, 29 tweets, 7 min read
My Authors
Read all threads
Apakah #PakaiJilbab itu kewajiban bagi seorang muslimah?
A THREAD. #JumatBerkah
Gusmin lama-lama gerah nih dengan segala bentuk serangan tak beradab kepada Nu Nyai Sinta Nuriyah. Sudah beberapa hari, masih ada yang terus memupuk kebencian. Parahnya mengatasnamakan agama. Padahal membela agama tidak pernah dibenarkan menggunakan cara-cara keji.
Nabi Muhammad adalah contoh nyata bagaimana agama dibela dengan cara berlaku baik. TIDAK PERNAH sekali pun Nabi melaknat umat yang membencinya. Bahkan ketika malaikat Jibril menawarkan diri untuk menghabisi para pembenci, Rasulullah menolaknya.
Lalu mengapa kini banyak orang pede membela dengan cara menebar benci? Wallahua’lam. Yang jelas, Gusmin mau memberi beberapa pandangan. Tuips boleh setuju atau tidak. Jika setuju, sila retweet. Jika kurang setuju, silakan di-like. Jika tidak puas dg pilihan tsb, sila komen.
Pertama-tama, apa yang disampaikan Bu Sinta adalah pendapat yang sudah ada sejak dulu. Tuips bisa lacak di buku berjudul ‘Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah’ karya Habib Quraish Shihab. Di sana ada banyak ulasan mengenai jilbab, mulai pendapat yg populer hingga pendapat tdk populer.
Titik perbedaan pendapatnya itu ada di perintah ‘menutup aurat’. Nah, setiap ulama memberi definisi berbeda-beda terkait aurat. Ada yang menyatakan bahwa batas aurat laki-laki itu dari pusar ke lutut, sementara perempuan semua bagian badan kecuali kedua telapak tangan dan wajah.
Sebagian ulama membedakan aurat perempuan merdeka dan budak. Pendapat kedua telapak tangan dan wajah itu untuk perempuan merdeka. Jika budak, sebagian pendapat mengatakan aurat-nya disamakan dengan lelaki merdeka. Namun ada pula yang menyamakan dg perempuan merdeka.
Singkat kata, semua ulama bersepakat bahwa MENUTUP AURAT ITU WAJIB. Tp batasan aurat berbeda-beda. Lalu kenapa ulama dulu tdk bertengkar? Eits, tunggu dulu. Ulama juga bisa ‘bertengkar’ lho. Tapi ‘pertengkaran’ antar ulama melahirkan diskursus keilmuan yang baru. Inilah bedanya.
Sementara hujatan antar umat hanya menunjukkan tingkat kedangkalan beragama. Mereka membela simbol agama yang diyakini tapi tidak menggunakan bahasa agama, melainkan bahasa kebencian. Sayangnya, lha kok para tokoh ini mengajak umat untuk membenci yang berbeda?
Jika ada persoalan perbedaan pandangan, para ulama akan mengkritik melalui karya. Mereka akan mengulas pendapat seorang ulama kemudian memberi argumentasi. Perdebatan antara Ibnu Rusyd dengan Al-Ghazali, misalnya. Atau perbedaan pandangan antara Imam Syafii dan Maliki.
Padahal kedua ulama ini merupakan murid dan guru. Perbedaan di antara keduanya sama-sama dianggap sebagai sebuah kebenaran. Salah satunya persoalan anjing. Imam Syafii menajiskan, Imam Malik tidak.
Enggak kebayang jika Imam Syafii dan Imam Malik hidup di zaman now di mana ada sekelompok orang mengandalkan pengikutnya untuk menghujat perbedaan pandangan.
Dari pertarungan antar ulama kemudian melahirkan karya-karya yang bisa kita nikmati hari ini. Lha kalau hujatannya di medsos? Pakai akun anonim lagi. Parahnya, ada pula beberapa ustad online yang turut menghujat tanpa pernah bertabayun dengan Ibu Sinta secara langsung.
Jika saja kita mau membuka file lama, jilbab memang jarang digunakan oleh para muslimah. Sejak dulu para Bu Nyai (ulama perempuan) mengenakan kerudung. Ini terjadi baik di NU atau pun Muhammadiyah. Nih, mimin kasih contoh foto zaman dulu.
Kalo ini para santriwati di zaman kemerdekaan. Perjuangan itu dilakukan oleh semua, baik laki-laki atau perempuan.
Ini juga ada foto lawas para musisi Nasida Ria. Mereka mengenakan pakaian ‘religius’ di masanya. Apa judul lagu Nasida Ria favoritmu? Kalau Gusmin sih suka lagu ‘Tahun 2000’.
Kalo lupa, ini liriknya:
Tahun dua ribu kerja serba mesin,
Berjalan berlari menggunakan mesin
Manusia tidur berkawan mesin,
Makan dan minum dilayani mesin

Visioner, bukan?
Back to history, tahun 1979 pecah revolusi Islam Iran. Dari sinilah tren jilbab menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kini model jilbab sangat beragam. Btw tuips tau enggak sih. Di era Orba, hingga tahun 1990-an jilbab itu DILARANG PEMERINTAH?
Pemerintahan Soeharto melarang jilbab salah satunya karena kekhawatiran bahwa kelompok Islam akan merongrong Pancasila. Anyway, sampai tahun 1984 BELUM ADA ormas Islam yang menerima Pancasila sbg asas tunggal.
NU menjadi ormas pertama yang clear soal Pancasila. Bahwa negara dan agama tidak perlu dipertentangkan, tapi justru bisa saling bersinergi. Melalui Muktamar NU Situbondo, NU menyatakan menerima asas Pancasila.
Saking curiganya Orba pada kelompok Islam, ketika ada rapat NU, Soeharto selalu mengirim mata-mata. Pernah satu waktu para ulama mengetahui keberadaan ‘peserta tak dikenal’. Para ulama kemudian melakukan rapat dalam bahasa Arab biar dikira berdoa wkwk.
Perjuangan membela ekspresi keberislaman kemudian mulai digalakan banyak kalangan. Jilbab menjadi lakon di berbagai pementasan teater, menjadi judul puisi, dan menjadi simbol perjuangan aktivis muslim.
Jilbab kemudian menjadi standar baru dalam berpakaian. Ini menjadi semacam kesepakatan sosial bahwa jilbab adalah wajib. Apalagi setelah tahun 2000 ada banyak da’i lulusan Timur Tengah yg mulai vokal mengarusutamakan pendapat wajib ini. Pendapat lain perlahan-lahan kurang populer
Tentu saja pendapat para da’i ini dikritik oleh ulama yang menjadi pelaku sejarah. Bahwa jilbab tetap saja menjadi perdebatan. Sama seperti hukum najisnya anjing. Ada yang mengatakan najis, ada yang tidak. Biasa saja.
Hal itu tidak perlu ditutup-tutupi dari umat. Biar umat memilih pendapat yang terbaik, tanpa menghakimi pendapat yang berbeda. Dalam pengantar di buku ‘Jilbab’, Habib Quraish sempat diberi masukan utk tdk menerbitkan oleh beberapa kalangan.
Bagi yang ‘keberatan’, menerbitkan buku tsb berpotensi menciptakan kebingungan di kalangan awam. Di sisi lain, tanpa pendapat yang berbeda, umat yg awam akan menganggap itu sebagai ajaran mutlak. Yang berbeda dianggap ‘maksiat’.
Menyebut pendapat ulama yang berbeda disebut mengajak maksiat. Lha seperti ini kan bikin geregetan sebenarnya.
Tapi Gusmin bersyukur bahwa yang mengutarakan pendapat itu adalah Ibu Sinta, seorang bijak yang penyabar dan kuat. Sehingga pendapat ini kembali dibicarakan. Para ulama kembali membuka kitabnya. Memberi pilihan dan mengajak pada pilihan yang dianggap terbaik.
Apapun pendapat yang kita pilih, mari tetap bersikap arif. Jangan ada benci di antara kita.

Ikut dawuh Romo Kiai @gusmusgusmu: Kita diminta untuk saling mengenal dan saling menasehati, bukan saling menilai dan daling menghakimi.
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Jaringan GUSDURian

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!