi.
Ketika Farhan, Bagas, Uki dan Dani setuju.

“Zal, kamu kasih tau si Beri, Siska, Dian dan Mayang” – ucap Farhan
Aku langsung memberi kabar mereka tentang rencana ini dll, tidak lama mereka langsung setuju dan memustuskan ikut karna memang sebagian besar dari kita juga sudah setuju.
Farhan memberi saran, agar kita semua meminta ijin kepada masing-masing orang tua kita dan menjelaskan tujuan liburan. Langsung sepulang dari rumah aku, karna biar besok bisa merencanakan hal lain.
Farhan, Farhan sahabat kecil dengan sikap yg selalu tidak berubah, bijaksana walau aku tidak pernah memuji dia tapi segala kelakuanya apalagi terhadapku selalu menjadi spesial.
Jika pengertian sahabat banyak kalimatnya mungkin aku hanya akan menyebut nama yaitu Farhan! Karna segala pengertian apa itu sahabat ada padanya.

***
Setelah mereka pulang aku yg harus meminta ijin sama ibu, kebetulan hari ini mereka pulang tidak terlalu larut malam walau sedang libur, karna sama untuk perihal meminta ijin.
“Bu Rizal sama anak-anak mau liburan kemping, boleh?” -ucap Rizal

“Kemping!” – bentak Ibu
Setelah sekian lama baru kali ini ibu tiba-tiba membentaku dengan wajah yg marah dan membuat aku juga kaget.
“Iyah bu kemping bareng anak-anak ke Curug C*******t” - sahut Rizal dengan masih penuh kekagetan dan penasaran kenapa ibu semarah itu.

“Zal, kamu ingat perihal kakak kamu dulu?” – ucap Ibu

“Iyah bu ingat” - sahut Rizal
“Kenapa harus itu liburanya masih banyak pilihan lainkan?” -ucap Ibu

“Iyah bu karna belum pernah aja dan buat Izal bisa nambah pengalaman bareng anak-anak” -sahut Izal

“ibu bisa kasih ijin Izal, tapi Izal bisa janji sama ibu?” -ucap Ibu sembari meneteskan air mata
2 hal yg sudah lama tidak aku dengan dan lihat pertama Ibu tiba-tiba membentaku, kedua Ibu menetaskan air mata.
“apa itu bu?” -sahut Rizal

“Kamu janji ketika pulang tidak seperti kakak kamu dulu harus sakit. Dan ingat pesan ibu ini Izal sudah dewasa tolong jgn buat ibu khawatir.” -ucap Ibu
“Iyah Bu, Izal janji”-sahut Rizal

“Ijin juga sama Kakakmu sebelum berangkat, tlp dulu” -ucap ibu
Ibu selalu ibu yg aku pahami dengan segala kebaikan dia Ijin dari ibu tidak terlalu sulit, walau dengan Resiko yg berat bagiku “ketika pulang jangan seperti kakak harus sakit” aku mengerti sekali dan tau betul perasaan ibu dulu ketika merawat kakak.
Tidak lama obrolan dengan ibu aku langsung tlp kakak aku

“hallo a...” -ucap Rizal

“tumben ada apa? Jgn bilang kamu bikin masalah dan ibu suruh kamu tlp aku buat beresinya!”-sahut Aa
“enggalah buruk aja mulu sangakaan tuh gak asik!”-ucap Rizal

“yakan biasanya gtu!” -sahut Aa

“Ibu udah kasih Ijin buat aku berangkat liburan bareng temen-temen kamping”-ucap Rizal
Belum aku beres ngomong kakak aku sudah memotong dan membentak dengan keras

“Bego! Ngapain? Gak pokonya aa gak kasih ijin sama sekali kemanapun kamu kemping dengan alasan apapun yg masuk akal sekalipun itu konyol! Taukan Aa kaya gimana dulu?!” -ucap Aa
“Kempingnya ke Curug C******”t ibu bilang minta ijin ke Aa terlebih dahulu” -sahut Rizal meneruskan omongannya

“Apalagi kesitu! Itu tempat belum banyak orang kesitu Zal! Masih sepi! Banyak tempat lain! Pokonya Aa gak kasih Ijin bego!” – ucap Aa
“Aku Cuma bilang a! Itu juga menuruti kemaun ibu saja!” -sahut Rizal

Karna tidak mau berujung berantem, dan malah ibu berubah pikiran.
akhirnya aku menuntup tlp dan mengacuhkan omongan kakak aku marah-marah, walaupun aku tau itu semua kalimat yg kakak aku omongkan hanya tentang khawatiran dan pengalaman dia saja.

***
Jumaat malam, 18 Mei 2012

Seperti biasa berkumpul di rumahku, setelah rencana pemberangkatan akan dibagi menjadi 2 karna Beri, Siska, Dian dan Mayang akan menyusul sore harinya. Karna keberangkatan pada hari Minggu itu juga karna keinginanku saja.
Obrolan-obrolan hangat selalu terjadi diantara kita malam terus berlanjut akhirnya mereka pamit untuk pulang terlebih dahulu karna untuk meyiapkan apa saja yg akan dibawa.
Hanya Farhan yg aku tahan tidak untuk langsung pulang karna aku butuh teman menghabiskan kopi dan rokok, sedang menikmati malam, tiba-tiba ada pesan yg membuat aku kaget, setelah aku baca ternyata pesan dari kakak aku.
Singkatnya, dia kasih tau aku kalau tempat tujuan aku kesana dll soal perjalanan, sepi, belum banyak orang datang kesitu bahkan kemungkinan terburuknya bakalan jauh dari nalar dia.
Walaupun akhirnya dia mengajak aku negosiasi agar liburan ini bisa dibatalkan. Namun, tentu aku menolak! Bahkan, tidak satu kata sama sekali aku balas pesan tersebut.
“pesan dari siapa Zal serius amat bacanya?” -tanya Farhan

“biasa kakak aku Han” -sahur Rizal

“Kenapa?” -ucap Han
Akhirnya aku ceritakan, soal kakak aku yg tidak kasih izin soal liburan kali ini. Tapi ibu sudah kasih izin, walaupun Farhan tidak tau apa yg sebenarnya terjadi soal ibu aku sampai menangis dan aku berantem di tlp dengan kakak aku itu.
Sepertinya Farhan tau, kalau aku menyembunyikan sesuatu, tapi dia malah menyakinkan aku bahwa liburan kali ini akan seru dan menjadi pengalaman yg akan terus diingat kita.
Setelah beberapa batang rokok habis tentu juga dengan kopinya, Farhan pamit untuk pulang dan mengingatkan aku untuk segera berkemas menyiapkan segalanya yg akan dibawa, biar besok hari sabtu tidak repot.
Aku masuk ke dalam kamar, dan ternyata ibu sudah ada di kamar aku sedang merapihkan baju-bajuku yg mungkin sore hari sudah Ibu gosok (setrika).
“Ibu, udah malam bukanya tidur...” -sahut Rizal

“bagaimana ibu bisa tidur nyenyak sementara apa yg akan kamu bawa blm kamu siapkan Zal”-ucap ibu

“Hehe.. iyah ini baru mau bu”-sahut Rizal
Ini kebiasan selanjutnya ibu selalu menjadi yg repot ketika aku akan berpergian kemanapun

“Zal..” -ucap Ibu

“iyah bagaiamana bu?” -sahut Rizal

“Kamu ingat ibu nyuruh kamu kemaren malam buat minta izin sama kakak kamu?”-ucap ibu
“Iyah bu ingat”-sahut Rizal

“Ibu nyuruh minta Izinkan? Bukan untuk kalian berantem?”- ucap ibu

“bu.. tapikan ucapan kakak yg awalnya dan memang kakak juga yg memaksa aku harus seperti itu” -ucap Rizal
“Ibu cuma punya 2 anak laki-laki dan ibu harus ikhlas sebagaimana mestinya laki-laki seperti apa, tolong jgn begitu dengan kakakmu. Untuk kepergian nanti, tlp Mang Tahyar biar kamu dan teman2 bisa ikut dia” -sahut Ibu sembari menginggalkan kamar
Aku paham, mereka Ibu dan Kakak hanya memperjuangkan apa yg menjadi khawatiran mereka dan aku yakin itu karna sayangnya padaku, tapi beberapa caranya ada yg salah dengan melarangku.
Sabtu, 19 Mei 2012

Aku yang mengsiasati kumpul hari minggu besok bakalan telat karna sudah kebiasaan, jadinya aku tlp Farhan dan semuanya yg akan berangkat pagi untuk menginap dirumahku. Mereka setuju dan tidak lama mereka kumpul.
Aku jelaskan semuanya, soal keberangkatan ikut mobil Mang Tahyar dll, masalahnya sekarang cuman bagian tenda tapi itu tidak masalh buatku. MerekaMereka semua heran bukan main ketika aku jelaskan semuanya. Karna aku bersemangat atau mungkin ini pertama kalinya aku seperti ini.
Malam itu semua tidur awal, aku liat Farhan, Bagus, Uki dan Dani, sambil memejamkan mata ada penasaran lebih, ada apa dengan C********t ??? itu hanya penasaran normal dan akan menjadi pengalaman saja.
Minggu, 20 Mei 2012

Bagun dari tidur lumayan segar badan ini karna istirahat yg cukup, keberangkatan sesuai pagi kami berlima sudah ada didalam mobil Mang Tahyar beliau adalah sodara dari ibuku.
Perjalanan masih santai disuguhkan dengan pemandangan hijau sekiatar 1-2 jam sudah sampai di lokasi yg aku tuju, turun di jalan utama. Kita semua berjalan kaki dengan jalur menanjak sekali, itu membuat kita lelah amat sangat.
Berhenti di sebuah warung, aku paham beberapa dari teman aku terpancing emosi karna tatapan dari warga yg kita lewati menatap dengan tatapan aneh, apalagi barang-barang yg kita bawa menujukan kita akan bermalam di C*******t itu.
Lama perjalanan bertanya beberapa kali akhirnya kita masuk jalan utama, bertanah, menuju hutan dan hamparan kebun teh hijau, perasaanku langsung dibuat bukan kagum tapi malah takut sekali etah kenapa ini bisa seperti ini,
beda dengan mereka berempat yg keliatan sangat senang. Ketakutan itu bertambah ketika melihat pohon besar sekali, ujung kebun teh yg akan aku lewati itu membuat bulu pundakku semakin merinding.
Beda sangat ketakutan itu seperti semakin dekat. Tapi aku tidak berani sedikitpun menceritakan apa yg aku rasakan kepada mereka semua.
Berjalan terus ditengah-tengah kebun teh membuat rasa takut itu semakin bertambah, apalagi ketika beristirahat sejenak dekat pohon itu. Padahal ini masih pagi sekali.
Aku menatap Dani dan ketakutan yg aneh ini semakin tinggi bahkan aku sampe tidak percaya melihat Dani melamun dengan tatapan kosong seperti dia melihat sesuatu.
“Dan woy!”

Ucapan Farhan itu seketika membuat ketakutan itu hilang padahal Farhan hanya menegur Dani yg mungkin sama denganku karna melihat dia melamun.
“Kita satukan aja barang-barang ini, biar enteng” -ucap Dani seingatku itu

Akhirnya barang-barang kita satukan dengan mengunakan tandu dari kayu yg kuat itu, Dani dibagian depan dan Bagus dibagian belakang.
Karna suasana makin seru ditambah rasa cape yg aku alami, tiba-tiba mereka yg membawa tandu mengucapkan.

“Laa ilaaha illaallah... Laa ilaaha illaallah... Laa ilaaha illaallah... La ilaaha illaalah...“
berkali-kali dan rasa takut aneh yg sebelumnya aku alami semakin bertambah 3x lipat, anehnya untuk berbicara kepada mereka aku tidak bisa!
dan aku sadar, malah mengikuti apa yg mereka ucapkan juga aku sadar ini seperti membawa keranda mayat. Jelas sekali seperti membawa keranda mayat!

#bacahorror #ceritaht #ceritahoror #memetwit
Jujur sekali aku disini antara sadar dan tidak, sadarnya kelakuan itu d lakukan lumayan lama sambil berjalan, tidak sadarnya kenapa aku melakukan hal yg sama.
Semakin aku lawan rasa aneh itu, semakin ketakutan yg sebelumnya terasa, tiba-tiba makin terasa. Dengan sangat tiba-tiba aku menegur mereka semua.
“Apa-apaan kita ini woy!” -sahut Rizal

Anehnya tanggapan mereka sangat biasa saja, seperti tidak ada keanehan apapun sama sekali.
Tidak lama berjalan, Pos Registrasi (pembayaran) sudah terlihat sangat dekat. Aku yg berinisiatif melakukan pembayaran, dan bertanya-tanya. karna yg lain sambil istirahat kecapean sehabis berjalan.
Disitu ada 3 bapak-bapak sekitaran umur 45th – 55th, sedang duduk santai sambil mengobrol

“pak saya mau ke curug, registrasinya disini?” -ucap Rizal

“iyah betul, brapa orang dek?”-sahut bapak1
“9 Orang pak, yg skrng 5 orang sore nyusul 4 orang”-ucap Rizal

“...rb biaya nya, ini mau nginep disini?”-sahut bapak2

“Iyah pak, aturanya gimana?”-ucap Rizal

“Bebas dek sepuasnya”-sahut bapak1
Bebas? Apa ini tidak salah bahkan dengan biaya segitu pikirku dalam hati, tapi aku anggap ini hal yg biasa, mungkin karna tidak terlalu ramai saja.
“Ada pengontrolan pak?” -ucap Rizal

“Ada dek kita tutup nerima pengunjung, jam 4- jam 5 sore kita udah gak ada disini, palingan malam sesekali kita kontrol”- sahut bapak3
Sesekali? Atau mungkin karna jarak yg jauh juga dari pemukiman warga, sehingga pengontrolan dia bilang sesekali.

Tidak ada larangan apapun, yg ada hanya dia menunjukkan bbrapa tempat untuk mendirikan tenda.
Tidak lama beres registrasi, dan mereka bertanya apakah semuanya "sudah"

aku bilang “beres”

suara air sudah aku dengar jelas, hanya tinggal bbrapa menit lagi sampai pada curug C*******t yg akan kita tuju.
Hamparan alami yg disuguhkan oleh alam, memang bukan main indahnya, aku liat beberapa dari teman-teman sangat menikmati, tapi entah kenapa selalu ada rasa takut yg aku rasakan.
Ada beberapa orang juga yg menikmati dengan mendokumentasikan berfoto. Perasaan yang aku ikuti, sangat tidak masuk akal, untuk aku jelaskan dengan suasana di lokasi ini.
Berdiskusi dengan Farhan soal dimana akan mendirikan tenda karna dekat curug tidak mungkin banyak bebatuan. Uki dan Dani akhirnya setuju bahwa mereka akan mencari tempat yg sesuai untuk mendirikan tenda.
Tidak beberapa lama, mereka datang lagi dan mengajak untuk melihat tempat yg akan tenda didirikan, turunan ketiga setelah curug utama. Dibahu sungai malah masuk aliran air dari curug jika airnya besar.
Beberapa perdebatan kecil terjadi, tapi aku hanya setuju-setuju saja karna jujur pohon pinus yg indah tinggi besar ini menjadi daya tarik tersendiri.
Walau dalam hati ada rasa tidak setuju. Karna disini, sejak dari awal tentang kebun teh dan perjalanan menuju kesini perasaan aku aneh sesekali takut, sesekali ceria dan sesekali bahkan dibuat bingung dengan apa yang terjadi ini.
Secara lokasi memang bersebrangan dengan hamparan sawah dan hutan, tapi ketika sebelum turun menuju lokasi dimana tempat itu akan mendirikan tenda.
Aku melihat ke arah curug dalam hati aku berkata

“Habis sudah, jika malam hari terjadi hujan deras, aliran air dari curug datangnya deres, pasti tenda yg akan didirikan disitu akan terseret.”
Tapi, karna keputusan bersama dan bukan musim hujan semua pikiran aku tdi, aku kesampingkan, sambil menuruni disela-sela pohon pinus, memang sudah tersedia jalan yg sudah biasanya orang pakai.
Apalagi aku melihat hamparan hutan yg bisa digunakan dengan gampang untuk mencari kayu bakar.

Setelah tidak ada yang perlu didebatkan lagi, kami berlima sudah ada di lokasi tenda akan didirikan.
Memang lokasinya sangat enak, hanya beberapa langkah sudah dekat dengan air apalagi, ada tempat untuk berendam yg sepertinya tidak terlalu dalam.
Tenda langsung aku dirikan sebagaimana mestinya, tidak memakan waktu lama, setengah hari (13:00) tenda sudah berdiri.
Sambil melepas lelah, aku melihat pemandangan yg memang sangat indah. apalagi dibelakang tenda pohon pinus yg menjulang tinggi hijau itu, menambah kesan yg sama sekali sebelumnya blm pernah aku lihat.
Pengunjung ke curug C*******t makin siang makin lumayan hanya beberapa orang yg aku lihat, mereka akan sangat jelas melihat tenda ini, tapi! Kenapa mereka melihat seperti hal aneh, apa yang salah dengan kami disini? Kenapa melihatnya seperti itu?
Aku kesampingkan pertanyaan aneh itu, aku mengajak Bagus untuk berenang di sungai tenang depan tenda ini.

“ Gus ayo cobain turun ke situ kayanya tidak terlalu dalam.” -ucap Rizal

“Ayo Zal...” -sahut Bagus

“Ayo aku juga ikut...”-sahut Dani

“hati-hati kalian”-ucap Han
Dan benar airnya sama dengan Curug pertama, dingin, sangat enak untuk berlama-lama. Beberapa menit berendam, pandanganku menuju arah Musala yang ada diatas, seperti ada yg memperhatikan aku.
sesekali aku buang tatapan itu, aku menoleh kembali ke arah itu, sialan ada lagi! Sepasang mata hanya mata disamping Musala itu, tanpa badan?! Aku cepat bergegas keluar dari sungai itu, karna penuh penasaran aku tatap lagi sambil berdiri.
"Zal liat kenapa?"- tanya Bagus

"Gpp Gus"- ucap Rizal
Aku tidak berani mengatakan apa yg aku lihat, bukan apa-apa takutnya, suasana happy akan berubah sebaliknya, apalagi disini baru beberapa jam dan akan melewati beberapa malam di tempat ini.
Dari perasaan yang selalu berubah-ubah, sampai ada yang memperhatikan dari jauh, ini sudah cukup ucapan selamat datang dari curug C*******t ini.
Farhan dan Uki bergegas langsung jalan menuju hutan, semntara aku, Bagus dan Dani mempersiapkan bahan-bahan masakan.

Pengunjung lain yg melintas d atas kami hanya beberapa, bahkan terkesan tidak terlalu lama menghabiskan waktu di curug ini, itu yg sesekali aku lihat.
Lumayan lama menunggu Farhan dan Uki, akhirnya dia datang, walaupun aku tau betul Uki orang yang tidak bisa menyembunyikan keanehan karna raut wajah dia (Uki) paling gampang aku tebak.
Entah apa yg sudah dia liat, tapi aku yakin pasti dia juga menyembunyikan apa yang aku sembunyikan.
Setelah memasak lanjut makan membuat kami semua lelah, termasuk aku. Semakin ingin membuang hal-hal aneh yg aku lihat semakin takut perasaan ini.
Rebahan ala kadarnya tidak terasa hari semakin sore, sambil menunggu kedatangan Deri, Siska, Dian dan Mayang yg sedang dalam perjalanan menuju kesini.
Aku melihat hp, ada pesan masuk dari Ibu dan kakak yg isinya sama agar aku hati-hati selalu. Ada juga pesan dari Deri,

“Tai ini bener lokasinya jalanya ksini, udah masuk kebun teh ini bentar lg sampe, kenapa harus ke tempat seperti ini sih Zal, nyesel aku nyusul.” -pesan Deri
“iyah bener, terus aja itu Cuma satu jalur kalau ada yg minta biaya masuk bilang aja yg rombongan 5 orang pagi tadi.” -balas Rizal
Aku sengaja tidak menanggapi penyesalan Deri, karna semua sudah tanggung dan memang dia juga tidak akan terlalu menyesal setelah tau keindahan tempat ini. Aku masukan kembali Hp ke dalam tas.
Hari semakin sore, aku coba bangun untuk melihat sekitaran lokasi, berjalan sendiri ke arah atas diantara pohon pinus, jadi keliatan semuanya.
Apa?! bapak-bapak penjaga sudah tidak ada? Berarti, hanya aku berlima disini! Padahal ini baru jam 16:00. Dan yang membuat aku kaget lagi, di tempat ini hanya kami yang mendirikan tenda, sialan!
Aku turun cepat, menuju tenda lagi.

“kenapa Zal?”-ucap Han

“han disini gak ada orang lagi Cuma kita berlima”-sahut Rizal
“Kan Deri, Siksa, Dian dan Mayang lagi kesini mau nyusul gak berlima dong Zal”-ucap Han

“Tapi Han..”-sahut Rizal

“Udah jangan terlalu diambil pusing kita aman kok karna banyakan dan memang niatan kita kan liburan Zal”-ucap Han
Iyah memang benar apa yang dikatakan Fahran, kita liburan. Ketika aku berbicara dengan Farhan untungnya, Bagus, Uki dan Dani tidak mendengar takutnya mereka berpikir hal yg lain juga.
Aku lanjutkan rebahan dan mencoba untuk membawa pikiranku tetap berpikir positif, sekarang yg terbayang, malah sakit tentang kakaku yg dulu, sialan jgn sampai malah kemana-mana pikiran ini.
Aku di kagetkan dengan suara Deri,

“Zal sialan! Jauh bangetlah ini!”-ucap Deri

“Haha udahlah Der kan tau sendiri kaya gimana”-sahut Rizal

Aku paham betul, karna kelelahan sehingga Deri keliatan amat kesal padaku, tapi itu jadi hal lucu.
Apalagi Mayang yg dengan polos sekali bilang,

“ini beneran serem banget nyesel aku ikut”-ucap Mayang
Walau Farhan langsung menenangkan mereka yang baru saja datang, dan langsung pada istirahat. Setelah itu, kami semua mandi, beberapa lelaki berenang dan yg perempuan mandi di toilet kedua, yg tidak terlalu jauh dari tenda.
Hari semakin larut malam, awan sore yg indah, sinar jingga yg menyusup diantara pohon pinus mulai berganti dengan hitam, iyah gelap hari menuju gelap malam.

***
Minggu Malam, 20 Mei 2012

Seperti saran Siska malam ini kita akan membuat api ungun, sebelumnya masak dan makan. Bahkan gitar dan cemilan sudah disiapkan.
Aku menyiapkan api ungun dari kayu bakar yg sore hari Uki dan Farhan cari. Dan tiba-tiba setelah uki bertanya Dani dimana, semua kaget!
Sebentar, Dani memang dia orang yg keliatan aneh, sedari datang apalagi di kebun teh setelah lamunan itu. Keliatanya selalu melihat sesuatu, tapi dia tidak pernah banyak bicara apa Dani juga menyembunyikan apa yg sebelumnya aku sembunyikan juga?!
Seketika, semua orang mencari, suasana yang tidak aku inginkan akhirnya terjadi, ketakutan itu datang lagi padaku, bahkan aku yg hanya diam, ketika semua orang mencari disekitaran tenda.
Aku jelas sangat jelas, Uki yg berjalan melihat bagian belakang tenda di tempat jemuran dan bilang Dani tidak ada disitu. Deri emosi karna tingkah Dani.

“Tailah orang mau happy2 ada aja tingkah si tolol ini”-ucap Deri

“udah tenang sih der”-sahut Siska
Tidak lama, beneran deri ada dibelakang tenda dan Farhan yg melihatnya!

Bagaimana bisa semua orang mencari, dia (Dani) dimana, bahkan Uki sudah kebelakang tenda tidak ada siapa-siapa, tiba-tiba Fahran yg melihatnya ada disitu? Aku yg hanya berdiampun merasa aneh ini.
Walau Farhan dengan segala sikapnya menengkan dan menyalahkan Uki, kalau Uki mungkin tidak melihatnya, walau itu sama sekali tidak masuk akal.

Sektika Dani ketemu, aku yg sedang diam didepan kayu-kayu yg aku susun, tatapanku ke arah Musala itu lagi.
Sialanya, tatapan dengan dua mata itu ada lagi, bahkan bukan hanya sekedar memperhatikan ini jelas sekali!

Diantara gelap dua mata putih itu sangat jelas, walaupun jaraknya jauh. Aku cepat-cepat memalingkan pandangan dan semenjak itu tidak mau lagi melihat ke arah itu!
Api ungun berjalan dengan seru, tukar cerita, bernyanyi bersama dan rasa persahabatan bahkan ini adalah seperti persaudaraan.
semua terbagun suasana saling memiliki dan memang ini yang aku harapakan dan aku mau.

Jam 10 terang bulan membuat suasana semakin tenang, bahkan suara angin dan suara air dari curug C******t cukup menemani kami malam ini.
Tenda hanya muat 7 orang, perempuan semuanya di dalam. Aku tidur di samping Dani, dan di samping lainya Farhan. Aku tumben terlelap begitu saja.
Sampai aku kaget karna dalam mimpiku atau banyangan tidurku, ibu terlihat menangis, kacau sudah pikiranku, mencoba membuka mata perlahan-lahan entah kenapa kicauan burung yg malah aku dengar.
Aku paksakan terus tidur, aku mendengar seperti suara Farhan dan Dian sedang mengobrol aku buka mata, ternyata benar, aku jadi tenang, aku tidak mau mengganggu mereka, karna aku tau Dian atau Farhan juga punya perasaan lebih diantara keduanya.
Mungkin ini momen bagus buat mereka. Aku terlelap lagi.

Baru beberapa menit tertidur, kaget bukan main suara perempuan tertawa dengan sekali denganku, sementara disampingku adalah Dani, ingin aku buka mata, tapi beneran ini suara yg baru aku dengar sangat jelas.
Dengan tiba-tiba,
“Bangun goblok!” -suara Han

Aku tiba-tiba terbangun karna sumpah itu sangat mengagetkan sekali.

“si Dani tidur malah ketawa-ketawa perempuan lagi”- ucap Han

“Apaan dia tidur harusnya aku juga dengar apalagi aku juga sanping dia Han”-sahut Rizal
Padahal dengan sangat jelas, aku juga mendengar suara itu, sangat jelas bahkan aku juga ketakutan. Tapi, aku tidak mengakuinya kepada Fahran, karna takut malah mengiyahkan apa yg Farhan dengar pikiran dia juga jadi kemana-mana, itulah alasanku tidak jujur pada Farhan.
Aku paksakan tidur kembali, sambil penuh pertanyaan, apakah mereka juga merasakan apa yang aku rasakan malam ini, suara burung yg tidak henti, bahkan ketawa perempuan yg keluar dari mulut Dani, apakah mereka semua mendengar karna itu sangat kencang sekali.

***
Angin pagi aku rasakan begitu kencang, terasa lama sekali menunggu pagi ini, perasaan begitu lega sekali, setelah kejadian semalam yang sungguh membuah ketakutan itu. Aku bangun yg paling awal sekali.

Senin, 21 Mei 2012
Menyalakan kembali bekas api ungun, karna masih tersisa beberapa kayu yg masih bisa digunakan, walaupun agak basah bekas embun, untuk menyeduh kopi dan menangkan pikiran.
Suasana sekitar jauh berbeda ketika malam, kenapa pas malam begitu menakutkan sementara pagi begitu indah. Tidak lama ada 4 orang warga yg menuju sawah disebrang melewati tenda.
Sebentar, tatapan mereka jauh lebih aneh dari tatapan pengunjung kemarin. Seperti ada yang aneh saja denganku ini. Apalagi melihat beberapa yg masih tidur diluar tenda. Tatapan orang-orang itu seperti ingin memakan aku mentah-mentah saja, sampai seperti itunya.
Tidak aku respon bahkan aku memberi senyuman pada merekapun tidak ada balasan sama sekali, orang-orang itu lewat, terus aku berdiri dan lihat ternyata benar petani di sawah sebrang. Mungkin juga warga sekitar.
Tidak lama aku sedang menikmati kopi dan beberapa batang rokok, Deri bangun.

“ada apa semalam Zal, aku denger suara kamu sam Farhan mau bangun sih itu aku cuma capek sekali”-ucap Deri

“Nih kopi, gak ada apa-apa biasa Der tau sendiri Farhan kalau tidur gimana hehe”-sahut Rizal
Kalau Deri bisa tau aku dan Farhan bangun, apa Deri juga mendengar suara perempuan yg keluar lewat mulut Dani.
Satu persatu mereka bangun, perempuan juga bangun, hanya Farhan yg paling terakhir bangun. Semua dengan wajah-wajah kelelahan dan aku harus membuat suasana lebih menyenangkan dari kemari, pikirku.
Kayu yg aku nyalakan untuk membuat air panas jelas tidak cukup.

“Der aku, bagus sama Rizal mau cari kayu dulu”-ucap Uki

“Iyah Ki aku siapin bahan2 masakanya”-ucap Deri

“Ayo berangkat.”-ucap Rizal
Tidak perlu waktu lama kita bertiga sudah masuk ke dalam hutan itu, memang banyak sekali ranting-ranting dan beberapa kayu yg bisa digunakan, mungkin akan lebih banyak lagi yang dibawa untuk persiapan sore dan malam.
“Ki kmren sama Farhan kesini ke arah mana lagi yg banyak kayunya?”-tanya Bagus
“Ke arah sana Gus, ayo..” -ucap Uki

Aku tidak bicara, tapi Uki lebih tau mungkin karna kemarin kan dia kesini juga.
“Aku penasaran Zal sama Gubuk tua disana”-ucap Uki

“Mana Ki?”-sahut Rizal

“Itu tuh, kmren mau kesana Cuma Farhan larang.”-ucap Uki

“Udahlah jangan macem-macem kesana niat kita kan cari kayu bukan kesana”-sahut Bagus
Iyah aku melihat ke gubuk itu lumayan masih jauh tapi sudaj terlihat jelas, tempat apa itu? Ah pikirku itu hanya tempat beristirahat. Semakin aku padang,
aku melihat ada seekor anjing terlihat hanya kepalanya saja, ketika anjing itu mulai maju yg tertutup gubuk itu, dan kepalanya ada dua bahkan tidak ada ekornya!
Apa aku salah liat? Uki dan Bagus sedang mengambil ranting-ranting dengan bergegas juga aku mengambil ranting, aku curi pandang ke arah anjing itu lagi sudah tidak ada.

“ayo Ki, Gus udah cukup segini juga” -ucap Rizal

“Yaudah ayo, laper juga nih”-ucap Bagus
Sambil berjalan menuju tenda, aku paksakan bertanya pada Uki.

“Ki kmren sama Farhan liat engga di Gubuk itu ada seekor anjing”-tanya Rizal
“Iyah Zal liat, warna coklatkan?”-ucap Uki

“Iyah bener tadi aku liat”-sahut Rizal

“Oh kamu liat juga, lucu sih yah mungkin itu anjing yg sudah biasa disitu yah Zal”-ucap Uki
Lucu? Berarti aku yg salah liat barusan, hanya mungkin pikiran aku saja sejak dari kmeren selalu aneh. Aku buang jauh-jauh pikiran itu, walau masih banyak beberapa pertanyaan yg tidak masuk akal.
Sampai di tenda, dilanjutkan masak oleh perempuan dan Deri yg memang jago sekali urusan masak memasak.
“keliatanya cape banget jal..”-ucap Mayang

“Iyah kaya abis ketakutan gtu ih”- sahut Siska

“kalian ini yah cape kan abis cari kayu sebanyak itu, takut kelaparan iyah laper nih hehe”-ucap Rizal

“Haha tai Rizal Rizal bisa aja” -ucap Deri
Semoga mereka bencada tentang melihat aku ketakutan itu, karna hampir beberapa kejadian, selalu ada yang aneh.

Tidak lama akhirnya kita makan pagi dengan nikmat sekali karna kebersamaan itu, setelah makan
“Ayo ke curug yg itu aku kmrenkan belum kesitu ih Zal”-ucap Dian

“Ayo-ayo sambil berendem enak, ajakin Ian yg lainya”-sahut Rizal
Semua berjalan menuju curug utama itu, berjalan nanjak diantara pohon pinus, dan didepan akan melewati Musala itu, iyah Musala yg kmren seperti ada orang yg terus memperhatikan aku itu.
Pas melewati Musala itu sama sekali tidak ada orang bahkan terkesan jarang terawat Musala ini. Jadi kemarin itu siapa?
Hanya Deri dan Dani yg tidak ikut karna kenyang sekali alasan dia tidak ikut mau lanjut rebahan saja.

Suasana sangat sepi tidak ada orang lain selain kita, karna hari senin juga pikirku.
Bahkan aku seperti tidak percaya semalam kita hanya sembilan orang yang berada di daerah kawasan curug ini.

#bacahoror #hororstory #horrorthread
Berendam dengan seru, beberapa kali becanda dengan lepas karna memang air dari curug sangat dingin dan enak untuk berlama-lama disini. Hanya Mayang yg tidak berendam.
“ayo May sini...”-ajak Rizal

“Engga Zal”-ucap Mayang

Aku samperin dia, karna sambil memegang perut, takutnya pengen BAB atau sakit
“Kamu kenapa May?”-tanya Rizal

“Hanya sakit perut Zal?”-sahut Mayang

“Bawa obat?”-ucap Rizal

“Ada kok Zal di tas”-sahut Mayang

“Oh untunglah takutnya kenapa-kenapa hehe”-ucap Rizal

“So perhatian bgt kemana aja...”-ucap Mayang dengan cemberut
Selsai bermain air di curug utama, perempuan berganti pakaian di toilet, dan aku tidak terlalu banyak tanya soal mayang. Dia (mayang) tidak basah kenapa masuk toilet? Tanyaku aneh.
Tidak banyak tanya lagi, aku dan Bagus langsung menuju tenda sementara Uki dan Farhan aku lihat duduk di warung yg tutup itu, entah kenapa mereka, mungkin rehat sejenak.
Tidak lama Dian, Siska dan Mayang sudah sampai di tenda.

“Mana Farhan sama Uki?”-tanya Dian

“Masih diatas tuh di Warung” -ucap Rizal

“Ngapain mereka?”-sahut Dian
Aku bangun dari tiduran, untuk melihat mereka berdua, dan yg aku liat seperti tidak percaya, kenapa mereka bicara berdua menatap ke arah yg sama seperti ngomong sendiri?!
Bulu pundakku langsung berdiri di siang bolong seperti ini, sialan. Ada apa lagi ini, perasaanku semakin tidak enak.

“Liat apa sih Zal”-tanya Siska

“Oh engga itu mereka sedang santai diatas, aku liat pohon pinus indah-indah Sis”-ucapku
Untuk kesiakan kalinya lagi, setiap apa yang aku lihat keanehan2 selalu aku sembunyikan dengan baik-baik, karna tidak mau membuat suasana semakin aneh saja.
Tidak lama Farhan dan Uki turun dan menuju tenda, tidak mau aku bertanya. karna pasti kalau tidak mereka menjelaskan apa yang mereka obrolkan di warung itu, pasti ada yang mereka sembunyikan, dengan cepat aku simpulkan seperti itu.
Dan benar ketika Dian bertanya Farhan dan Uki hanya membalasnya dengan becanda, berati jelas ada yang mereka sembunyikan.
Sekarang aku bisa sangat setuju dengan lokasi tenda karna siang haripun tenda masih teduh karna tertutup oleh pohon pinus yang tinggi.
Bernyanyi, saling bertukar cerita, bahkan bertukar tujuan setelah lulus sekolah ini akan lanjut kemana, saling kasih masukan, suasana yang memang aku rindukan apalagi di alam terbuka seperti ini. Hingga sore tidak terasa sudah datang kembali.
Sepertinya hanya aku yg ingat tentang bapak-bapak penjaga itu, mana mereka hanya terakhir melihat sore kemarin, yg katanya sesekali akan di kontrol ternyata tidak ada juga, lumayan aku kesal juga.
Beberapa dari mereka, mandi sore dan berganti pakaian tebal, karna angin sore sekarang sangat kencang. Aku, mengabari Ibu kalau aku baik-baik saja dan aman-aman saja disini, agar Ibu tenang dan tidak berpikir yg aneh-aneh.
Balasan pesan ibu, cukup membuat aku bahagia, karna kata ibu hari, pagi tadi ayah pulang dan liburnya cukup lama, aku senang karna bakalan jadi cerita yang menarik dengan ayah semua kejadian kemarin malam dan hari ini.

***
Senin malam selasa datang serasa cepat sekali, makan malam bercanda dan bersenang-senang menyayikan beberapa lagu kesukaan kita semua, tapi anehnya suasana jauh lebih tidak enak malam ini. Padahal ini baru jam 10.
Beberapa dari teman aku masuk tenda, tidak lama siska teriak! Aku melihat langsung tatapan Mayang langsung melotot begitu saja. Aku bisa langsung menyangkan Mayang kesurupan!
Berubahlah semua jadi panik, aku berusaha keluar tenda untuk merokok, setidaknya hal itu bisa membuat aku tenang.
Didalam tenda aku dengar percakapan Farhan, Deri, Dani, Siska dan Dian. Yang membuat aku kaget ketika Siska bilang bahwa mayang PMS, deg... Pikiranku jadi kemana-mana apalagi PMS!
Pantesan dari kemarin dia (mayang) datang tidak pernah bermain air, bahkan ketika pagi tadi selepas dari curug dia (mayang) tidak basah-basahan sekalipun dia masuk toilet, aku ingat betul.
Setelah mendengar soal Mayang yg sedang PMS, aku langsung masuk tenda, melihat kondisnya masih saja seperti itu, suara mengeram sesekali tertawa begitu saja, itu cukup menakutkan, tapi aku tunjukan ketenangan agar kondisi tetap aman.
Sialnya lagi, suara burung diatas tenda makin kencang dan sesekali entah suara dari mana, ada tangisan anak kecil, aku tidak paham lagi soal suara-suara itu.
Biasanya Deri paling bisa menyembuhkan hal-hal yang begitu, tapi dia (Deri) makin panik sekali, semakin panik Deri keliatan sekali dari raut wajahnya yg sudah keluar keringat.
Yang tidak aku harapkan akhirnya terjadi! Gerimis mulai datang, angin makin kencang, dan suasana makin mencekam. Untung saja tenda masih kuat menahan angin. Yang aku hawatirkan datangnya air dari curug akan lebih besar, karna gerimis yang makin kencang ini.
Suasana makin panik, semua masuk ke dalam tenda. Aku heran pada Deri tiba-tiba dia menyalahkan aku karna mengajak ke tempat seperti ini, otomatis aku terpancing emosi seketika!
Aku lupa, siapa yg menyarankan untuk membawa Mayang turun ke rumah warga, itu saran yang tidak masuk akal. Karna jalanan jauh, apalagi kondisi gerimis dan angin kencang seperti ini tidak memungkinkan sama sekali.
Farhan dengan segala omonganya aku setuju, untuk mengunakan pencahayaan Hp, karna api sudah mulai padam. Dan menyarankan ada orang, untuk berjaga diluar melihat kondisi air,
takutnya air tiba-tiba datang lebih deras. Dani dan Bagus berjaga diluar tenda dengan mengunakan jaket, yg otomatis akan basah kuyup.
Gerimis bukanya makin reda, malah makin kencang, suara burung bahkan tidak berhenti sama sekali. Suara-suara aneh sudah aku abaikan, pikiranku saat ini bagaimana caranya Mayang bisa sembuh, karna sudah kasian melihat dia begitu terus, semntara kita semua makin bingung.
Farhan bilang, agar kita semua jangan berpikiran yang aneh-aneh dan untuk selalu beroda.
Dan secara tiba-tiba Farhan tau juga kalau Siska PMS, sialan! Aku tambah kesal dan makin kesalnya bukan main, karna Siska beberapa kali ikut berenang! Kesal yang paling kesal dan tidak bisa aku luapkan, karna kondisi sedang seperti ini.
Ini adalah malam terlama yang aku rasakan, sesekali melihat jam di Hp hanya maju beberapa menit saja, aku kasian melihat Bagus dan Dani sambil keujanan, walau hanya gerimis itu pasti sangat kedinginan, apalagi ditambah angin seperti ini.
Dengan jelas Dian menunjukkan ketakutan yang amat sangat, aku sesekali menengkan Dian.

“Dian jgn banyak melamun yah, berdoa”-ucap Rizal

“Iyah Zal siap, dingin bgt ini ya allah”-sahut Dian
Aku tidak tau, tiba-tiba Farhan mengeluarkan Tasbih dalam tasnya, apa emang dia sudah persiapkan? Tapi aku tau betul keluarga dia taat sekali akan agama, tidak lama Farhan langsung berzikir.
Dan aku bantu berdoa sebisanya, lumayan lama Farhan berzikir seketika itu Mayang sadar. Sungguh lega perasaan aku ini. Aku pikir sudah dekat dengan pagi, ternyata masih dini hari.
Melihat keluar Bagus dan Dani yg sudah dari tadi, pasti sangat dingin. Akhirnya aku menawarkan diri untuk gantian, Bagus masih kuat dan katanya tanggung basah, Dani lah yg masuk ke dalam tenda dan aku yang keluar, bareng Bagus.
“Gus sorry yah karna saran dariku ke tempat ini jadinya seperti ini”-ucap Rizal

“Gpp Zal, sudah terjadi, Zal kalau liat apa-apa jangan diomongin yah”-sahut Bagus

“Emang kenapa?”-ucap Rizal
“Dari tadi aku sudah pengen ngehajar si Dani”-sahut Bagus

“Emang kenapa?”-ucap Rizal

“Masa dia sambil ngelamun Senyum-senyum sendiri”-sahut Bagus
Dalam gerimis satu persatu membasahi jaket, aku juga kesal, benar kata Bagus, Dani memang yang paling aneh. Sialnya lagi aku seperti ada yang memperhatikan,
padahal tatapan aku ke arah hutan itu bukan ke arah Musala. Tapi sudah janji dengan Bagus, jika melihat apa-apa jangan diomongkan.
Mayang dan Dian sudah keliatan tertidur.

“Zal nih pake Matras kering buat tiduran, mudah2han gerimisnya mulai reda”-ucap Farhan
Matras itu aku bagi dua dengan Bagus, aku sedikit lega, tapi perasaan bersalah dan ketakutan yang aku terus berani-beranikan ini sangat mengangguku.
Tiduran di luar dengan angin kencang dan gerimis tidak apa-apa, jika sedikit menebus kesalahan aku ini. Gerimis sedikit-sedikit mulai reda, aku melihat bagus sudah tertidur walau aku tau itu pasti sangat dingin sekali.
Aku coba pejamkan mata, baru beberapa menit, terdengar suara

“Ehheemmm..”

Aku yakin itu suara Farhan, aku buka mata dan lihat kedalam tenda, bukan main aku dibuat kesal untuk sekian kalinya oleh Dani dan Siska!
Sempet-sempetnya kondisi sedang seperti ini mereka malah melakukan hal senono yang tidak pantas, bukan aku melarang, tapi kondisi seperti ini.
Pengen rasanya aku hajar si Dani dan menegur si Siska, tapi aku juga kasian dengan kondisi yang lain yg sudah tertidur karna lelah. Aku biarkan saja, walau dalam hati sangat emosi!
Baru saja terlelap, sialnya ada yang tiba-tiba meniupkan hembusan napas ke telingaku ini, bahkan dua-duanya, itu sangat membuat aku kaget.
Aku buka mata dan melihat ke arah curug, demi apapun aku tidak mau lagi melihat ke arah itu, sangat jelas dekat pohon, ada seperti mahluk aneh. Aku paksakan tidur sampai terlelap, sambil menutup kepala dengan kupluk jaketku ini.

***
Selasa, 22 Mei 2012

Hanya ditempat ini aku selalu bangun duluan, ternyata pagi yang aku tunggu sejak malam itu, tiba. itu membuatku sangat lega, semuanya baik-baik saja,
disusul mereka bangun semua, dan Farhan juga. Aku langsung mengajak untuk membereskan barang bawaan dan siapa-siapa untuk pulang.
Tidak lama pagi sekali aku dan sahabatku sudah berjalan meninggalkan tempat ini, Musala itu sudah tidak aku tatap lagi, tempat penerimaan pengunjung juga sama sudah aku lewati. Akan tetapi, aku berjalan paling belakang, seperti ada yang mengikuti, aku tengok kebelakang tidak ada.
Terus saja seperti itu sampai beberapa kali. Karna makin takut, aku susul jalan mereka, aku dipaling depan, sialnya ada lagi perasaan seperti yang mengikuti itu.
“Liat apa sih Zal tengok-tengok belakang terus ih”-ucap Siska

“Tidak Sis...”-sahut Rizal
Walau masih ada perasaan kesal pada Siska dan Dani kejadian semalam itu, sampai pada jalan pulang setapak, yang waktu berangkat kita seperti membawa keranda mayat, bukan main pagi seperti ini bulu pundak tiba-tiba merinding, entah aku saja atau yang lainya juga merasakan!
Beberapa menit berlalu, setengah jam sampailah di kebun teh yang hijau ini, sama seperti ucapan selamat datang dari kebun ini, selalu memberi pemandangan hijau yang menyejukan sekali, apalagi ini masih pagi.
Tapi, Dani seperti melambatkan jalannya entah kenapa. Sampai ditegur oleh Mayang dan Farhan, memang aneh sekali dia.
Sampai di pemukiman warga, lupa aku jam berapa, hampir setiap warga yang melihat kami bergelombol jalan melewati mereka, mereka pasti tau betul bahwa kami sudah bermalam di curug C*******t,
dan mereka selalu mentapa kami seperti heran. Aku yang sudah lelah bakan malas menanggapi hal-hal seperti itu, lebih mengacuhkannya.
Untungnya jalan pulang tracknya turunan, jadi tidak membuat kami jalan kelalahan. Sampai pada jalan utama. Aku langsung menghubungi mang Tahyar dan janjian untuk segera menjemput.
Sambil menunggu mang Tahyar datang, ada warung disebrang jalan, sepertinya cocok sekali untuk beristirahat dan jajan disana. Sampai si Ibu warung juga heran tau kami semua pulang dari curug. Aku hanya tertawa saking lelahnya.
Akhirnya, mobil yang kami semua tunggu datang.

“Pasti berdesakan ini gpp yah”-ucap Mang Tahyar

“Gpp mang yang penting pulang”-sahut Dian
Didalam mobil beberapa orang tertidur.

“Salut amang ama Izal?”-ucap mang Tahyar sambil melaju lumayan kencang

“Kenapa mang?”-tanya Rizal

“Iyah bisa bermalam diatas, di curug itu”-sahut mang Tahyar

“Lah emang kenapa?”-ucap Rizal
“Dulu sekali, jamanan amang masih muda, bapak amang pernah cerita, pernah ada orang hilang disitu Zal.”-sahut mang Tahyar

“Wah yg bener?”-ucap Rizal penuh penasaran
“Alasan ibu Izal melarang kan sebelumnya ngobrol2 dlu sama amang Zal”-sahut mang Tahyar

“Oh itu hanya cerita saja kali mang”-ucap Rizal
Aku tidak mau menambah cerita mang Tahyar dalan pikiranku, saat ini aku hanya ingin pulang dan bertemu dengan ibu untuk meminta maaf, sudah itu saja. Segala apa yang aku tanya pada mang Tahyar, bukan tidak percaya, tapi itu hanya sekedar aku yang sudah lelah.
Lama perjalanan pulang, akhirnya sampai di rumah. Disambut oleh ibu dengan senyuman, aku senang sekali bahkan lega rasanya sudah ada di rumah lagi. Ibu langsung memasak supaya kami semua makan terlebih dahulu sebelum pulang.
Aku bantu ibu memasak di dapur.

“Bu maafkan Izal...”-ucap Rizal

“Sudah yang penting kamu selamat”-ucap ibu
Walaupun aku tau ibu tidak seperti biasanya menatap aku, entah ada apa lagi ini. Siang itu kami semua makan dengan lahap sekali, karna sudah kelaparan mungkin, tapi anehnya aku merasa tidak ada kenyang sama sekali, dan aku yakin mereka juga sama sepertiku.
Setelah makan, mereka semua pamit untuk istirahat di rumah masing-masing.

***
Selasa malam, perasaanku aneh, seperti masih disana, dalam tenda, makan nasi liwet, bahkan suasana rumah masih terasa disana. Anehnya lagi soal makan tidak pernah ada kenyangnya sama sekali. Bahkan saat tidur aku merasa masih di curug C******t.
Rabu pagi, bahkan aku merasa mandi di kamar mandi tapi merasa sedang berenang disana, pikiranku kacau, seperti ada yang memperhatikan terus menerus, sampai aku kesal sendiri.
tiba-tiba Ayah masuk ke dalam kamar karna kemarin belum ketemu Ayah langsung ke rumah nenek. Baru kali ini aku ketemu dengan Ayah.
“bagaimana liburan kemarin Izal?” -tanya Ayah

“Menyesal yah, aku seperti ada disana terus, tapi jangan kasih tau Ibu, takut ibu kecewa, karna aku udah janji pulang dalam keadaan sehat lagi, seperti pas berangkat”-ucap Rizal
“Bagaiamana jika badan kamu sehat tapi pikiran kamu tidak sehat?”-sahut Ayah

“sebelum apa yang kamu rasakan, Batin seorang Ibu jauh lebih kuat dari pada ayah”-sahut Ayah
“Aku merasa kasian sama teman2 yah pasti mereka juga sama sepertiku dan aku yang salah menyarankan liburan kemarin ke curug C******t itu”-ucap Rizal
“Cara menebus kesalahan dengan tanggung jawab Izal, itu yang penting”-sahut Ayah

“coba satu persatu hubungi mereka semua”-ucap Ayah
Iyah benar kata Ayah, sehat badan percuma juga kalau pikiran aku sakit. Semakin mau menghubungi mereka satu persatu semakin ketakutan dari rasa bersalah itu hadir.
Bahkan tiba-tiba aku terbagun malam hari, dan kaget ini sudah rabu malam. Aku lanjut tidur, bangun lagi karna ada bisikan-bisikan tidak jelas, dan suasana disana masih tergambar jelas di rumah sendiri.
Kamis pagi, aku bagun siang sekali, entah kenapa, semuanya aneh, rasanya ingin aku teriak keras kenapa jadi begini.

Aku paksakan tlp Farhan menyuruh dia untuk datang ke rumah, tidak lama dia datang, karna memang rumahnya tidak terlalu jauh dariku.
Farhan juga setuju, bahwa dia merasakan sama seperti aku, masih merasa disana. Farhan menyuruh aku untuk tlp mereka semua. Sampai akhirnya kita kumpul hanya Dani yg tidak ada karna ibunya sakit.
Mayang yang paling menyeramkan, dia cerita bahkan sampai beberapa kali melihat sosok perempuan di kamarnya.

#bacahoror #horrorstory #horrorthread
Sedang asik ngobrol, tiba-tiba Ayah memanggil aku.

“Gimana yah?”-ucap Rizal

“Ayah tidak sengaja menguping obrolan kalian, ternyata separah itu”-sahut Ayah ngomong seperti itu dekat Ibu
Bahkan ibu hanya berkaca-kaca saja terlihat jelas di matanya, rasa bersalah semakin besar dalam diriku, semuanya salah aku, andai liburan itu tidak terjadi.
“Begini, ayah sudah tlp kang Diki, sekarang malam ajak semua teman kamu itu ke rumahnya yah.”-ucap ayah
Sambil menunggu waktu malam, selepas Isya kita semua tidak ada yang berani bertukar cerita sama sekali. Waktu yg ditunggu tiba, kita semua langsung bergegas menuju rumah kang Diki.
Kamis malam itu, ternyata kang Diki juga sudah menunggu, karna sudah janji sama Ayah.

Kang Diki merasa gatal tenggorokan menunggu kita datang, entah apa maksudnya. Bahkan aku juga tidak paham sama sekali.
Tidak lama kang Diki menanyakan mana satu lagi teman kita, aku jawab dia (Dani) sedang sakit. Bahkan kang Diki menyuruh untuk dijemput, karna kasian dia (Dani) yang paling parah.
Aku jemput Dani bareng Farhan, dan langsung menuju rumah kang Diki kembali. Kang Diki langsung bertanya lengkap semua kejadian, sambil menyiapkan Aqua 1,5lt.
Apa yang ditanyakan kang Diki semuanya benar, perempuan cantik di kebun teh, Dani yang melihat. Bahkan kang Diki bilang itu sangat cantik sekali.
Deg... Aku kaget dan pantas saja Dani orang yang paling aneh.

Kemudian, kang Diki bertanya ada yang melihat orang-orang membawa keranda mayat. Tidak lama Dian langsung mengaku bahwa dia melihat.
Berarti, paginya aku berlima yang melakukan hal itu sorenya Dian dalam perjalanan menuju tenda yang melihat orang-orang itu.

Kenapa bisa seperti itu pikirku.
Kang Diki melanjutkan pertanyaan lainya, bahkan Deri mengiyahkan bahwa dia (Deri) melihat penampakan di pohon pinus. Itu aku merinding bukan main.
Aku yakin sekarang semuanya hampir melihat kejadian aneh di tempat itu.
Kang Diki menegaskan bahwa semua itu salah kita juga, karna tidak adanya permisi, minta izin, dan kesopanan lainya yg tidak kita lakukan. Aku sadar hal ini dan mengakui semua kesalahan aku itu.
“Apalagi disitu ada sebuah kerajaan yang kebetulan sekali saat kalian disana adalah perpindahan bulan Jumadil akhir ke bulan Rajab, apalagi awal bulan tanggal 1 rajab” -tiba-tiba kang Diki berhenti tidak melanjutkan omonganya.
Apalagi Dani memang baru aku ingat dia itu Lempeuh Yuni (gampang merasakan dan melihat hal-hal yang berbau gaib) dan memang kan Diki juga membahas hal itu.
Kemudian kang Diki sampai tau ada yang PMS ikut berenang, karna kata kang Diki itu bisa mengundang karna bau dari darah itu. Iyah aku bahkan setuju, aku mengakui bahwa kang Diki bisa tau semuanya.
Kang Diki menawarkan untuk membuka semuanya, dengan segala resiko kita semua siap dan menuruti apa yang kang Diki mau.

“Mereka mau kalian semua ada disana terus, Mereka ingin kalian kembali, dan kalian ada disana selamanya”- ucap kang Diki
Itu membuat aku kaget bukan main kaget sekali mendengar ucapan kang Diki itu. Sampai segininya ini salah aku.

Dibantu oleh kang Diki menuruti apa yang dia ucapkan bacaan ayat suci Al-quran, kita semua mengikutinya dengan perlahan. Setelah itu.
“Kalian selama hidup jangan kesana lagi yah”-pesan kang Diki

Bahkan kang Diki bertanya siapa yang melakukan tindakan senono dalam tenda, semua langsung saling tatap, hanya aku dan Farhan yang biasa saja karna sudah tau siapa. Untungnya, kang Diki tidak menyebutkan nma siapa.
Aku langsung dengan Farhan mengatarkan Dani pulang dan ikut membantu Dani melakukan apa yang disuruh kang Diki, itu sangat aneh sampai akhirnya suara tertawa itu ada lagi ketika dani selsai membacakan apa yang di suruh kang Diki.
Kang Diki menyuruh kamu beberapa hal, dan kami akan lakukan, terutama aku. Karna sebelum pulang aku bertanya dulu ke kang Diki soal anjing itu, dia bilang tidak apa-apa.
Lalu aku bertanya apa awal satu rajab itu ke kang Diki, dia bilang pelan.

“Itu malam dimana alam lain melakukan ritual”-ucap kang Diki
Deg... Berarti kita semalam disana saat itu bertepatan sekali dengan hal-hal seperti itu. Untungnya bisa pulang. Ketidaksengajaan yang berujung celaka seperti ini dan ini adalah ulahku kebanyakan, karna aku yang mengajak mereka kesana ke curug C*******t
“semoga sembu dan semua normal kembali yah Zal, salam pada ayah”-ucap kang Diki

Mayang, Siska dan Dian berpisah di Rumah kang Diki, kemudian lelaki langsung menuju rumahku, untuk melakukan apa yang disuruh kang Diki.
Setelah semuanya selsai, semua bubar menuju rumah masing-masing memang sudah terlalu malam juga, bisa dilanjutkan kemudian hari untuk melakukan hal gila lagi.
Baru mau masuk ke kamar, kamis malam itu.

“Bagaimana zal udah beres?”-ucap Ibu

“Udah bu Alhamdulillah, Bu maafkan Izal yah”-sahut Izal

“Iyah udah gpp lain kali jadikan pelajaran yah nak”-ucap Ibu
“Iyah bu Izal janji”-sahut Rizal

“bagaiaman dengan ayah bu?” -tanya Rizal

“Itu ayah nunggu kamu dibelakang”-ucap Ibu
Sungguh aku belajar banyak tentang janji bukan dengan siapa-siapa malah dengan ibu sendiri walau aku beda dengan kakak aku, aku pulang sehat tapi masalahlah yang bikin jadi sakit. Setidaknya, aku sudah belajar janji pada Ibu.
“Yah maafkan Izal”-sapa Izal

“Tidak apa jika semua bisa belajar dari kesalahan kenpa tidk Zal”-ucap Ayah

“Bagaiamana menghilangkan rasa bersalah yah?”-sahut Rizal

“Minimal tidak melakukan kesalahan yang sama itu lambat laun akan menghilangkan dengan sendirinya” -ucap Ayah
Sampai hari ini 7 th berlalu, rasa bersalah itu hilang, hilang tidak sempurna. ketika aku kembali mengingat kejadian itu, rasa bersalah itu kemudian perlahan datang kembali.
Kejadian curug C*******t menjadi bahan candaan ketika aku berkumpul dengan mereka, apalagi aku selalu paling semangat, tidak apa jika kejadian buruk untuk menjadikan aku jauh lebih baik, itu pilihan baik juga.
Persahabatan kami tetap berlanjut, dengan kondisi yang berbeda, kesibukan berbeda, tapi tetap pada kasih sayang sesama sahabat yang sama.

-----------------------------------------------------
Terimakasih gw ucapkan pada pemilik cerita Rizal (nama samaran) yang sudah mau gw tulis ceritanya, walau beberapa hari telat banget gw tulis, karna keterbatasan komunikasi yang selalu bentrok.
Bahkan gw hanya via tlp untuk mendapatkan cerita ini. Suatu saat kita harus bertemu kang! Salam hormat.
Sorry juga, untuk pembaca jika banyak typo atau penulisan yang tidak di mengerti. Seperti biasa semoga cerita ini banyak pelajaran dan biarkanlah cerita ini menjadi sebagaimana mestinya dipikiran kalian yang membaca.
Dan untuk yg punya cerita menyeramkan, boleh berbagi dengan gw di DM kalau percaya gw tuliskan ceritanya, untuk dibaca banyak orang. DM gw terbuka untuk kalian.

-------------------------------------
Typing something scary and sharing lessons, enjoy, be careful he is beside you!!!

sampai jumpa di cerita selanjutnya, salam.

@bacahorror @InfoMemeTwit @ceritaht

#bacahoror #infomemetwit #ceritaht

[ #qwertypingstory ]
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with qwertyping

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!