, 93 tweets, 16 min read
My Authors
Read all threads
Malam itu saya dan Diandra, istri saya, pulang ke Bekasi. Seperti Jumat-Jumat lainnya, arus jalan raya selalu tidak bersahabat di jam-jam prime time.
Untungnya kami dapat driver GoCar yg menyenangkan. Pak Arif namanya. Lelaki paruh baya berusia 45 tahun lebih. #ceritahorror
Sepanjang perjalanan beliau dengan asik menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya, mulai dari 8 tahun kariernya sebagai staff di salah satu manufaktur makanan terkenal di Indonesia, sampai akhirnya menjadi manager di sebuah perusahaan katering khusus maskapai penerbangan.
Sampai pada suatu saat tiba-tiba beliau berkata, "Mas, percaya sama hantu?", Spontan saya langsung terdiam menoleh ke istri yg ternyata jg terkejut sambil melihat saya.
"Emang kenapa Pak?", Tanya Diandra yg penasaran dengan pertanyaan Pak Arif sebelumnya.
"Gak apa apa, saya cuma inget aja dulu pengalaman saya waktu masih jd driver Uber...", Jawabnya tenang sambil tertawa kecil.
"Pengalaman Bapak?", Tanya saya yg jadi semakin penasaran.
"Iya, duluu banget... Ada kayaknya 5 tahun lalu",
"Emang Bapak kenapa?", Lanjut saya penasaran
"Gini mas..."

Ok, mulai dari sini saya akan ganti sudut pandang ceritanya ya.
Dan seperti biasa, sebelumnya saya akan menyamarkan nama-nama tokoh (kecuali Pak Arif), tempat dan instansi terkait untuk menghindari ketersinggungan.

Dan satu lagi...
Cerita dari Pak Arif ini mungkin akan sedikit sensitif karena ternyata berhubungan dgn sebuah kasus kriminal yg saya tidak tahu kedalaman kasusnya. Kenapa begitu? Yaah, itu sih menurut Pak Arif ya... Karena saya kurang tau jg kebenarannya.
So, bisa kita mulai?
Pria itu bergegas turun dari mobil avanza yg telah diparkirnya di ujung jalan. Ia berlari kecil dengan jaket kulit berwarna hitam yg diletakan di atas kepalanya, berusaha menutupi kepalanya dari hujan deras yg mengguyur jalanan malam itu.
Matanya tertuju pada sebuah warung kopi kecil yg terlihat cukup ramai.
Tak berapa lama, ia sudah berdiri di depan warung kopi tersebut, diliriknya ke dalam namun tidak ia temukan ruang kosong untuknya duduk pada dua bilah bangku panjang yg sudah terisi penuh oleh tamu lainnya.
Ia pun hanya bisa berdiri di depan pintu masuk, sekedar untuk berteduh dari hujan yg sangat deras itu.
"Pak...", Seketika suara perempuan paruh baya yg disertai dgn tepukan di bahu sebelah kirinya mengejutkan Pak Arif. Ia pun spontan menoleh ke arah perempuan tersebut.
"Duduk aja Pak di dalem sini", seru perempuan tersebut menawarkan bangku yg berada di sisi bagian dalam meja warung itu.
"Walah, boleh Bu di situ?", Tanya Pak Arif sungkan,
"Gak apa Pak, kosong jg...", Sahut si Ibu warung.
Mendengar itu, Pak Arif segera menuju tempat yg dimaksud
Pak Arif adalah seorang wirausaha dalam bidang UKM komoditi pokok. Sebelumnya beliau bekerja di beberapa perusahaan besar di Indonesia. Namun kini beliau lebih memilih untuk memiliki sebuah usaha kecil dengan beban pikiran dan tanggung jawab yg lebih ringan dalam sudut pandangnya
Terkadang jg beliau mengisi waktu senggangnya dengan menjadi supir taxi online, seperti yg sedang ia jalani saat ini. Sebuah pekerjaan yg menurutnya menyenangkan untuk dijalani. Santai, bebas, namun bisa menemukan banyak hal baru dari orang-orang baru jg tentunya.
"Mau minum apa Pak?"
"Susu jahe ada Bu?"
"Ada... Saya buatin dulu ya",
Pak Arif merogoh kantong celananya, mengambil hp android nya berniat mematikan sementara aplikasi taxi online miliknya. Namun tepat ketika ia membuka aplikasi tersebut, sebuah notifikasi pesanan muncul.
"Orderan Pak?", tanya seorang pria dewasa yg duduk tepat di depan Pak Arif dan mendengar suara notifikasi tersebut.
"Iya nih mas...", Jawab Pak Arif tersenyum
"Minum dulu aja Pak, sayang udah pesen. Lagian hujannya masih deras banget!", Sahut pria lainnya di sisi bangku berbeda
Sepertinya warung kopi itu tengah dipenuhi oleh para driver taxi online yg sedang mencari tempat untuk rehat sejenak dari aktifitas mereka.
Pak Arif memeriksa data orderan di hp nya, ia ingin memastikan data pemesan dan lokasi penjemputan serta pengantarannya.
Tiba-tiba sebuah pesan atas nama Sinta masuk di kolom chat order,
"Malam Pak, saya masih ada kerjaan sebentar. Bisa berangkat sekitar 20 menit lg?",
"Alhamdulillaah, pas banget... Jadi bisa minum susu jahe dulu", ucapnya dalam hati.
"Baik Bu. 10 menit lg saya brgkt", tulisnya
"Ok", jawab Bu Sinta si pemesan dengan singkat.
"Ini Pak susu jahenya...", seru Ibu warung sambil meletakan segelas minuman hangat di meja tepat di hadapan Pak Arif,
"Makasih ya Bu...", sahut Pak Arif menjawab si Ibu warung.

***
Sudah 15 menit berlalu, perjalan Pak Arif menuju lokasi penjemputan masih terhambat oleh kemacetan ibukota ditambah dengan derasnya hujan yg tak kunjung reda.
"Udh smp mana Pak?",
tulisan dalam kolom chat aplikasi membuat Pak Arif menjadi tidak tenang.
"Saya sdh di Kemang Bu. Macet sekali. Maaf y Bu", jawab Pak Arif membalas pesan itu.
"Iya Pak, saya tgg ya."
Perasaan Pak Arif jadi tidak enak karena harus membuat pelanggannya menunggu lama, namun sebenarnya ada hal yg lebih membuat pikirannya tidak menentu. Lokasi penjemputan.
Ya, lokasi penjemputan pelanggannya kali ini terbilang "menyeramkan" bagi Pak Arif. Bagaimana tidak, beliau harus menjemput pelanggannya di perumahan yg terletak di dalam area pemakaman Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
Namun dedikasi tingginya mengalahkan perasaan "ngeri" si Bapak.
15 menit berselang, mobil Pak Arif kini memasuki area parkir pemakaman. Ia mengarahkan mobilnya memasuki jalanan sempit di depannya dengan plang penanda adanya perumahan di ujung jalan tersebut. Dengan rasa khawatir ia melihat ke sisi kanan dan kiri, memperhatikan tiap detailnya
Sebuah taman dengan ayunan yg tenang tidak bergeming di sisi kirinya, di sisi kanan terlihat pepohonan rindang yg basah tersapu hujan yg semakin deras dan angin yg begitu kencang membuat suasana saat itu semakin mencekam bagi Pak Arif. Ia tetap berusaha tenang.
Dinyalakannya lampu jauh mobil, terlihat ujung jalan yg memang sepertinya merupakan area perumahan. Bukan seperti perumahan biasa, hanya seperti pemukiman penduduk yg jumlahnya tidak terlalu banyak.
"Saya sdh smp Bu", ketik Pak Arif pada kolom chat kepada pelanggannya
"Iy Pak saya kluar", balas pelanggan tersebut.
Pak Arif segera menepikan mobilnya pada sebuah rumah yg dilihatnya cukup ramai. Sepertinya sedang ada pengajian di rumah tersebut. Beberapa org yg keluar dari rumah itu mengenakan pakaian kerudung dan peci.
Beberapa menit berlalu namun tak kunjung terlihat jg batang hidung sang pelanggan.
"Bu, saya di dpn rmh yg ada pengajian y", tulis Pak Arif yg berusaha memberitahu posisinya kepada Bu Sinta. Namun pesan Pak Arif kali ini tidak lgsg dibalas seperti sebelum-sebelumnya.
Sesekali Pak Arif menoleh pada sebungkus rokok Dji Sam Soe yg tergeletak di atas dashboard mobilnya. Udara dingin oleh AC mobil dan hujan di luar rasanya akan sangat terbantu dengan isapan-isapan rokok favoritnya. Namun ia mengurungkan niatnya setelah mendengar bunyi chat masuk
"Rmh mana Pak?", tanya Bu Sinta pada kolom chat aplikasi
"Rmh yg lg ada pengajian Bu", balas Pak Arif. Namun kembali, pesan Pak Arif tidak lgsg dibalas oleh si pelanggan. Pak Airf melirik ke arah jam tangannya yg menunjukan pukul 20:33 WIB.
Merasa ini akan berlangsung lama, ia kemudian memundurkan sandaran tempat duduknya, melepaskan kopiah di kepalanya dan meletkan kopiah tersebut di menutupi wajahnya berusaha untuk mengistirahatkan matanya sejenak.

***
Dok... Dok... Dok...!

Seketika suara ketukan di kaca mobilnya mengejutkan Pak Arif. Ia pun terbangun dan mencari sumber suara tersebut. Dilihatnya seorang pria muda berdiri di sisi kiri kaca mobilnya sambil memegang payung yg melindungi pakaiannya dari hujan.
Pak Arif membuka kaca mobilnya sedikit,
"Nunggu orang Pak?", tanya pria tersebut kepada Pak Arif.
"Iya mas, nunggu customer nih...", jawab Pak Arif
"Oalah driver online ya Pak? Atas nama siapa pesanannya? Itu yg di dalem pada nunggu drivernya, biar saya coba tanyain",
"Atas nama Bu Sinta, mas", jawab Pak Arif lg
"Hah? Sinta? Sinta siapa?"
"Sebentar saya cek mas", sahut Pak Arif sembari lgsg membuka kolom chat di aplikasi taxi online nya.
"Ini mas...", ucap Pak Arif sambil menunjukan nama pelanggannya kepada si pemuda tersebut.
"Astaghfirullaah... Ini mah nama org yg di tahlilin Pak!", ucap pemuda itu dengan ekspresi terkejut,
"Tahlilin?", tanya Pak Arif Bingung,
"Iya Pak, ini tuh udah hari ke-3 org-org pada tahlilan... Jenazahnya baru ketemu 3 hari lalu", jelas si pemuda itu.
Tidak percaya dgn apa yg ia dengar, Pak Arif turun dari mobilnya bergegas berlari ke depan rumah yg masih cukup ramai tersebut. Terlihat masih ada beberapa org yg masih duduk-duduk di teras yg tertutup tenda. Ia berjalan menghampiri laki-laki tua yg sedang duduk sendiri
"Maaf Pak, numpang tanya...", sapa Pak Arif kepada laki-laki tua tersebut. Laki-laki itu pun menoleh ke arah Pak Arif sambil menghisap rokoknya.
"Ini yg meninggal siapa ya Pak?", lanjut Pak Arif menyambung pertanyaannya
"Anaknya Pak Dayat", jawab laki-laki tua itu singkat
"Namanya Pak?", tanya Pak Arif lagi,
"Siapa ya lengkapnya... Panggilannya mah Sinta. Tuh, ada tulisan nama lengkapnya di samping pager", jawab sang laki-laki tua sembari menunjuk pada sebuah plang tulisan di tembok di samping pagar rumah.
Pak Arif segera berjalan menuju ke tempat plang tersebut usai mengucapkan terima kasih pada sang laki-laki tua. Dilihatnya nama yg tertulis di plang dari bahan kertas itu. Pak Arif kembali memeriksa hp nya untuk memastikan nama yg tertulis, dan benar saja... Namanya sama!
"Telah berpulang ke Rahmatullah Putri, keponakan, saudari kami yang bernama Sinta Widyastuti"

Betapa terkejutnya Pak Arif membaca tulisan tersebut. Ia segera berlari kembali masuk ke mobilnya. Ia bergegas menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan lokasi tersebut.
Ia kembali menyusuri jalanan sempit yg ia lalui sebelumnya. Kondisi hujan yg tadi mulai reda kini kembali deras. Angin pun kembali berhembus kencang seperti semula ketika ia menyusuri jalanan itu saat pertama datang. Aneh, melihat taman yg tadi dilaluinya.
Ayunan yg tadi diam tak bergeming kini berguncang kencang tertiup angin. Nalarnya mulai berjalan. Kenapa ayunan itu tadi tidak bergeming saat dia datang, padahal angin sama kencangnya seperti saat ini? Seolah ada yg mendudukinya.
Tiba-tiba Pak Arif menghentakan rem mobilnya. Ia terkejut melihat rombongan orang-orang yg melintas di depan mobilnya sambil membawa keranda mayat. Bulu kuduknya kini berdiri sejadi-jadinya. Siapa yg mau menguburkan jenazah ditengah hujan deras seperti ini? Ditambah ekspresi...
...mereka yg terlihat datar dengan kulit pucat yg terlihat sangat jelas ketika terpapar cahaya dari lampu mobil Pak Arif.
Ia hanya mampu berdzikir di dalam hati. Semua bacaan doa yg ia hafal diucapkannya, mencoba untuk meredakan rasa takutnya.
Seusai rombongan itu melintas, Pak Arif bergegas kembali menancapkan gas mobilnya meninggalkan komplek pemakaman tersebut dengan perasaan yg tidak menentu

***
Kurang lebih tiga puluh menit Pak Arif berlalu meninggalkan komplek pemakaman tadi, namun keanehan masih saja berlanjut. Bahkan sampai saat ini Pak Arif masih berputar di sekitaran area Jeruk Purut. Ia berusaha mengarahkan mobilnya menuju ke gardu tol terdekat, namun selalu gagal
Entah kenapa, seolah banyak jalur yg tertutup dari pengelihatannya dan jalur itu itu saja yg ia lihat dan dapat ia lalui. Dan jalur itu selalu mengarahkan mobilnya kembali ke gerbang komplek pemakaman tadi.
Di sisi lain, selama tiga puluh menit berlalu, sudah 3x panggilan...
...telpon dari nomor telpon yg sama masuk ke hp nya. Ya, nomor yg sama dengan nomor milik Bu Sinta yg tertera pada aplikasi taxi online nya tadi. Perasaan tidak nyaman Pak Arif membuatnya tidak berani mengangkat panggilan tersebut, bahkan ia pun belum sempat membatalkan order itu
Setelah dirasa sudah terlalu lama ia berputar pada area yg sama terus-menerus, dan dirasa sudah lelah dengan situasi ini, akhirnya Pak Arif memutuskan mengangkat panggilan yg ke-5 kalinya dari nomor tersebut.
"Ha-Halo...", ucap Pak Arif terbata berusaha menahan rasa takutnya
"..."
"..."
Namun tidak ada balasan dari sisi lain telpon itu. Hanya beberapa suara bising seperti suara mesin atau kompresor yg menyala tak jauh dari sang penelpon.
"Halo... Bu...?", sapa Pak Arif lagi
"..."
"..."
"Pak...", terdengar suara lirih dgn nada yg sangat pelan
"Tolong Pak, jemput saya di sini... Saya sedang hamil Pak...", ucap suara dari sebrang telpon
"Bu, tadi saya udh sampe tapi Ibu nggak ada. Ibu sebenernya dimana sih?!", sahut Pak Arif dgn nada yg agak tinggi mencoba memberanikan diri
"Saya di Balai XXX Pak, di Pancoran..."
"Pancoran?! Gak salah Bu? Kan titik penjemputan Ibu di TPU Jeruk Purut itu...!"
"..."
"..."
"Tolong Pak... Saya sedang mengandung... Di sini hujan deras... Saya sudah basah kuyub... Dingin Pak di sini..."
"Yaa coba Ibu ganti dulu titik penjemputannya Bu. Agak jauh dari sini Bu"
"..."
"..."
"Tolong Pak... Di sini dingin..."
"Ya saya nggak tau itu di mana Bu, saya bukan org sini. Ibu rubah dulu titiknya", ucap Pak Arif berusaha tetap menjelaskan,
"Tolong Pak... Dingin..."
"Maaf sebelumnya, saya mau konfirmasi dulu. Ini bener dengan Bu Sinta kan?!"
"..."
"..."
"Halo...?", sapa Pak Arif lg berusaha mendapatkan jawaban. Namun aneh, tiba-tiba saja panggilan telpon itu terputus. Lebih tepatnya, seperti dimatikan dari sisi sebrang panggilan tersebut. Di saat yg bersamaan sebuah notifikasi muncul di layar hp nya,
menyebutkan bahwa pesanan tersebut telah dibatalkan oleh sang pemesan. Melihat itu perasaan Pak Arif mulai sedikit tenang. Ia menghembuskan nafas panjang lega sembari menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobilnya.
Baru saja Pak Arif bisa menyandarkan kepalanya untuk beristirahat sejenak, sebuah notifikasi pesanan kembali muncul pada aplikasi taxi online nya.
Berharap mendapatkan order dgn tujuan yg searah pulang, Pak Arif justru tersentak seketika membaca pesan masuk dari si pemesan.
Tertulis di kolom chat atas nama Novia, "Malam Pak, tolong jemput saya di Balai XXX di Pancoran ya", lokasi yg sama dgn lokasi yg disebutkan oleh Bu Sinta tadi!
Tanpa pikir panjang Pak Arif segera membalas, "Maaf Bu, saya sdh off. Tlg cancel saja".
Namun bukan pembatalan order yg Pak Arif dapatkan malahan sebuah panggilan telpon dari nomor tak dikenal.
Pak Arif lgsg menjawab panggilan itu berharap dari sang pelanggan, ia ingin meminta agar pesanan itu segera dibatalkan.
"Halo!", sapa Pak Arif,
"..."
"Pak..."
Entah kenapa, seketika saja bulu kuduk Pak Arif berdiri mendengar suara tersebut. Suara lembut seorang perempuan yg terdengar lirih dgn nada yg sangat pelan. Mirip sekali dgn cara bicara pelanggan sebelumnya, hanya saja suaranya berbeda.
"I-Iya Bu...?", jawab Pak Arif terbata
"Tolong jemput saya ya Pak, saya tunggu...", ucap perempuan disebrang telpon.
"B-Bu maaf, posisinya terlalu jauh", jelas Pak Arif pada perempuan itu.
"Tolong Pak... Saya lg hamil...",
"Hamil juga?! Yg bener aja dari tadi dpt penumpang kayak gini!", keluh Pak Arif dalam hati.
"Maaf Bu Novi, saya...", belum sempat Pak Arif melanjutkan tiba-tiba panggilan itu pun terputus.
"Aneh, baru jg nyebut nama langsung di...", gumaman Pak Arif seketika terhenti. Ia baru menyadari 2 pelanggan terakhirnya yg cukup aneh bin ajaib itu selalu memutuskan...
...panggilan setiap kali nama mereka disebut. Sebuah hal yg tidak wajar. Tidak normal. Benar-benar di luar nalar Pak Arif. Ada apa dengan nama mereka?!
Beberapa menit berselang, lamunan Pak Arif kembali terpecah dgn notifikasi orderan baru di aplikasi taxi online atas nama Fitri
Tanpa pikir panjang, Pak Arif langsung mengetik pesan pada kolom Chat,
"Mlm bu Fitri...", tulis Pak Arif lgsg menyebutkan nama sang pemesan untuk memastikan bahwa itu adalah order yg berbeda dari 2 order sebelumnya. Namun seperti dugaan Pak Arif,
tiba-tiba saja pesanan itu dibatalkan. Setelah 3 kejadian pesanan "aneh" yg dialaminya itu, Pak Arif yg merasa harus mengistirahatkan mentalnya sejenak akhirnya memutuskan untuk mencari sebuah warung kopi, untuk menenangkan pikiran dan hatinya.

***
"Mungkin bukan jin atau sejenisnya kali Pak...", celetuk Diandra dengan tatapan matanya yg terlihat cukup penasaran memandang ke arah Pak Arif yg sedang menyetir.
"Awalnya juga saya mikir positif gitu mba, cuma kan ngeri juga ya... Gimana coba rasanya pas hujan2 dpt order begitu"
sahut Pak Arif kepada istriku yg masih menyimak dgn seksama.
"Tapi abis itu aman kan Pak?", tanyaku melanjutkan.
"Nah itu dia mas! Pas saya baru mulai jalanin mobil lg tiba2..."
.
.
.
.
.
Baru saja mobil Pak Arif berjalan, tiba-tiba terdemgar kembali sebuah notifikasi dari hp androidnya yg berada tepat di depannya. Untungnya pesanan kali dari datang dari seorang laki-laki muda atas nama Satrio. Sebuah pesan di kolom chat pun masuk dari sang pemesan,
"Malam Pak, saya di Menara 46 Antasari ya. Nanti tolong tunggu di lobby aja",
Pak Arif yg masih agak ragu untuk menerima pesanan berfikir sejenak sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membalas pesan tersebut.
"Mlm mas, saya msh di ampera mct. Agk lama gk apa?"
"Gpp Pak. Nanti blg aja sama security nya nunggu mas Satrio", melihat pesan yg terkesan meyakinkan Pak Arif pun memutuskan untuk mengambil pesanan tersebut,
"Ok mas. Saya menuju lokasi."

***
Pak Arif mengarahkan mobilnya ke kiri memasuki sebuah gedung perkantoran, tepat di depan gedung tersebut seorang pria berseragam putih hitam lengkap dengan topi satpamnya menghentikan mobil Pak Arif. Ia pun segera menyapa Pak Arif yg membuka kaca mobilnya dgn pose hormat yg khas,
"Selamat malam Pak", sapa security itu,
"Malam Pak, saya dari Uber mau jemput mas Satrio...", sahut Pak Arif menjelaskan.
"Oh iya, Pak Satrio sudah menunggu di lobby", jawab security tersebut sembari menunjuk ke arah seorang pria yg tengah berdiri di depan pintu lobby gedung.
"Terima kasih Pak", jawab Pak Arif yg kemudian segera mengarahkan mobilnya menuju lobby. Terlihat seorang pria muda, berperawakan tinggi dan atletis dgn jaket bomber cokelat yg ketika itu belum se-trend sekarang, dengan celana chino navy dan sepatu loafer cokelatnya.
"Pak Arif ya?", tanya pria itu seketika melihat wajah Pak Arif yg terlihat samar dari sisi kiri pintu mobil yg terbuka kacanya,
"Iya mas", jawab Pak Arif.
Pria itu pun segera membuka pintu penumpang di sebelah Pak Arif dan masuk ke dalam mobil.
"Maaf ya mas, lama nunggu...", ucap Pak Arif,
"Ooh gpp Pak, saya jg kebetulan tadi masih ada kerjaan. Ini jg baru turun", jawab Satrio dengan senyum ramahnya sbil mengenakan sabuk pengaman.
"Agak jauh gpp nih Pak?", tanya Satrio pada Pak Arif,
"Hmm... Kebon Jeruk ya?",
tanya Pak Arif memastikan sambil melihat lokasi tujuan pada aplikasinya.
"Iya nih Pak, mau ke rumah orang tua hehe...",
"Santai mas, sekalian saya balik ke rumah koq."
"Lhoo Bapak di Kebon Jeruk jg?"
"Bukan mas, sananya lagi... Cikupa", jawab Pak Arif sambil tertawa,
"Walah jauuh itu Pak hahahaha!", sahut Satrio yg tertawa mendengar celetukan Pak Arif.
"Lembur mas, koq baru balik jam segini?"
"Iya Pak, biasa deket2 akhir tahun, lg banyak audit"
"Oalaah... Iya iya iyaa"
"Bapaknya tumben, biasanya kalo driver2 jam segini masih ngider?"
"Walah... Capek mas saya hari ini!"
"Alhamdulillaah... Banyak ya Pak orderan?"
"Bukan mas, saya baru keluar jam 3 sore. Baru dpt 5 orderan sama mas nya..."
"Lhoo, Bapaknya lg sakit toh?",
"Nggak sih mas, cuma..."
"Kenapa Pak? Kalo Bapak lg sakit, saya aja yg nyetir"
"Bukan... Saya abis kena apes malem ini..."
"Hah? Kenapa Pak?",
Pak Arif pun kemudian menceritakan pengalamannya mengenai 3 pesanan sebelumnya kepada Satrio, namun yg membingungkan Pak Arif adalah reaksi Satrio selanjutnya.
"Wah gila! Bapak kena juga ya?!",
"Hah? Kena apa mas?"
"Yaa itu... Dikerjain sama arwah gentayangan itu!"
"Hah?! Arwah gentayangan?"
"Iyaa Pak! Saya waktu itu naik Uber jg pulang ke kostan yg di jalan Bangka, nah drivernya cerita hal yg sama kayak Bapak. Baru aja 2 minggu lalu"
"Aah, yg bener mas?!", tanya Pak Arif yg terkejut mendengar penjelasan Satrio itu.
"Bener Pak, orang sak8ng penasarannya saya spe googling koq. Sebentar Pak...", jawab Satrio yg kemudian segera membuka hp nya seolah mencari sesuatu.
"Nih Pak!", Satrio pun segera menunjukan apa yg ia temukan di hp androidnya kepada Pak Arif. Sebuah artikel mengenai kasus pembunuhan dimana sang korban wanita diperkosa terlebih dahulu dalam keadaan hamil 3 bulan.
"Astaghfirullaah...!" seru Pak Arif yg benar-benar terkejut melihat berita di artikel itu.
"Parah banget ya Pak... Saya aja pas baca sampe merinding. Koq ada orang yg kejam bgt begitu", ucap Satrio,
"Dan di sini jg ditulis Pak, kalo tindak kejahatan yg dilakukan laki-laki ini..."
"...sudah memakan 3 korban jiwa, dan semuanya dalam keadaan hamil... Gila!", lanjutnya menjelaskan
"Tiga mas...?", tanya Pak Arif yg seolah tak percaya mendengar penjelasan Satrio.
"Iya Pak... Hmm, mana ya... Nah ini! Korban-korbannya berinisial SW, NY dan FH...",
"...cuma korban pertama aja yg teridentifikasi identitasnya. Sinta Widiastuti, perempuan berusia 29 tahun. Tapi untuk NY dan FH menurut keterangan sudah teridentifikasi, cuma polisi tidak ingin membocorkan ke publik."
"Hah?! NY... Novi... FH... Fitri...", gumam Pak Arif yg
semakin tidak percaya mendengar ucapan Satrio yg sambil membaca artikel tersebut.
"Kenapa Pak?", tanya Satrio menyadari raut Pak Arif yg semakin pucat.
"Kalo... Inisialnya ada huruf N dan F... Jangan-jangan 2 orderan atas nama Novi sama Fitri itu ya mas...?",
"Astaghfirullaah... Bisa jadi Pak", ucap Satrio yg ikut merinding membayangkan dirinya di posisi Pak Arif tadi.
"Itu... TKP nya di mana mas?, tanya Pak Arif yg menjadi semakin penasaran,
"Hmm... Di Balai XXX di Pancoran Pak...",
"Astaghfirullaah...!", seru Pak Arif.

***
"Iiih... Trus gimana Pak abis itu?", tanya Diandra yg masih penasaran.
"Yaudah mba, abis itu mah saya nganterin si masnya pulang terus saya jg pulang. Sempet gak berani ngambil order saya selama seminggu!"
"Tapi gal berlanjut apa2 kan Pak?, tanyaku melanjutkan,
"Alhamdulillaah sih saya gak ngalamin apa2... Cuma ya...", tiba-tiba Pak Arif menghentikan ucapannya sembari berfikir sejenak.
"Kenapa Pak?", aku mencoba memastikan kelanjutan kisah itu,
"Jadi sempet... Kira-kira 2 minggu setelah kejadian itu..."
"...Waktu itu saya lg mandi di rumah, mau siap2 berangkat narik orderan tuh... Trus saya dgr ada suara perempuan ketok2 pintu depan rumah sambil ngucap salam. Tapi karena saya lg mandi ya saya biarin aja, kan ada istri sama anak saya jg yg lagi libur di rumah..."
"Gak lama kedengeran tuh dari kamar mandi istri saya nyahut salam trus bukain pintunya. Trus pas istri saya tanya nyari siapa, tamunya blg nyari saya. Ditanya lg tuh sama istri saya, dari mana... Katanya namanya Sinta. Waduuuh.. Saya lgsg diem lama di kamar mandi sampe dia pergi"
"Hah, serius Pak?!", tanyaku
"Serius mas! Begitu udh pergi, saya baru keluar kamar mandi. Trus pas istri saya nanya Sinta itu siapa, akhirnya saya cerita aja. Trus saya kasih liat deh artikel yg di kasih liat sama mas yg waktu itu... Tapi alhamdulillaah sih setelah itu aman..."
"...gak ada apa2 lg."
"Tapi serem jg Pak kalo ngalamin kayak gitu..."
"Yaah, namanya driver online mas... Pasti ngalamin yg kayak gitu2 mah. Temen2 saya aja banyak cerita2 aneh begitu!", ucap Pak Arif menjelaskan.

***
Jadi begitu ceritanya temen-temen...
Sebelumnya saya minta maaf untuk keterlambatan update ceritanya karena satu dan lain hal 🙏😣. Maklum, masih mengais rezeki di lapak orang lain, blm punya lapak sendiri. Jadi masih harus mengikuti perintah dan permintaan.
Untuk kesalahan penulisan, kesamaan nama samaran atau pun instansi-instansi terkait saya mohon dibukakan pintu maaf yg sebesar-besarnya. Semoga dari cerita ini ada pelajaran yg bisa diambil. Karena sebenarnya penulisan cerita ini ditujukan sekedar untuk berbagi pengalaman,
bukan menyebarkan aib ataupun rasa benci. Sekian dulu, saya pamit undur diri.
Wassalamu 'alaikum wr wb,

#bonkioongout
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with bonkioong

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!