, 262 tweets, 41 min read
My Authors
Read all threads
"TEROR PEMILIK JALAN 2"

PARA PENGHUNI MESS

-mereka selalu ada, jagalah langkah dan tingkahmu.

#bacahorror @bacahorror
#memetwit @InfoMemeTwit
#threadhorror

Please Like and RT agar penulis bisa terus berkarya
Lagi lagi akan saya ingatkan, dimohon untuk para pembaca jika sekiranya mengetahui latar, tokoh, atau segala bentuk keterkaitan dengan cerita agar tidak membocorkan kerahasiaan sesuai dengan keinginan narasumber.

Bagi yang ingin membaca utas pertama :
Let the story begin...

Mari kembali ke masa sekitar delapan tahun lalu-
"Dadi ngono le ceritane"
(Jadi gitu nak ceritanya) ucap seorang pria yang usianya mungkin hampir separuh abad kepada dua pemuda di depannya.

Nampaknya ia baru saja menceritakan kisah lama yang ia bawa dari pulau seberang.

"Budhe kopine setunggal malih nggih, atis niki hehe"
(Bibi kopinya satu lagi ya, kedinginan hehe) ujar salah satu pemuda itu yang diketahui bernama Budi kepada pemilik warung

"Ooo.. Ngoten toh pakdhe, trus sakniki Timur teng pundi kok kula mboten nate kepanggih"
(Ooo.. Gitu ya pakdhe, trus sekarang Timur kemana kok saya tidak pernah ketemu) tanya Reno kepada Pakdhe Hardi

Budi dan Reno adalah dua pemuda yang kost dirumah Pakdhe Hardi dan Budhe Sri, mereka bekerja di salah satu pabrik yang ada di daerah itu.
"Yo kuliah toh le, sedelok maneh mulih kok"
(Ya kuliah dong nak, bentar lagi pulang kok) jelas pria tua itu

Budi terlihat meraih gelas kopi yang diserahkan oleh Budhe Sri

Hawa dingin memenuhi dukuh itu, menyelimuti mereka hingga dinginnya menusuk ke tulang tulang.
Suara berisik dari deras hujan yang tiada henti tak terasa sudah satu jam lebih menemani perbincangan mereka.

Budi dan Reno hanya manggut manggut mendengar apa yang dikatakan oleh Pakdhe Hardi tadi.

Pria tua itu terlihat merebahkan diri di dipan kayu sambil sesekali menghisap
rokoknya.

Malam itu warung kopi Budhe Sri sepi, hanya ada ia, suami dan anak perempuannya serta dua pemuda yang tinggal dirumahnya. Mungkin karena hujan lebat ini, membuat penduduk sekitar yang setiap malam biasanya menyatroni warungnya lebih memilih berdiam diri dirumah.
Warung itu berada persis di halaman rumah, rumah sederhana dari kayu jati asli namun terkesan indah lengkap dengan pendopo sebagai terasnya.

Tanah Pakdhe Hardi cukup luas, bahkan di belakang rumahpun terdapat kebun singkong, jagung dan pepaya yang ditanam istrinya.
Mereka berdua sebenarnya sudah berkecukupan dengan mengandalkan hasil panen dari sawah, namun mereka memilih untuk membangun warung di halaman rumahnya agar lingkungan disana terasa cukup ramai dengan adanya banyak orang yang datang ke warung.
Hujan semakin lebat mengguyur dusun itu, ditambah lagi beberapa petir ikut meramaikannya.

"Dhit, mrengut wae kenopo?"
(Dhit, cemberut aja kenapa?) tanya Budi sambil cengengesan pada Dhita yang tengah mencuci piring di sudut warung
"Sepet nyawang rupamu mas"
(Sebel liat mukamu mas) jawab Dhita yang menghela nafas panjang

Ya, Dhita adalah adik Timur, anak kedua dari Pakdhe Hardi. Remaja 17 tahun itu mempunyai paras yang cantik dan gaya bicaranya yang ceplas ceplos membuatnya memiliki kesan yang istimewa.
"Pakdhe... Pakdhe... " teriak seseorang dari kejauhan yang terlihat berlari menembus hujan.

Semua orang menatap kearah luar, mencoba menerka siapakah gerangan yang malam malam begini terlihat begitu panik.

Setibanya sosok itu didepan warung, ia segera melepas
payung yang digenggamnya lalu masuk kedalam

"Pakdhe... Tolongin kita Pakdhe, ada anak kesurupan di mess" ucapnya terburu buru

"Lha kok iso"
(Lha kok bisa) kejut Pakde Hardi yang segera melompat turun dari dipan

"Gaktau saya Pakde, ayo buruan Pakde" gesanya
"Budi Reno tulung bantu Budhe nutup warung yo" perintah Pakde Har pada kedua pemuda itu

"Nggih Pakde" jawabnya

Pakde Har keluar mengambil payung yang dibawa orang tadi dan segera berlari menuju mess yang dimaksud. Satu satunya rumah yang dekat dengan mess itu adalah rumahnya.
Ia berlari menembus hujan ditengha gelapnya malam tanpa penerangan sama sekali, Pakdhe hanya mengandalkan instingnya. Disepanjang jalan hanya berjejer pohon pohon jati yang menjulang tinggi, disana tampak banyak makhluk halus berkeliaran namun Pakde sudah terbiasa olehnya.
Saat hampir tiba di mess ia melihat dua buah kepala terbang melayang mengitari rumah. Kepala yang membara oleh api, apa namanya? Mungkin Banaspati. Tapi mengapa mereka ada disana? Entahlah sekarang yang terpenting ia masuk ke mess itu dulu untuk memastikan apa yang terjadi.
Di dalam mess, tampak tiga orang yang tengah kualahan memegangi tubuh seseorang yang memberontak tak karuan. Orang itu tertawa terbahak bahak sambil berteriak dan mencoba untuk melepaskan diri

"Aaaaaa hwahahahaha uculno aaa hihihi"

"Cuk asu menengo koen! Mumet aku bangsat!."
(Anjing diamlah! Pusing aku bangsat!) umpat lelaki yang bernama Mas Alam

*PLAKKK*

Tangan kirinya nampak memegangi lengan kawannya yang kesetanan. Dan tangan kanannya terlihat menampar wajah seseorang yang dipeganginya itu.

"Gila ya Mas kamu! Temennya kesurupan malah ditampar!"
protes Guntur

"Ini mana lagi si Bowo. Disuruh panggil si Pakdhe kok gak balik balik!" Guntur pun tak kalah panik menghadapi temannya yang kerasukan itu

"He aku neng kene le"
(He aku disini nak) ucap Pakdhe Hardi yang telah berada disebelahnya. Guntur terkejut melihat Pakdhe
"Tetep cekeli ojo nganti ucul" perintah Pakdhe

"Pegangin terus, pegangin jangan ampe lepas!" ucap Mas Alam menerjemahkan ucapan Pakdhe pada kedua temannya yang bukan orang jawa tersebut.

Segera Pakdhe menjambak rambut Yudi, pemuda yang tengah kesurupan dihadapannya.
Yudi mencoba untuk menggigit tangan Pakde, untung segera ditepis oleh tamparan Mas Alam lagi.

"Anak ulo yo nyokotan!"
(Anak ular ya emang suka gigit!) bentak Pakdhe pada sosok yang merasuki Yudi

Ia terlihat mengambil batu merah padam yang ada disakunya, batu kecil yang hanya
seukuran kuku ibu jarinya. Rupanya Pakde Hardi menggunakan ular untuk memburu ular yang ada dalam tubuh Yudi

"Cah cilik rasah kemaki, mbaliko wene mbokmu"
(Anak kecil gausah sok sokan, kembalilah ke ibumu) ucap Pakde sesaat sebelum teriakan terakhir dari mulut Yudi

*Aaaaaa...*
Yudi langsung pingsan seketika, Pakdhe hanya tersenyum simpul.

"Demit sialan, bikin repot orang mulu" gerutu Bowo yang ternyata dari tadi sudah berada disana. Ia tampak kedinginan dengan baju yang basah kuyup terguyur hujan.
Mess itu dihuni oleh 5 orang karyawan, sudah sekitar sebulan ini mereka berlima bertahan di rumah itu. Bertahan diatas segala gangguan yang mereka terima setiap harinya.

Karena rumah itu cukup besar, awalnya perusahaan menempatkan 16 karyawan untuk tinggal disana.
Tetapi karena berbagai alasan, banyak dari mereka yang memilih patungan untuk mengontrak rumah lain diluar dusun ini. Hanyalah tersisa 5 orang yang terpaksa menempati mess itu.

Alasannya? Pastilah bukan karena mereka betah. Karena mereka berlima lah yang bertanggung jawab
atas segala barang barang perusahaan yang disimpan disana, lagipula meskipun gaji mereka cukup besar, mereka lebih memilih berhemat daripada harus mengeluarkan uang berlebih untuk mengontrak rumah lain.
Rumah yang telah dikosongkan lebih dari 12 tahun itu masih sangat terawat. Mbak Retno sang pemilik memang mempekerjakan beberapa orang untuk merawatnya, masih banyak perabotan perabotan antik miliknya yang sengaja dibiarkan berada disana. Perabotan yang dimilikinya bersama
suaminya terdahulu.

~

Mereka semua masih kelelahan akibat memegangi Yudi yang kesurupan tadi. Semuanya duduk bersimpuh di lantai sambil membahas kejadian yang baru saja mereka hadapi.

"Gimana kok bisa gini?" tanya Pakde Hardi pada mereka berempat
"Gini Bang, tadi tuh kita semua lagi ngerokok diteras, eh tiba tiba si Yudi kesurupan" ujar seseorang yang biasa dipanggil Uwak Tohar

"Iya Pakde, beberapa hari ini Yudi tuh selalu ngelamun. Udah saya bilangin tetep aja gaada respon" timpal Guntur yang juga terlihat kesal
"Gila! Bikin kesel aja tuh anak. Sebelum saya panggil Pakde tadi tuh Yudi mau lari ke hutan, untung saya sama anak anak sigap nangkep dia" jelas Bowo dari dalam kamar sambil berganti baju. Pastinya ia kedinginan setelah hujan hujanan. Wajar, payungnya tadi disambar oleh Pakde
"Anggep aja uji nyali tiap hari" ejek Pakde yang kembali merebahkan diri di lantai. Orang tua itu memang suka sekali rebahan

"Nggih pripun Pakdhe, kula kalih rencang rencang mboten saget nambani tiang kwsurupan"
(Ya gimana Pakdhe, kami semua gabisa nyembuhin orang kesurupan)
ujar Mas Alam

"Mbuh opo sing bar dilakoni koncomu. Tapi siji pesenku, ono barang opo wae, ono gudo opo wae, jo dijupuk ojo diladeni"
(Entah apa yang telah dilakukan teman kalian itu. Tapi satu pesanku, ada barang apapun, ada godaan macam apapun, jangan diambil jangan ditanggapi)
jelas Pakdhe Hardi pada Mas Alam yang kemudian diterjemahkan kepada ketiga kawannya

*Tok Tok Tok*

Ketukan pintu membungkam obrolan mereka,

"Ki lho kopine dinggo melekan, kancane dirumat sing apik yo" ujar Budhe Sri yang datang bersama Dhita. Ia nampak menyodorkan seteko kopi
kepada para lelaki itu.

Dhita hanya terdiam berdiri di ambang pintu, matanya beradu tatap dengan mata Guntur.

Guntur tampan, pria kota dengan kulit bersihnya dan perawakannya yang tinggi dan berisi, hmmm sungguh idaman.
Guntur dan Bowo adalah teman dari kecil, mereka berasal dari Bogor. Sejak SD sampai kuliah mereka selalu bersama. Bahkan saat ini pun, mereka bekerja di perusahaan yang sama.

Yang membedakan mereka berdua adalah Bowo yang gemuk dan kulitnya sawo matang, berbanding terbalik
dengan Guntur.

"Sampun pak urusane? Ayo mantuk Dhita ngantuk"
(Udah selesai pak urusannya? Ayo pulang Dhita ngantuk) ujar Dhita kepada bapaknya

"Yowesla ayo, nek ono opo opo maneh moro wae yo le, ojo sungkan"
(Kalo ada apa apa lagi dateng aja ya nak, jangan sungkan) ucap Pakdhe
kepada para pria itu.

Mereka bertiga pun pulang.

Dirumah, Budi dan Reno tengah merokok di teras. Mereka berdua tercekat melihat Dhita yang pulang bersama bapak ibunya. Sedangkan menurut mereka tadi Dhita sudah pulang sendirian dan masuk ke kamarnya.
"Ono ono wae, wes ayo melbu"
(Ada ada aja, dahlah ayo masuk) ucap Pakdhe yang berusaha menutup kekhawatirannya

Entah apa yang dipikirkan pria tua itu. Sepertinya ia enggan membuat orang orang dirumah ikut merasa cemas.

Rupanya ia melihat bayangan siluman ular perempuan
memasuki kamar putrinya. Siluman yang sama dengan kejadian saat Sutar meninggal tiba tiba. Ular itu adalah salah satu makhluk terkuat dikerajaan tempat Mbah Jebung berada.

Pakdhe duduk di dalam rumahnya, ia memejamkan mata.

"Kate lapo koe rene?!"
(Mau apa kamu kesini?!)
tanya Pakde pada sosok itu dengan nada membentak

Wanita siluman itu menarik lidahnya yang menjulur panjang sampai tanah kedalam mulutnya lalu tersenyum sinis

"Koe ta sing ngganggu olehe anakku dolanan mau"
(Kamu kan yang ganggu anakku main tadi) ucap wanita ular itu yang
masih berada di kamar Dhita

"Ojo ganggu bocah bocah kui, deweke amung numpang sedelok"
(Jangan ganggu anak anak itu. Mereka cuma numpang sebentar) pinta Pakdhe Hardi

"Hahahahahaha" ucapan Pakde sama sekali tak diindahkan olehnya, hanya tawa yang terdengar mulai menjauh

~
Pagi itu, di mess semua orang tengah bersiap siap untuk pergi ke kantor

"Yud, udah enakan? Ngantor gak hari ini?" tanya Bowo yang sedang duduk di kursi ruang tamu sambil menali sepatunya

Malam tadi, mereka semua tidur menggelar kasur lantai di ruang tamu. Lelah, rasa gundah
akan semua yang telah mereka alami dalam sebulan ini membuat hati menciut dan ingin berhenti.

Yudi hanya mengangguk, tiada sepatah katapun terucap dari bibirnya. Ia masuk ke kamar dan segera bersiap untuk mandi.

"Wo, Yudi kenapa?" tanya Uwak Tohar pada Bowo
"Mana gue tau bang, setannya masih nempel kali" jawab Bowo yang merasa kesal dengan Yudi

*Praaang*
*klontang klontang*

Suara seperti alat masak yang dibanting terdengar dari belakang. Disusul dengan derap kaki Mas Alam yang tampak berlari ketakutan dari arah dapur.
"He la asu! Isuk isuk diwenei sarapan"
(Anjing! Pagi pagi udah dikasih sarapan) teriaknya yang menghampiri Uwak Tohar dan Bowo

"Apaan Lam?" tanya Uwak keheranan

"Liat sendiri sana, ada yang abis masakin kita kayanya" gerutu Mas Alam yang masih ngos ngosan
Bowo dan Uwak segera menuju dapur, mereka terkejut bukan main melihat ke lantai. Disana terdapat panci yang sepertinya baru saja dilempar oleh Mas Alam. Nampak daging ayam busuk yang dicincang tak karuan bercecer keluar dari panci. Ayam yang masih lengkap dengan bulu
dan kotoran dari organ pencernaannya. Bau busuk dari bangkai itu menusuk hidung mereka, sungguh menjijikkan.

"Tiap masak kok gapernah yang enak, apes apes" ucap Uwak, kepalanya terlihat menggeleng geleng

"Gue gamau beresin ah. Lu aja bang!" seru Bowo pada Uwak
"Udah udah biar ntar gue suruh OB kantor kesini buat beresin itu" teriak Mas Alam yang masih berada di depan

Mereka bertigapun berangkat ke kantor meninggalkan Guntur dan Yudi sendirian.

Guntur memang suka berlama lama saat bersiap, satu jam mungkin masih kurang baginya.
*Tok tok tok*

Ketukan terdengar dari pintu kamar Guntur. Nampak Yudi tengah berdiri disana.

"Napa Yud? Nyari anak anak? Udah pada berangkat tuh" ucap Guntur yang menengok kearah Yudi

Betapa terkejutnya dia melihat tubuh Yudi yang gosong gosong membiru, membentuk bekas lilitan
Entah lilitan benda apa yang bisa menimbulkan bekas sebegitu parahnya.

Semua lebam itu terlihat jelas karena Yudi bertelanjang dada dan hanya memakai handuk di pinggangnya, khas para pria saat seusai mandi

"Heh badan lu kenapa?! Astaga" tanya Guntur dengan panik
Yudi hanya menatapnya kosong, entah apa yang terjadi padanya.

"Tolong" ucap Yudi lirih yang kemudian pingsang begitu saja di pintu kamar Guntur

Guntur sangat panik, ditambah lagi tiada seorangpun dimess. Ia berusaha tenang dan menelpon teman temannya.
"Woi lu semua cepetan balik! Yudi kenapa kenapa lagi ini. Cepetan, jangan lupa ajak Pakde kesini" perintah Guntur pada Bowo

Ia segera mematikan telefon dan berusaha mengangkat tubuh Yudi keatas ranjang.

~

"Dhita.. " ucap seorang pria yang tengah menghampirinya bersama dua
pria lain

Saat itu Dhita tengah menyapu halaman rumahnya

"Ada apa lagi Mas?" tanya remaja itu

"Pakdhe ada gak? Si Yudi mulai lagi nih" jelas Bowo padanya

Dhita tampak mengerutkan dahinya, ia heran mengapa lagi lagi Mas Yudi yang diganggu

"Bapak ke sawah. Tunggu bentar"
Dhita meletakkan sapunya di tanah lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Ia kembali bersama Budi dan Reno.

"Biar kami aja mas yang manggil Pakdhe, sekalian berangkat" ujar Budi pada mereka bertiga

"Saya ikut kesana ya mas" pinta Dhita pada Mas Alam
"Yaudah ayo" jawab Mas Alam
"Makasih ya Budi Reno" timpalnya

Mereka berempat akhirnya berangkat menuju mess. Sedangkan Budi dan Reno menuju sawah untuk memanggil Pakdhe

Sesampainya di mess mereka terheran melihat tubuh Yudi yang tergolek lemas diatas ranjang.
Tubuh yang sebagian dipenuhi warna gelap membentuk lilitan.

"Gimana sih Tur kok badan dia bisa kaya gini" tanya Uwak keheranan menatap pemandangan yang ada dihadapannya

Dhita mendekat kearah ranjang tempat Yudi dibaringkan. Ia menatap tubuh itu dengan seksama lalu menyentuh
luka luka gosong yang ada disana

Para pria itupun tercekat menatap apa yang Dhita lakukan

"Temen kalian abis ngapain?!" tanya Dhita dengan wajah serius, matanya yang tajam tampak sangat tegas menyudutkan mereka

Dengan gugup Mas Alam menjawab

"G g ga ngerti Dhit takono Guntur"
ucapnya terbata bata yang merasa terintimidasi oleh tatapan Dhita

Ia mengalihkan pandangannya pada wajah Guntur. Pria tampan itu hanya menggeleng kepala tanpa berkata apa apa.

Dhita melepaskan tangannya dari tubuh Yudi lalu melangkah keluar kamar. Ia tampak mencoba menelfon
seseorang.

"Mbak kapan mulih?"
(Mbak kapan pulang?" ucapnya pada seseorang di telepon
"Ono perlu, ketone gaiso nek bapak tok"
(Ada perlu, kayanya gabisa kalo cuma bapak sendirian) jelasnya kembali

Keempat pria itu hanya mengamati percakapan Dhita dari dalam kamar.
"Yowes ojok kesuen ya, assalamualaikum"
(Yaudah jangan kelamaan ya, assalamualaikum) tutupnya

Ia kembali ke kamar itu, kamar yang dulunya ditempati oleh Mas Galuh kini ditempati oleh Bowo dan Guntur. Sedang kamar milik Mbak Retno dan Pak Sutar dulu ditempati oleh Mas Alam,
Uwak Tohar, dan Yudi.

Tak ada satupun dari mereka berlima yang berani menempati kamar atas. Tidak lain tidak bukan pastilah karena kejailan yang pernah terjadi pada teman teman mereka dulu saat semuanya masih tinggal satu mess dengan mereka.
~

Kembali ke beberapa minggu sebelumnya...

Mess mereka mempunyai 2 kamar besar dilantai bawah dan 2 kamar besar pula di lantai atas. Dibawah, ada kamar mandi di masing masing kamar dan 1 kamar mandi untuk tamu di dekat dapur. Sedangkan diatas hanya ada 1 kamar mandi.
Ke 16 pria itu membagi 4 kamar untuk mereka, otomatis masing masing kamar berisi 4 orang.

Di hari pertama mereka semua bermalam di mess, teror itu sudah dimulai.

Pukul 23.30, sebagian orang telah lelap dalam tidurnya. Tersisa 8 orang, sebut saja namanya Yanto dan ketujuh
anak buahnya. Mereka semua tengah bermain gaple di lantai atas sambil menonton tv yang selalu Yanto bawa kemanapun ia tinggal.

"Ajur kang raiku cemong kabeh"
(Haduh bang mukaku kotor semua) ucap salah satu anak buahnya yang tengah bercermin. Ia merasa lucu memandangi wajahnya
yang penuh dengan bedak ketiak akibat kalah barusan.

Sehabis mengajak bicara Kang Yanto ia pun kembali menatap cermin yang dipegangnya. Serasa mau copot jatungnya saat melihat kuntilanak berdiri tepat di belakangnya.

Ada yang berbeda, kuntilanak itu tidak memiliki bola mata,
wajahnya penuh dengan darah dengan rambutnya yang gimbal.

Orang itu kaget bukan main, badannya bergetar dan keringat mengucur deras di dahinya. Mulutnya terkunci, badannya kaku, sama sekali tidak ada satupun anggota badan yang bisa ia kontrol.

Hingga sosok itu menoleh kearahnya
Perempuan itu tahu bahwa sedang ada yang mengamatinya dari cermin. Posisinya yang semula berdiri kini berjongkok

*Kretak kretak*

Seperti suara tulang yang dipatahkan, rupanya sosok itu beralih ke posisi kayang namun dengan kepala yang menggantung dilantai
Masih dalam keadaan seperti itu, ia merayap mendekati anak buah Kang Yanto tadi. Tangan dan kakinya bergerak seperti langkah seekor laba laba.

Ketakutan menyeruak didalam dadanya, ingin sekali saat itu ia memejamkan mata. Namun apa daya, hal mengerikan itu terjadi begitu saja.
Sosok itu berhenti tepat di hadapannya, lalu mendongakkan kepalanya persis di depan pria itu. Wajah mereka beradu tatap. Hingga akhirnya sosok mengerikan itu menyeringai, bau busuk tercium ke seisi ruangan dan diakhiri oleh teriakan anak buah Kang Yanto tersebut.

*Aaaaaaaaa... *
Semua orang disana terkejut, karena memang sedari tadi tiada seorangpun yang menyadari bahwa temannya sama sekali tak bergerak. Mereka hanya sibuk melanjutkan permainan gaplenya.

"Lho kenopo cah iki"
(Lho anak ini kenapa) tanya Kang Yanto panik

"Mbuh kang aku yo rak ngerti"
(Entah Bang, aku juga gatau) jawab salah satu dari mereka

"Astaghfirullah ayo gowo ning rumah sakit, Jo ndang tokno mobile"
(Astaghfirullah ayo bawa ke rumah sakit, Jo cepet keluarin mobilnya) perintah Kang Yudi pada Parjo anak buahnya

Seisi rumah terbangun, mereka semua
bertanya tanya bagaimana ini bisa terjadi. Malam menjadi gaduh, 3 orang lainnya bersama Kang Yanto membawa anak buahnya itu ke rumah sakit. Setibanya disana...

"Gimana dok?" tanya Kang Yanto

Dokter menjelaskan bahwa teman Kang Yanto itu terkena stroke, akibat tekanan darahnya
yang melonjak sangat tinggi secara tiba tiba dan mungkin pembuluh darah pada otaknya tersumbat hingga membuat sebagian tubuhnya tidak dapat dikendalikan.

Para pria itu menangis, mereka tidak tega melihat kondisi kawannya yang terkapar lemas diatas ranjang rumah sakit itu.
"Mas kok iso ngene piye tah sampean ki"
(Mas kok bisa gini sih kamu tu kenapa) ucap Parjo yang tengah menangis sesenggukan

Di tubuh yang terbaring itu nampak bibirnya berubah menjadi perot, tangannya bengkok dengan jari jarinya yang kaku, betapa menyedihkan kondisinya saat itu.
"U ho.. U ho... " ucapnya dengan susah payah

Teman temannya yang sedari tadi menangis di kejauhan segera berlari mendekat

"Piye mas? Sampean ngomong nopo"
(Gimana mas? Kamu mau ngomong apa) tanya salah seorang kawan

"U ho!" jawabnya kembali dari bibir yang perot itu
Mereka semua bingung dengan apa yang diucapkan temannya itu.

Di mess, para karyawan mencoba untuk menghubungi keluarga pria tersebut. Esok hari, keluarganya pun datang untuk mengurusnya yang terbaring dirumah sakit itu.

Banyak warga datang ke mess itu bersama ketua RT, sekedar
untuk memastikan apa yang terjadi dikarenakan beritanya menyebar begitu cepat.

"Lagi wae sedino lho manggon nang kene, wes geger koyo ngene"
(Baru sehari loh tinggal disini, udah ribut kaya gini) bisik seorang warga kepada warga lain

Mereka yang tengah asik bergosip itu tidak
menyadari bahwa ada beberapa karyawan di belakangnya. Para karyawan itu mengamati pembicaraan mereka.

"Yo kebangeten sing nyewo, opo raroh lemah iki lemah opo"
(Ya kebangetan yang nyewa, apa gak tau tanah ini tanah apa) jawab salah seorang warga
Tanah apa? Apa maksud perkataan orang orang itu? Mereka masih bertanya tanya hingga saat mereka berkunjung ke warung Budhe Sri. Mereka menceritakan apa yang terjadi di malam itu. Tak ada yang tahu menahu apa penyebab satu kawannya yang sehat terserang stroke secara tiba tiba.
Pakdhe Hardi pun menjelaskan seluruh sejarah mengenai tanah dan rumah itu.

Mereka semua tak habis pikir mengapa bisa bos mereka menyewa rumah seangker itu. Akankah ia tidak tahu? Atau memang sengaja? Pertanyaan pertanyaan itu terus berputar di pikiran mereka
"Wes rausah wedi, waneni wae"
(Udah gausah takut, berani aja) ujar Pakdhe Hardi

"Apa gabisa dihalau pakdhe? Dipagari atau dipindahkan mungkin" tanya Bowo yang malam itu juga berada disana

"Tadi udah tak bilangin kan, almarhum yang punya rumah gak nurutin apa kata orang orang
buat bangun rumahnya ngadep selatan. Jadi ya gaakan bisa dipagarin" jelas Pakdhe

Disisi lain, Guntur sering bertukar pandang dengan Dhita, mereka berdua mungkin merasa tertarik satu sama lain.

~

Beberapa haripun berlalu tanpa adanya gangguan, namun beberapa saat kemudian...
Di sore hari, mungkin pertengahan minggu kedua mereka tinggal di mess itu, kejadian lagi lagi terjadi pada anggota Kang Yanto.

Sepulang dari kantor mereka bukannya segera mandi malah memilih menenggak minuman keras yang baru saja mereka beli bersama sama.
"To, lu mau minum beneran nih?" tanya Uwak tohar pada Yanto dan para anak buahnya

"Yaiya lah bang udah dibeli mahal mahal masa dianggurin" jawab Yanto sambil tertawa

"Lu udah denger kan kemaren apa kata Pak Hardi" tanya Uwak Tohar kembali memastikan, kali ini alisnya mengerut
"Alah persetan, suruh aja setannya sini biar gue ajak join" kata Yanto dengan santainya

Para anak buahnya mulai merasa takut, mereka semua ingat apa pesan yang diberikan oleh Pakdhe Hardi kemarin. Mereka semua terdiam mendengar perkataan atasannya itu

"Lu semua pada takut?"
tanya Yanto

"Banci ah, lu udah pada pernah ngeliat hantu disini? Gak kan? Yaelah kalem aja mabok biar ga stres" ujar Yanto yang merasa kesal

"Tapi Bang, kan lu tau sendiri gimana nasib satu temen kita gara gara makhluk yang tinggal disini" ujar seseorang
"Pada percaya omongan si tua Hardi itu ya? Goblok ah lu semua. Udah jelas kata dokter temen kita itu sakit stroke ada penyebabnya! Bukan karena setannn!"

Kali ini nada bicara Yanto mulai meninggi, emosinya mulai terpancing karena tiada mendapat dukungan dari seorangpun.
"Kalo gada yang mau ikut minum, semua anggota tim gue gausah kerja besok!" ancamnya kembali

Mau tak mau semua bawahnnya pun menuruti kemauan Yanto. Mereka menenggak seluruh miras itu sampai habis tiada bersisa.

Hari semakin gelap, mereka semua masih terkapar di lantai atas.
Semua yang tinggal di kamar bawah tidak mau mempedulikan Yanto dan seluruh anggotanya itu. Mereka semua hanya melakukan aktivitas masing masing lalu beranjak tidur.

Jarum jam menunjukkan pukul 00.00

Semua yang berada di lantai atas masih tertidur pulas, hingga suara seseorang
membangunkan mereka dari tidur.

"Mas, bangun... " seru seorang perempuan membangunkan mereka

"Hmm... Sopo koe"
(Hmm... Siapa kamu) tanya Yanto yang masih setengah sadar

"Kan tadi mas yang manggil saya, katanya suruh main kesini" jawab perempuan itu
Karena efek mabuk, Yanto pun tidak bisa berfikir dengan semestinya.

Ia hanya berdikir mungkin ia lupa telah memesan psk sebelum pulang tadi. Ia pun membangunkan kawan kawannya dan memulai tindakan gilanya.

Mereka semua berfikir tengah menyetubuhi wanita cantik itu bersama sama
~

Di pagi harinya,

"Bang Yanto, bangun bang udah pagi. Gak ngantor apa?" teriak Guntur dari bawah

Hening, tiada jawaban dari lantai atas tempat Yanto berada

"Mas, coba deh lu tengokin sono" ucap Guntur pada Mas Alam yang kemudian menuruti pinta Guntur dan segera berjalan
menuju lantai atas.

"Astaghfirullah!!!" ucapnya histeris

Ia pun segera menuruni anak tangga dan berteriak kepada teman temannya

"Gila! Sumpah sinting tu bocah bocah. Ayo semuanya naik keatas deh" seru Mas Alam yang terlihat masih sangat syok.
Semua orang menatap Mas Alam heran, lalu berjalan mendekat padanya.

Mereka tampak bingung dengan sikap aneh Alam itu. Mereka saling tatap satu sama lain seolah bertanya apa yang terjadi pada Alam.

"Astaga malah pada bengong! Cepetan naik gih biar pada liat sendiri" ucapnya
Mereka semua pun naik keatas, mata mereka terbelalak hebat mendapati kondisi disana.

Yanto dan anak buahnya terkapar dilantai tanpa seorangpun mengenakan busana. Mereka semua teridur seperti orang pingsan, dan di antara mereka tergeletak bangkai seekor kambing yang nampaknya
baru saja mati.

Wajah semua orang panik. Ini kali pertama mereka melihat hal menjijikkan seperti itu

*Huwekkk*

Bowo yang tadi ikut keatas pun terlihat berlari kearah kamar mandi bawah. Ia memuntahkan seluruh isi perutnya karena tak kuasa menatap apa yang baru saja dilihatnya
Anak anak lain mencoba menahan mualnya dan membangunkan anggota Yanto

"Asu, tangien cok! Mari opo koe podo iki"
(Anjing, bangun! Habis ngapain kalian ini) teriak Mas Alam menggunakan bahasa Jawa pada Yanto

Mereka berhasil dibangunkan lalu didesak oleh Mas Alam dan kawan kawan
Apa yang habis mereka perbuat? Mengapa ada bangkai kambing disini? Sungguh gila!

"Dasar orang orang sinting! Gini ya kelakuan lu semua di kota orang, pada gada duit apa sampe gabisa nyewa cewek" gerutu Uwak Tohar yang merasa jengkel dengan kelakuan mereka
Yanto yang baru saja bangun berusaha mengumpulkan kesadaran, ia mencerna apa yang sedang terjadi dan apa yang ia lihat sekarang. Ditambah lagi umpatan umpatan sial dari Mas Alam dan anggotanya itu membuat kepalanya makin pusing dan semakin bingung.
"Jo.. Jo.. " panggil Yanto pada Parjo yang tertegun menatap sesuatu

Ia lalu melihat apa yang tengah Parjo tatap

Sadarnya kembali seketika. Ia mendekat kearah benda itu lalu menyentuh bulu bulu yang terlihat basah itu.

Cairan yang dikenalnya, sangat sangat dikenal oleh pria.
Benar, bangkai kambing itu berlumuran air mani. Apakah yang terjadi semalam?

Mual menyeruak dari perut mereka. Rasa jijik pun memenuhi kepala hingga pusing mulai terasa.

*Hmmpp*

Terdengar orang orang itu menahan mual dan kemudian berhamburan mencari tempat untuk memuntahkan
isi perut mereka.

Pahit, lidah mereka terasa sangat pahit karena memuntahkan minuman keras yang kemarin mereka teguk.

Pemandangan itu sungguh menguras isi perut mereka hingga badan terkapar lemas kembali.

Masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun, mereka dibantu
berjalan oleh Mas Alam dan kawan kawan menuju kamar mandi. Ketujuh pria itu diletakkan bersimpuh begitu saja diatas lantai kamar mandi. Uwak Tohar dan Yudi mengguyur mereka semua dengan air bak mandi

"Nyoh ben podo warasss!!!"
(Nih biar pada waras!!!) ucap Yudi yang tampak geram
"Dinginkan dulu otak kau pakai air" ujar Uwak yang sedari tadi menyemprotkan air dari selang

Sungguh seperti ruwatan masal, haha. Tiada lagi rasa malu malu diantara mereka. Semuanya tengah syok hingga tak sempat memikirkan tubuh masing masing.
Jadi? Mana wanita yang mendatangi mereka semalam? Wanita yang ia pikir telah mereka gilir bergantian tadi malam? Kenapa justru bangkai kambing yang ada disini? Apakah artinya semalam mereka menyetubuhi kambing itu? Sinting!
Guntur, Mas Alam dan yang lainnya bergegas mengubur kambing mati itu di belakang mess

"Gendeng arek iku ck!" gerutu Mas Alam sambil mencangkuli tanah

"Gara gara alkohol jadi matanya ngawur semua Mas, kambing bisa dikira cewek cantik kali" ujar temannya mencairkan suasana
Mereka semua tertawa terbahak bahak

"Tapi tadi malem, waktu gue kebelet mau ke kamar mandi gue liat kok bang ada bayangan cewek jalan ke tangga atas" pernyataan salah satu dari mereka

"Yang gue heran , kok bisa ada kambing masuk ke mess kita? Ke lantai atas lagi" tanya Guntur
Senyap, mereka semua saling bertukar pandang. Banyak hal hal aneh yang tidak bisa dijelaskan oleh logika mereka

"Lu serius liat cewe?" tanya Mas Alam pada orang tadi

"Iya bang ngapain gue boong. Tapi aneh deh, kakinya nggak napak. Gue juga takut waktu itu, tapi gegara kebelet
yauda gua tahan takutnya yang penting kelar dulu hajatnya" jelas orang itu

"Lagian kalo lu pikir nih bang, tu kambing punya siapa coba. Yanto ama anak anak juga pada mabok, gaada yang keluar mess dari sore" timpal Bowo tiba tiba

Benar, mereka membenarkan perkataan Bowo
Mereka semua bergidik ngeri, lalh memutuskan untuk mempercepat proses penguburan.

Hari ini seluruh penghuni mess memutuskan untuk tidak berangkat kerja.

Di siang itu, Kang Yanto dan keenam anak buahnya telah selesai mandi dan duduk berkumpul di ruang tamu bawah.
Suasana begitu hening, tatapan mereka kosong. Entah apa yang ada di pikiran pria pria bodoh itu.

Yudi, Uwak Tohar, Mas Alam, Guntur, Bowo dan ketiga lainnya ikut duduk disana. Mereka merasa sangat kesal kepada teman kerja mereka itu.

Yudi mengambil sebungkus rokok di saku
lalu melemparnya ke meja di hadapan Yanto

"Rausah sepaneng"
(Gausah tegang) ucap Yudi pada mereka

Mereka hanya menunduk tanpa menjawab

"Jelasin ke kita, semuanya" perintah Mas Alam pada Yanto

Yanto menatap Alam, ia mulai menjelaskan sesuai apa yang ia ingat dan lihat
"Gue pusing Lam, Wak, gue gatau gimana bisa ada kambing disitu. Yang gue inget cuma kita mabok sampe pingsan gak karuan. Trus tiba tiba ada cewek dateng, dia bilang udah disewa" jelas Yanto

Mas Alam dan anak buahnya hanya diam mendengarka penjelasan Yanto dengan ekspresi heran
"Karna gue ga inget apa apa jadi yaudah gue bangunin anak anak, kita garap tuh cewek bareng bareng di depan tv. Abis itu kita gatau apa apa lagi" lanjutnya dengan tampang yang masih begitu tak menyangka, ia tak bisa percaya apa yang mereka lakukan tadi malam dengan seekor kambing
"Bener Mas, Kang Yanto gak bohong. Kita semua tau dan liat pake mata kepala sendiri kalo yang kita ajak main tadi malem itu cewek tulen bukan mayat kambing" ucap salah seorang anggotanya. Mereka semua pun mengangguk angguk, tanda membenarkan ucapan kawannya.
Mas Alam dan yang lainnya pun percaya dengan apa yang dikatakan Yanto. Karena tak mungkin bila mereka berhalusinasi secara bersamaan.

"Udah cukup kan sekarang? Udah ada bukti nyata. Mau gak mau kalian harus percaya apa kata Pakdhe Hardi" ucap Guntur pada Yanto
"Iya Tur sorry banget. Sorry gue ngrepotin kalian semua" ucap Yanto

Rasa penyesalan tampak sekali dari sorot matanya

~

Hari itu telah mereka lalui, namun tidak dengan kejutan kejutan kedepan yang sanggup membuat sebagian besar karyawan penghuni mess itu memutuskan untuk pindah
Para jin dedemit yang menghuni kerajaan itu semakin intens menampakkan diri. Yah, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena memang merekalah yang lebih dulu menempati daerah ini.

Suatu hari, sekitar pukul 22.00

Tiga anak buah Mas Alam baru saja pulang dari tempat karaoke.
Mereka membawa serta dua orang LC dari sana menuju mess

"Mas, kok masuk hutan? Kalian ga mau bunuh kita kan?" tanya salah satu wanita itu, sambil melepaskan pelukan dari kedua orang yang tengah mendekapnya. Ia menengok keluar dari balik kaca mobil. Bulu kuduknya merinding, ngeri
"Ikut ke mess ya, nanti kita tambahin kok tenang aja" ucap pria itu

Setibanya di mess, kedua wanita itu menolak untuk masuk dan meminta untuk diantar pulang saja.

"Maksud kalian rumah ini mess yang kalian tempatin? Sinting kali lo ya ngajak kita berdua kesini!" ujar si wanita
dengan nada meninggi sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah salah satu pria itu.

"Mending lu nyuruh kita nyebur sumur daripada masuk kesitu!" bentak wanita lainnya

Oh ya, sebut saja nama mereka Wiwin dan Lastri

"Ya mau gimana dong. Ini udah malem, kalo kalian mau pulang
yaudah pulang aja sendiri sana. Kita mau masuk, ngantuk" ucap salah seorang pria itu sambil cengengesan bersama kedua kawannya. Lalu melesat masuk kedalam mess.

Di dalam, Yudi dan Alam belum juga tidur, mereka masih bermain PS di ruang tamu. Mereka menengok kearah pintu saat
kawan kawannya itu masuk, namun betapa terkejutnya mereka melihat tiga orang wanita ada dibelakang mereka.

"Bangsat! Gila lo ya? Cari perkara lagi? Ga cukup apa contoh dari Kang Yanto kemarin?" hardik Yudi yang terlihat geram

Matanya menatap tajam para pria itu.
Mereka sama sekali tak membalas ucapan Yudi dan beringsut ke kamarnya. Satu orang melambai kearah para wanita itu, mengisyaratkan agar mereka mengikuti langkahnya masuk kedalam kamar.

Wanita wanita itupun menurutinya, mereka masuk bertiga.
Yudi dan Uwak yang ada di ruang tamu hanya menatap langkah tiga orang perempuan itu. Tapi tunggu, mengapa seorang diantaranya tampak aneh? Wanita bergaun merah itu terus menunduk sama sekali tak menampakkan wajahnya.
Yudi yang sadar akan hal itu segera memberi tahu Uwak Tohar. Ia ingat persis dengan apa yang diceritakan oleh Pakdhe Hardi mengenai perempuan bergaun merah yang tinggal di mess mereka.

"Bahaya Wak, bahaya! Mereka semua bisa kena nasib buruk" ucap Yudi sambil mengguncangkan
tubuh Uwak Tohar.

"Maksud kau apa Yud" tanya Uwak kebingungan

"Lu liat berapa cewek yang masuk kesini tadi?" tanya Yudi tegas

"Tiga lah, merah kuning ijo kan bajunya udah kaya pelangi" jawab Uwak dengan polosnya

"Nah iya itu bang!!! Si cewek baju merah itu yang pernah
diceritain ama si Pakdhe ke kita dulu. Ga beres nih bang" jelasnya

Uwak tampak mencernah kata kata Yudi barusan. Kini ia sadar maksud perkataan Yudi. Wajahnya tampak terkejut, ia segera berdiri

"Ayo buruan kasih tau mereka Yud!" ucapnya tiba tiba

Mereka berdua pun menggedor
gedor pintu kamar anak anak itu. Tiada jawaban sama sekali. Aneh, padahal semua kamar di mess itu bukan ruangan kedap suara, tapi mengapa sama sekali tidak terdengar suara sekecil apapun dari dalam. Hening, sunyi, senyap.
"Bangunin semua anak anak cepet!" perintah Uwak

Tak lama, mereka semua sudah berkumpul dan dijelaskan oleh Yudi tentang apa yang sedang terjadi.

Semua orang berusaha membuka pintu kamar itu, dicongkel, di dobrak, apapun sudah mereka lakukan akan tetapi gagang pintu itu
sama sekali tak bergeming dari tempatnya.

"Sialan, eh lu bertiga coba pecahin jendela kamar dari luar" perintah Yanto pada ketiga anak buahnya yang disambut oleh anggukan mereka

Sesampainya didepan jendela itu, mereka mencoba memecahkannya dengan batu yang biasa digunakan untuk
membangun pondasi, tentu saja ukurannya tidaklah kecil. Namun, anehnya kaca itu tidak pecah, bahkan sama sekali tidak tergores. Akhirnya mereka kembali ke dalam.

"Gabisa pecah bang kacanya, aneh sumpah" ucap salah satunya

"Panggil Pakdhe, cepetan!" perintah Yanto, namun kali
ini ia tampak khawatir. Akhirnya ia menyuruh semu anak buahnya untuk pergi bersama menuju rumah Pakdhe.

Di tengah perjalanan yang hanya perlu melewati 100 meter itu, merek dikejutkan oleh penampakan makhluk besar dengan wujud kera ditengah jalan. Dibelakangnya ada ratusan
monyet monyet tanpa ekor dengan taring yang tampak tajam itu. Kaget bukan main pastinya, mereka memilih berbalik dengan niat untuk kembali ke mess. Namun apa daya, tak disangka dibelakang mereka pun terdapat banyak sekali ular yang tengah berlalu lalang sambil mendongakkan kepala
menatap mereka.

Panik, itulah yang mereka semua rasakan. Keenam pria itu berlari, kabur dari kejaran makhluk makhluk itu. Derap ayunan kaki membawa mereka tak tentu arah, menyebar kesegala penjuru hutan. Sungguh hilang akal, begitulah adanya jika nyali sudah berhasil dikalahkan
oleh setan.

Mereka yang berada di mess telah lama menunggu, mungkin lebih dari dua jam anak anak tadi tak kunjung kembali.

"Gila, mereka muterin hutan dulu apa sampe jam segini gak balik balik" ucap Guntur yang mulai resah

Tak ada yang bisa mereka lakukan, tiada akses masuk ke
dalam kamar untuk menolong kawan mereka, tiada pula kabar kembalinya kawan mereka yang diutus kerumah Pakdhe. Mereka mulai merasa lelah hingga akhirnya terkapar di kursi dan sofa, bahkan Bowo si dempal tidur diatas meja.
Di pagi harinya, mereka mendapati pintu itu terbuka. Segeralah mereka masuk kedalamnya, di sudut ruangan tampak wanita dengan dress mini berwarna kuning meringkuk, menangis, dengan keadaan yang acak acakan tak karuan. Dan diatas kasur terdapat tiga pria yang lagi lagi tergeletak
tanpa busana dengan lebam di sekujur tubuhnya. Mata mereka terus menerus mengeluarkan air mata, namun dengan wajah yang sama sekali tidak bisa digerakkan.

Tubuh mereka bertiga menggelinjang tak karuan seperti seseorang yang tengah tersengat listrik, tiada henti bergerak.
Guntur menangis menatap nasib kawan kawannya itu. Bowo mengambil selimut lalu menutupi tubuh wanita berbaju kuning yang diketahui bernama Wiwin itu, diboponglah dia menuju ruang tamu. Yudi, Uwak dan Yanto berusaha memegangi dan menghentikan geliat tubuh kawan kawan mereka itu.
"Temen kamu satunya mana?" tanya Bowo yang merasa sangat iba pada perempuan itu

Perempuan yang terlihat sangat syok, entah apa yang telah terjadi semalam. Ia menangis tak henti henti sambil menggigiti kuku kuku jarinya, tangannya bergetar seakan masih terasa ketakutan membakar
pikirannya.

Bowo berjongkok dihadapannya

"Tenang, tenang, coba bilang pelan pelan temen kamu kemana" ujar Bowo yang mencoba menenangkan wanita itu

"Mati... Deweke mati... Deweke mlayu"
(Mati.. Dia mati.. Dia lari) jawab Wiwin dengan lirih dari bibirnya yang masih bergetar
Bowo bingung, ia tak paham bahasa jawa. Ia pun memanggil Yudi, Yudi yang tadi memegangi tubuh kejang kawannya itu digantikan oleh Guntur, ia segera menuju Bowo

"Gimana Wo?" tanyanya

"Gatau nih gue gapaham dia ngomong apa" jawab Bowo sambik menggaruk kepalanya yang bahkan tidak
merasa gatal itu.

"Pripun mbak? Sing tenang nggih sakniki jawab alon alon. Rencange sampean pundi?"
(Gimana mbak? Yang tenang ya, sekarang jawab pelan pelan. Teman mbaknya mana?) tanya Yudi pada perempuan itu

Jawabannya masih sama, ia mengatakan bahwa temannya mati.
Yudi merasa terkejut, ia segera berlari keluar menuju rumah Pakdhe dan meminta pertolongan.

Disana ia menjelaskan apa ynag terjadi, Pakdhe pun mengajaknya untuk memanggil semua warga, meminta bantuan dan segera kembali ke mess bersama seluruh warga dusun.
Sungguh kacau, keadaan di mess sangat memprihatinkan. Untung saja warga disana baik baik, mereka tidak pernah menghakimi ataupun menyalahkan para karyawan yang tinggal di mess itu atas kekacauan yang lagi lagi harus mereka bantu bereskan.
Pakdhe menyuruh para wanita untuk menyiapkan perlengkapan memandikan orang meninggal, sementara lainnya membantu mengurusi Wiwin.

Para lelaki diajaknya mencari keberadaan Lastri, hingga ditemukanlah tubuh wanita itu telah terbujur kaku menekuk di dalam sumur tua belakang rumah
Sumur yang disebut sendang jebung. Yang tak pernah dijamah siapapun selain orang orang yang berniat melakukan pesugihan disana.

Diangkatlah mayat Lastri keatas, warga sangat mengenalnya. Dulu ia pernah tinggal di dusun itu untuk sementara waktu. Ia tidak punya siapapun,
orang tuanya telah lama tiada. Kerabatpun tak ada yang peduli padanya, hingga akhirnya ia bekerja di pinggiran kota sebagai LC disana.

Salah satu warga mencoba menghubungi bos Lastri, namun jawaban yang didapatkan sangat tidak memuaskan. Ia tidak peduli pada wanita sebatang kara
yang kini telah kehilangan nyawanya itu. Akhirnya warga dusun itulah yang mengurus jasad Lastri.

Di depan mess tampak berjejer 8 tong air berwarna biru dan delapan kursi panjang yang dijejer sedemikian rupa. Terlihat pula gulungan tebal kain hitam yang biasanya digunakan warga
untuk menutupi acara pemandian mayat tersebut.

Mayat Lastri dimandikan bersama tiga orang karyawan yang masih kejang kejang itu. Warga membagi tugas. Sebagian orang memandikan mereka dan sebagian lagi menutup kawasan itu dengan kain hitam tadi, yang kini telah dibentangkan
mengeliling.

Selesai, proses pemandian kini telah usai. Badan badan itu di baringkan di ruang tamu, beberapa santri diundang untuk yasinan disana. Kini, ketiga tubuh itu tak lagi bergerak gerak seperti tadi.

Tepat ketika ayat terakhir surat Yaasiin dibacakan serempak
oleh santri santri itu, ketiga pria yang terbaring dibalik kain putih dan jarik tadi bangkit duduk bersama sama. Semua orang disana kaget kecuali Pakdhe. Pakdhe yang justru tersenyum lega.

Akhirnya proses pemakaman Lastri dilanjutkan, ketiga orang tadi sudah kembali sadarkan
diri sepenuhnya. Namun ada satu hal yang belum terselesaikan...

Kawan mereka, anak anak buah Kang Yanto entah hilang kemana. Hanya meninggalkan bekas langkah yang terlihat menerjang semak menuju kedalam hutan. Hmmm... Banyak sekali PR yang harus Pakdhe Hardi dan warga garap.
Apa salah ketiga karyawan tadi sampai sampai dibuat tak karuan oleh gadis bergaun merah penghuni mess itu? Ternyata setelah sadar dan didesak jujur oleh Pakdhe dan semua orang, mereka mengatakan yang sebenarnya bahwa sepulangnya dari tempat kerja, mereka menuju rumah salah satu
Dukun yang direkomendasikan oleh OB yang mereka kenal, mereka meminta pegangan agar aman dari gangguan makhluk makhluk mess itu. Namun apa daya, kedua energi itu saling bersinggungan. Dan gadis bergaun merah itu lebih kuat dari jin yang dikirim si Dukun, haha dukun rendahan yang
bahkan tidak bisa menghalau serangan "mereka".

Gadis itu marah karena mereka bertiga membawa benda asing masuk ke wilayahnya, ia tak terima akan kesan menantang ketiga pemuda tersebut. Dibuatnya semengenaskan tadi lah hukuman yang harus ketiga pria itu terima untuk sementara.
Lalu mengenai Lastri? Benar kata orang, lebih baik menjaga lisan dan tidak bicara sembarangan.

Ingat saat Lastri baru saja sampai di depan mess? Ia mengatakan akan lebih baik melompat ke dalam sumur untuknya daripada harus masuk ke mess itu. Namun yang ia lakukan
justru berbanding terbalik dengan ucapannya. Ia malah masuk, meskipun itu karena terpaksa. Namun para penduduk alam lain disana menuruti ucapan Lastri, mereka berbondong bondong menjemput Lastri untuk dibawanya menuju dasar sumur milik "mereka".

Sungguh realita yang menyayat.
~

Siang itu setelah proses pemakaman Lastri selesai, para warga berlanjut mencari keberadaan anak buah Kang Yanto

"Pakdhe, ketingale jeru"
(Pakdhe, kayaknya dalam) ucap Mas Alam yang tampak gelisah

"Iyo pancen wes mboh ditlasakno nengdi Lam"
(Iya memang entah disesatkan kemana
Lam) jawab Pakdhe, kedua tangannya ia lipat ke belakang sambil menerawang jauh kedalam hutan

Pencarian telah dilakukan lebih dari dua hari, namun sama sekali tak membuahkan hasil.

"Kancamu rapopo, tapi mesakno nek kudu kesuen neng kono"
(Teman kalian gapapa, tapi kasian kalo
harus kelamaan di alam sana) ucap Pakdhe Hardi pada Yanto dan Mas Alam yang menemani Pakdhe di area hutan itu.

"Njur pripun Pakdhe?"
(Lalu gimaan Pakdhe?) tanya Yanto
"Wes gausa digoleki maneh, kabeh wong kon kumpul mrene"
(Udah gausah dicari lagi, suruh semua orang kumpul disini) perintah Pakdhe pada Mas Alam dan Yanto

Mereka menurutinya, dan segera mengumpulkan semua warga yang tadinya membantu proses pencarian ke titik dimana Pakdhe berada
Mereka masuk kehutan, namun tidak terlalu dalam. Udara di pagi itu sangat dingin hingga menusuk tulang meskipun mereka sudah menggunakan jaket tebal.

Di dalam sana sebagian besar cahaya tidak cukup kuat untuk menembus rapatnya daun daun jati yang saling berhimpitan
Kabut tipis menyelimuti langkah mereka, memang daerah itu sering mendapat kiriman kabut dari salah satu gunung tua di jawa dikala musim hujan menyapa.

Tanah yang mereka pijak terasa cukup gembur untuk bisa menimbulkan jejak kaki. Ada banyak genangan disekitar sana karena hujan
mengguyur beberapa hari lalu.

"Pripun Pakdhe?"
(Gimana Pakdhe?) tanya salah seorang warga

"Tulung saloke jupukno kentongan yo sak akeh akehe. Tak enteni mene"
(Tolong beberapa orang ambilkan kentongan sebanyak mungkin. Saya tunggu disini) perintah Pakdhe Hardi.
Memang sepeninggal Mbah Rijan, Pakdhe Hardi lah yang cukup dituakan di desa ini. Bukan karena usia, melainkan keseganan para warga terhadap wibawa dan kebaikannya.

Setelah sekitar sepuluh kentongan terkumpul dari usaha mereka meminjam di mushola mushola desa sebelah,
Pakdhe memulai usahanya untuk mencari keenam pria yang hilang tersebut.

"Tuntungo sak bare aku mlaku, ngendi wae lakuku ojo ditutno"
(Kentonglah setelah aku berjalan, kemanapun aku melangkah jangan diikuti) perintah Pakdhe pada mereka semua
dan juga menyuruh mereka terus berzikir dalam hati.

Ia mulai duduk bersila menghadap Utara, matanya memejam, mulutnya komat kamit entah apa yang ia rapalkan, hingga suhu disana terasa semakin menurun. Dingin yang mereka rasa menjadi dingin yang membuat gigil tubuh.
Hening, tiada seorangpun yang membuka mulut mereka. Seakan semuanya sudah paham dengan situasi itu.

Selang beberapa menit, Pakdhe tiba tiba berdiri lalu berjalan kearah Timur. Matanya tetap terpejam, meskipun dalam keadaan itu ia sama sekali tak tersandung ataupun menabrak
pohon, seolah ia tetap bisa melihat meski matanya tertutup.

Warga mulai membunyikan kentongan mereka, kompak serempak membentuk irama yang teratur.

*Teg teg teg*
*Tung tung tung*

Bunyi kentongan itu menggema ke segala arah. Pakdhe Hardi semakin jauh masuk ke dalam hutan
hingga bayangan tubuhnya tidak nampak lagi.

Para warga dan karyawan itu menuruti perintah Pakdhr untuk diam ditempat dan tidak mengikutinya.

Sekitar setengah jam mereka memukul mukul kentongan itu, munculah enam orang pria dari arah berbeda, ternyata mereka semua berpencar.
Orang orang hilang itu berjalan menuju kearah suara kentongan.

Warga dan kawan kawannya pun menyambut haru mereka. Warga lega akhirnya bisa menyelamatkan orang orang itu.

Kemana Pakdhe? Entahlah mereka pun tak tahu. Hendak dicari? Tidak, Pakdhe sudah memperingatkan mereka agar
tidak mencarinya.

Akhirnya Yanto, Alam dan kawan kawan kembali bersama ke mess. Sedangkan warga berbondong bondong menuju rumah Pakdhe dengan niat mengabarkan apa yang terjadi pada Budhe Sri.

Sesampaiya di pendopo rumah, mereka dikagetkan dengan keberadaan Pakdhe disana.
Ia tengah duduk menyesap kopi yang ada ditangannya sambil tertawa terkekeh menyambut para warga

Mereka semua kebingungan, namun tiada satupun yang mampu menjelaskan situasi itu. Dan Pakdhe, pastinya ia hanya menjawab dengan senyuman lebar saat ditanya bagaimana ini bisa terjadi.
Menurut pengakuan enam orang yang hilang tadi, mereka dikejar para hewan itu sampai ke pelosok pelosok hutan, mereka tak tahu arah dan tidak tahu jalan untuk kembali. Dimata mereka, semuanya masih gelap, masih malam, dan bahkan mereka terkejut saat diberitahu bahwa mereka telah
hilang selama lebih dari dua hari. Mereka merasa baru lima menit berlari kedalam hutan dan sama sekali tak menjumpai pergantian siang maupun malam.

Tetiba, terdengar bisikan di telinga mereka untuk menuju kearah suara kentongan berasal. Dan ya, mereka berhasil ditemukan.
Akhirnya Yanto dan keenam anak buahnya memutuskan untuk pindah dari mess. Mereka mengontrak rumah di desa lain dengan biaya patungan. Bagi mereka tempat ini sudah tak lagi nyaman dan tak akan memberi keamanan

Sedangkan tiga orang anggota Mas Alam? Mereka yang telah merasakan
sendiri akibat dari kebodohan mereka dan balasan yang harus mereka terima dari penunggu jalan kerajaan itu, memilih untuk resign dari kantor mereka bekerja.
~

Setelah selesai dengan penjelasan mengapa hanya tinggal Alam, Yudi, Bowo, Guntur dan Uwak Tohar yang mendiami mess itu,

Mari kembali pada saat dimana Yudi telah menjadi korban selanjutnya dari kejahilan "mereka"
"Assalamualaikum.." ucap Pakde yang baru saja sampai di mess. Ia segera melangkah masuk menuju salah satu kamar

"Waalaikumussalam" jawab mereka serempak yang mendapati kehadiran Pakdhe Hardi

"Piye le ono opo?"
(Gimana nak ada apa?) tanyanya tergesa, pandangannya teralihkan
kearah tubuh yang terbaring diatas ranjang besar itu.

"Lho lho lho, arek iki kok iso koyo mengene ki"
(Lho lho lho, anak ini kok bisa kaya gini) tanyanya heran karena memang ia paham betul tipis kemungkinan bagi Yudi untuk melakukan hal bodoh.
Ia mengulak alik tubuh Yudi, wajah pemuda itu tampak sangat pucat, kantung matanya menghitam, sungguh mengundang iba

"Arek iki diincer peranakan ulo"
(Anak ini diincar anak siluman ular) ucap Pakdhe tiba tiba

"Opo kancamu kurangan duit?"
(Apa temanmu kekurangan uang?) lanjutnya
Alam dan kawan kawannya menggelengkan kepala menandakan ketidak tahuan mereka.

*Brakkk*

Pintu kamar sebelah terdengar begitu keras dibanting. Mereka semua segera berlari untuk mengecek

Benar saja, pintu kamar yang biasanya ditempati oleh Alam, Yudi dan Uwak kini terkunci tapat
*HAHAHAHAHA* suara tawa seorang wanita terdengar dari dalam sana

Wajah Pakdhe yang mendengar tawa itu kini berubah menjadi tegang dan merah padam

"Ulo keparat! Wes dikandani rausah ganggu ijek ae mentolo kurang ajar"
(Ular keparat! Udah dibilangun jangan ganggu masih aja tega
nekat kurang ajar) teriak Pakdhe dari luar kamar

Hening, tawa yang sangat keras tadi tak terdengar kagi.

"Yudi gowoen nok omahku, saiki!"
(Bawa Yudi kerumahku, sekarang juga!) perintah Pakdhe kepada mereka berempat

"Nduk muliho ndisik, ibuk kon nutup warung wae. Ojo lali
Bapak jupukno endok nok tarangan mburi"
(Nduk pulanglah dulu, ibuk suruh nutup warungnya aja. Jangan lupa ambilkan Bapak telur dari kandang ayam belakang) ucapnya pada Dhita

Dhita segera melangkh keluar untuk pulang, sedangkan Mas Alam dan yang lainnya menggotong tubuh Yudi
kedalam mobil. Lalu mereka semua menyusul Dhita menuju rumah Pakdhe.

Sesampainya disana, mereka segera membopong masuk Yudi, didalam rumah sudah nampak digelar tikar pandan di lantai, tikar yang cukup lebar.

Tubuh itu dibaringkan disana, mereka semua duduk mengitarinya.
Budhe nampak membawa beberapa gelas kopi dalam nampan dan lima buah telur ayam kampung yang ditaruh didalam besek bambu.

"Mas kopine tak deleh mejo ya"
(Mas kopinya tak taruh dimeja ya) ucap Budhe Sri yang lebih dulu menaruh telur telur itu dilantai, dekat dengan kepala Yudi.
Dhita terlihat menutup pintu rapat rapat dan menguncinya, sungguh repot, pagi pagi sudah dibuat tegang oleh berbagai makhluk sialan itu.

Setelah menutup pintu ia segera ikut duduk diantara mereka semua.

"Amergo aku rak ngerti opo sing mari dilakoni arek iki, aku durung isok
ngatasi tekan oyote. Ning tak usahakno nyabut opo sing ditandur ulo ulo kui nok awake arek iki"
(Karena aku gak tahu apa yang dilakuin anak ini, aku jadi belum bisa menuntaskan sampai akar masalah, tapi saya usahakan untuk mencabut apa yang ditanam ular ular itu dibadannya)
ujar Pakdhe Hardi dengan perasaan terbebani. Ia merasa tak begitu berguna karena tak bisa membantu mereka hingga tuntas.

"Dhit, mbakyumu kon bali"
(Dhit, mbakmu suruh pulang) ucapnya kepada Dhita

"Mpun pak, mangke siang menawi mpun tekan mriki"
(Udah pak, nanti siang mungkin
sudah sampai) jawab Dhita

Bapaknya merasa tenang karena putri bungsunya itu cepat tanggap menghadapi situasi genting seperti sekarang.

~

Di sisi lain, Timur sedang dalam perjalanan untuk pulang. Ia diantar Damar, mereka memang bersahabat dari kecil. Ditambah lagi dengan
banyak kesamaan yang mereka miliki, terutama kelebihan mereka yang membuat kedua orang itu menjadi cocok.

Mereka sama sama kuliah di salah satu daerah yang masih satu provinsi dengan rumah keduanya, meskipun berbeda universitas.
"Mar, barang nok omahmu gaisok meneng tenan po, gawe geger kok nerus"
(Mar, barang dirumahmu apa gabisa diam, kok bikin masalah terus) ujar Timur yang duduk di jok belakang motor Damar

Motor tua warisan dari Eyang kakungnya, motor yang terlihat makin tua makin menawan saja
"Hambuh Mur, ibuk yo orak onok tembung nang aku. Malah lagi wae ngerti iki mau seko awakmu"
(Entahlah Mur, ibuk ya gaada bilang ke aku. Malah aku baru tau dari kamu) jawab Damar pada Timur, ia sedikit memelankan laju motornya agar dapat mengobrol dengan lebih jelas
Anak kecil itu kini telah berubah menjadi pria tampan, sungguh kehebatan dari waktu.

Beberapa jam perjalanan telah mereka lalui, kini mentari telah berada tepat diatas kepala mereka.

Motor Damar memasuki halaman sebuah rumah, ia memarkirkan motornya tepat di sisi pendopo.
Timur dan ia segera turun lalu menuju ke pintu depan

*Tok Tok Tok*

"Sinten?"
(Siapa?) tanya seseorang dari dalam, pintu belum juga dibuka

"Timur mantuk Buk"
(Timur pulang Buk) ucapnya yang menenteng helm di tangan kiri dan ransel besar dipunggungnya
Pintu dibuka, ia segera disambut oleh pelukan Dhita adiknya

"Waduh oleh olehe iki kanggo aku ya"
(Waduh oleh olehnya yang ini buat aku ya) ucap Dhita dengan gemas sambil meraih lengan pria yang biasa ia panggil Mas Damar itu.

Ia menggandengnya manja
"Buk cempe mu iku taleni cobo"
(Buk anak kambingmu itu coba ditali) ucap Pakdhe Har pada istrinya, ia berniat mengejek Dhita sambil tertawa terkekeh kekeh

"Aku cempe Bapak wedhuse" jawab Dhita yang ikut tertawa

Timur segera menyalami bapak ibunya, ia merasa sangat merindukannya
Tak lama, ia menyalami para karyawan mess yang sedari tadi ada disana

"Kula Timur, putri mbarepe Pak Hardi mas"
(Saya Timur, anak perempuannya Pak Hardi mas) ucapnya pada para pria itu, mereka mengangguk.

Tatapan mereka tak teralihkan dari wajah Timur, seperti saat pertama kali
mereka melihat Dhita.

Memang wajah keduanya lumayan mirip dan sama sama cantik, kulitnya yang bersih kuning langsat, dan cantiknya yang masih alami khas gadis desa membuat para pria itu seakan lupa sejenak dengan kemolekan wanita wanita yang biasa mereka jumpai di kota.
Benarkah gadis yang terlihat polos ini benar benar bisa menyembuhkan Yudi? Benarkah ia adalah orang yang mempunyai banyak kelebihan melebihi ayahnya? Pertanyaan itu muncul di benak mereka semua

"Iya mas insyaallah saya bisa bantu kok, semuanya milik Allah, saya cuma perantara"
jawab Timur tiba tiba dengan senyum hangat dibibirnya

Mereka semua sangat terkejut mendengar itu, seakan Timur bisa membaca pikiran mereka. Akhirnya mereka mempercayai apa yang dikatakan Pakdhe Hardi

Timur dan Damar ikut duduk bersimpuh diantara mereka

"Namine sinten pak?"
(Namanya siapa pak?) tanya Timur pada ayahnya sambil memegang bagian tubuh Yudi yang lebam

Ia lalu menengok ke piring yang ada di sebelah tubuh itu. Disana tampak berjejer lima buah telur yang telah dipecah, terdapat tulang yang terlihat seperti tulang ikan, namun ia tahu persis
bahwa itu tulang rusuk ular. Sangat jelas pria itu terkena sihir dari siluman ular.

"Yudi nduk, kari dilanjutno bareng bareng"
(Yudi nak, tinggal kita lanjutin sama sama) jawab Pakdhr Hardi

Timur pamit untuk sholat dzuhur sebentar sebelum memulai proses penyembuhan.
Seusai sholat, ia masih duduk bersimpuh sembari berdzikir. Ia pun mencoba untuk memanggil ular yang mengganggu Yudi tersebut. Jawaban sama sekali tak dideroleh, anak ular itu seakan tahu kemungkinan ia bisa ditangkap begitu saja oleh Timur jika menolak untuk melepaskan Yudi.
Timur kembali ke ruang tamu, ia hanya menggeleng sambil tersenyum kepada ayahnya. Kemudian kembali duduk disebelah Damar

"Orak wani moro"
(Gak berani datang) ucapnya pada mereka

"Trus gimana Mbak Timur?" tanya Mas Alam

"Kalo dia gamau dateng ya kita yang jemput paksa mas"
"Kenapa harus dijemput Mbak? Gak dibereskan aja disana?" tanya Uwak Tohar yang serius menatap Timur

"Ndak bisa Pak, bisa bahaya kalo disana, itu kekuasaan mereka. Mungkin memang saya sama bapak saya bisa ngatasin lebih dari separuh, tapi itu terlalu nguras tenaga" ia menghela
nafas panjang lalu melanjutkan kalimatnya

"Lebih baik yang punya urusan aja dibawa kesini" jelas Timur

Mereka semua hanya mengangguk

Sedari tadi pagi sampai siang ini tiada satupun dari mereka yang memikirkan makan ataupun minum. Mereka semua fokus pada Yudi, berharap kawannya
itu bisa diselamatkan. Bahkan kopi yang tadi disuguhkan Budhe Sri sama sekali tidak mereka sentuh.

"Mas mas sedoyo kula nyuwun tulung ragane Mas Yudi dijogo ampun ngantos ucul nggih" ucap Timur

Mas Alam tampak menerjemahkan itu pada ketiga kawannya
"Katanya raga Yudi jangan
sampe lepas, kita disuruh jagain" jelasnya

"Iya mbak kami usahakan sebaik mungkin" jawab Bowo yang terlihat serius namun justru mengundang tawa mereka semua

"Dhit, Mar, tulung mengarep yo pageri omah"
(Dhit, Mar, tolong kedepan ya pagarin rumah) pinta Timur
Mereka berdua pun segera keluar rumah dan menjalani apa yang diperintahkan Timur.

Pakdhe tampak mengambil ratusan barang dari dalam lemari kamarnya, ia meletakkan semua pusaka dan benda benda itu di atas tikar tempatnya duduk
"Njagani nek geger kabeh hehehe"
(Jaga jaga kalo ribut semua hehehe) ucapnya pada mereka

"Ayo pak" ucap Timur yang telah merubah posisi duduknya menjadi bersila, disusul oleh Pakdhe Hardi.

Mereka berdua memejamkan mata dan memulai merapalkan sesuatu. Hawa dirumah Pakdhe tetiba
menjadi sangat panas dan gerah. Entah apa yang terjadi, orang orang awam itu hanya diam dan merasakan keanehan tanpa tahu apapun.

Selang beberapa menit Timur dan ayahnya melakukan kepentingan mereka, terdengar suara dentuman yang sangat keras dari luar.
Keempat pemuda itu tampak kaget bukan kepalang, bahkan Guntur yang biasanya tenang pun tak sadar melompat kearah Uwak yang ada disampingnya.

"Astaghfirullah" ucap Budhe Sri yang terkejut pula

Hawa dingin merambat disekitar tubuh mereka, berbanding terbalik dengan suhu panas
yang mengisi ruangan itu.

"Apaan nih bang kok aneh gini udaranya. Panas gini tapi napa gua merinding ya" keluh Guntur pada Alam dengan berbisik

"Gatau ah udah diem" Mas Alam pun tampak menahan tegang rasa takut yang mulai merambat didadanya
*JDERRRR*

Sekali lagi dentuman terdengar lebih keras dari arah belakang rumah. Entah apakah yang sedang berlangsung saat ini.

*Krieeettt*

Suara decit pintu yang dibuka, dibaliknya tampak Damar tengah dibantu berjalan oleh Dhita, mulutnya berlumuran darah, sepertinya ia baru
saja memuntahkan darah dari sana.

"Buk tulung" ucap Dhita

Budhe Sri keheranan menatap keadaan Damar. Ia segera berlari untuk membantu Dhita membawa Damar. Bowo pun segera berdiri dan ikut membantu.

Damar didudukkan di lantai dengan bersandar pada dinding rumah itu.
"Ngapunten Budhe, jebol pagere"
(Maaf Budhe, pagarnya jebol) ucap Damar lirih dan masih terbatuk batuk

Dhita segera berlari ke dapur dan kembali membawa segelas air untuk Damar, pria itu segera meminumnya.

"Wes rapopo tak aku ae"
(Udah gapapa biar aku aja) ucap Dhita
Tugasnya tidak terlalu berat karena ia hanya perlu menutup kembali pagar yang sebelumnya dibuat Damar. Sedikit banyak, gadis itupun mengerti tentang hal hal macam itu

Tapi tetap saja, sebagian makhluk itu telah masuk ke rumah mereka

Dhita duduk didepan pintu depan yang tertutup
Ia menghela nafas panjang lalu diam mematung, tatapannya kosong dan tiba tiba saja kepalanya menunduk.

Budhe Sri masih mengurusi Damar yang tampak kehilangan banyak tenaganya, ia lemas dan wajahnya tampak pucat.

"Wes le lereno sik, njarne"
(Udah nak istirahat dulu, biarin)
ucap Budhe pada Damar.

Budhe Sri pun bisa melihat makhluk makhluk yang berhasil masuk kedalam rumahnya itu. Meskipun ia tidak mempunyai kekuatan apa apa seperti suami dan anaknya, namun ia mempunyai mata batin yang terbuka.
Di sudut ruangan tampak beberapa makhluk mengerikan berwujud pria dengan kaki hewan, telinganya sangat panjang hingga bergesekan pada lantai. Mungkin sekitar tujuh sosok yang sama itu mondar mandir di ruangan tersebut.

Di dinding pun banyak sekali yang tengah merayap seperti
cicak. Ada pula yang tengah bergelantungan di penuwun. Sungguh banyak sekali jin dan siluman yang berada disana, dalam wujud yang berbagai macam yang pastinya sangat tidak nyaman untuk digambarkan secara detail.

Namun hanya satu yang tidak terlihat sama sekali disana, ya, ular.
Budhe hanya diam menatap mereka dan selalu berdzikir agar mereka tidak berani mendekat. Mas Damar pun merasa muak melihat wujud mereka semua.

Guntur, Bowo, Uwak dan Alam yang masih menjaga Yudi pun merasa merinding tak karuan, tentu saja karena banyak sekali makhluk yang
bergelayutan di badan mereka. Mulai mengelus elus, meniup,dan segala bentuk gangguan yang bisa mereka rasakan dengan indera mereka.

"Astaghfirullah gimana mau kuat kalo caranya kaya gini" ucap Alam tiba tiba sambil menggaruk garuk badannya agar rasa geli yang ia terima hilang.
Tiba tiba saja tubuh Yudi terbangun, badan itu melompat dan menari nari kegirangan sambil menembangkan lagu dolanan anak anak jawa.

Keempat temannya itupun terkejut lalu segera memegangi tubuh Yudi agar tidak bisa kabur kemanapun sesuai perintah Timur.
Tubuh itu berhasil dibaringkan kembali, tangan dan kakinya masing masing dipegangi oleh keempat pria itu.

Tiba tiba terdengar suara serak dan parau berasal dari mulut Yudi. Terdengar seperti kakek kakek yang sedang marah dan menggeram geram
"Hmmm... Culno culno!" bentak Yudi

Yang kemudian berganti lagi menjadi suara kemayu seperti perempuan yang memanja

"A.. Hihihihi.. Aduh emh hihihi" ucap Yudi seperti tengah malu malu

"Mas bagus sun... "
(Mas ganteng cium...) pinta Yudi sambil menyodorkan bibirnya mencoba untuk
mencium Guntur yang memegangi tangan kanan Yudi

*Plaakkkk*

Lagi lagi Mas alam menampar Yudi seperti saat pertama kesurupan kemarin

"Gilo jancuk demit gateli"
(Geli dasar demit kegatelan) umpat Mas Alam

Damar dan Budhe yang melihatnya pun tertawa.
Entah sudah berapa kali tubuh Yudi dirasuki bergiliran oleh makhluk makhluk itu. Memang makhluk tak tahu malu, keluar masuk sembarangan tanpa permisi, bergantian pula.

Tiba tiba saja, benda benda pusaka milik Pakdhe yang digeletakkan dibawah tadi bergetar hebat, bahkan beberapa
keris pun tiba tiba berdiri.

Nampaknya memang siluman ular itu tidak mau berdiam diri, ia pasti meminta bantuan kepada kawan kawan sebangsanya.

*Jderrrr*

Lagi lagi dentuman itu terdengar namun kali ini disusul oleh suara gedoran pada pintu rumah Pakdhe.
*Dok Dok Dok*

Suara itu terdengar keras dari pintu depan dimana Dhita terduduk dan kedua pintu dapur yang ada di belakang

*DOK DOK DOKKK*

Semakin banyak pukulan pukulan itu terdengar, semakin intens dan semakin rapat jaraknya
Tiada yang mempedulikan suara itu, mereka sibuk dengan urusannya masing masing.

Sekitar dua jam lebih Pakdhe dan Timur terpejam, keringat mengucur deras dari wajah dan tubuh mereka hingha bajunya sedikit basah oleh peluh. Mungkin pergelutan besar yang kali ini mereka lakukan.
Benda benda milik Pakdhe yang sedari tadi tidak henti hentinya bergerak. Tiba tiba mereka berhenti dan disusul oleh sadarnya Pakdhe Hardi dan Timur.

Tubuh Yudi terkejut menatap Timur, matanya terbelalak hebat yang kemudian kembali pingsan. Timur hanya tersenyum melihatnya.
Makhluk makhluk yang tadinya berseliweran didalam rumahnya pun tak tampak lagi dimata Budhe Sri dan Damar. Mereka semua bersembunyi hingga Dhita kembali membuka pagar yang dibuatnya, barulah mereka pergi tunggang langgang dari rumah itu.
"Udah beres alhamdulillah, pengen liat?" tanya Timur kepada keempat pria dihadapannya, mereka mengangguk setuju

"Pak tulung" pinta Timur pada ayahnya yang kemudian membuka mata batin para pemuda itu

Mereka tercekat dengan apa yang mata mereka tangkap.
Dua sosok perempuan tanpa busana dengan bagian badan dari bawah pusar menyerupai seekor ular. Ya, persis seperti tayangan di film film horor.

Mereka berdua terikat terjerat tertahan oleh tali yang nampaknya terbuat dari sabut kelapa yang membuat kulit mereka melepuh.
"MasyaAllah gapake baju" teriak Bowo refleks, yang disambut gelak tawa oleh orang orang

Timur terlihat mendekati sosok itu, ia seperti mencabut sesuatu dari ujung ekor yang sangat besar dan panjang itu lalu mengusapkannya pada kening Yudi.
Ia lalu mengurung kedua siluman tadi ke salah satu batu akik milik ayahnya yang kosong. Ia memerintahkan Damar untuk membuang batu itu nanti, terserah dibuang kemana.

"Pakdhe mata batin saya ditutup aja gapapa, saya takut gak kuat nanti" ucap Bowo
"Iya bang, saya pula" timpal Uwak Tohar

Akhirnya mereka semua kembali pada penglihatan normal.

Semua orang disana kelelahan melalui hari yang terasa amat sangat panjang itu.

"Tadi gimana Mbak?" tanya Guntur penasaran

"Babat hahaha"
(Tumpas hahaha) ucap Pakdhe yang ikut
bersandar pada dinding seperti Damar. Ia membakar rokok dan menyesapnya dalam dalam.

"Enggakpapa memang sebagian besar udah hilang. Tapi sebaiknya kalian cari tempat tinggal baru aja, soalnya mau digimanain juga rumah Bu Retno ya memang tetap angker" jelas Timur
"Mas Yudi gapapa, bentar lagi sadar kok. Biar dia tinggal disini aja untuk sementara" lanjutnya kembali

Para pria itu tampak berfikir, menimbang usul Timur untuk pindah.

"Em... " belum sempat Mas Alam berkata apa apa Damar sudah menyambung
"Biar saya bilangin ke ibuk mas, tenang aja" ucap Damar sambil tersenyum

~

Beberapa hari berlalu, mereka semua tinggal di rumah Pakdhe Hardi dan hanya beberapa kali kembali ke mess jika ada keperluan.

Yudi sudah sembuh total, ia menceritakan segalanya. Mulai dari awal mula
petaka itu terjadi padanya hingga saat ia dikurung makhluk makhluk itu serta saat diselamatkan oleh Pakdhe dan Timur.

~

Awal kesalahan Yudi adalah membersihkan area belakang mess itu. Ia sering merokok di dekat sumur dan sesekali membawa kopi kesana, karena ia merasa tempat
itu sejuk dan nyaman. Terus menerus kegiatan itu ia lakukan dan bahkan sering membawa banyak camilan kesana. Anak siluman ular pesugihan itu merasa tertarik padanya. Karena ia sering membersihkan area tempat tinggalnya dan menganggap Yudi selalu membawakan sesaji untuknya.
Akhirnya ia mulai menanam ikatan pada tubuh Yudi, dan berusaha membawa sukmanya kealam "mereka" namun selalu saja digagalkan oleh Pakdhe Hardi dan kali ini sialnya ia ditangkap oleh Timur meskipun telah mengerahkan semua pasukan dan kawan kawannya, mereka tetap saja tidak
bisa mengalahkan bakat seseorang yang selalu diasah. Timur, anak yang lahir berbeda dengan segala kelebihannya. Bahkan saat itu ilmunya lebih tinggi dari sang ayah.

Saat dikurung, ia merasa akan dijadikan pengantin oleh ular itu. Meskipun memang cantik, namun tetap saja
ular ya ular. Bagi Yudi mereka semua menjijikkan.

Di ingatan Yudi masih tergambar jelas bagaimana saat Timur meminta sukma Yudi secara baik baik pada anak ular itu, namun sama sekali tak diindahkan. Akhirnya terjadilah pertarungan gaib antara makhluk makhluk sendang itu
dengan Timur, Pakdhe dan seluruh khodam miliknya.

~

Bu Retno mengembalikan uang sewa rumah kepada Alam dan kawan kawan tanpa sepengetahuan perusahaan mereka. Uang itu mereka gunakan untuk kost dirumah Pakdhe. Rumah kayu besar dengan banyak kamar itu kini ramai selalu.
~

Mess mereka kini dibiarkan kosong. Bu Retno mengijinkan barang barang perusahaan yang menjadi tanggung jawab Mas Alam dan kawan kawan tetao berada disana, tentunya tanpa ditarik biaya sewa sepeserpun.

Mereka tidak takut kemalingan, sebab kata Timur, maling akan berpikir
ulang ratusan kali jika mempunyai niatan untuk kesana.
Mereka tinggal di dusun itu kurang lebih hanya dua setengah tahun.

Timur? Ia pastinya kembali ke kota sebelah untuk melanjutkan studinya begitupula dengan Damar

Guntur dan Dhita? Tidak, mereka sama sekali tidak ada perasaan lagi entah karena apa
Dan ya, di siang sampai sore saat kejadian kejadian tadi terjadi, para warga pun tengah berkerumun di sekitar rumah Pakdhe karena mereka mengejar bola api yang beterbangan kesana kemari mengitari dusun lalu tampak menghantam atap rumah Pakdhe.
Mungkin ada sekitar lima buah banaspati.

Namun mereka semua tidak berani berbuat apa apa dan hanya bisa mengamati dari kejauhan.
_-THE END-_

cukup sampai disini kisah mengenai para pemilik jalan.

Terimakasih kepada semua narasumber yang telah banhak berpartisipasi.

Begitu pula dengan para pembaca setia saya.
Harapan saya, jadikan tulisan sederhana ini sebagai pelajaran.

Dimanapun kalian berada, ingatlah untuk tetap berhati hati dalam berucap serta bertindak.

~
Qiana.

See you soon 👋🏻
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Its Qiana

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!